RUDHAL JOGLO: Srawung Dalang Jogja–Solo dalam Harmoni Tiga Kelir

Oleh Abimanyu Putra Pratama*

Sumber Pribadi: Dokumentasi 30 Dhalang sebelum acara dimulai.

Sabtu Malam (14/3/2026) di nDalem Yudonegaran, Yogyakarta, terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 20.00 WIB, masyarakat mulai berdatangan memenuhi ruang pertunjukan yang didominasi arsitektur tradisional Jawa. Tiang-tiang kayu berwarna gelap berdiri kokoh menopang atap ekspos yang tersusun rapi, menciptakan kesan luas sekaligus hangat. Pendar lampu gantung klasik menghadirkan cahaya kekuningan yang lembut, menambah suasana sakral dalam pagelaran wayang kulit bertajuk RUDHAL JOGLO – Rukun Dhalang Jogja Solo.

Acara ini menjadi momen bersejarah dalam dunia pedhalangan. Untuk pertama kalinya, sebanyak 30 dalang dari wilayah Yogyakarta dan Solo tampil dalam satu panggung kolaboratif. Pagelaran berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari dengan menghadirkan lakon Semar Sanggan, sebuah cerita yang sarat nilai kebijaksanaan dan simbol spiritual dalam tradisi wayang kulit.

Srawung Budaya dalam Balutan Tradisi

Pagelaran RUDHAL JOGLO diselenggarakan oleh Komunitas Rukun Dhalang Jogja bekerja sama dengan GBPH Yudaningrat sebagai tuan rumah lokasi pertunjukan. Ketua komunitas, Ki Utoro Widayanto, dalam sambutan pembuka menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk gotong royong para dalang. Setiap dalang yang tampil berkontribusi secara swadaya untuk menyukseskan acara tersebut.

Meski kolaborasi antar dalang Yogyakarta sebenarnya telah berjalan sejak April 2024, keterlibatan dalang dari Solo dalam format besar seperti ini baru pertama kali terlaksana. Perwakilan dalang dari Solo, Ki Sri Susilo Tengkleng, menyebut pagelaran ini sebagai tonggak sejarah kebudayaan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai jembatan persaudaraan antar pelaku seni pedalangan.

Konsep utama acara ini adalah “srawung sambung”, yakni mempererat hubungan, berbagi pengalaman artistik, serta memperkuat jaringan budaya antara dua wilayah yang selama ini dikenal sebagai pusat tradisi wayang kulit di Jawa.

Tiga Kelir: Inovasi Visual dalam Pertunjukan Wayang

Salah satu daya tarik utama pagelaran RUDHAL JOGLO terletak pada konsep panggungnya. Jika dalam pertunjukan wayang kulit tradisional biasanya hanya menggunakan satu kelir (layar), kali ini panitia menghadirkan tiga kelir sekaligus. Pada setiap kelir dimainkan satu dalang secara bergiliran, dengan durasi tampil sekitar 30 menit.

Inovasi ini memberikan pengalaman visual yang lebih dinamis bagi penonton. Tata cahaya disesuaikan untuk mendukung keberadaan tiga layar, sehingga bayangan wayang dapat terlihat jelas tanpa menghilangkan kesan tradisional. Di depan kelir, perangkat gamelan lengkap berwarna dominan emas dan hitam berjajar rapi. Para wiyaga mengenakan busana tradisional putih dengan kain dan blangkon, duduk bersila dengan penuh konsentrasi.

Meskipun menghadirkan inovasi dalam tata panggung, unsur artistik lain tetap mempertahankan pakem klasik. Wayang yang digunakan adalah wayang kulit tradisional, demikian pula dengan narasi cerita yang dibawakan. Lakon Semar Sanggan dipilih karena dinilai relevan dengan semangat persatuan dan kebijaksanaan yang menjadi ruh acara.

Kolaborasi Seniman dari Dua Kota Budaya

Sumber YT Gatot Jatayu: Penyerahan Wayang Semar oleh GBPH Yudaningrat kepada Ketua RUDHAL JOGJA- Ki Utoro Widayanto.

Sebanyak 30 dalang terlibat dalam pagelaran ini, di antaranya Ki Wisnu Hadi Sugito, Ki Sri Mulyono, Ki Agus Hadi Sugito, Ki Bagong Darmono, Ki Sukisno, Ki Sri Susilo Tengkleng, Ki Geter Pramuji Widodo, Ki Gondo Suharno, Ki Bambang Wiji Nugroho, Ki Catur Kuncoro, Ki Sigid Ariyanto, Ki Tri Luwih, Ki Anom Dwijo Kangko, Ki Cahyo Kuntadi, Ki Utoro Widayanto, Ki Aneng Kiswantoro, Ki Kiswan Dwinaweka, Ki Surono, Ki MPP Bayu Aji, Ki Gendut Dalang Berijazah, Ki Jungkung Setyo Utomo, Ki Amar Pradopo, Ki Fani Rickyansyah, Ki Singgih Nurjono, Ni Elisha Orcarus Allasso, Ki Gading Pawukir, Ki Pandu Gandang Sasongko, Ki Anggit Laras Prabowo, Ki Anggoro Dwi Sadono, serta Ki Wangsit Winurseto.

Para dalang tersebut berasal dari berbagai wilayah di sekitar Yogyakarta dan Solo. Koordinasi intensif dilakukan oleh ketua komunitas untuk menyusun alur pertunjukan agar tetap harmonis meskipun melibatkan banyak penampil. Kolaborasi ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga sarana berbagi gagasan artistik dan memperluas jejaring kreatif.

Antusiasme Penonton hingga Dini Hari

Lebih dari 500 penonton hadir menyaksikan pagelaran ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat lokal, mahasiswa, pegiat seni, hingga wisatawan mancanegara. Sejumlah tokoh yang turut hadir di antaranya GBPH Yudhaningrat, Gusti Prabu, dan Rahadi Saptata Abra.

Suasana pertunjukan berlangsung khidmat sekaligus meriah. Penonton tampak bertahan hingga akhir acara, bahkan kursi di barisan terdepan masih terisi saat pertunjukan mendekati pukul dua dini hari. Hal ini menunjukkan bahwa wayang kulit masih memiliki daya tarik kuat di tengah perkembangan hiburan modern.

Dampak Budaya dan Ekonomi Lokal

Pagelaran RUDHAL JOGLO memberikan dampak nyata bagi pelestarian seni tradisi. Dengan menghadirkan pertunjukan gratis untuk masyarakat, acara ini membuka ruang apresiasi yang lebih luas. Generasi muda dapat menyaksikan langsung bagaimana wayang kulit dimainkan dalam format yang tetap menghormati pakem namun berani berinovasi.

Selain itu, kegiatan ini turut menggerakkan ekonomi lokal. Pedagang makanan, penjual cendera mata, serta pelaku usaha kecil di sekitar lokasi merasakan peningkatan aktivitas selama acara berlangsung. Secara kultural, kolaborasi ini juga memperkuat hubungan antara komunitas pedalangan Yogyakarta dan Solo yang selama ini memiliki akar tradisi yang sama.

Menjaga Api Tradisi

RUDHAL JOGLO bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol kebersamaan. Di tengah tantangan globalisasi dan perubahan selera hiburan masyarakat, upaya kolaboratif seperti ini menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan wayang kulit sebagai warisan budaya.

Harapan besar pun muncul agar pagelaran ini dapat menjadi agenda rutin di masa depan. Jika terus dilaksanakan secara berkelanjutan, RUDHAL JOGLO berpotensi menjadi ruang kreatif yang tidak hanya mempertemukan para dalang, tetapi juga menghidupkan kembali minat publik terhadap seni pertunjukan tradisional.

Malam itu, di balik bayangan wayang yang menari di tiga kelir, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: tradisi akan tetap hidup selama ada kebersamaan untuk merawatnya.

*Abimanyu Putra Pratama, Mahasiswa Seni Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.