Ramadan Dalam Derap Jaranan

Oleh Fitri Bima Asih*

Kalau main ke Trenggalek saat bulan Ramadan, ada suasana yang berbeda begitu jarum jam lewat pukul 12 malam. Ketika sebagian orang mulai terlelap setelah tarawih, di sekitar Alun-Alun Trenggalek justru terdengar suara kendang ditabuh bertalu-talu. Disusul kenong, gong, dan Slompret yang memecah sunyi. Bukan konser resmi, bukan festival besar, ini latihan jaranan. Dilakukan hampir setiap malam, dari tengah malam sampai menjelang sahur. 

Sekilas, orang mungkin mengira ini cuma ronda gaya baru cara membangunkan orang sahur dengan cara yang lebih “niat”. Tapi kalau diamati lebih dalam, fenomena ini jauh lebih kompleks. Ada soal kekompakan, identitas, ruang publik, bahkan negosiasi antara tradisi dan suasana religius Ramadan. Jaranan di tengah malam bukan sekadar hiburan; ia adalah peristiwa budaya yang hidup. 

Ramadan Waktu yang Mengubah Ritme Kota 

Ramadan selalu mengubah jam biologis masyarakat. Warung buka lebih lama. Masjid ramai sampai dini hari. Anak-anak muda yang biasanya nongkrong sore, bergeser ke malam. Kota seperti punya shift kedua. 

Dalam konteks inilah latihan jaranan menemukan momentumnya. Kalau di bulan biasa tabuhan keras tengah malam bisa dianggap mengganggu, di Ramadan ia lebih mudah diterima. Orang memang bangun lebih awal untuk sahur. Suasana malam pun terasa lebih “hidup”. 

Ramadan seakan memberi izin sosial. Aktivitas kolektif di malam hari tidak lagi dipandang aneh. Justru terasa wajar, bahkan menyenangkan. Jaranan masuk di celah ini memanfaatkan waktu ketika kota belum tidur, tapi juga belum sepenuhnya bangun. 

Dari Ronda ke Ruang Latihan 

Banyak yang menyebut kegiatan ini sebagai ronda atau membangunkan sahur. Memang, secara fungsi, dentuman musik itu efektif bikin orang terjaga. Tapi menyederhanakan jaranan tengah malam hanya sebagai alarm sahur rasanya kurang adil. 

Yang terjadi sebenarnya adalah latihan rutin komunitas. Para pemain membawa properti kuda kepang, alat musik lengkap, dan membentuk lingkaran. Ada yang masih remaja, ada yang sudah senior. Mereka tidak sekadar asal bunyi. Ada pola, ada koreografi, ada struktur gerak yang diulang-ulang untuk disempurnakan. 

Ramadan menjadi semacam “musim latihan intensif”. Karena frekuensinya hampir tiap malam, perkembangan terasa cepat. Gerak yang semula kaku jadi lebih luwes. Tabuhan yang awalnya goyah jadi lebih kompak. Kedekatan antaranggota juga makin kuat. 

Di sinilah nilai pentingnya: kekompakan tidak lahir dari sekali tampil di panggung, tapi dari pertemuan rutin, dari keringat yang keluar bersama. 

Alun-Alun sebagai Panggung Rakyat 

Alun-alun dalam tradisi Jawa selalu punya makna simbolik. Ia bukan cuma lapangan kosong, tapi ruang bersama. Tempat orang merayakan, berdemo, atau sekadar duduk santai. 

Saat Ramadan, Alun-Alun Trenggalek berubah jadi panggung tanpa sekat. Tidak ada tiket. Tidak ada kursi VIP. Siapa pun bisa duduk melingkar dan menonton latihan jaranan. Kesenian jadi dekat lagi dengan masyarakat. Tidak eksklusif. Tidak terasa “resmi”. Justru di situlah daya tariknya. Jaranan kembali ke akar: seni milik rakyat. 

Tapi ruang publik juga berarti ruang bersama. Artinya, selalu ada kemungkinan gesekan. Tidak semua orang mungkin nyaman dengan suara keras tengah malam. Maka fenomena ini juga mengajarkan soal toleransi dan komunikasi. Seni yang hidup di ruang publik harus peka, bukan merasa paling benar. 

Estetika Kekompakan 

Kalau kita bicara kritik seni, ada satu hal yang paling menonjol dari latihan Ramadan ini: energi kolektif. Ada sensasi berbeda ketika musik dimainkan berulang-ulang dalam suasana malam. Ritmenya terasa lebih dalam, lebih menggema. 

Kekompakan menjadi nilai estetika utama. Dalam jaranan, kalau satu pemain saja meleset tempo, seluruh struktur bisa terasa goyah. Karena itu latihan rutin sangat penting. 

Menariknya, Ramadan memberi ruang untuk membangun chemistry itu. Intensitas pertemuan yang tinggi membuat para pemain saling membaca gerak tanpa banyak bicara. Mata bertemu, tabuhan menyesuaikan. Ada komunikasi non-verbal yang terbangun pelan-pelan. 

Namun di sisi lain, latihan yang terlalu nyaman juga berisiko. Jika hanya mengulang pola lama tanpa eksplorasi, jaranan bisa stagnan. Kekompakan tidak boleh berhenti di rasa akrab; ia harus mendorong kualitas yang lebih matang. 

Antara Spiritualitas dan Hiburan 

Ramadan identik dengan refleksi dan pengendalian diri. Lalu bagaimana posisi jaranan yang enerjik, bahkan kadang identik dengan unsur trance? 

Menariknya, latihan tengah malam justru sering menghadirkan suasana yang agak magis. Udara dingin, lampu kota yang temaram, dan ritme musik yang repetitif menciptakan atmosfer yang sulit dijelaskan. Tidak persis ritual, tapi juga bukan sekadar hiburan biasa. 

Di titik ini, jaranan seperti berdialog dengan Ramadan. Ia tidak menggantikan ibadah, tapi menjadi ekspresi sosial yang hidup berdampingan dengan suasana religius. Orang bisa saja selesai tarawih, istirahat sebentar, lalu datang menonton atau ikut latihan. 

Yang penting adalah keseimbangan. Jika seni ini dijalankan dengan kesadaran, ia bisa menjadi sarana mempererat silaturahmi. Tapi jika hanya jadi ajang hura-hura tanpa kontrol, maknanya bisa bergeser. 

Regenerasi yang Terjadi Secara Alami 

Salah satu dampak paling positif dari fenomena ini adalah keterlibatan anak muda. Daripada menghabiskan malam dengan aktivitas yang tidak jelas, mereka memilih berkumpul dan belajar jaranan. 

Proses belajarnya tidak formal. Tidak ada sertifikat. Tidak ada kurikulum tertulis. Tapi di situlah kekuatan tradisi bekerja. Pemain senior memberi contoh langsung. Yang muda meniru, mencoba, salah, lalu memperbaiki. 

Ramadan menjadi semacam ruang inkubasi budaya. Dalam sebulan, intensitas latihan bisa menyamai beberapa bulan di waktu biasa. Ini penting untuk menjaga napas kesenian tradisional agar tidak hilang ditelan zaman. 

Tantangan : Antara Konten dan Kualitas 

Di era media sosial, hampir semua aktivitas berpotensi jadi konten. Latihan jaranan tengah malam tentu menarik direkam dan diunggah. Video dengan latar Ramadan dan musik tradisional punya daya tarik tersendiri. 

Tidak ada yang salah dengan dokumentasi. Bahkan itu bisa memperluas apresiasi. Tapi ada bahaya kecil yang perlu diwaspadai: jangan sampai kamera lebih penting daripada proses latihan itu sendiri. 

Ketika fokus bergeser ke “bagus di video”, kualitas latihan bisa terabaikan. Padahal esensi jaranan ada pada kedalaman proses, bukan sekadar visual yang viral. 

Tradisi yang Fleksibel 

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: tradisi tidak selalu kaku. Ia bisa menyesuaikan diri dengan konteks zaman dan momentum. 

Jaranan yang biasanya tampil dalam acara hajatan atau festival, kini menemukan ruang baru di malam Ramadan. Ia tetap membawa identitasnya, tapi dengan fungsi yang sedikit berbeda. 

Dan mungkin di situlah kekuatan budaya lokal. Ia tidak menunggu panggung besar untuk hidup. Ia tumbuh dari kebiasaan, dari pertemuan rutin, dari suara kendang yang ditabuh bersama-sama. 

Dentuman yang Lebih dari Sekadar Suara 

Pada akhirnya, jaranan tengah malam di Alun-Alun Trenggalek bukan cuma soal membangunkan sahur. Ia adalah simbol kebersamaan. Simbol bahwa tradisi masih punya tempat di tengah perubahan gaya hidup. Di antara dingin malam dan aroma nasi yang mulai dimasak untuk sahur, ada sekelompok orang yang memilih menjaga warisan budaya dengan cara paling sederhana: berkumpul dan berlatih. Ramadan akan berlalu. Dentuman itu mungkin mereda setelah Idulfitri. Tapi kekompakan yang terbangun, relasi yang menguat, dan semangat yang menyala di tengah malam itu bisa meninggalkan jejak panjang. Seni kadang tidak butuh panggung megah. Cukup ruang terbuka, waktu yang tepat, dan orang-orang yang mau bergerak bersama. Dan di Trenggalek, setiap Ramadan, kita melihat itu terjadi genderang yang ditabuh bukan hanya untuk sahur, tapi untuk merawat kebersamaan.

——-

*Fitri Bima Asih, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.