Menyusuri Marka: Jejak Historis, Ritualitas, dan Spiritualitas dalam Puisi Seno Joko Suyono
Oleh Abdul Wachid B.S.*
I. Peristiwa, Penghargaan, dan Jejak Kebudayaan
Hari Pers Nasional bukan sekadar peringatan rutin; bagi Seno Joko Suyono, momen ini menjadi tanda perjalanan hidup yang berpadu antara jurnalistik, kesadaran budaya, dan seni puisi. Pada peringatan 2026, Seno menerima Anugerah Kebudayaan PWI, penghargaan yang merekam jejak aktivitasnya: dari jurnalistik investigatif, pengajaran akademik, hingga kuratorial dalam Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF). Seperti yang sering ditegaskan Seno, penghargaan ini bukan tujuan akhir, melainkan “lampu isyarat” yang meneguhkan langkah batin dalam penciptaan puisi.
Seno Joko Suyono lahir di Malang, Jawa Timur, pada 18 Februari 1970. Sejak usia muda, ia menekuni dunia sastra, yang kelak menjadi fondasi kepekaan kreatifnya dalam jurnalistik dan puisi. Namanya dikenal luas sebagai jurnalis Majalah Tempo, serta salah satu pendiri Borobudur Writers and Cultural Festival bersama Mudji Sutrisno sejak 2012. Selain itu, Seno aktif sebagai akademikus, mengajar di Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta, dan menjadi editor bagi beberapa buku penerbitan Prodi Teater IKJ, termasuk karya Tatiek Maliyati WS dan Kasim Ahmad.
Di ranah perfilman, Seno menghasilkan dokumenter “Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan”, yang memenangkan penghargaan Film Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia 2006. Sementara itu, dalam dunia puisi, karya-karyanya dipublikasikan di berbagai surat kabar dan buku, termasuk Tak Ada Santo dari Sirkus (2010) dan Tubuh yang Rasis (2002). Lintasan hidup ini menunjukkan keterkaitan erat antara pengalaman profesional, eksplorasi sejarah, dan kesadaran budaya yang kemudian tercermin dalam puisinya, terutama antologi puisi Marka (Cetakan I, Bandung: Pustaka Jaya, November 2024).
Fragmen pengalaman jurnalistik dan arkeologi, interaksi dengan ruang bersejarah, serta kepekaan estetis dan spiritual menyatu membentuk arsip batin yang menjadi landasan kesadaran puitik Seno. Dengan pengalaman fisik di mansion bersejarah maupun penjelajahan ke lembah-lembah seperti Panjshir, Seno menapaki ruang-ruang yang kemudian menjadi arsip batin, membentuk pondasi bagi puisinya, khususnya puisi Marka. Fragmen pengalaman ini meliputi pengamatan detil artefak, interaksi dengan reruntuhan, ritual lokal, hingga catatan lapangan jurnalistik yang digabungkan dalam kesadaran puitik yang unik.

Seno Joko Suyono
Puisi-puisi dalam Marka lahir dari pengalaman nyata yang bersinggungan dengan sejarah dan ruang arkeologis. Rumah-rumah tua, reruntuhan candi, dan artefak budaya tidak sekadar latar: mereka adalah saksi sekaligus medium alegoris yang menghidupkan kesadaran historis penyair. Misalnya, dalam puisi “Di Kompleks Pemakaman Tua”, Seno menulis:
“Jenasah-jenasah diarungkan dari Kali Krukut
Sampai depan pekuburan ini. Lalu kereta kuda akan menjemputnya”.
Kalimat ini bukan sekadar deskripsi visual; ia menghadirkan pembaca ke dalam atmosfer historis, aroma masa lampau, dan kesunyian yang menegaskan ketahanan memori budaya. Simbol-simbol seperti daun akasia, mata ilahi, jangka, tengkorak, dan jam pasir menjadi kode spiritual yang memadukan sejarah dengan pengalaman batin.
Tidak hanya ruang lokal, pengalaman Seno merambah Asia Tenggara hingga Eropa. Situs seperti Wat Phou di Laos atau reruntuhan Preah Vihear di Kamboja menjadi lanskap imajinatif yang bersinggungan dengan pengalaman personal penyair. Dalam puisi “Preah Vihear”, ia menggambarkan:
“Langit di atas kami adalah langit tempat kaki dewa muncul dari langit
Dan lalu menjejakkan telapaknya di tanah luas ini”.
Praktik jurnalistik Seno (observasi lapangan, dokumentasi arkeologis, liputan investigatif) menjadi jembatan menuju penciptaan ruang puitik, di mana fakta sejarah dan pengalaman spiritual bertemu. Puisi-puisinya menjadi arsip pengalaman manusia yang imersif, menghadirkan pembaca tidak hanya ke dunia faktual, tetapi juga ke ruang ritual dan spiritualitas yang mendalam.
Dengan demikian, Marka menyuguhkan lebih dari sekadar narasi atau citraan indrawi. Setiap langkah penyair adalah perjalanan batin yang menggabungkan sejarah, estetika, dan refleksi spiritual. Puisi menjadi medium di mana pengalaman historis, simbolisme ritual, dan kesadaran spiritual bersinergi, membuka horison pembaca untuk memahami puisi sebagai arsip pengalaman manusia yang imersif dan alegoris. Puisi ini menegaskan bagaimana pengalaman jurnalistik, kuratorial, arkeologis, dan estetis membentuk kesadaran budaya yang holistik, sekaligus menjadi panduan kontemplatif bagi pembaca dalam menyelami sejarah, ruang, dan eksistensi manusia.

II. Puisi sebagai Dinamo Tafsir
Puisi, sebagaimana karya Seno Joko Suyono, berfungsi bukan sekadar sebagai medium estetis, melainkan sebagai dinamo tafsir yang menggerakkan energi makna melalui pengalaman inderawi, simbolik, dan psikis pembaca. Dalam proses ini, pembaca tidak hanya memahami kata-kata secara literal, tetapi merasakan aliran naratif, ritme, citraan, serta interaksi kompleks antara manusia, artefak, hewan, dan ruang sakral. Hal ini sejalan dengan pandangan Abrams, yang menekankan bahwa pengalaman estetis melibatkan respon intelektual sekaligus emosional, di mana pembaca ikut berpartisipasi dalam energi makna teks (Abrams, A Glossary of Literary Terms, Boston: Heinle & Heinle, 1999: 17).
Seno menekankan bahwa puisi menjadi medium di mana pengalaman fisik, historis, dan spiritual bersatu. Sebagai contoh, dalam puisi “Bukit Semut”, interaksi manusia dengan makhluk dan artefak sakral ditampilkan secara simbolik:
“Siwa menjelma menjadi bukit tandus ini
Agar semut-semut bisa merayap
dan memujaNya di puncak”
Arca Siwa di sini tidak hanya menjadi objek visual, tetapi medium spiritual yang memicu pengalaman transenden bagi semut maupun manusia yang hadir. Puisi mengubah bukit menjadi ruang sakral, di mana interaksi makhluk hidup dan artefak menjadi energi naratif yang hidup. Pembaca, dalam proses tafsir, dapat membayangkan sekaligus merasakan ritme pergerakan semut, berat dan ketenangan puncak bukit, serta aura sakral arca. Iser menekankan bahwa pembaca membentuk teks secara aktif melalui pengalaman imajinatif; teks dan pembaca saling membangun makna (Iser, The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response, Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1978).
Demikian pula, dalam puisi “Eksil”, ketegangan manusia dengan artefak yang sakral ditunjukkan:
“Aku hanya ingin berkhidmad sebentar di dalam
Menyalakan lilin dan mengucapkan syukur
Pada Ia yang menuliskan
Mitologi penciptaan”
Manusia berada dalam hubungan intim dengan artefak dan ritual, namun tanpa tafsir yang eksplisit dari penyair. Fungsi puisi adalah menghadirkan pengalaman psikis: pembaca mengikuti gerak, aroma, cahaya lilin, dan ketegangan sakral yang menghidupkan teks. Eco menekankan bahwa pengalaman estetis bukan hanya membaca teks, tetapi merasakan tekstur simbolik dan ritme yang hadir melalui kata (Eco, The Role of the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts, Bloomington: Indiana University Press, 1984).
Interaksi manusia dengan hewan dan ruang sakral juga menjadi elemen penting. Dalam “Bukit Semut” dan “Eksil”, hewan seperti semut atau “Burung Malam” menempati posisi sakral sekaligus simbolik:
“Burung malam itu ingin bersamamu
Mengetuk pintu. Lalu masuk, duduk di bangku kayu
Mendengarkan kantata tanpa dirigen
Mendengarkan koor tanpa soprano
Sebelum not-not itu sampai ke rintihan Gethsemane”
Burung malam bukan sekadar pengisi latar, tetapi pembawa energi naratif yang memicu resonansi sejarah dan pengalaman batin. Inilah fungsi dinamo tafsir: puisi memberi energi makna tanpa memaksa interpretasi, sehingga pembaca dapat mengalami hubungan manusia–artefak–hewan–ruang sakral secara holistik.
Prinsip ini paling gamblang muncul dalam puisi “Marka”, yang menjadi fokus analisis ini. Puisi ini menyuguhkan lanskap ritual dan batin yang kaya simbol, di mana pengalaman historis, inderawi, dan spiritual bertemu. Secara utuh, puisi itu berbunyi:
MARKA
Jangan melewati garis marka
Akan meraung pedih trumpet kerang sangkha bila kakimu melangkah seinci lagi
Mundur, mundur
Tapal suci tak boleh diterjang
Cukuplah menatap yoni itu dari batas aman
Jarak tatap ini telah dibuat para dewi dengan perhitungan-perhitungan
Bila kau patuh akan ada sensasi-sensasi membahagiakan terjadi
Seberkas cahaya jatuh di ubun-ubun
Melingkar-lingkar memberi perasaan hangat di dalam kepala
Jarak pandang ini adalah sebaik-baiknya tempat kau berdiri
Jangan guyah. Tunggulah dengan sabar dan tenang
Giliranmu akan tiba. Kau akan menyaksikan lanskap yang menakjubkan
Langit seakan turun membuat tirai biru di belakang yoni
Dan pelangi muncul membuat titian
Menghubungkan lembah satu ke lembah lain
Mengaitkan sonata satu dengan sonata lain
Membuatmu ingat kelahiran-kelahiranmu terdahulu
Puisi “Marka” menampilkan beberapa dimensi pengalaman yang menjadi inti dinamo tafsir Seno:
1. Ruang dan ritual: Garis marka, tapal suci, yoni, dan posisi pembaca menjadi simbol keterbatasan dan aturan spiritual yang menuntun pengalaman puitik. Pembaca merasakan jarak, ketegangan, dan disiplin ritual, seolah berada di tengah prosesi sakral.
2. Sensasi inderawi: Baris seperti “Seberkas cahaya jatuh di ubun-ubun / Melingkar-lingkar memberi perasaan hangat di dalam kepala” menghadirkan pengalaman fisik dan psikis, di mana indera visual, somatik, dan batin bekerja bersama. Pembaca merasakan aura spiritual secara langsung.
3. Temporalitas dan historisitas: “Membuatmu ingat kelahiran-kelahiramu terdahulu” menunjukkan dimensi waktu yang melampaui momen konkret; puisi ini membuka akses ke memori batin dan sejarah personal, sehingga pembaca menjadi bagian dari ritus pengalaman batin penyair.
4. Interaksi simbolik: Lanskap, cahaya, pelangi, dan titian berfungsi sebagai dinamo simbolik. Sama seperti artefak, hewan, atau ruang sakral dalam puisi lain, elemen-elemen ini menimbulkan resonansi emosional dan spiritual, membangkitkan energi tafsir yang bergerak dinamis di benak pembaca (Iser, 1978; Eco, 1984).
Dengan demikian, “Marka” memungkinkan pembaca merasakan secara psikis, visual, dan spiritual seluruh pengalaman puisi. Tidak sekadar membaca kata, pembaca diajak menempatkan diri dalam jarak aman, mengamati, menunggu, dan mengalami ritme transendental yang terpatri dalam simbol dan ruang. Garis marka, yoni, pelangi, dan titian menjadi arsip batin yang imersif, menyatukan pengalaman historis, ritual, estetika, dan refleksi batin.
Puisi ini memperlihatkan bagaimana Seno memadukan pengalaman profesional jurnalistik dan arkeologis dengan kesadaran estetis dan spiritual. Dengan demikian, “Marka” menjadi contoh sempurna dari konsep dinamo tafsir: pembaca tidak dipaksa pada satu makna literal, melainkan diajak merasakan, membayangkan, dan mengalami teks secara holistik. Artefak ritual, jarak, cahaya, dan lanskap bersatu membangkitkan energi makna yang aktif, sesuai dengan teori Abrams, Iser, dan Eco.
III. Getaran Estetik: Suara, Ritme, dan Pengalaman Indrawi
Puisi tidak hanya menyampaikan makna melalui kata-kata, tetapi juga melalui getaran estetis yang menyentuh tubuh dan batin pembaca. Bunyi, ritme, aroma, tekstur, dan sensualitas hadir sebagai medium pengalaman inderawi yang menghidupkan teks puisi. Dengan demikian, pembaca tidak sekadar membaca, tetapi merasakan puisi melalui pengalaman sensorik dan psikologis yang mendalam. Umberto Eco menegaskan bahwa pengalaman estetis terjadi ketika pembaca aktif membentuk teks melalui imajinasi dan resonansi inderawi; teks menjadi hidup ketika pembaca merasakannya, bukan sekadar menafsirkan secara konseptual (Eco, 1984). Wolfgang Iser juga menekankan bahwa proses pembacaan menggerakkan pembaca untuk mengisi kekosongan teks dengan pengalaman batin dan inderawi, sehingga teks dan pembaca saling membangun makna (Iser, 1978).
Seno Joko Suyono menekankan pentingnya analisis mikroskopis terhadap bunyi dan ritme dalam puisinya. Dalam puisi “Song Keplek”, ia menulis:
“Carilah stalagmit tumpul yang menggaungkan slendro
dan stalagtit runcing yang menularkan tuts B minor.
Ajaklah mahasiswamu membuat komposisi
Dari tulang-tulang dan gigi gigi fosil
Yang terterkam mamalia liar atau terbunuh pendatang Astronesia”
Bunyi piano tidak hanya menjadi latar, tetapi juga menghidupkan memori eksil dan kehilangan. Ritme musik ini bersanding dengan langkah yang hilang, menciptakan resonansi psikologis yang menembus pengalaman batin pembaca. Setiap getaran bunyi menjadi alat naratif dan psikis yang membawa pembaca menyelami waktu dan memori yang tersimpan dalam ruang puisi. Proses ini memperkuat pandangan Eco bahwa pengalaman estetis melibatkan resonansi inderawi, sehingga teks dan pembaca menjadi satu dalam konstruksi makna.
Di sini, “Marka” memberikan pengayaan pengalaman inderawi, misalnya melalui baris:
“Jangan melewati garis marka
…
Jarak tatap ini telah dibuat para dewi dengan perhitungan-perhitungan
Bila kau patuh akan ada sensasi-sensasi membahagiakan terjadi”
Irama kata-kata yang berulang dan suara konsonan yang tegas membangun ketegangan psikis, memicu kesadaran tubuh dan batin pembaca. Getaran naratif ini sejalan dengan pengalaman bunyi piano di “Song Keplek”, menegaskan fungsi puisi sebagai energi simbolik yang aktif menggerakkan persepsi inderawi.
Selain bunyi dan ritme, puisi Seno menyentuh sensualitas inderawi melalui aroma, cahaya, dan tekstur. Dalam puisi “Biru: Untuk sebuah Lukisan Ugo Untoro”, ia menggambarkan:
“Betis itu tertimpa cahaya sendiri, entah mengapa
Lebih terang dari seluruh badan yang tersuruk gelap biru”
Pengalaman cahaya juga hadir dalam “Marka”:
“Seberkas cahaya jatuh di ubun-ubun
Melingkar-lingkar memberi perasaan hangat di dalam kepala”
Cahaya yang melingkar-lingkar ini bukan sekadar visual, melainkan sensasi psikis yang dirasakan tubuh pembaca. Bersama aroma dan tekstur, pengalaman ini memperkuat resonansi inderawi dan spiritual, sehingga pembaca dapat merasakan ketenangan, ketegangan, dan kehangatan secara simultan.
Lebih jauh, observasi mikroskopis terhadap detail naratif dan psikis memungkinkan pembaca menemukan lapisan-lapisan makna tersembunyi. Misalnya, dalam puisi “Eksil”:
“Aku hanya ingin berkhidmad sebentar di dalam
Menyalakan lilin dan mengucapkan syukur
Pada Ia yang menuliskan
Mitologi penciptaan”
Sementara “Marka” menegaskan kesabaran dalam mengalami teks:
“Jarak pandang ini adalah sebaik-baiknya tempat kau berdiri
Jangan guyah. Tunggulah dengan sabar dan tenang
Giliranmu akan tiba. Kau akan menyaksikan lanskap yang menakjubkan”
Ritme kata dan visualisasi lanskap memfasilitasi perlambatan membaca, menempatkan pembaca dalam posisi kontemplatif. Teks menjadi ruang meditasi batin, di mana sensasi cahaya, jarak, dan ritme berpadu dengan pengalaman psikis, membangun energi estetis yang utuh.
Dengan demikian, puisi Seno Joko Suyono memperluas dimensi pengalaman pembaca. Bunyi, ritme, cahaya, aroma, tekstur, dan sensualitas menembus persepsi inderawi; observasi mikroskopis menumbuhkan dimensi psikis dan spiritual. Semua ini menjadikan puisi sebagai medium merasakan sejarah, eksil, dan spiritualitas, bukan sekadar membacanya. Puisi “Marka” berfungsi sebagai dinamo tafsir yang menggerakkan energi inderawi dan psikis pembaca, menyatu dengan seluruh getaran estetis dalam antologi.
IV. Lapis Makna: Simbol, Ritual, dan Mitologi
Puisi Seno Joko Suyono menampilkan lapis makna yang kaya, di mana simbol, ritual, dan mitologi menjadi medium untuk menafsirkan pengalaman manusia secara historis, spiritual, dan etis. Puisi tidak berhenti pada estetika kata atau citraan visual semata; ia menuntun pembaca menembus struktur batin penyair, sekaligus menautkan pengalaman personal dengan ruang historis dan budaya yang dihidupkan melalui teks. Mircea Eliade menegaskan bahwa ritual dan mitologi berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman manusia sehari-hari dengan dimensi sakral, menciptakan “kehadiran realitas ilahi dalam ruang dan waktu” (Eliade, The Sacred and the Profane: The Nature of Religion, New York: Harcourt, 1957: 21). Pandangan ini sejalan dengan strategi puisi Seno, yang menghadirkan artefak, kuil, dan hewan sakral sebagai simbol alegoris yang menghidupkan dimensi etis dan spiritual bagi pembaca.
Mitologi menjadi lapisan yang tak terpisahkan. Figur seperti Siwa, Avalokitesvara, Ratnasambhawa, dan Ganesha hadir bukan sebagai tokoh literal, tetapi sebagai medium alegori yang menyalurkan pengalaman spiritual dan moral. Dalam puisi “Wat Phou, Laos”, Seno menulis:
“Di lereng bukit, Siwa berkepala empat sudah tak ditahtakan semestinya
Kecuali mengatur nafas untuk turun kembali
Tak ada niatan merekam batu-batu berbentuk kepala binatang”
Batu-batu kuil di sini berfungsi sebagai simbol historis sekaligus spiritual, membawa pembaca menembus waktu, menghayati kesetiaan dan pengorbanan manusia yang membangun dan merawatnya. Sejalan dengan pemikiran Carl Jung, simbol tidak hanya mewakili objek atau tindakan, tetapi “menjadi perantara pengalaman kolektif dan personal, menyingkap makna psikologis yang mendalam” (Jung, Man and His Symbols, London: Aldus Books, 1964: 57). Simbol dalam puisi Seno, seperti Ganesha yang mempertanyakan gadingnya atau semut yang memuja Siwa, berfungsi untuk menyalurkan pengalaman moral, spiritual, dan eksistensial kepada pembaca.
Ritual menjadi medium lain yang membentuk alegori puisi. Upacara sradha, meditasi di kuil, dan penjelajahan situs sakral muncul sebagai simbol tindakan spiritual dan refleksi batin. Dalam puisi “Pesta”, Seno menggambarkan:
“saat upacara sradha
penguasa yang diarcakan tahun saka
Sakramen yang menghapuskan
segala jenis dosa persetubuhan”
Gerak ritual, aroma dupa, dan cahaya yang menempel pada tubuh pembaca menciptakan pengalaman sensorik sekaligus psikis yang mendekatkan pembaca pada dimensi sakral. Seperti dijelaskan Eliade, ritual memungkinkan manusia menghadirkan “kesakralan di tengah profanitas kehidupan sehari-hari”, sehingga pengalaman spiritual menjadi nyata dan dapat dirasakan melalui praktik simbolik (Eliade, 1957).
Puisi “Marka” secara konkret menegaskan dimensi simbol, ritual, dan mitologi ini. Garis marka dan tapal suci menjadi simbol batas sakral, sedangkan yoni menjadi pusat energi spiritual yang menuntun pembaca pada pengalaman batin yang disiplin dan terarah:
“Tapal suci tak boleh diterjang
Cukuplah menatap yoni itu dari batas aman”
Baris-baris ini menekankan ritual sebagai praktik disipliner yang membangun kesadaran spiritual. Pembaca diundang menempatkan diri pada jarak aman, merasakan ketegangan dan sakralitas momen, seolah terlibat dalam prosesi yang diatur oleh hukum ilahi atau kosmik. Mitologi hadir melalui simbolisme halus, misalnya:
“Jarak tatap ini telah dibuat para dewi dengan perhitungan-perhitungan”
Ungkapan ini menghadirkan wacana kosmik dan dewa-dewi sebagai mediator pengalaman manusia, menautkan ritual dengan pengalaman mitologis, memberi kesadaran bahwa setiap tindakan puitik berada dalam struktur sakral yang telah ditata secara teliti oleh kekuatan transenden. Sensasi inderawi menjadi jembatan pengalaman spiritual. Dalam “Marka”:
“Seberkas cahaya jatuh di ubun-ubun
Melingkar-lingkar memberi perasaan hangat di dalam kepala”
Cahaya yang jatuh dan melingkar-lingkar bukan sekadar citraan visual, tetapi medium pengalaman batin yang menyentuh tubuh dan psikis pembaca. Ritual, simbol, dan mitologi berpadu dengan pengalaman inderawi, membangkitkan resonansi batin yang memungkinkan pembaca merasakan sakralitas secara langsung.
Dimensi temporalitas dan refleksi historis juga muncul:
“Dan pelangi muncul membuat titian
Menghubungkan lembah satu ke lembah lain
Mengaitkan sonata satu dengan sonata lain
Membuatmu ingat kelahiran-kelahiranmu terdahulu”
Bait terakhir “Marka” ini menegaskan keterhubungan pengalaman spiritual dengan memori personal dan sejarah batin, sehingga pembaca tidak hanya menafsirkan simbol secara intelektual, tetapi mengalami perjalanan eksistensial yang mendalam. Pelangi sebagai titian dan sonata yang saling terhubung menjadi metafora mitologis dan simbolik, menyatukan ruang, waktu, dan pengalaman personal dengan kosmos puitik yang sakral.
Dengan begitu, ritual, simbol, dan mitologi dalam “Marka” bekerja secara sinergis untuk membangun lapis makna: pembaca mengalami disiplin spiritual, resonansi inderawi, kesadaran mitologis, dan refleksi historis secara bersamaan. Seperti dijelaskan Eliade dan Jung, simbol dan ritual memungkinkan manusia mengakses pengalaman kolektif dan personal, menyingkap makna psikologis dan spiritual yang mendalam (Eliade, 1957; Jung, 1964). Puisi Seno menegaskan bahwa membaca bukan sekadar proses intelektual, tetapi pengalaman batin dan inderawi yang utuh; dinamo pemaknaan spiritual dan etis yang menggerakkan pembaca dalam tiap lapis makna yang tertulis.
Dengan demikian, “Marka” menjadi contoh sempurna bagaimana simbol, ritual, dan mitologi bekerja bersama dalam teks puisi, membimbing pembaca menembus batas literal, merasakan ritus batin, dan mengakses pengalaman historis serta spiritual secara holistik.
V. Resonansi dan Koneksi Antar-Puisi
Dalam antologi Marka, puisi-puisi tidak berdiri sebagai entitas tunggal, melainkan membentuk jaringan resonansi tematik dan simbolik. Puisi pertama sering berfungsi sebagai poros gravitasi, menarik dan mengorganisasi tema-tema yang berulang sepanjang buku, seperti reruntuhan, artefak, arca, ritual, eksil, dan pengalaman batin. Dengan cara ini, pembaca merasakan kesatuan batin yang mengalir secara kontinu antar-puisi, sekaligus menavigasi perjalanan multi-dimensional: dari fisik, spiritual, inderawi, hingga naratif.
Puisi “Marka” sendiri menjadi titik awal resonansi ini. Garis marka, yoni, dan pelangi sebagai titian menegaskan hubungan tematik dan simbolik yang mengalir ke seluruh antologi:
“Jangan melewati garis marka
…
Langit seakan turun membuat tirai biru di belakang yoni
…
Dan pelangi muncul membuat titian
Menghubungkan lembah satu ke lembah lain”
Baris-baris ini menjadi poros ritual yang menuntun pengalaman batin pembaca, sekaligus menciptakan resonansi yang menyebar ke puisi lain, misalnya “Mimpi Bamiyan” dan “Surat Imajiner dari Lembah Panjshir”. Kedua puisi ini, meskipun berbeda lokasi dan konteks naratif, saling memantul melalui tema eksil, kesendirian, dan keterasingan batin. Dalam “Mimpi Bamiyan”, Seno menulis:
“Biku-biku melukis di gua
Mudra, genta – cawan, stupa dijadikan fresko
Menunggu datang musafir dari kepulauan
Mendaraskan sutra yang tak pernah dipelajari
Tapi yang ditunggu tak pernah sampai”
Selanjutnya, dalam “Surat Imajiner dari Lembah Panjshir”:
“Kami bertahan di sini bukan dengan ladang opium
Tapi dengan nyanyian-nyanyian syahdu
Seperti: Melati dari Jayagiri”
Kedua kutipan ini menunjukkan bagaimana simbol reruntuhan dan eksil membentuk resonansi naratif yang memperkuat pengalaman pembaca terhadap dimensi batin dan sejarah personal penyair. Resonansi ini diperkuat oleh elemen ritual dan simbolik dari “Marka”, seperti “Jarak tatap ini telah dibuat para dewi dengan perhitungan-perhitungan”, yang menautkan pengalaman ritual dengan kesadaran kosmik, serta “Seberkas cahaya jatuh di ubun-ubun / Melingkar-lingkar memberi perasaan hangat di dalam kepala”, yang menghadirkan resonansi inderawi yang mendalam. Menurut R. Tsur, resonansi tematik semacam ini memungkinkan pembaca membangun kesadaran emosional dan kognitif terhadap jaringan makna puisi, bukan sekadar memaknai setiap puisi secara parsial (Tsur, Toward a Theory of Cognitive Poetics, Amsterdam: North-Holland, 1992: 57).
Artefak yang berulang, seperti gading Ganesha, semut yang memuja Siwa, atau tuts piano yang bergetar di udara, berfungsi sebagai tanda lintas puisi. Mereka tidak hanya menjadi simbol individual, tetapi memperkuat struktur alegoris dan konsistensi simbolik sepanjang buku. Sebagai contoh, tuts piano yang muncul di Museum mengingatkan pembaca pada langkah kaki yang hilang di Meditasi di Sinhavijrimbitha, menegaskan koneksi antara pengalaman inderawi dan naratif. Hubungan ini sejalan dengan baris “Marka”: “Dan pelangi muncul membuat titian / Menghubungkan lembah satu ke lembah lain / Mengaitkan sonata satu dengan sonata lain”.
Pelangi dan titian di sini bukan sekadar citraan visual; mereka menjadi metafora resonansi lintas puisi, menegaskan keterhubungan pengalaman fisik, batin, dan simbolik antar teks.
Resonansi antar-puisi ini, menurut D. Herman, merupakan cara penyair membangun “ekosistem simbolik”, di mana setiap elemen puisi saling memperkuat makna tematik, memperluas horison estetika, sekaligus memfasilitasi pembaca dalam mengalami perjalanan multi-dimensional: dari fisik (reruntuhan, artefak), spiritual (ritual, meditasi), inderawi (suara, aroma, tekstur), hingga naratif (cerita, ingatan, eksil) (Herman, The Aesthetics of Intertextuality, London: Routledge, 2011: 78).
Dengan demikian, “Marka” tidak sekadar kumpulan puisi, melainkan arsitektur batin yang membangun resonansi simbolik lintas puisi, menciptakan pengalaman membaca yang kohesif, mendalam, dan multi-layered. Setiap puisi berfungsi sebagai node dalam jaringan makna, di mana pembaca dapat merasakan hubungan temporal, emosional, dan spiritual yang meneguhkan tema-tema besar antologi. Baris-baris dari “Marka” (dari garis marka, yoni, cahaya, hingga pelangi) menjadi dinamo yang menggerakkan koneksi antar-puisi, memfasilitasi pengalaman pembaca yang holistik dan transformatif.
VI. Puisi, Jurnalisme, dan Kesadaran Kebudayaan
Pengalaman jurnalistik dan arkeologi bukan sekadar latar biografis bagi Seno Joko Suyono (keduanya menjadi landasan epistemik yang membentuk kepekaan puitiknya). Seno mewarisi cara melihat dunia seperti praktisi jurnalistik yang mencatat fakta, dan arkeolog yang menyingkap lapisan-lapisan waktu, sekaligus menjadikannya bahan puisi yang kaya makna. Dengan pendekatan ini, puisi tidak muncul sebagai narasi estetis semata, tetapi sebagai arsip kebudayaan yang mengekspresikan kesadaran historis dan simbolik. Puisi menjadi saksi batin atas peristiwa dan ruang yang sering tidak terekam oleh catatan resmi, menegaskan bahwa puisi adalah arsip hidup pengalaman manusia.
Baris puisi “Banteay Chmar” berikut merangkum ketegangan antara dokumentasi sejarah dan pengalaman subjektif yang tertinggal dari catatan formal:
“Ambrukan batu berabad-abad membimbing langkah kita
Ke sebuah luka yang dikoreografikan bayangan
Amsalkan kesunyianku. Dulu mungkin ini sebuah benteng
Untuk menahan musuh di perbatasan”
Baris ini tidak hanya metaforis; reruntuhan berbicara sebagai arsip hidup yang terus menuntut interpretasi. Fenomena ini selaras dengan Aleida Assmann, yang menekankan bahwa ingatan kolektif tidak hanya tersimpan dalam dokumen formal, tetapi juga melalui artefak, praktik simbolik, narasi, dan representasi budaya yang diwariskan antar-generasi (Assmann, Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination, Cambridge: Cambridge University Press, 2011:19). Dalam puisi Seno, reruntuhan, pengalaman inderawi, dan refleksi batin bekerja sebagai medium yang menyimpan ingatan kolektif sekaligus mengundang refleksi individu.
Lebih jauh, pengalaman profesional Seno (antara jurnalistik dan arkeologi) membentuk modal simbolik yang kuat dalam puisinya. Pierre Bourdieu menekankan bahwa modal simbolik adalah bentuk kekuatan budaya yang memberi nilai dan legitimasi terhadap cara kita melihat dunia, termasuk cara membaca teks, artefak, dan narasi sejarah (Bourdieu, The Forms of Capital, In John G. Richardson, Ed., Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, New York: Greenwood, 1986). Dalam puisi Seno, ketelitian pengamatan, pemilihan detail historis, serta sensitivitas terhadap artefak dan ruang kuno tercermin dalam “Marka”:
“Jangan melewati garis marka
Akan meraung pedih trumpet kerang sangkha bila kakimu melangkah seinci lagi
Mundur, mundur
Tapal suci tak boleh diterjang
Cukuplah menatap yoni itu dari batas aman”
Baris-baris ini memadukan pengalaman batin dengan disiplin ritual, menyerupai laporan jurnalistik yang teliti namun juga sarat simbolik. Garis marka dan yoni menjadi arsip hidup yang menyimpan informasi etis, ritual, dan kosmis, memanggil pembaca untuk melakukan observasi yang lambat dan reflektif.
Puisi Seno juga menekankan perlambatan membaca, praktik estetis yang mengundang refleksi mendalam. Tidak seperti laporan berita yang menuntut kecepatan, puisi memanggil pembaca untuk berhenti, mengamati, dan merenungkan. Misalnya, dalam puisi “Late Check Out”:
“Kami terantuk-antuk bersama
Mencari peripih di bawah ranjang
Mengudal-ngudal lipatan selimut mengharap lempir-lempir emas bermantra
Membalik-balik kasur berdoa ada giwang tercecer”
Tindakan sederhana seperti menelusuri lipatan selimut menjadi ritual penemuan sejarah pribadi dan kolektif. Ini adalah mikro-narasi, di mana pengalaman keseharian bertransformasi menjadi arsip batin yang kaya makna: fenomena yang sering tidak terlihat bila dibaca cepat seperti berita harian.
Contoh lain dari kesadaran historis dan jurnalistik muncul dalam puisi “Jala”:
“Apakah ini situs terkutuk?
Tempat para anggota tarekat singgah – dan
Kemudian hilang tak tentu – tanpa mewariskan
tafsir-tafsir wasiat ?”
Baris-baris tersebut menegaskan bahwa sejarah tidak selalu hadir sebagai narasi utuh, melainkan sebagai fragmen pengalaman yang menuntut penafsiran terus-menerus. Puisi Seno memadukan pengalaman empiris dengan kesadaran simbolik, menghasilkan arsip puitik yang hidup dan dialogis.
Dengan demikian, puisi Seno tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi membentuk cara melihat dunia. Jurnalistik memberi urgensi fakta, arkeologi memberi dimensi temporal dan material, sedangkan puisi mengolah keduanya menjadi ruang refleksi kebudayaan. Pembaca tidak hanya diajak memahami sejarah, tetapi juga dilatih untuk memperlambat persepsi dan membaca jejak pengalaman secara lebih sadar dan mendalam.
Secara lebih luas, kesadaran kebudayaan dalam puisi Seno menegaskan dimensi etis dan estetis pengalaman manusia. Reruntuhan, artefak, dan ruang keseharian tidak hadir sebagai objek visual, melainkan sebagai medan dialog antara memori, sejarah, dan kesadaran eksistensial. Melalui puisi seperti “Banteay Chmar”, “Marka”, “Late Check Out”, dan “Jala”, Seno membangun puitika reflektif yang menempatkan pembaca secara sadar di dalam lanskap sejarah dan kebudayaan manusia.
VII. Mempersepsi dan Memposisikan “Marka” dalam Perpuisian Indonesia
1. Marka dan Tradisi Puisi Meditatif-Transendental
Puisi “Marka” karya Seno Joko Suyono bergerak dalam horison puisi meditatif-transendental Indonesia: sebuah tradisi yang memandang bahasa bukan sekadar medium ekspresi emosional, melainkan jalan penghayatan spiritual. Dalam konteks sejarah sastra Indonesia modern, kecenderungan ini dapat ditelusuri sejak periode Pujangga Baru melalui intensitas religio-mistik Amir Hamzah, lalu berkembang dalam artikulasi simbolik-filosofis pada puisi Abdul Hadi W.M., serta menemukan bentuk kultural-devosional dalam sajak-sajak D. Zawawi Imron.
Dalam kerangka teori sastra religius, M.H. Abrams menyebut bahwa karya-karya yang berorientasi transendental cenderung menampilkan “the ascent of the soul” atau gerak batin menuju yang ilahi melalui simbol dan metafora (Abrams, Natural Supernaturalism: Tradition and Revolution in Romantic Literature, New York: Norton, 1971: 56). Jika “Turun Kembali” (Amir Hamzah) menampilkan pola klasik ascent–descent (naik ke cahaya, turun kembali ke dunia), dan “Zikir” (Zawawi Imron) menghadirkan ekstase repetitif melalui simbol “alif”, maka “Marka” justru mengonstruksi spiritualitas sebagai kesadaran batas. Dalam “Marka” kita membaca:
“Jangan melewati garis marka
…
Tapal suci tak boleh diterjang”
Bahasa imperatif ini menandai pergeseran penting: spiritualitas bukan lagi pengalaman puncak, melainkan disiplin ruang. Di sini, transendensi tidak dicapai melalui pendakian vertikal atau ekstase repetitif, tetapi melalui kepatuhan pada garis demarkasi.
Konsep batas (limit) dalam pemikiran religius memiliki resonansi filosofis. Mircea Eliade menjelaskan bahwa ruang sakral selalu dibedakan dari ruang profan melalui hierophany, yakni penandaan yang memisahkan dan menguduskan (Eliade, 1957: 25). Dalam “Marka”, garis marka berfungsi sebagai hierofani modern: ia membelah ruang menjadi yang boleh dan yang tak boleh, yang profan dan yang sakral.
Dengan demikian, “Marka” dapat ditempatkan dalam tradisi puisi religius Indonesia, namun dengan artikulasi yang khas: spiritualitas sebagai etika jarak.
2. Perbandingan Poetik dan Kontekstual
a. Dengan Amir Hamzah: Transendensi Vertikal dan Romantisisme Mistik
Dalam “Turun Kembali”, Amir Hamzah menulis:
Dalam “Turun Kembali”, Amir Hamzah menulis:
“Kalau aku dalam engkau
dan kau dalam aku
adakah begini jadinya
aku hamba engkau penghulu?”
…
“Diterangi cahaya engkau sinarkan
aku menaiki tangga, mengawan
kecapi firdausi melena telinga
menyentuh gambuh dalam hatiku”
(Sumber: https://www.sepenuhnya.com/2025/08/puisi-turun-kembali-karya-amir-hamzah.html)
Gerak vertikal (“menaiki tangga, mengawan”) merepresentasikan pola mistik klasik: jiwa mendaki menuju sumber cahaya, lalu “turun kembali” ke dunia. Abdul Hadi W.M. dalam kajiannya tentang Amir Hamzah menyebut bahwa puisi Amir adalah romantisisme religius yang memadukan kerinduan metafisis dengan sensibilitas estetis (Hadi W.M., Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999).
Sebaliknya, “Marka” tidak menampilkan gerak naik-turun. Ia menghadirkan garis horisontal: batas, tapal suci, jarak pandang. Jika Amir menekankan ekstase penyatuan (“Kalau aku dalam engkau / dan kau dalam aku”), maka Seno Joko Suyono menekankan diferensiasi yang dijaga.
Perbedaan ini kontekstual: Amir Hamzah menulis dalam semangat Pujangga Baru yang mencari sintesis antara Islam sufistik dan romantisisme Barat; sedangkan “Marka” lahir dalam konteks pascamodern, ketika kesadaran akan batas dan regulasi ruang menjadi bagian dari pengalaman sosial dan kultural.
b. Dengan Abdul Hadi W.M.: Kosmologi Simbolik dan Intertekstualitas Budaya
“Meditasi” karya Abdul Hadi W.M. menghadirkan lanskap simbolik lintas budaya: yin-yang, kuil, makam kaisar, mantra. Simbol-simbol itu membangun kosmologi puitik yang luas dan intertekstual. A. Teeuw menyebut kecenderungan ini sebagai puisi simbolik yang membuka jaringan makna lintas tradisi (Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Jakarta: Pustaka Jaya, 1988).
Dalam bait pertama “Meditasi” Abdul Hadi menulis:
Itulah bidadari Cina itu, dengan seekor kilin
dan menyeret kainnya basah: menggigil dalam kuil
(daun-daun salam berguguran dan di beranda
masih terdengar suara hujan, hujan pasir) Ia
menunjukkan yin-yang yang kabur di atas pintu
dan di mataku terasa hembusan angin yang merabunkan
(lihatlah, ujarmu, ia mengajak kita ke tempat sepi
di mana berdiri sebuah makam kaisar yang mati
dalam pertempuran merebut kota dari desa) Angin
berlarian menghamburkan bau-bauan dari tangan
perempuan-perempuan yang wangi dan kedinginan
di atas gapura yin-yang yang mulai memuat lumut
dengan tulisan-tulisan tua yang tak terbaca sudah
(langit adalah bayang-bayang, kau menyesal
telah memimpikannya; dan di sebelahnya
berdiri gedung, beribu sungai dan tebing gunung
yang terbuat dari batu, anggur dan lempung
yang kini menampakkan bintang kemukus yang panjang)
…
(Sumber: https://www.jendelasastra.com/dapur-sastra/dapur-jendela-sastra/lain-lain/puisi-puisi-abdul-hadi-wm)
Dalam “Marka”, simbol memang hadir: yoni, sangkha, pelangi. Namun simbol-simbol itu tidak dikembangkan menjadi kosmologi naratif, melainkan difungsikan sebagai titik fokus ritual. Ia lebih minimalis, lebih terkendali.
Jika Abdul Hadi menciptakan ruang sakral melalui imaji yang berlapis-lapis, maka Seno menciptakan ruang sakral melalui larangan dan instruksi: “Jangan guyah. Tunggulah dengan sabar dan tenang.”
Bahasa di sini bersifat performatif: menciptakan kondisi spiritual melalui perintah. Dalam perspektif teori bahasa, ini mendekati konsep speech act J.L. Austin: ujaran bukan sekadar representasi, melainkan tindakan (Austin, How to Do Things with Words, Oxford: Oxford University Press, 1962).
c. Dengan D. Zawawi Imron: Ekstase Repetitif dan Ledakan Batin
“Zikir” karya D. Zawawi Imron mengulang:
“alif, alif, alif
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku”
…
“hompimpah hidupku, hompimpah matiku,
hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,
hompimpah!”
…
“kugali hatiku dengan linggis alifmu
hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,
jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
mengerang menyebut alifmu”
Repetisi ini membangun ritme litani. Sapardi Djoko Damono menyatakan bahwa dalam puisi religius modern, repetisi dapat menjadi cara menggetarkan makna melalui bunyi (Damono, Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1984).
Namun “Marka” tidak repetitif secara mantra. Repetisinya hadir sebagai peringatan:
“Mundur, mundur”
“Jangan melewati…”
“Tunggulah…”
Jika “Zikir” adalah ledakan batin yang meluas menjadi samudra (“jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang”), maka “Marka” adalah pengereman batin. Ia mengarahkan energi spiritual ke dalam kendali diri.
Dalam konteks kultural, Zawawi membawa tradisi zikir Islam yang komunal; Seno mengolah simbol Hindu-Buddha (yoni, sangkha) dalam ruang kontemplasi individual. Perbedaan ini memperlihatkan pluralitas ekspresi religius dalam puisi Indonesia.
3. Posisi Estetik: Mistik-Disipliner
Dari perbandingan tersebut dapat ditegaskan: Ia bukan romantik-mistik seperti Amir Hamzah. Ia bukan simbolis-kosmologis seperti Abdul Hadi W.M. Ia bukan dzikir-ekstatik seperti D. Zawawi Imron. “Marka” berada pada titik yang dapat disebut sebagai mistik-disipliner: spiritualitas yang dibangun melalui kesadaran batas, jarak, dan kepatuhan. Transendensi bukan hasil ekstase, tetapi hasil ketaatan pada garis.
Konsep ini sejalan dengan gagasan Michel Foucault tentang disiplin sebagai pembentukan subjek melalui pengaturan ruang dan tubuh (Foucault, Discipline and Punish, New York: Pantheon Books, 1977: 141). Dalam “Marka”, tubuh liris diarahkan untuk berhenti, menunggu, menjaga jarak. Subjek spiritual dibentuk melalui regulasi diri.
Namun berbeda dari disiplin yang represif, garis dalam “Marka” justru membuka kemungkinan visioner:
“Pelangi muncul membuat titian
Menghubungkan lembah satu ke lembah lain”
Transendensi hadir setelah kepatuhan. Dalam logika ini, batas bukan penghalang, melainkan prasyarat pencerahan.
4. Marka dalam Peta Perpuisian Indonesia
Dalam peta perpuisian religius Indonesia:
Amir Hamzah = mistik romantik klasik
Abdul Hadi W.M. = mistik kosmologis modern
D. Zawawi Imron = mistik dzikir kultural
Seno Joko Suyono = mistik batas dan jarak
Dengan demikian, “Marka” memperkaya tradisi puisi transendental Indonesia dengan menawarkan model spiritualitas berbasis etik ruang dan kesadaran limit. Jika tradisi sebelumnya menekankan pendakian atau ekstase, “Marka” menekankan kesadaran demarkasi.
Dalam konteks Indonesia yang plural secara religius dan kultural, puisi ini menunjukkan bahwa pengalaman sakral tidak selalu hadir dalam ledakan atau penyatuan, melainkan juga dalam sikap menahan diri. Di sanalah “Marka” menemukan posisinya: bukan sebagai pengulang tradisi, tetapi sebagai penyunting ulang makna transendensi dalam bahasa puitik kontemporer.
VIII. Penutup: Marka sebagai Jejak dan Disiplin Perjalanan Batin
Antologi Marka bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan jejak perjalanan batin Seno Joko Suyono yang merajut pengalaman, ingatan, dan refleksi eksistensial menjadi kesatuan puitik yang koheren. Perjalanan batin dalam Marka tidak bergerak melalui ekstase mistik atau pendakian spiritual yang vertikal, melainkan melalui disiplin jarak, penahanan diri, dan kepatuhan terhadap batas yang menandai ruang sakral dan profan.
Sepanjang antologi ini, pembaca diajak menelusuri fragmen peristiwa (reruntuhan kota, ruang publik yang sepi, hingga artefak keseharian), yang kemudian disaring melalui kepekaan puitik Seno menjadi pengalaman simbolik, estetis, dan reflektif. Pengalaman tersebut tidak dibiarkan mengalir tanpa kendali, melainkan selalu ditempatkan dalam kesadaran ruang: ada jarak pandang, titik berdiri, dan momen untuk menunggu. Dalam pengertian ini, setiap puisi berfungsi sekaligus sebagai arsip batin dan latihan spiritual, di mana pengalaman dikodekan ke dalam metafora namun tetap diarahkan oleh etika batas.
Jika dalam tradisi puisi religius Indonesia dikenal romantisisme mistik Amir Hamzah, kosmologi simbolik Abdul Hadi W.M., atau devosi repetitif D. Zawawi Imron, maka “Marka” menawarkan artikulasi spiritualitas yang berbeda: spiritualitas sebagai disiplin kesadaran. Transendensi tidak dicapai melalui lonjakan emosional, melainkan melalui ketaatan pada garis yang tidak boleh dilampaui.
Pengalaman manusia dalam puisi-puisi seperti “Jala” dan “Eksil” menunjukkan bahwa kehidupan tidak pernah tunggal. Ia berada di persimpangan estetika, sejarah, spiritualitas, dan pengalaman inderawi. Namun dalam “Marka”, persimpangan itu tidak berubah menjadi kekacauan makna. Ia justru dijaga melalui kesadaran etik. Menapaki reruntuhan, mendengar dentang jam, atau menelusuri cahaya yang melingkar-lingkar bukan sekadar visualisasi, melainkan praktik meditasi yang menuntut ketelitian pengalaman: manusia berjalan di antara ingatan dan kehilangan sambil tetap sadar pada titik pijaknya.
Dalam banyak sajak, tindakan sederhana (membaca ulang ruang, menyimak bunyi yang hampir tak terdengar, atau memperhatikan detail yang tampak remeh) berubah menjadi latihan memperlambat waktu. Nostalgia tidak dibiarkan menjadi sentimentalitas, melainkan berubah menjadi tanggung jawab terhadap memori. Sejarah tidak hadir sebagai narasi besar yang retoris, tetapi sebagai jejak samar yang hanya dapat dibaca melalui kesediaan untuk berhenti dan menjaga jarak terhadap pengalaman.
Kesatuan multi-dimensi dalam puisi Seno semakin nyata ketika pengalaman inderawi, simbolik, dan ritual menyatu dalam satu kesadaran puitik. Bunyi piano, aroma dupa, cahaya yang melingkar-lingkar, atau artefak sejarah tidak hadir sebagai ornamen, melainkan sebagai perangkat pembentukan subjek. Puisi menjadi medium yang melatih pembaca untuk hadir secara utuh dalam pengalaman ruang dan waktu. Dalam pengertian ini, setiap puisi dalam Marka menjadi simpul dalam jaringan makna yang holistik, menghubungkan tubuh, ingatan, sejarah, dan kesadaran spiritual.
Dengan demikian, Marka berfungsi sebagai arsip hidup pengalaman manusia; bukan arsip pasif, melainkan arsip yang aktif membentuk cara pembaca memahami dunia. Membaca antologi ini bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi latihan spiritual yang menuntut perlambatan, kesabaran, dan kesediaan untuk tidak tergesa melampaui batas pemahaman. Di sinilah konsep mistik-disipliner menemukan bentuk konkretnya: puisi menjadi ruang latihan batin.
Akhirnya, Marka mengingatkan bahwa puisi bukan hanya penanda pengalaman, tetapi juga pengajar cara melangkah. Puisi tidak hanya mengarsipkan jejak manusia, tetapi juga menuntun manusia memahami bagaimana ia harus berjalan di dalam waktu. Dalam dunia yang serba cepat dan cenderung melampaui batas, Marka justru mengajarkan seni berhenti, melihat, dan merasakan.
Melalui antologi ini, pembaca diajak menempuh perjalanan berlapis (inderawi, simbolik, historis, dan spiritual), yang bermuara pada kesadaran sederhana namun mendalam: bahwa transendensi tidak selalu dicapai dengan melompat jauh, melainkan dengan berdiri teguh pada garis yang telah ditentukan.
Di sanalah Marka menemukan maknanya yang paling jernih: sebagai jejak, sebagai batas, dan sebagai disiplin perjalanan batin. ***
—-
Daftar Pustaka
Abrams, M. H. 1971. Natural Supernaturalism: Tradition and Revolution in Romantic Literature. New York: Norton.
Abrams, M. H. 1999. A Glossary of Literary Terms. Boston: Heinle & Heinle.
Assmann, Aleida. 2011. Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination. Cambridge: Cambridge University Press.
Austin, J. L. 1962. How to Do Things with Words. Oxford: Oxford University Press.
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF). 2022. Laporan Kuratorial 2012–2022. Purwokerto: BWCF Archive.
Bourdieu, Pierre. 1986. The Forms of Capital. In John G. Richardson, ed., Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood.
Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Eco, Umberto. 1984. The Role of the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts. Bloomington: Indiana University Press.
Eliade, Mircea. 1957. The Sacred and the Profane: The Nature of Religion. New York: Harcourt.
Foucault, Michel. 1977. Discipline and Punish. New York: Pantheon Books.
Hadi W.M., Abdul. 1999. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Herman, D. 2011. The Aesthetics of Intertextuality. London: Routledge.
Iser, Wolfgang. 1978. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Jung, Carl. 1964. Man and His Symbols. London: Aldus Books.
Persatuan Wartawan Indonesia. 2022. “Anugerah Kebudayaan PWI 2022: Dokumentasi dan Publikasi”. Jakarta: PWI.
Suyono, Seno Joko. 2024. Marka: Antologi Puisi. Bandung: Pustaka Jaya, November 2024.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tsur, R. 1992. Toward a Theory of Cognitive Poetics. Amsterdam: North-Holland.
—–
*Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto.





