Menggali Makna Serat Nitisruti: Arsitektur Jiwa dan Estetika Ketentraman
Oleh: Gus Nas Jogja*
Menyelami samudera pemikiran Pangeran Karanggayam dalam Serat Nitisruti bukan sekadar membaca naskah kuno dari tahun 1612, melainkan sebuah ziarah batin menuju hulu peradaban Jawa yang adiluhung. Pangeran Karanggayam, sang pujangga dari Pajang yang juga leluhur Raden Ngabehi Ronggowarsito, menyusun untaian kata ini bukan sebagai doktrin kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai komposisi estetis yang bertujuan menentramkan hati.
Secara filosofis, Nitisruti adalah jembatan yang menghubungkan mikrokosmos (diri manusia) dengan makrokosmos (negara dan alam semesta). Pangeran Karanggayam memandang bahwa stabilitas sebuah negeri tidaklah tegak di atas ujung tombak, melainkan tertanam kuat di dalam kedalaman rasa sang pemimpin. Dalam narasi sastrawi Jawa, kepemimpinan adalah sebuah “lelaku”—sebuah perjalanan spiritual yang menuntut penguasa untuk menjadi sumber air di tengah padang pasir egoitas.
Ontologi Ketentraman: Mematikan Raga Menghidupkan Jiwa
Pilar pertama dalam Nitisruti adalah pengolahan batin yang ekstrem namun penuh makna. Karanggayam menulis: “Kurang guling ing nalikeng ratri, den mindeng semadi, sinahua lampus”. Di sini, kita menemukan sebuah dialektika antara kehidupan dan kematian. Mengurangi tidur bukan sekadar upaya fisik, melainkan metafora bagi kewaspadaan batin (waspada).
Secara spiritual, “belajar mati” atau sinahua lampus adalah puncak dari filsafat Jawa mengenai Sangkan Paraning Dumadi. Pemimpin yang mampu membayangkan kematiannya setiap saat tidak akan terjebak dalam syahwat kekuasaan yang fana. Ia akan memimpin dengan kesadaran bahwa kursi jabatan hanyalah panggung sandiwara sementara. Analisis deskriptif atas bait ini menunjukkan bahwa ketentraman sebuah bangsa berbanding lurus dengan kemampuan pemimpinnya untuk melakukan “penyucian diri” melalui hening. Dalam hening, seorang pemimpin mendengarkan isyarat Tuhan atau sasmitaning Hyang, sehingga setiap kebijakan yang lahir bukan berasal dari kemarahan, melainkan dari pencerahan.
Fenomenologi Rayap dan Keroposnya Kekuasaan
Salah satu sanepan atau perumpamaan yang paling tajam dalam Serat Nitisruti adalah visualisasi pintu yang digerogoti rayap. “Babasane sapa ta kang bangkit, amereki kori. Myang warangsasa anggung.” Karanggayam menggunakan analogi ini untuk menggambarkan pemimpin yang serakah atau murka sawukir.
Secara filosofis, keserakahan adalah “rayap batin” yang bekerja dalam senyap namun destruktif. Pemimpin yang serakah kehilangan legitimasi spiritual. Rakyat mungkin tunduk karena takut, namun pintu kepercayaan telah hancur. Dalam analisis keamanan, Karanggayam secara revolusioner menyatakan bahwa pertahanan negara yang paling rapuh bukan karena kurangnya senjata, melainkan karena hilangnya kepercayaan rakyat. Ketika pemimpin mencuri dari meja rakyatnya sendiri, ia sedang meruntuhkan benteng negerinya dari dalam. Ini adalah kritik pedas terhadap korupsi dan nepotisme yang melintasi zaman, mengingatkan kita bahwa moralitas adalah fondasi utama dari ketahanan nasional.
Epistemologi Rasa: Menjadi Samudera Pemaaf
Pangeran Karanggayam menekankan pentingnya pemimpin memiliki hati seluas samudera. Dalam tradisi sastra Jawa, samudera adalah simbol bagi penampung segala zat; ia menerima sampah dan mutiara dengan ketenangan yang sama. Seorang pemimpin harus memiliki kapasitas pemaaf yang tanpa batas.
“Ulah budi udaling lelungit… kudu awas waskitha ing tyase.” Mengolah budi pekerti adalah proses epistemologis untuk memahami “rasa yang rumit”. Sebelum seorang pemimpin berbicara ke khalayak, ia harus “mengunyah” rahasia tersebut dalam batinnya. Ia harus waspada terhadap dampak dari setiap ucapannya. Di sini, Nitisruti mengajarkan tentang etika komunikasi publik. Pemimpin yang bijak adalah ia yang mampu menyimpan rahasia negara dengan rapat, namun mampu membungkus kebijakan sulit dengan tutur kata yang manis atau wacana rum. Ketajaman perasaan atau waskitha inilah yang membedakan antara politisi teknokratis dengan pemimpin spiritual.
Estetika Sosial: Seni Menyenangkan Hati Sesama
Pupuh Pucung dalam Nitisruti menghadirkan narasi tentang cinta kasih universal. “Kang sinebut ing gesang ambeg linuhung… amenaki manahe sasama-sama.” Sifat luhur yang tidak ada tandingannya adalah kemampuan untuk membuat orang lain merasa tentram dan senang.
Ini adalah sebuah humanisme Jawa yang mendalam. Karanggayam memerintahkan untuk tidak membeda-bedakan makhluk –kabeh ywa binada–. Cinta kasih harus dialirkan kepada yang renta, anak terlantar, hingga kaum miskin. Secara filosofis, ini adalah ajaran tentang Hamemayu Hayuning Bawana—memperindah keindahan dunia. Pemimpin bukan hanya pengatur birokrasi, tetapi “orang tua” bagi seluruh rakyatnya. Inti dari bertapa yang sesungguhnya bukanlah duduk diam di puncak gunung, melainkan memberi ampunan yang besar kepada mereka yang salah dan merangkul mereka yang papa.
Etika Wicara: Diam yang Wingit dan Kata yang Patitis
Kualitas seorang manusia unggul atau musthikaning rat dalam Nitisruti dilihat dari caranya berbicara. Karanggayam memberikan peringatan keras terhadap mereka yang bicara terlalu banyak seperti burung menco atau lir menco ngoceg ngecuwis.
1. Bicara yang Berlebihan: Mengakibatkan lupa diri dan menutup pintu pemahaman terhadap isyarat halus atau pasemon.
2. Diam yang Salah: Diam yang “membisu seperti tugu” dengan roman muka yang masam (mbesengut) juga dikecam karena tidak menyenangkan hati orang lain.
Analisis deskriptif atas bagian ini menunjukkan bahwa komunikasi adalah sebuah seni keseimbangan. Seorang pemimpin harus mampu menempatkan diri kapan harus bicara dan kapan harus diam dengan raut muka yang tenang (dyatmika). Wajah adalah cermin hati atau ulat iku nampani rasaning kalbu. Jika hati penuh asih, maka sorot mata dan ucapan akan selaras, menciptakan daya tarik kharismatik yang membuat rakyat dengan sukarela “mengawula” karena cinta, bukan paksaan.
Kepemimpinan sebagai Kaca Benggala
Ajaran pamungkas Pangeran Karanggayam menempatkan pemimpin atau Raja sebagai “pangiloning bumi”—cermin bagi dunia. Segala solah bawa atau tingkah laku pemimpin akan direkam dan ditiru oleh rakyatnya. Jika pemimpin mengabaikan tata krama dan senang pada hal yang tidak baik, maka watak jahat akan merembes ke seluruh sendi kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya, pemimpin yang rendah hati atau andhap asor akan mengungguli siapa pun. Ini adalah paradoks kekuatan: bahwa yang paling merunduklah yang paling tinggi derajatnya. Nitisruti mengingatkan bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak diukur dari kemegahan kratonnya, melainkan dari seberapa rukun para pengabdi dan rakyatnya atau prihen raket rukun. Kerukunan di dalam (internal) adalah prasyarat bagi keamanan dari luar (eksternal).
Serat Nitisruti adalah kristalisasi kebijakaan yang tetap relevan melintasi empat abad. Melalui narasi spiritual dan sastrawinya, Pangeran Karanggayam berpesan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam penumpukan materi atau kekuasaan yang otoriter, melainkan dalam kemampuan “menyenangkan hati manusia lainnya”.
Melengkapi esai ini, kita teringat pesan dalam Pupuh Pucung terakhir: hidup adalah rasa hati. Untuk dicintai, kita harus mencintai lebih dulu. Bagi para pemimpin di era modern, Nitisruti menawarkan “kompas moral” untuk tidak menjadi pintu yang dimakan rayap, melainkan menjadi samudera yang luas, yang mampu menampung segala keluh kesah rakyat dan mengubahnya menjadi ketentraman yang abadi.
Narasi Filologis: Melacak Jejak Tinta di Pusaran Sejarah
Secara filologis, Serat Nitisruti merupakan naskah transisi yang sangat krusial dalam peta sastra Jawa. Ditulis pada tahun 1534 Saka atau 1612 Masehi, naskah ini lahir ketika Kesultanan Mataram berada di bawah kepemimpinan Sultan Anyakrawati (Panembahan Hanyakrawati), putra dari Panembahan Senopati. Penggunaan bahasa Jawa Baru yang masih kental dengan pengaruh Jawa Kuno (Kawi) menunjukkan posisi Pangeran Karanggayam sebagai jembatan intelektual antara kemegahan Majapahit dan fajar Mataram Islam.
Naskah ini menggunakan metrum tembang macapat—sebuah teknologi puitika Jawa yang dirancang agar ajaran moral tidak hanya dibaca oleh rasio, tetapi dinyanyikan oleh rasa. Dari sisi kodikologi, teks Nitisruti sering ditemukan dalam berbagai versi salinan (manuskrip), yang menunjukkan betapa tingginya tingkat keterbacaan dan penerimaan masyarakat pada masanya. Pangeran Karanggayam, atau Pangeran Tumenggung Sudjonopuro, melakukan kodifikasi etika yang kemudian menjadi prototipe bagi karya-karya pujangga besar setelahnya, termasuk Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha.
Analisis Deskriptif: Kosmologi Kekuasaan dalam Serat Nitisruti
1. Etika Pertahanan: Kedamaian Batin sebagai Perisai.
Pangeran Karanggayam tidak meletakkan keamanan negara pada jumlah prajurit, melainkan pada stabilitas psikologis pemimpin. Dalam analisis deskriptifnya, “ilmu pertahanan” dalam Nitisruti adalah ilmu tentang pengendalian afeksi. Ketika seorang raja atau pemimpin mampu menenteramkan hatinya sendiri, getaran (vibrasi) ketenangan itu akan menjalar ke seluruh rakyat. Sebaliknya, pemimpin yang “bodho buteng pengung” (bodoh, lekas marah, dan dungu) akan menciptakan resonansi kegelisahan nasional yang membuat pertahanan fisik menjadi hancur berkeping-keping.
2. Belajar Mati: Eksistensialisme Jawa
Konsep “sinahua lampus” (belajar mati) dalam naskah ini adalah sebuah metode dekonstruksi ego. Secara deskriptif, ini bukan ajaran tentang nihilisme, melainkan tentang detachment atau pelepasan. Dengan mengingat kematian, seorang pemimpin akan melucuti sifat rakusnya. Ia melihat kekuasaan sebagai sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Hyang Manon. Kematian dipandang sebagai “pintu kepulangan” yang mengharuskan setiap langkah di dunia dibasuh dengan kebajikan.
3. Sasmita: Membaca yang Tak Tertulis
Naskah ini sangat menekankan kemampuan membaca isyarat atau cipta sasmita. Seorang pemimpin yang waskita harus mampu memahami apa yang tersirat di balik apa yang tersurat. Deskripsi Pangeran Karanggayam mengenai “gambar yang terukir di kelir” memberikan metafora bahwa dunia ini adalah bayang-bayang dari kehendak Yang Maha Agung. Kepandaian intelektual saja tidak cukup jika tidak disertai dengan kejernihan nurani untuk menangkap isyarat zaman.
Nitisruti sebagai Etika Global
Serat Nitisruti adalah manifesto tentang kemanusiaan. Karanggayam menutup naskahnya dengan pengingat bahwa inti dari seluruh tata krama adalah kemampuan untuk tidak membeda-bedakan sesama makhluk atau kabeh ywa binada. Di era modern yang penuh dengan disrupsi dan polarisasi, ajaran untuk “menyenangkan hati sesama” adalah obat bagi penyakit sosial yang akut. Pemimpin yang kuat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling luas pemaafnya dan paling ramah wajahnya.
Dialektika Ego dan Altruisme: Sebuah Bedah Filosofis
Kedalaman Pupuh
Dalam struktur ontologisnya, Serat Nitisruti menawarkan sebuah tesis yang revolusioner: bahwa kekuatan sebuah negara bersifat simbiotik dengan kesehatan mental dan spiritual para abdi dalemnya. Pangeran Karanggayam tidak melihat rakyat sebagai objek kekuasaan, melainkan sebagai pantulan dari batin sang pemimpin.
1. Dekonstruksi Kemurkaan: Simbolisme Pintu yang Lapuk
Pangeran Karanggayam menggunakan metafora “kori kang den pangan rayap” (pintu yang dimakan rayap) sebagai simbol dekonstruksi otoritas. Secara filosofis, pintu adalah simbol perlindungan dan privasi. Ketika rayap keserakahan (murka sawukir) bekerja dari dalam, pintu itu secara visual mungkin masih nampak berdiri, namun secara substansial ia telah kehilangan hakikatnya sebagai pelindung.
Analisis deskriptif ini menunjukkan bahwa korupsi batin adalah disrupsi pertama dalam sejarah keamanan nasional. Pemimpin yang serakah telah melakukan “pembunuhan karakter” terhadap dirinya sendiri sebelum ia membunuh negaranya. Rakyat, yang memiliki intuisi kolektif, akan menjauh karena mencium “bau busuk” dari integritas yang keropos.
2. Estetika “Amenaki Manahe Sasama”: Puncak Etika Interpersonal
Pada Pupuh Pucung bait pertama, terdapat diksi “ambeg linuhung” yang disematkan kepada mereka yang mampu menyenangkan hati sesama. Ini adalah etika altruisme yang melampaui sekadar sopan santun. Dalam filsafat Jawa, amenaki manah (menyenangkan hati) adalah bentuk ibadah sosial yang paling tinggi.
Pangeran Karanggayam menekankan bahwa asih harus dimulai dari yang paling lemah: orang jompo yang tak berdaya dan anak yatim yang papa. Ini adalah kritik terhadap kekuasaan yang cenderung mendekat pada yang kuat dan menjauh dari yang lemah. Dengan merawat yang lemah, seorang pemimpin sedang mengaktifkan “saraf asih” di dalam tubuh sosialnya, yang pada gilirannya akan melahirkan loyalitas tanpa syarat dari rakyat (kelu angawula).
Epistemologi Sasmita: Membaca Kelir Alam Semesta
Bagian yang paling sastrawi dan mistis dalam Nitisruti adalah ketika Karanggayam membandingkan kehendak Tuhan dengan gerak wayang di atas kelir: “Pindha carma ingkukir bineber, munggwing kelir den kongsi udani, sasolahing ringgit, aywa sah dinulu.”
1. Fenomenologi Wayang dan Dalang
Secara filosofis, ini adalah ajaran tentang determinisme yang indah. Manusia (pemimpin) diminta untuk waspada memperhatikan “gerak bayangan” di layar kehidupan. Untuk mencapai tingkat waskitha (waspada/tajam perasaan), seseorang harus melewati fase mesu budi dan semedi.
Deskripsi ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan lahiriah (teknologi dan senjata) hanyalah instrumen kasar. Instrumen halusnya adalah kemampuan resonansi batin dengan Dating Hyang Mahaagung. Tanpa pemahaman atas “skenario” sang Dalang Sejati, seorang pemimpin hanya akan menjadi boneka yang bingung (bengong) di depan panggung sejarah.
2. Olah Rasa dan Rahasia Negara
Karanggayam memberikan peringatan filologis yang sangat detail mengenai “panuksma kang remit” (sesuatu yang sangat rumit dan halus). Sebelum mengeluarkan keputusan atau rahasia negara, budi harus diolah agar tidak terjadi “tuna budi”—kekosongan akal budi yang berujung pada kebodohan dan kemarahan (buteng pengung). Hal ini mengajarkan bahwa seorang pembesar negara harus memiliki kendali penuh atas emosinya; ia harus menjadi subjek atas perasaannya, bukan objek dari amarahnya.
Esai ini membuktikan bahwa Serat Nitisruti bukan sekadar peninggalan arkais, melainkan sebuah arsitektur jiwa bagi siapa saja yang memegang tanggung jawab atas manusia lain. Pangeran Karanggayam telah berhasil merangkum bahwa:
• Ketentraman hati adalah prasyarat keamanan.
• Pemaafan adalah senjata yang paling mematikan bagi musuh.
• Kematian adalah guru terbaik bagi integritas.
Di tengah dunia modern yang penuh dengan kebisingan verbal atau umres rame kemruwuk, ajaran untuk lebih banyak diam dan merasakan atau luwung umendela menjadi oase yang menyejukkan. Nitisruti mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang “wangi meskipun tersembunyi,” yang keberadaannya dirasakan melalui kedamaian yang ia pancarkan, bukan melalui kekerasan yang ia paksakan.
—-
Daftar Pustaka
Pangeran Karanggayam, Serat Nitisruti, (Surakarta: Terbitan naskah kuno Koleksi Museum Radya Pustaka). Naskah ini merupakan sumber primer yang mengandung ajaran etika dan kepemimpinan Jawa abad ke-17.
Soebardi, S., The Book of Cabolek: A Critical Edition with Introduction, Translation and Notes, (The Hague: Martinus Nijhoff, 1975). Memberikan konteks tentang perkembangan sastra suluk dan serat di Jawa pasca-Pajang.
Simuh, Mistik Islam Walisongo: Pergumulan Islam dengan Budaya Jawa, (Jakarta: Solusi Publishing, 2018). Analisis tentang bagaimana ajaran sufisme Islam menyatu dalam serat-serat Jawa seperti Nitisruti.
Zoetmulder, P.J., Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, (Jakarta: Djambatan, 1983). Referensi utama untuk memahami transisi kebahasaan dari Kawi ke Jawa Baru yang digunakan Pangeran Karanggayam.
Raden Ngabehi Ronggowarsito, Serat Kalatidha, (Semarang: Dahara Prize, reprint). Sebagai perbandingan perkembangan pemikiran etika pemaaf dan kewaspadaan (eling lan waspada) yang berakar dari Nitisruti.
Ricklefs, M.C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, (Stanford University Press, 2008). Konteks sejarah transisi politik dari Kesultanan Pajang ke Mataram yang melatarbelakangi penulisan Serat Nitisruti.
Kamajaya, Lima Karya Terbesar Ronggowarsito, (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1985). Menjelaskan silsilah intelektual Pangeran Karanggayam dalam tradisi pujangga Jawa.
Magnis-Suseno, Franz, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, (Jakarta: Gramedia, 1984). Referensi kunci untuk memahami konsep “Rukun” dan “Hormat” yang menjadi inti Serat Nitisruti.
Moertono, Soemarsaid, State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century, (Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1968). Analisis sejarah tentang bagaimana konsep-konsep dalam Nitisruti diterapkan dalam struktur pemerintahan Mataram Islam.
Pangeran Karanggayam, Pupuh Pucung dalam Nitisruti, (Transliterasi naskah, Koleksi Pribadi/Digital Sasana Pustaka).
—-
*Gus Nas Jogja, Budayawan.





