Kafka Memancing di Lombok
Oleh Sigit Susanto*
“Bapak ini, bantulah ibu di dapur, cuci piring, cuci baju, ngepel. Ini kerjaannya mancing-mancing terus,” ucap Wiwit.
“Tuung, tuuung, tuuung, tuuung, tuuung, tung, tung,” bunyi gendang-beleg yang diimitasi Reza menjadi musik pengiring pentas wayang.
Begitulah sepotong kisah pagelaran superpendek yang dimainkan dalang Wiwit dan penabuh musik Reza.
Pada sesi tanya jawab di ruangan kuliah FKIP Unram. Wiwit yang bersila di lantai paling depan mengajukan pertanyaan, bagaimana memulai mendalang?
Pertanyaan itu sesungguhnya yang aku tunggu dan aku sudah menemukan jawabnya. Ia harus langsung maju ke depan memerankan dalang, di tempatku tadi mewayangkan lakon Metamorfosis karya Kafka. Aku ingin mahasiswa langsung merasakan sensasi menjadi dalang dadakan.
Awalnya ia tampak malu-malu, kemudian aku beri clue, “Coba ingat-ingat dialog orang tua ketika cekcok di rumah. Nah, ini ada wayang ayah dan ibunya Gregor Samsa, anggap mereka itu orang tuamu.”
Ketika Wiwit mulai merasa percaya diri, maka aku beralih mencari penabuh musik tradisional Sasak gendang-beleg yang biasa kulihat di jalan raya mengiringi tradisi nyongkolan dalam perkawinan. Tentu saja aku mencari imitator bunyi lewat mulut.
Reza dari belakang maju diiringi tepuk tangan riuh dari teman-temannya. Ketika aku minta dia menirukan bunyi gendang-beleg, malah ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Aku menolak, aku ingin musik live dari mulut seperti musik pada tarian Kecak di Bali.
Reza mencoba, “tung, tung, tung.” Mikrofon aku dekatkan dan suara menguasai ruangan. Sontak ketawa dan tepuk tangan membuncah lagi.
Reza pasrah dan pertunjukan dimulai. Kalau aku boleh berimajinasi, lakonnya Kafka Memancing di Lombok.
Memang isi dialog itu tentang si anak yang mengkritik ayahnya, karena punya hobi memancing, sehingga tak pernah membantu ibunya untuk mencuci piring, baju dan mengepel.
Sesungguhnya sosok wayang ibu Gregor itu tetap sebagai ibu. Rupanya Wiwit mengubah peran ibu menjadi anak yang galak memarahi ayahnya.
Pementasan serba spontan ini usai dan memanen tawa dan cekikikan hadirin di ruangan.
Aku menganggap Wiwit dan Reza cukup berani memenuhi tawaranku. Berani dulu. Latihan mental. Itu modal penting. Kalau ada kesalahan, di kemudian hari bisa diperbaiki. Salut untuk mereka berdua.
Aku bisa berada di ruangan kuliah FKIP Unram pada hari Jumat, pukul 14.30, 13 Maret 2026 ini, berkat ibu dosen Rinda Widya yang inovatif.
Awalnya ia sering menonton podcast Mojok dari Yogyakarta dan kebetulan, ada percakapanku dengan host Puthut EA membahas buku terbaruku berjudul Lintas Albania, Swiss dan Negara lain. Usai podcast aku dalang pendek lakon Metamorfosis sembari sebut, kelak akan pentas di Mataram.
Rupanya dosen pengajar sastra pertunjukan di Unram ini berpesan kepada suaminya, untuk mencari di mana tempat aku pentaskan wayang Kafka di Mataram?
The power of social media mempertemukan ibu dosen asal Kalimantan Utara ini pada pertunjukan wayang Kafka di komunitas Teman Baca. Lagi-lagi wayang Kafka selama ini menyusup selalu terkait dengan perhelatan buku. Tak lupa di komunitas Teman Baca yang berlokasi di Jl. Pemuda No 69, Mataram itu membahas tiga buku baru, termasuk bukuku di atas.
Saat aku mendalang di komunitas Teman Baca itu tampak penonton tegang. Tak ayal, karena cerita Metamorfosis sebuah duka Gregor Samsa yang tiba-tiba saat pagi hari bangun dari mimpi buruknya, tubuhnya sudah berubah menjadi kecoak raksasa yang menjijikkan di ranjangnya.
Usai acara wayang Kafka, ibu Rinda Widya yang menjadi salah satu penontonnya, memintaku pentas di kampus Unram. Dek, dalam hati.
Aku selalu memulai dari yang sederhana dan remeh-temeh dan tak mengharapkan yang tinggi-tinggi. Seperti ketika aku mengajukan pertanyaan kepada Pramoedya Ananta Toer sekitar tahun 2002 di kota Zürich. “Bagaimana perasaan Pak Pram, sudah lama menjadi harapan mendapat nobel sastra, tetapi tak kunjung tiba?” Pram menjawab singkat, “Saya tak pernah mengharapkan sesuatu dari luar.”
Undangan mendalang di kampus Unram itu, aku anggap sebuah kehormatan. Kecintaanku pada Kafka dan karyanya itu perlahan menjadi kecanduan. Tak hanya aku menziarahi makam dan rumah Kafka di Praha, tetapi membuat jalan dan memesan patung Kafka di kampungku. Tiga buku karya Kafka dan percakapan dengan Kafka telah aku terjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia.
Begitulah, jika orang sudah kecanduan dengan salah satu sastrawan dunia, menjadi enggan membaca karya sastrawan lain.
Mengingat aku ke Mataram sering memakai bantuan google map, maklum masih sebagai pendatang baru di pulau seribu masjid ini, ibu Rinda Widya menawarkan, sekiranya nanti mahasiswa bisa menjemputnya. Oh, tidak perlu. Aku biasa mandiri dan semua wayang akan aku angkut dengan motorku dari Sandik ke Mataram.
Sehari sebelum hari pertunjukan, aku mengantar belasan wayang itu, saat memasuki area kampus Unram, serasa memasuki hutan belantara. Ini di ibu kota provinsi NTB, begitu asri. Selama ini aku sering mengenal jalan Lanko sudah kuanggap rindang, karena banyak pohon mahoni di kiri dan kanan jalan.
Memasuki halaman gedung A, FKIP Unram, seperti di taman alami. Aku sempat bercakap-cakap dengan tukang kebun di taman. Ia mengakui, untuk menebang ranting pohon flamboyan di pekarangan, tidaklah mudah. Perlu banyak pertimbangan.
Pada saat acara akan dimulai, ada sekitar tiga mahasiswa yang menyalami aku di luar ruangan. Mereka mengaku sudah pernah menonton wayang Kafka di komunitas Teman Baca.
Memasuki ruangan aku bertemu Pak Agung, dosen sastra yang sehari sebelumnya sudah ikut mempersiapkan dan mengatur musik.

Dosen, mahasiswa, dalang dan wayang Kafka


Sekitar 60 mahasiswa praktik Sastra Pertunjukan.
Innalillahi
Pertunjukan wayang Kafka dimulai dan suasana muram menghantui. Sales kain bernama Gregor meninggal, setelah jarang makan dan dipukul kursi oleh pembantu. Gregor menghembuskan napas terakhir dengan tenang.
Ibu Gregor berucap, “Innalillahi.”
Pada detik ini terdengar suara lirih menggaung dari penonton. Mungkin mereka iba dan tak menyangka, aku menyusupkan diksi islami ini. Pun ketika pembantu itu pamit, aku tambahkan kata; tabik. Bahkan saat Gregor mulai makan tulang-tulang busuk, Gregor sempat kepalanya mendongak ke arah penonton, seperti bertanya, “Di Lombok namanya, Bebalung?” Penonton tertawa lirih.
Setidaknya aku mencoba memasukkan diksi lokal yang sering kudengar sehari-hari; Innalillahi, Tabik dan Bebalung.
Pada sesi tanya jawab, aku jelaskan, kenapa aku menyusupkan diksi lokal? Sesungguhnya aku sedih membaca novel Death on The Nile karya Agatha Christie. Waktu itu istri dan aku sedang melakukan perjalanan ke sungai Nil di Mesir dan mampir di hotel, tempat Agatha Christie menulis novel tersebut. Novel itu tak ada satu diksipun berbahasa Arab, padahal jelas setting cerita di Mesir. Tak hanya sampai di situ, Agatha memakai semua nama karakternya bule Inggris. Tak ada yang bernama Ismail, Abdullah, atau Muhamad. Ya, begitulah karya pop tak memancarkan cahaya kuat.
Untuk itu ketika ada mahasiswa yang hendak mengangkat legenda lokal dari Sumbawa, aku sarankan usunglah diksi lokal. Di telinga akan lebih membumi. Seperti ibu Gregor dari Praha, bisa berucap Innalillahi. Itu improvisasiku sendiri, dalam teks Kafka tentu tak ada.
Ada pertanyaan lain, bagaimana menuliskan naskah drama? Sejujurnya aku belum pernah melakukannya. Cerita novelet Metamorfosis yang aku mainkan, merupakan semacam ringkasan atau sinopsis dengan detil-detil rumit yang harus diperhatikan. Sebagai penerjemah tentu cukup hafal alur kisah. Kata Fritz Senn, guruku dalam reading group novel Ulysses di Zürich, “Translator is the best reader.” Aku mengakui, kalau pembaca bisa sekali baca, tetapi penerjemah membaca berulang-ulang sambil menyeleksi padanan kata.
Resonansi Wayang Sastra
Aku ikut senang sastra pertunjukan diajarkan di kampus. Sebuah pentas sastra biasanya didominasi bidang drama atau puisi. Panggung adalah mimbar mereka. Kini cerita dari cerpen, novelet atau novel bisa dipanggungkan.
Aku teringat ketika pesanan wayang Kafka selesai dibuat dari perajinnya dan aku mulai uji coba perdana mendalang di kampung kelahiranku, di desa Bebengan, kecamatan Boja, kabupaten Kendal, Jawa Tengah, datang Mas Tri Agus, dalang wayang kulit. Ia menuturkan, wayang kulit zaman kini tak ada yang menonton di depan kelir/layar. Semua penonton ingin menonton dari belakang. Mungkin karena di situ ada sinden, penyanyi dengan aneka goyangnya.
Aku baru tahu perubahan formasi penonton ini. Kesenian tradisional kita ini perlahan dijauhi anak muda.
Wayang kontemporer barangkali bisa menjadi jembatan, sekali dayung dua pulau terlampaui. Satu sisi kita mencoba menyuburkan kembali dunia wayang kulit, sisi lain kita mengemas cerita dari karya sastra.
Foto-foto dan video wayang Kafka aku kirimkan kepada beberapa kenalanku di Jerman dan di Swiss. Ada empat orang Swiss ingin bertemu denganku sambil melihat wayang Kafka. Mereka berterima kasih, aku mensosialisasikan Kafka kepada pembaca di tanah air. Mereka melihat video pementasanku, dianggap menarik.
Andreas Kilcher, seorang dosen di universitas Zürich dan editor buku Kafka berjudul Die Zeichnungen (Sketsa-Sketsa Kafka) mengirimkan email sebagai berikut;
Guten Tag Herr Susanto,
vielen Dank für die Information und dafür, dass Sie Kafka in Ihrem Land bekannt machen. Die Aufführung sieht interessant aus. Ich würde mich freuen, Sie zu treffen, wenn Sie in die Schweiz kommen. Ich habe aber keine Idee, wo Sie das Spiel aufführen könnten.
Beste Grüsse
Andreas Kilcher
Kafe Zündhölzli di kotaku Zug, Swiss sudah menjadwalkan pada Sabtu, 9 Mei aku pentaskan wayang Kafka. Mengingat kafenya kecil, jika animo cukup besar, pertunjukan bisa dilakukan dua kali.
Pengalamanku mendalang wayang klasik dengan lakon Ramayana dan Dewa Ruci di Swiss dan Jerman, peminat wayang kulit selalu ada. Jika pentas bersama kesenian lain, seperti tarian atau musik. Wayang dianggap paling unik. Media konvensional lebih suka memberitakan wayang pentas di negeri asing, ketimbang tarian kolosal. Apalagi pentas wayang memakai bahasa Jerman.
Dua tahun silam, Mas Butet Kartaredjasa berlibur ke negara-negara Eropa dan mampir ke Swiss. Ia menasihatiku, lanjutkan mendalangnya, karena tak banyak yang bisa.
Sebelum acara di FKIP Unram ditutup, pembawa acara minta aku memberi semacam closing statement. Aku sarankan, di era digital ini, sesuatu yang kecil bisa ditonton orang di belahan dunia lain. Mengangkat cerita dari karya sastra dan dikemas dalam wayang, sebuah terobosan kreatif. Tetapi pertunjukan itu akan lebih go internasional, jika narasi dan dialognya menggunakan bahasa asing; bahasa Inggris. Zaman sekarang belajar bahasa Inggris tidaklah sulit.

Rinda Widya menyerahkan plakat kepada Sigit Susanto sebagai Praktisi Wayang Kafka.
Misalnya, novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Novel itu sudah ada terjemahannya ke bahasa Inggris. Seandainya kisah itu ditampilkan dalam medium wayang dan berbahasa Inggris, publik dunia bisa terpana, ternyata ini dari Lombok. Bisa jadi penerbitnya di luar negeri kaget dan mengapresiasi. Pertama dipentaskan dulu dalam bahasa Indonesia, setelah itu bahasa Indonesia switch ke bahasa Inggris. Seperti aku sekarang ini mendalang lakon Metamorfosis dalam bahasa Indonesia, nanti di Swiss switch ke bahasa Jerman. Sebuah tantangan dan perlu dicoba.
0o0
*Sigit Susanto, penulis dan penerjemah buku Sastra. Tinggal di Swiss.





