Dari Pusat ke Pinggiran: Migrasi Ruang dalam Pasar Kangen Yogyakarta

Ruang yang Berpindah, Makna yang Bergerak 

 Oleh Ardian Mulyo Jati*

 

Pasar Kangen 2026 di Lodji Paris, Mantrijeron (Dokumentasi pribadi 28/03/2026)

Di Yogyakarta, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, hanya berpindah tempat. Pada momen tertentu, muncul kembali, dikemas, ditata, lalu diadakan sebagai pengalaman yang bisa dinikmati bersama. Pasar Kangen adalah salah satu panggungnya: ruang sementara di mana ingatan dipanggil pulang, tetapi sekaligus dinegosiasikan ulang. 

Di tengah laju modernitas yang kian cepat, Pasar Kangen tidak hanya menawarkan nostalgia, melainkan menguji bagaimana kita memaknai masa lalu sebagai warisan yang hidup, atau sekadar komoditas yang dikonsumsi sesaat. Ketika ruangnya berpindah, pertanyaannya pun ikut bergeser: apakah yang berpindah hanya lokasi, atau juga cara kita mengingat? 

Di tengah lanskap urban Yogyakarta yang terus bergerak menuju modernitas, Pasar Kangen datang sebagai jeda sebuah ruang sementara yang tidak hanya menjadi arena perputaran ekonomi, tetapi juga medium untuk mengaktifkan kembali ingatan bersama. Sejak pertama kali digelar pada 2007, Pasar Kangen tidak hanya menjadi festival kuliner dan kerajinan, melainkan praktik kultural yang menghadirkan kembali suasana ‘tempo dulu’. Sebagai agenda budaya yang digelar tahunan, perhelatan ini terus mengalami pergeseran bentuk dan lokasi. Jajanan tradisional, benda-benda lawas, hingga pertunjukan seni rakyat membentuk lanskap pengalaman yang seolah mengajak pengunjung melintasi waktu. Namun, Pasar Kangen hari ini tidak lagi dapat dibaca semata sebagai perayaan nostalgia. 

Pada edisi Syawal 2026, Pasar Kangen digelar di kawasan Lodji Paris, Mantrijeron, tanggal 23 Maret hingga 5 April 2026, di sebuah lokasi yang menandai pergeseran penting. Jika sebelumnya Pasar Kangen identik dengan Taman Budaya Yogyakarta sebagai pusat aktivitas seni, maka perpindahannya ke wilayah yang lebih “pinggiran” membawa dimensi baru. Migrasi ruang ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi simbolik yang turut menggeser makna dan pengalaman yang dihasilkan. 

Fragmen Masa Lalu dalam Ruang yang Baru 

Fragmen masa lalu dihadirkan melalui benda-benda lawas (Dokumentasi pribadi 28/03/2026)

Memasuki area Pasar Kangen, pengunjung disambut oleh bangunan Lodji Paris yang mencolok. Di dalamnya, beragam stan UMKM menghadirkan jajanan tradisional, aksesori, dolanan jadul, serta berbagai artefak masa lalu. Tembok-tembok dihiasi poster vintage, merchandise khas Pasar Kangen, pameran keris, peci batik Jogokaryan, hingga busana tempo dulu yang ditata rapi. Cahaya lampu yang hangat jatuh tidak merata, menciptakan bayangan dramatis yang memperkuat kesan lampau. 

Di sudut lain, tumpukan buku bekas membentuk lanskap tersendiri. Buku-buku disusun tinggi, dikelilingi pengunjung yang membungkuk, membolak-balik halaman, seolah mencari jejak pengalaman yang pernah hilang. Radio lama, televisi tabung, dan poster-poster vintage hadir sebagai penanda visual bahwa masa lalu sedang ditampilkan kembali. 

Namun, yang tampil di sini bukanlah masa lalu yang utuh, melainkan fragmen-fragmen yang telah dipilih, paling mudah dikenali, paling estetis, dan paling berpotensi menarik perhatian. Dengan kata lain, masa lalu telah melalui proses kurasi, bahkan konstruksi ulang. 

Nostalgia sebagai Komoditas Budaya 

Pencahayaan temaram dan tata ruang yang dikurasi memperkuat kesan “tempo dulu” (Dokumentasi pribadi 28/03/2026)

Yogyakarta memiliki cara khas dalam merawat ingatan. Ketika modernitas bergerak linear, kota ini kerap memilih gerak melingkar kembali ke masa lalu untuk menemukan jangkar identitas. Dalam Pasar Kangen, arus ini hadir dalam bentuk yang nyata: memori tidak hanya dikenang, tetapi juga diproduksi dan dikonsumsi. 

Ribuan pengunjung yang memadati Pasar Kangen Syawalan 2026 menunjukkan bahwa nostalgia kini telah menjadi komoditas budaya yang kuat. Pasar Kangen bekerja melalui simbol, suasana, dan pengalaman yang dapat dinikmati secara bersama-sama, sekaligus didokumentasikan dan disebarluaskan melalui media sosial. Pada titik ini, nostalgia tidak lagi sekadar ingatan personal, melainkan bagian dari sistem ekonomi pengalaman (experience economy) yang mempertemukan emosi, konsumsi, dan representasi visual. 

Pinggiran sebagai Ruang Baru Ekosistem Kreatif 

Bangunan Lodji Paris menjadi latar sekaligus aktor dalam perhelatan Pasar Kangen (Dokumentasi pribadi 28/03/2026)

Pasar Kangen juga dapat dibaca sebagai bagian dari ekosistem kreatif Yogyakarta. Ratusan pelaku UMKM, seniman, dan komunitas terlibat dalam perhelatan ini, menciptakan perputaran ekonomi sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Perpindahan ke Lodji Paris memperlihatkan bagaimana ruang-ruang pinggiran mulai mengambil peran strategis dalam distribusi aktivitas budaya. Lodji Paris, dengan karakter arsitektur yang membawa napas sejarah, tidak sekadar menjadi latar, tetapi berfungsi sebagai panggung utama. Di sini terjadi dialog antara struktur masa lampau dan praktik ekonomi kontemporer. Ruang ini menjadi semacam “ruang antara”, di mana “tempo dulu” tidak hanya dipamerkan, tetapi dinegosiasikan dalam konteks kekinian. 

Heterotopia dan Ruang yang Berlapis

Dalam perspektif yang lebih konseptual, Pasar Kangen dapat dibaca sebagai heterotopia ruang yang berada “di dalam” ruang, namun memiliki logika dan aturan mainnya sendiri. Di satu sisi, ia menghadirkan suasana yang mencoba menjauh dari dominasi modernitas; di sisi lain, tetap terikat pada logika konsumsi, pariwisata, dan representasi.  Transaksi ekonomi, interaksi sosial, hingga pengalaman visual yang dibangun menciptakan lapisan realitas yang berbeda dari keseharian. Pengunjung memasuki ruang yang terasa “lain”, tetapi tetap akrab. Di sinilah Pasar Kangen bekerja secara efektif: bukan sebagai reproduksi masa lalu, melainkan sebagai simulasi pengalaman yang terasa autentik. 

Ambivalensi: Demokratisasi atau Penyederhanaan? 

Perpindahan Pasar Kangen ke wilayah pinggiran dapat dibaca sebagai bentuk demokratisasi ruang budaya, membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku kreatif di luar pusat kota. Namun, di saat yang sama, perpindahan ini juga menyimpan risiko penyederhanaan. Tradisi yang dihadirkan tidak lagi dalam kompleksitas historis dan sosialnya, melainkan dalam bentuk yang telah disaring: lebih estetis, lebih ringan, dan lebih mudah dikonsumsi. Kompleksitas tersebut perlahan tereduksi menjadi pengalaman visual dan emosional semata. Dalam konteks ini, migrasi ruang tidak hanya memindahkan lokasi, tetapi juga menggeser cara tradisi dipahami dan dimaknai. 

Cara Kita Mengingat 

Pada akhirnya, Pasar Kangen bukan sekadar tentang membawa kembali masa lalu, melainkan tentang bagaimana masa lalu itu terus diproduksi dalam ruang yang berubah. Ia tidak lagi menetap di satu pusat, tetapi bergerak mengikuti arus kota, logika ekonomi, dan cara kita mengonsumsinya. Di tengah kerumunan, cahaya temaram, dan fragmen-fragmen kenangan yang dipajang, pengunjung mungkin merasa sedang bernostalgia. Namun sesungguhnya, yang terjadi lebih dari itu: kita sedang menyusun ulang ingatan, memilih mana yang layak diingat dan mana yang dibiarkan hilang. Ketika Pasar Kangen berpindah ke pinggiran, barangkali yang benar-benar bergeser bukan hanya ruangnya, melainkan posisi kita sendiri terhadap masa lalu: dari pewaris menjadi konsumen, dari pengingat menjadi penonton.

—-

*Ardian Mulyo Jati, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.