Dari India Selatan ke Medan, Saya Anak Tanah Deli yang Mencintai Indonesia

Oleh Selwa Kumar*

Saya lahir jauh sesudah semuanya bermula. Tetapi setiap kali melintasi Gang Sado, Jalan Serdang, Titi Batu, Medan Perjuangan, atau tepian Sungai Deli yang kini keruh dan sesak, saya seperti mendengar lagi bunyi lonceng kecil dari sebuah kuil di Kampung Kuala, dekat kota Binjai, masuk Kabupaten Langkat.

Di situlah kisah keluarga kami dimulai.

Kakek saya, Kumar Sami, lahir pada 1899 di Kampung Kuala. Ayahnya, Renggasami, datang dari Mannargudi, sebuah kampung di Tamil Nadu, India Selatan. Ibunya, Peri Peley, dibawa ke Tanah Deli sejak usia sembilan tahun. Tetapi perempuan kecil itu tumbuh menjadi perempuan besar.

Dia memiliki puluhan lembu, kereta lembu, dan pekerja. Ia tahu bagaimana mengelola sawah, menimbang hasil panen, dan menawar harga. Di masa ketika banyak perempuan hanya disebut sebagai “istri”, Peri Peley sudah menjadi pusat ekonomi keluarganya.

Ayah Kumar Sami kemudian diangkat Belanda menjadi Kapten India di Binjai. Jabatan itu bukan pangkat militer. Dia diangkat kepala komunitas India, semacam penghubung antara pemerintah kolonial dengan orang-orang yang mereka sebut “Timur Asing”.

Kolonial Belanda membagi manusia menjadi tiga lapis. Paling atas Eropa. Di bawahnya “Timur Asing”: Cina, Arab, India. Di bawah lagi pribumi.

Orang Cina dipimpin Mayor. Orang India dipimpin Kapten. Orang Arab dipimpin Letnan.

Mereka digaji. Diberi hak istimewa, dan dilindungi. Tetapi sesungguhnya mereka juga dijadikan alat kontrol. Mereka mengurus pajak, perkawinan, perceraian, pertengkaran, sampai menyampaikan larangan dari pemerintah kolonial. Belanda tidak hanya membelah tanah. Mereka membelah manusia.

Tetapi Kumar Sami memilih jalan lain. Kumar Sami tidak tumbuh menjadi alat kekuasaan. Dia tumbuh menjadi anak kampung yang taat, rajin, dan diam-diam keras kepala.

Setiap pagi, sebelum pergi ke sawah, dia berjalan ke kuil kecil di tepi sungai Kuala. Sungainya bening. Airnya mengaliri ratusan hektar sawah. Di dalam kuil berdiri arca Siwa. Di kiri ada Ganesha. Di kanan ada Subramanian—Muruga—dewa yang paling ia cintai.

Kakek saya akan membunyikan lonceng tiga kali.

Lalu menyalakan dupa.
Membakar kemenyan.
Melakukan arati memutar cahaya di depan arca, yang menghasilkan wangi dari dupa dan kapur barus tipis-tipis yang dibakar.

Bibirnya komat-kamit.

Om Namah Siwaaya… Om Muruga…
Dibaca tiga kali.

Sore, selepas dari sawah, dia kembali. Malam hari belajar huruf Tamil di kuil.

Perawakannya tinggi, hampir 180 sentimeter. Badannya kekar. Rambutnya ikal. Kulitnya kemerahan. Setiap bertemu orang yang lebih tua, dia selalu menunduk sedikit dan tersenyum. Setiap Jumat berpuasa, tidak makan makanan yang berdarah atau amis.

Pada usia sekitar 25 tahun, dia menikahi Anggama, gadis Tamil dari Wani Padi Samendi Kuppem di Tamil Nadu. Pernikahan mereka berlangsung dengan adat Hindu Tamil: nyala api, bunga melati, benang kuning, mantra, dan air mata bahagia.

Mereka memiliki sebelas anak.

Tetapi zaman itu kejam. Tidak ada dokter. Tidak ada obat. Tidak ada BPJS Kesehatan. Beberapa anak meninggal ketika lahir. Yang bertahan sampai dewasa hanya tujuh.

Lalu datang revolusi.

Tahun 1945 Indonesia merdeka. Tahun 1946 perang mulai merambat ke mana-mana. Kampung Kuala tidak lagi aman. Orang-orang lari. Rumah dibakar. Sawah ditinggalkan. Ketakutan masuk ke pintu rumah seperti asap.

Di situlah terjadi patahan besar dalam hidup Kumar Sami.

Dia meninggalkan sawah, lembu, rumah, dan seluruh hartanya.

Dia pergi ke Medan. Banyak orang datang ke Medan dengan mimpi menjadi kaya. Kakek saya datang dengan satu gerobak, seorang istri, tujuh anak, dan masa lalu yang tertinggal di Kuala.

Dia tinggal di Gang Sado, kawasan Jalan Serdang. Tanah itu milik Pendapotan Siregar, tuan tanah yang lahannya membentang dari Gang Sado hingga Rumah Sakit Pirngadi. Di atas tanah itulah kakek saya mulai lagi dari nol.

Dan inilah potongan hidup yang paling saya sukai.

Setiap pukul empat sore, Kumar Sami mengenakan sarung dan kemeja putih. Dia mendorong gerobak mie rebus dan bandrek dari Gang Sado. Menyusuri Jalan M. Yamin. Menyeberang ke Sentosa. Belok ke Sei Rengas. Lalu berhenti di simpang dekat Titi Satu, di tepi Sungai Kerah.

Dia berjualan sampai pukul sembilan malam.
Mie rebusnya habis.
Bandreknya habis.
Gerobaknya kosong. Tetapi wajahnya selalu penuh.

Dia pulang dengan senyum yang sama setiap malam, disambut istrinya di rumah kecil mereka.

Dari sen demi sen yang dikumpulkan, pada awal 1950-an dia membangun empat rumah petak di tepi Sungai Kerah. Satu untuk dirinya. Satu untuk anak perempuan sulungnya. Dua untuk anak-anak lelakinya.

Keluarga kami lahir dari gerobak, dari lumpur sungai, dari tangan yang kapalan.

Tetapi kejutan terbesar justru datang dari generasi sesudahnya.

Anak sulungnya, Renggasami, memiliki seorang anak laki-laki yang tampan. Tetangga memanggilnya Yusuf karena wajahnya dianggap setampan nabi. Lalu, setelah situasi mencekam pasca-1965, lahirlah seorang cucu lagi di Tanjung Pura.

Kakek saya cemas.
“Bawa dia ke Medan,” katanya.

Anaknya berangkat naik kereta api ke Tanjung Pura. Bayi itu dibawa pulang ke Gang Sado.

Namanya diberikan langsung oleh Kumar Sami:
Selwa Kumara.
Artinya: anak kesayangan. Nama lain dari Muruga.

Saya dibesarkan di antara Gang Sado, Titi Batu, Jalan Ibrahim Umar, dan cerita-cerita tentang India Selatan yang dibawa dalam ingatan, bukan dalam koper.

Tetapi saya tumbuh bukan menjadi orang India. Saya tumbuh menjadi anak Tanah Deli.

Mungkin karena itu, jalan hidup saya tidak pernah lurus. Tetapi zig zag berbelok-belok seperti jalan kecil di kampus USU, membawa saya bertemu orang-orang yang diam-diam mengubah hidup.

Berikut ceritanya. Suatu hari pada 1994, saya turun dari lantai dua Pusat Jasa Kerja USU. Saya baru saja menemui dr. Bahren Ratur Sembiring untuk mengundangnya ke acara “Profesor Membaca Puisi” di kampus USU. Dari pintu samping saya berjalan ke parkiran sepeda motor.

Di bawah pohon mangga, di sudut parkiran, ada seorang nenek menjual pecel.

Saya memesan pecel pakai mi dan sate kerang.

Baru beberapa suap, seorang lelaki kurus berkumis tipis, berkacamata, turun dari Vespa dan menegur saya.

“Ingat sama saya?”
Saya menatap wajahnya beberapa detik.
“Ingat, Bang Safrin.”
“Di mana kita pernah jumpa?”
“Abang yang jadi penatar P4 saya di FISIP USU tahun 1988, waktu saya mahasiswa baru.”
Dia tertawa kecil.
“Sudah, ikut saya.”

Tanpa banyak tanya, saya naik ke belakang Vespanya. Kami melintas jalan kampus yang lengang, lalu berhenti di Jalan Sofyan. Kami naik ke lantai dua sebuah ruangan.

Di sana, di belakang meja sebelah kiri dekat pintu, duduk seorang pria kurus, rambutnya agak panjang, mulai memutih, wajahnya tampan dan tenang.

“Ini Subilhar,” kata Bang Safrin. “Baru pulang dari Adelaide University, Australia.”

Pria itu mengulurkan tangan. “Panggil saja abang.”

Tetapi entah mengapa, sejak hari itu saya memanggilnya Bang Iil.

Dari ruangan kecil di Jalan Sofyan itulah dunia saya melebar. Saya mulai sering ke FISIP. Saya bertemu Bang Arif Nasution, Ridwan Rangkuti, Amir Purba, Amir Nanadapdap, Junjungan Simanjuntak, Kak Nuraini Padang, Kak Lina Sudarti, Bang Zulkifli Lubis, Ivan Nasution, Humaji, Ridwan Hanafiah, Topan Damanik. Waktu itu Dekan FISIP adalah Amru Nasution, sementara pembantu dekan dijabat Bang Sakyan Asmara.

Mereka bukan hanya orang kampus. Mereka adalah kawah tempat saya belajar berbicara, berpikir, berani, dan bergaul.

Saya sering diajak Bang Safrin, Bang Iil, dan Bang Arif ikut seminar di hotel-hotel. Kadang mereka menjadi narasumber. Kadang saya datang sendiri, lalu pulang bersama mereka. Kalau honor turun, mereka bahkan membaginya kepada saya, mahasiswa yang belum punya apa-apa selain semangat.

Tetapi yang paling saya ingat justru bukan seminarnya. Yang saya ingat adalah pulang malam bersama Bang Safrin. Kadang kami singgah minum teh susu telur, makan es campur, sate Padang, atau ikan bakar di Jalan Halat, Sukaramai, sampai Bromo.

Di situlah saya belajar bahwa pengetahuan tidak hanya lahir di ruang kuliah. Tapi juga lahir di ruang publik: di warung, di jalan, di atas Vespa tua, dan dalam obrolan panjang tentang Medan, politik, kampus, dan nasib orang kecil.

Kelak, dari pergaulan itulah tumbuh keberanian saya untuk bersuara.

Tetapi kampus juga mengajarkan bahwa tidak semua orang besar tampak ramah pada pertemuan pertama.

Suatu hari Bang Safaruddin mengajak saya ke Hotel Polonia. Baru menaiki tangga masuk, kami berpapasan dengan seorang pria berambut ikal, berkumis, memakai jas, harum, dan tampak sangat percaya diri. Bang Safaruddin menyapanya dengan hormat.

Pria itu memandang saya sekilas. “Siapa dia?” tanyanya, nadanya meninggi percaya diri.

Saya yang masih muda dan mudah tersinggung menjawab ketus. Dia marah. Saya pergi meninggalkannya.

Di luar saya bertanya kepada Bang Safaruddin.

“Siapa orang itu?”

Bang Safaruddin tersenyum.

“Masykuri Abdillah? Bukan. Itu Maiyasyak Johan.”

Nama itu kemudian saya dengar berulang-ulang: seorang aktivis, pemikir, tokoh hukum, dan pejuang buruh anak.

Beberapa waktu kemudian ada seminar di ruang IMGT USU tentang kasus korupsi mantan Gubernur Bank Indonesia, Syahril Sabirin. Narasumbernya Bang Buyung Nasution. Seusai acara saya membawa beberapa buku dan membagikannya kepada Bang Nazaruddin dan beberapa orang lain.

Bang May melihat.
“Untuk aku mana?” tanyanya.
“Sudah habis,” jawab saya sambil berjalan keluar mengikuti Bang Buyung.

Saya kira urusan selesai. Ternyata tidak.

Suatu hari Bang Hasyim Purba mengajak saya ke Hotel Madani. Ada diskusi hukum yang diadakan Ikatan Alumni Fakultas Hukum USU. Saat itu Bang Maiyasyak Johan Ketuanya. Seusai acara, kami diajak minum kopi di restoran hotel. Di meja itu ada Bang Safaruddin dan Bang May.

Saya hanya diam, duduk di samping Bang Safaruddin, menyimak percakapan mereka.

Sampai tiba-tiba, entah bagaimana, saya menyelutuk mengutip sebaris puisi Khahlil Gibran.

Bang May menoleh.
Dia tersenyum.
“Saya senang mendengarnya,” katanya. “Lanjutkan kau bicara.” Awak pun soor.

Sejak malam itu hubungan kami berubah.
Kalau Bang May datang ke Medan, kami bertemu lagi di Hotel Madani. Kami bertukar nomor telepon. Kadang dia menelepon dan menyuruh saya datang ke rumahnya di Gang Bengkel, Jalan Sakti Lubis.

Saya biasa datang bersama Bang Shoibul dan Surya. Kami bertiga naik mobil Surya ke rumah Bang May. Diskusi dimulai setelah Isya dan sering baru selesai menjelang subuh.

Kadang di rumah itu sudah ada Syahruzal, Edi Ikhsan, Hamdani Harahap, Marasamin Ritonga. Kak Epi, istri Bang May, selalu menyiapkan kue, kopi, dan masakan yang luar biasa enak.

Rumah itu bukan sekadar rumah. Tapi seperti sekolah malam.

Di sana saya belajar tentang Islam, kebangsaan, hukum, negara, dan nasib orang kecil.

Bang May bercerita tentang Rasul Muhammad, para khalifah, Khalid bin Walid, Imam Ghazali, Imam Hanafi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina. Dia juga bicara tentang Aceh, Iskandar Muda, Teuku Umar, Panglima Polim.

Ayah Bang May seorang politikus Masyumi dari Aceh. Ibunya perempuan Muslim Batak Toba boru Sitorus. Dari dirinya saya belajar bahwa identitas tidak harus sempit. Seseorang bisa sekaligus Aceh, Toba, Islam, Indonesia, dan tetap terbuka.

Kadang, jika Bang May datang sendirian ke Medan, saya menginap di rumahnya di Gang Bengkel.

Suatu ketika saya ke Jakarta. Bang May mengajak saya tinggal di rumahnya di Jalan KPBD. Pagi hari kami berangkat dengan Jeep Willys menuju Hotel di Senayan.

Kami hendak bertemu Romo Syafi’i. Di sana sudah ada seorang advokat senior, Bang Muhammad Joni, mantan Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Kami duduk di restoran hotel. Istri Romo berdiri menyambut. Bang Joni duduk di sebelah Romo. Saya hanya diam, menyimak.

Tetapi lagi-lagi saya belajar: pikiran besar tidak selalu lahir dari podium. Kadang ide besar lahir dari meja makan, dari percakapan yang tenang, dari orang-orang yang tidak pernah berhenti membaca dan bertanya.

Jauh sebelum saya mengenal Bang May, sebenarnya saya sudah sering melewati sebuah gedung putih berkeramik di Jalan Sutomo. Di depannya tertulis: LAAI, Lembaga Advokasi Anak Indonesia.

Lembaga itu mengadvokasi pekerja anak di jermal-jermal pesisir Sumatera Timur. Direkturnya ternyata Bang May.

Di sana ada pula Bang Joni, Edi Ikhsan, Marasamin Ritonga, Zahrin Piliang, Darwan Prinst.

Mereka membela anak-anak yang dipaksa bekerja di laut, tidur di pondok sempit, jauh dari sekolah dan keluarga.

Dari merekalah saya belajar bahwa advokasi bukan sekadar pidato. Advokasi adalah berdiri di samping mereka yang paling lemah, bahkan ketika tak ada kamera dan tepuk tangan.

Saya belajar bahwa darah boleh datang dari Tamil Nadu, tetapi cinta bisa tumbuh di Medan.

Karena itu ketika Sungai Deli dirusak, saya marah.

Sungai yang dulu menjadi urat nadi kota kini dipenuhi sampah, limbah, dan keserakahan. Orang bicara pembangunan, tetapi membunuh sungai. Orang bicara investasi, tetapi membiarkan bantaran menjadi kumuh dan beracun.

Saya memilih bersuara.

Saya ikut mengadvokasi penyelamatan Sungai Deli. Ikit mengadvokasi Merdekakan Lapangan Merdeka. Advokasi rumah persaktian ugama Malim, pengikutnya disebut Parmalim.

Saya berbicara kencang tentang Danau Toba yang terus dibebani kerakusan, pembabatan hutan, dan proyek tanpa nurani. Saya percaya lingkungan bukan soal pohon semata. Ia soal ingatan. Soal rumah. Soal masa depan.

Saya juga ikut membela masjid-masjid di Medan ketika ada yang digusur, dipersempit, atau diperlakukan seolah tidak penting di tengah kota yang tumbuh tanpa arah. Tokoh-tokohnya: Hamdani Harahap, Hasim Purba, Marasamin Ritonga Syafaruddin, Syahbana, Taufiq Umar Dani Harahap.

Saya belajar dari kakek saya: orang yang baik pada kuilnya, akan menghormati masjid orang lain.

Juga advokasi banjir bandang Bahorok bersama Robert Valentino Tarigan, Hasim Purba, Syafaruddin, Afrizon, Nur Alamsyah. Kasus ini sempat dibawa ke Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar.

Dan bersama mereka, saya belajar satu hal lagi: jangan takut pada kekuasaan.

Karena itu saya pernah melapor ke KPK ketika mencium dugaan korupsi di lingkungan Rektor Universitas Sumatera Utara. Banyak yang berkata saya nekat. Banyak yang menyuruh diam. Saya melapor ke LPSK Jakarta, saya diberikan perlindungan saksi.

Tetapi saya teringat Kumar Sami. Dia pernah meninggalkan seluruh hartanya demi hidup yang lebih benar.

Maka saya pun memilih tidak diam.

Sebab Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang takut.

Indonesia dibangun oleh orang-orang yang datang dari mana saja—Tamil Nadu, Arab, Tionghoa, Batak, Jawa, Minang—lalu memilih mencintai negeri ini lebih besar dari ketakutan mereka.

Saya tidak pernah melihat Kampung Kuala tahun 1899.

Saya tidak pernah menyaksikan kakek saya membunyikan lonceng kuil tiga kali.

Tetapi setiap kali saya berdiri di tepi Sungai Deli yang keruh, saya merasa mendengar suara itu.

Lonceng kecil dari masa lalu. Yang mengingatkan saya bahwa saya mungkin datang dari India Selatan.

Tetapi saya adalah anak Tanah Deli. Dan saya mencintai Indonesia.

 


*Selwa Kumar — Anak Medan, pegiat sosial pecinta Indonesia; PP IKA USU bidang seni dan budaya.