Bumifilia Strategis: Mengadopsi Budaya Bunker Perang Iran Menuju Komunalisme Bawah Tanah ala Budaya Indonesia
Oleh Mochammad Sulton Sahara*
Di kedalaman 80 meter Pegunungan Zagros, fasilitas nuklir Fordow Iran bukan hanya lolos dari serangan hipersonik dan bom bunker buster; ia mengirim pesan sederhana tapi tegas: hidup di bawah tanah bisa menjadi bentuk kedaulatan. Dari sana lahir gagasan bumifilia strategis, kecintaan, atau setidaknya kenyamanan, pada ruang bawah tanah sebagai bagian wajar dari kehidupan kolektif, bukan sekadar dekorasi perang nuklir atau film kiamat [1].
Indonesia, yang menaruh Natuna tepat di garis patahan geopolitik Laut China Selatan, ruang tamu yang sebenarnya sedang dihadapkan pada pertanyaan yang sama: berani menggeser gotong royong dari permukaan tanah ke perut bumi, atau tetap pasrah bahwa konflik besar selalu “urusan militer saja”.
Gotong royong turun ke bawah tanah. Selama ini, imajinasi kita tentang gotong royong berhenti di permukaan: kerja bakti, musyawarah desa, arisan RT, sampai relawan bencana yang datang ketika banjir atau gempa menghantam. Semua berlangsung di balai desa, tenda posko, halaman masjid, ruang terbuka yang familier.
Bunker memaksa kita mengubah semua itu. Bayangkan ruang 2 x 3 meter bukan lagi kamar pribadi, melainkan ruang komunal di mana energi, udara, makanan, dan emosi dibagi bersama. Ini kebalikan dari tradisi shelter individual ala Amerika tahun 1960an, ketika logika yang berkembang adalah “selamatkan diri dan keluarga, tetangga urusan nanti”. Kalau Indonesia ingin membangun budaya bunker, etika itu harus dibalik: bunker justru menjadi institusi komunalisme baru, versi ekstrem dari gotong royong [2] [3].
Standar National Indonesia (SNI) Bunker sebagai arsitektur komunal, bukan cuma teknis. Ketika kita bicara “SNI Bunker 2027”, mudah sekali terjebak ke angka: kedalaman, ketebalan beton, ventilasi, pencahayaan, rating blast. Padahal yang dibutuhkan adalah standar yang juga mengatur cara hidup bersama.
- Tier 1 di Natuna, Batam, Biak: Bunker sedalam sekitar 50 meter yang sanggup menopang hidup ratusan nelayan sekaligus komando TNI AL selama sekitar sebulan.
- Tier 2 di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar: Basement apartemen atau perkantoran yang diadaptasi menjadi bunker komunitas RW, dengan dapur komunal, suplai logistik, dan ruang koordinasi bersama untuk beberapa hari.
- Tier 3 di desa di 515 kabupaten dan kota: Struktur sederhana sedalam belasan meter yang memanfaatkan sumur resapan atau infrastruktur lokal sebagai tempat berlindung 2-3 hari bagi satu RT atau dusun.
Di setiap tingkat, harus ada ruang “musyawarah bunker”, ruang rapat versi bawah tanah, dengan akustik yang tenang dan peralatan sederhana, karena bahkan di tengah krisis, kita tetap butuh forum untuk mengambil keputusan bersama [4] [5] [6].
Ritual budaya harian: menjinakkan bunker jadi rumah. Bunker hanya akan terasa manusiawi kalau ia ditenun ke dalam ritme seharihari. Itu artinya, ada ritual yang membuat ruang sempit dan kedap suara ini pelanpelan diterima sebagai “ruang hidup”, bukan sekadar tempat mengungsi.
Pagi hari bisa dimulai dengan azan atau panggilan ibadah yang disalurkan dari permukaan (jika masih berfungsi), disambung pemeriksaan stok air dan makanan secara kolektif. Siang hari diisi rotasi tugas: ada yang memantau radio, ada yang cek filter udara, ada yang mengelola dapur dan sanitasi. Malam hari diisi sesi budaya: menonton rekaman wayang, mendengarkan lagu daerah, atau sekadar bercerita lintas generasi, membuat bunker terasa dekat dengan tradisi ruang keluarga dan balai desa yang selama ini kita kenal. Hal teknis seperti dengungan ventilasi atau disiplin menggunakan toilet kompos pun bisa diubah menjadi simbol kebersamaan: mesin tidak lagi terasa dingin, tapi menjadi “tetangga mekanik” yang dijaga bersama.
Natuna: laboratorium bumifilia Nusantara. Kalau harus memilih satu tempat untuk menguji semua ini secara nyata, Natuna adalah kandidat paling logis. Ia berada di garis depan sengketa Laut China Selatan, bergantung pada laut, dan dihuni komunitas nelayan yang sangat peka pada perubahan cuaca maupun dinamika keamanan.
Di sini, bunker bukan eksklusif militer. Ratusan nelayan ikut serta mengisi dan merawat stok makanan, belajar menggunakan radio darurat, memahami rute evakuasi bawah tanah. Sebaliknya, aparatur pertahanan belajar dari nelayan tentang arus laut, karst bawah tanah, dan selukbeluk wilayah yang mereka jaga. Bunker menjadi titik temu: bukan “benteng para elit”, melainkan infrastruktur bersama yang melindungi sekaligus memperkuat klaim kedaulatan di laut.
Merayakan bunker sebagai bagian identitas. Budaya tidak lahir dari dokumen teknis, tapi dari momen yang dirayakan berulangulang. Bayangkan ada “Hari Bunker Nasional” yang tiap tahun diisi simulasi tinggal di bawah tanah selama beberapa puluh jam di sekolah dan kampung, sebagai bagian dari internalisasi budaya bawah tanah. Anakanak dilibatkan lewat lomba desain ventilasi, masak dengan bahan kaleng, atau membuat poster tentang hidup di ruang terbatas [7].
Upacara kemerdekaan pada suatu tahun bisa sengaja digelar di fasilitas bawah tanah, bukan untuk menebar ketakutan, melainkan menegaskan bahwa kedaulatan di abad ini juga diukur dari kemampuan bertahan ketika permukaan tak lagi aman.
Dari pasrah ke bumifilia: perubahan cara berpikir. Selama ini, ada kecenderungan menganggap isu besar seperti Laut China Selatan dan serangan jarak jauh sebagai “terlalu jauh” dari kehidupan harian warga. Akibatnya, pertahanan dipersempit menjadi urusan anggaran, senjata, dan latihan militer.
Bumifilia strategis menawarkan logika lain: pertahanan dimulai ketika warga merasa berhak atas ruang aman yang bisa mereka pahami dan kelola sendiri, termasuk kalau ruang itu berada di bawah tanah. Bunker berhenti menjadi simbol ketakutan dan berubah menjadi bentuk baru dari bela negara: kesiapan untuk hidup komunal dalam keterbatasan demi mempertahankan kedaulatan.
Menuju masyarakat ramah-bunker 2030. Bayangan Indonesia 2030 dalam kerangka ini bukan negeri yang dipenuhi bunker suram, melainkan jaringan ruang bawah tanah yang terhubung dengan kehidupan seharihari. Desa memiliki balai bunker sederhana, kota punya lantai bawah tanah yang bisa berfungsi ganda sebagai ruang parkir dan tempat berlindung, garis depan seperti Natuna mengembangkan kompleks bawah tanah yang menyatu dengan pelabuhan dan fasilitas nelayan. Mirip dengan keceriaan masyarakat kota-kota bawah tanah: Derinkuyu (Turki), City of Caves (Inggris Utara), Wieliczka (Polandia), Dover (Inggris), Okhotny Ryad (Rusia) dan Distrik Umeda (Jepang). [8]
Gotong royong tak lagi sekadar angkat cangkul saat kerja bakti, tapi juga memastikan filter udara bekerja, stok makanan tidak menipis, dan semua orang paham etika hidup di ruang terbatas. Arisan bisa bergeser dari kumpul emas atau uang, menjadi komitmen bersama menyiapkan logistik darurat yang benarbenar bisa menyelamatkan nyawa.
Epilogia: ketika bumi menjadi ruang bersama. Masyarakat Iran, Amerika Serikat dan Israel pelaku perang pekan ini mungkin menulis bab awal sejarah bumifilia abad ke21, tapi ia tidak harus menjadi satusatunya pemain utama. Indonesia punya modal budaya komunal, pengalaman bencana, dan geografi kepulauan yang menjadikannya kandidat alami untuk mengembangkan “peradaban bawah tanah” versinya sendiri [9].
Di titik ini, standar teknis seperti SNI Bunker berhenti menjadi sekadar rumus kekuatan beton dan mulai dibaca sebagai dokumen budaya: bagaimana sebuah bangsa mengorganisir solidaritas ketika langit di atasnya tidak lagi bisa dipercaya. Pertanyaannya bukan lagi “perlu bunker atau tidak”, melainkan “kapan kita mulai mengubah gotong royong permukaan menjadi gotong royong di perut bumi, sebelum atau sesudah kita dipaksa keadaan. Karena sebuah keiscayaan Hukum Entropi, segala di semesta ini selalu berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pilihannya hanya ada dua: berubah atau diubah keadaan. Karena budaya kita adalah budaya kepahlawanan, maka sama seperti budaya populer masa kecil yang turut mengisi hidup masyarakat kita, Gaban, Voltus Five atau Satria Baja Hitam. Semua akan meneriakkan satu kata sebelum menjadi pahlawan: Berubah!!
—–
Daftar Pustaka
- Atlas Survival Shelters Catalog (2019), AtlasSurvivalShelters.com, Sulphur Spring, Texas.
- Bunker plans, www.patriotsplan.com, 2020.
- Ali Yamaç, Ezgi Tok. (2015), Cave dwellings and underground cities, ISSN 1970-9692, Journal of Speleology in Artificial Cavities, 2.
- David Monteyne (2004), Fallout shelter, University of Minnesota Press, Minneapolis, London.
- Nataliya Pankratova, Hennadii Haiko, Illia Savchenko. (2024), Modeling the Underground Infrastructure of Urban Environments: A Systematic Approach, The Urban Book Serie, Springer, https://doi.org/10.1007/978-3-031-47522-1.
- Rose, K. D. (2001). One nation underground: The fallout shelter in American culture [PDF file]. New York University Press.
- Benjamin Adams, (2016), Survival bunker: How to build and equip your own bunker and store food and water for 5 years, Attribution-ShareAlike 2.0 Generic, Creative Commons.
- Louanne Silver, Underground cities, www.readinga-z.com.
- David Jordan, James D. Kiras, dkk, (2016), War: Understanding modern warfare, (2nd ed.), Cambridge University Press, ISBN 978-1-107-13419-5 Hardback, www.cambridge.org/jordan2.
—–
*Mochammad Sulton Sahara, Mahasiswa Doktoral Ilmu Teknik Universitas Sriwijaya.




