AI dan Lagu Anggota ASEAN ke-Sebelas

Oleh Domingos Flaviano Belo Correia Freitas*

Gambar 1. Performance Together We Rise, Kuala Lumpur Convention Center 27 Oktober 2025. (Sumber: Domingos FBCF)

Oktober 2025 menjadi saksi momen bersejarah bagi Republik Demokratik Timor Leste. Di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk pertama kalinya bangsa yang baru merdeka itu duduk setara di meja Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Dalam euforia pengakuan internasional tersebut, sebuah lagu berjudul “Together We Rise” dipentaskan. Lagu ini diharapkan menjadi representasi musikal dari semangat kebangkitan, identitas budaya, dan harapan sebuah bangsa muda di kancah global.

Namun, di balik gemerlap peristiwa tersebut, tersembunyi ironi yang mengganggu. Beredar informasi bahwa ide dasar lagu ini lahir dari “imajinasi” mesin sebuah model kecerdasan buatan bernama AI Sono. Jika kabar ini benar, maka pertanyaan besar segera muncul: di manakah letak jiwa Timor Leste dalam alunan melodi yang dikomposisi oleh algoritma? Esai ini akan mengupas secara mendalam bagaimana penggunaan AI sebagai inisiator ide dalam lagu “Together We Rise” telah menciptakan krisis keaslian budaya, di mana unsur tradisi Timor Leste hanya menjadi tempelan dekoratif, bukan jiwa yang hidup dan berdenyut dalam musik tersebut.

Di Era Disrupsi, Seni di Persimpangan Jalan

Kita hidup di zaman di mana batas antara kreasi dan komputasi semakin kabur. Kecerdasan Buatan tidak lagi sekadar alat bantu teknis; ia telah berevolusi menjadi “mitra kreatif” yang mampu menghasilkan puisi, lukisan, bahkan simfoni. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan filosofis yang mendasar: apakah seni masih bisa disebut seni jika penciptanya adalah mesin?

Dalam tradisi panjang estetika Barat, sejak zaman Romantisme, seni dipahami sebagai luapan ekspresi jiwa. Seni adalah bahasa personal yang lahir dari pergulatan batin, pengalaman empiris, dan interpretasi subjektif seniman atas realitas. Seni adalah yang manusiawi.

Namun, ketika AI Sono sebuah model generatif yang “belajar” dari jutaan data lagu menjadi inisiator ide, maka proses penciptaan telah berubah secara fundamental. AI tidak memiliki pengalaman, tidak memiliki rasa sakit, tidak memiliki kenangan masa kecil mendengar lagu pengantar tidur ibu. Ia hanya memiliki probabilitas statistik: menghitung pola nada mana yang paling mungkin “berhasil” berdasarkan data masa lalu. Ia menciptakan bukan karena terdorong untuk mengekspresikan sesuatu, tetapi karena algoritmanya memerintahkannya untuk menyusun ulang potongan-potongan data yang telah diberikan.

Gambar 2. Performance Together We Rise, Kuala Lumpur Convention Center 27 Oktober 2025. (Sumber: Domingos FBCF)

Matinya “Genius Kreatif” 

Dalam kasus “Together We Rise”, lirik lagu diciptakan oleh dua putra-putri Timor Leste, Milena Rangel dan Deonisio Babo Soares. Namun, ketika lirik itu dinyanyikan di atas komposisi musik yang lahir dari AI, yang terjadi adalah ketimpangan ontologis: yang manusiawi ditempelkan pada yang artifisial. Di sinilah letak matinya “genius kreatif” manusia. Dengan menjadikan AI sebagai inisiator ide. Proses sakral melahirkan karya dari perenungan panjang, dari interaksi dengan lingkungan sosial-budaya, dari keheningan malam yang melahirkan melodi, telah tergantikan oleh proses menyalin dari database.

Seorang komponis tradisional Timor Leste tidak sekedar menciptakan lagu. Ia mewarisi pengetahuan intuitif yang diwariskan turun-temurun: kapan harus menggunakan tangga nada pelog, kapan ritme Tebe-tebe harus dipercepat, bagaimana suara Karau Dikur harus dibunyikan untuk memanggil roh leluhur. Pengetahuan semacam ini tidak bisa dikodekan ke dalam algoritma. Ia hidup dalam tubuh, dalam denyut nadi para tetua adat. Ketika AI mengambil alih peran sentral sebagai pencipta ide, maka pengetahuan intuitif ini perlahan mati.

Gambar 3. Performance Together We Rise, Kulala Lumpur Convention Center 27 Oktober 2025. (Sumber: Domingos FBCF)

Tradisi “Tempelan” Dekoratif

Jika kita menyimak lagu “Together We Rise” melalui tautan https://youtu.be/Fbt-vW4o9Po, kita akan menemukan sesuatu yang menarik sekaligus menggelisahkan. Pada awal lagu muncul unsur etnik dengan timbre instrument etnik yang terpisah dengan music asli dan untuk menyambungnya meggunakan vocal sebagai hiasan dengan lirik dasar etnik seperti “Helele-helela” agar terdengar menyatu. Unsur-unsur musik Timor Leste ritme dasar yang terinspirasi pola tarian Tebedai, harmoni yang menyentuh nada pentatonik, serta instrument etnik seperti Lakadou, Ai-los, Fui Fafulu, Karau Dikur, dan Rama Atauro semuanya hadir. Namun, persoalannya bukan pada kehadiran, melainkan pada posisi.

Elemen-elemen tradisional itu hanya muncul di bagian intro dan jeda tengah lagu. Ia hadir, memberi “rasa Timor Leste” selama beberapa detik, lalu lenyap digantikan oleh aransemen modern yang dominan. Ia berfungsi sebagai pemanis ritmis, bumbu penyedap, bukan sebagai fondasi.

Dalam praktik produksi musik, ini dikenal sebagai “cultural garnishing” menambahkan elemen etnik ke permukaan karya agar terlihat “lokal”, tanpa membiarkan elemen itu mempengaruhi struktur fundamental lagu. Ini adalah bentuk eksotisme baru: budaya Timur dijadikan objek dekoratif untuk memperkaya produk budaya Barat yang dominan.

Padahal, dalam momen seagung pengakuan internasional Timor Leste, seharusnya musik yang ditampilkan mampu menjadi duta budaya yang autentik. Pola ritme Tebedai semestinya menjadi pattern inti sepanjang lagu, bukan sekadar ambience latar. Tangga nada pentatonik selendro khas Timor Leste seharusnya menjadi bahasa utama, bukan aksen sesekali.

AI tidak memahami semua ini. Ia tidak bisa merasakan getaran spiritual yang ditimbulkan suara Karau Dikur yang menggema di lembah-lembah. Ia hanya tahu, dari databasenya, bahwa “suara etnik” dan “ritme trible” adalah parameter yang bisa ditambahkan untuk memberi “warna lokal” pada musik bergaya pop.

Implikasi Jangka Panjang Seni Timor Leste

Para maestro musik adat, yang selama ini menjaga warisan leluhur dengan setia, perlahan akan kehilangan ruang. Mereka akan tersisih oleh generasi muda yang lebih memilih bekerja dengan AI karena dianggap lebih efisien dan “kekinian”. Pengetahuan intuitif yang diwariskan secara lisan selama bergenerasi akan punya nilai tawar yang semakin rendah, karena semua “data” musik tradisi bisa diambil, disampel, dan diolah AI kapan saja.

Jika para kreator muda Timor Leste terbiasa memulai proses kreatif dengan meminta AI menciptakan ide dasar, maka mereka secara tidak sadar telah membiarkan “selera global” mendikte arah karya mereka. AI, dengan algoritmanya yang dilatih oleh data musik populer global, akan terus-menerus menghasilkan karya yang “aman”, yang mudah dicerna pasar internasional. Akibatnya, musik Timor Leste berisiko kehilangan keunikannya, menjadi varian lokal dari musik pop global yang homogen.

Lagu yang diciptakan oleh mesin, meskipun diberi hiasan etnik, akan terasa asing di telinga masyarakat adat. Mereka adalah yang paling peka terhadap “rasa” musik tradisi. Mereka bisa membedakan mana ritme Tebedai yang dimainkan oleh tubuh yang telah menari selama puluhan tahun, dan mana yang hanya disintesis dari data. Jika musik yang mewakili mereka di forum internasional justru tidak terasa otentik bagi mereka sendiri, maka fungsi representasi budaya telah gagal total.

Peran Teknologi

Masalah etika muncul ketika AI mengambil alih peran sentral sebagai pencipta ide. Ketika AI mendikte arah kreatif, maka yang terjadi adalah dominasi, bukan simbiosis. Sudah saatnya para seniman, di Timor Leste merumuskan kembali posisi teknologi dalam ekosistem seni. Di mana batas antara alat dan pencipta? Apakah kita akan membiarkan teknologi menentukan isi dan arah karya kita, atau kita tetap memegang kendali penuh atas proses kreatif? Bagaimana kita melindungi pengetahuan tradisional dari eksploitasi AI? Apa tanggung jawab seniman terhadap autentisitas budaya?

Kembali pada Jiwa yang Hidup

“Together We Rise” diciptakan untuk merayakan momen ketika Timor Leste akhirnya diakui sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN. Namun, ironisnya, proses penciptaannya justru mencerminkan bentuk baru dari ketergantungan bukan lagi pada penjajah fisik, tetapi pada algoritma yang diciptakan oleh peradaban lain.

Membiarkan ide dari AI mendikte karya seni tradisi sama saja dengan membungkam suara leluhur yang ingin terus bergema. Para leluhur itu tidak menitipkan warisan budaya agar dijadikan data latih untuk mesin. Mereka menitipkannya agar dihidupkan, dimainkan, ditarikan, dan dirasakan oleh generasi penerus. Teknologi haruslah menjadi alat untuk memperkuat resonansi budaya, bukan alat yang menggantikan denyut nadi kreativitas manusia yang sesungguhnya. AI boleh membantu mixing, boleh menawarkan variasi, boleh menjadi katalis eksplorasi. 

Hanya dengan begitu, nada-nada “Together We Rise” benar-benar dapat menjadi lagu kebangkitan yang autentik. 

—-

*Domingos Flaviano Belo Correia Freitas, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.