Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar* Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam […]

Suminto A. Sayuti: Dari Ledakan Sunyi ke Suluk Ketibaan

(Malam Taman Sari ke Bangsal Sri Manganti)   Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Ketika Puisi Tidak Pernah Sia-sia Puisi tidak sekadar deretan kata yang indah; ia adalah tubuh pengalaman batin yang melampaui waktu dan ruang. Ia hadir bukan sekadar sebagai objek estetika, tetapi sebagai peristiwa bahasa yang menuntut pembacaan yang sungguh-sungguh: pembacaan yang bersedia […]

Isra Mi’raj dalam Tafsir Sastra

Dialektika Cahaya, Ruang, dan Waktu Oleh: Gus Nas Jogja Ketika malam mencapai titik nadir keheningannya, sebuah peristiwa kosmik yang melampaui seluruh nalar fisika Newton dan mekanika kuantum meledak dalam kesunyian. Isra Mi’raj bukanlah sekadar migrasi horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu vertikal menembus tujuh samudra langit menuju Sidratul Muntaha. Dalam tafsir sastra, ia […]

Hari yang Berbahaya: Krisis Makna dan Kehidupan yang Menjadi Biasa dalam Puisi Beno Siang Pamungkas

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ketika Hidup Terasa Baik-Baik Saja Ada masa dalam hidup ketika segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tragedi yang memaksa kita berhenti. Tidak ada kehilangan besar yang membuat dunia runtuh seketika. Hari datang dan pergi dengan tertib, pekerjaan selesai sesuai jadwal, tubuh relatif sehat, relasi sosial tidak sedang retak. […]

Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Kuasa Dolar, Air Mata Telenovela, dan Minyak Venezuela

Elegi Petrodollar di Atas Pusara Kedaulatan Oleh Gus Nas Jogja* Uang, khususnya dolar, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sebuah janji. Namun, dalam ekosistem kapitalisme global, dolar AS telah bermutasi dari sekadar alat tukar menjadi teologi yang menuntut kepatuhan mutlak. Jika Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan atau creatio ex nihilo, maka Federal Reserve di Amerika […]

Masyarakat, performance art dan Dunia Performatif

Oleh Purnawan Andra*   Belakangan ini, semakin sulit membedakan antara pertunjukan seni (performance art) dan kehidupan sehari-hari. Bukan karena seni semakin hidup di tengah masyarakat, melainkan karena kehidupan sosial itu sendiri bergerak seperti sebuah pertunjukan.  Sikap, emosi, kepedulian, bahkan penderitaan, hadir di ruang publik sebagai sesuatu yang dipamerkan, dinilai, dan segera digantikan oleh peristiwa lain. […]

Dunia Ahmad Syubbanuddin Alwy: Spiritualitas, Sejarah, dan Eksistensi dalam Puisi Modern Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Di jagat sastra Indonesia modern, nama Ahmad Syubbanuddin Alwy berdiri sebagai fenomena yang menautkan sejarah, spiritualitas, dan pengalaman eksistensial dalam suatu harmoni puisi yang jarang kita temui. Ia bukan hanya penyair lokal yang menulis tentang kota asalnya, Cirebon, melainkan seorang pengembara batin yang merentang kesadaran manusia ke dalam […]

Acep Zamzam Noor dan Puisi sebagai Jalan Tarekat Kultural

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Posisi Acep dalam Peta Sastra Indonesia Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960, dan merupakan putra sulung dari KH Ilyas Ruhiat, seorang kiai ternama di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Pengaruh lingkungan pesantren sangat kuat dalam kehidupan awalnya, dengan praktik tarekat dan zikir harian, sehingga […]