Seni dan Hermeneutika: Ketika “Tafsir” dan “Riset” Menjadi Senjata Legitimasi

Oleh: Eko Yuds*   Tulisan ini berpijak pada satu posisi yang tegas: hermeneutika bukanlah pembenar tafsir bebas dalam seni, melainkan disiplin pemaknaan yang justru membatasi kesewenang-wenangan makna. Ketika “tafsir” dan “riset” digunakan tanpa prinsip metodologis dan kesadaran etis, seni berisiko kehilangan watak dialogisnya dan berubah menjadi instrumen legitimasi simbolik—baik bagi ego individual maupun kepentingan institusional. […]

Kaleidoskop Pendidikan 2025: Antropologi Disrupsi dan Politik Pencerahan

Oleh: Gus Nas Jogja*   “Dunia ini adalah sekolah, dan setiap insan adalah buku yang harus kita baca dengan rasa hormat.”   Fragmen Pembuka: Dialektika Ruang Hampa Pendidikan bukanlah sekadar transmisi dogma di atas papan tulis yang berdebu; ia adalah sebuah Kaleidoskop. Sebuah tabung optik di mana setiap pecahan kaca—baik melalui metafisika Sunan Kalijaga, nalar […]

Demokrasi Tabrak Lari: Genealogi Caci-maki dan Banalitas Digital dalam Arus Post Truth

Oleh: Gus Nas Jogja*   Mukaddimah Senjakala Diskursus Publik Demokrasi, yang secara etimologis berakar pada demos dan kratos, seharusnya menjadi ruang bagi kedaulatan yang diskursif. Namun, di bawah bayang-bayang revolusi digital, kita menyaksikan mutasi radikal: Demokrasi Tabrak Lari. Ini adalah kondisi di mana partisipasi politik tidak lagi berbasis pada argumen yang diuji, melainkan pada serangan […]

Menyobek Kalender: Kapai-Kapai Arifin C Noer dan Ilusi Pergantian Waktu

Oleh: Purnawan Andra*   Yang Kelam: Ini adalah tahun 1960. Ini bukan tahun 1919. Dia akan mati pada tahun 1980. Sudah waktunya kerut ditambah di dahinya. Abu: Tobat, apa yang telah kau lakukan? Yang Kelam: Menyobek kalender! (Kapai-kapai, Arifin C Noer, 1970)   —— Pergantian tahun hampir selalu dibingkai sebagai peristiwa yang menjanjikan dan penuh […]

Gastronomi Politik: Dialektika Rendang, Gudeg, dan Gado-Gado dalam Cawan Demokrasi Indonesia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Mukadimah: Meja Makan sebagai Altar Peradaban Demokrasi bukanlah sekadar bilik suara yang dingin atau tumpukan kertas suara yang mati. Demokrasi adalah sebuah perjamuan agung. Di atas meja kebangsaan kita, terhidang narasi-narasi rasa yang lebih tua dari republik ini sendiri. Jika politik sering kali dipandang sebagai perebutan kuasa yang gersang, maka […]

Ekoteologi Ronggowarsito dan Manusia Avatar

Oleh: W. Sanavero*   Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena adanya jaman Kala, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.  (Serat Kalatidha, Ronggowarsito) ——-   Masa itu telah tiba (lagi), masa yang disebut-sebut sebagai […]

Absurditas Sastra dan Cacat Linguistik: Mengapresiasi Retakan dalam Bejana Simulakra

Oleh: Gus Nas Jogja*   Sastra sering kali dirayakan sebagai puncak pencapaian peradaban manusia dalam mengorganisasi makna. Namun, di balik kemegahan metafora dan presisi diksi, tersembunyi sebuah tragedi ontologis yang tak terelakkan: Cacat Linguistik. Esai ini akan membedah bagaimana sastra, sebagai sebuah sistem simulakra, justru menemukan keagungannya bukan melalui kesempurnaan representasi, melainkan melalui pengakuan akan […]

Wisata Bencana: Ontologi Penderitaan di Era Tontonan

Oleh: Gus Nas Jogja*   Selamat Datang di Era Nir Empati Di bawah langit Sumatera yang legam oleh mendung yang belum tuntas, air bah datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai penagih utang atas keserakahan hutan yang digunduli. Namun, di antara isak tangis warga yang kehilangan ternak dan atap, muncul sebuah fenomena yang lebih “ajaib” daripada […]

Mendengar Banyumas: Balada, Tanah, dan Suara yang Tersisa

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   1. Mengapa Balada, Mengapa Banyumas Saya tidak datang ke Banyumas dengan membawa peta konsep atau daftar istilah budaya. Saya datang dengan langkah pelan, seperti orang yang menepi di pinggir jalan desa, lalu memilih duduk dan mendengarkan. Banyumas bagi saya bukan pertama-tama sebuah wilayah administratif, melainkan tanah hidup yang berbicara lewat […]

Membaca Panggung Konflik NU: Retaknya Cermin dan Kegagalan Mawas Diri

Oleh: Gus Nas Jogja*   Nahdlatul Ulama (NU) lahir bukan dari rahim konsensus politik yang kering, melainkan dari tetesan “air mata istikharah” dan “getaran wirid para kekasih Allah”. Secara filosofis, ia adalah sebuah barzakh—ruang antara yang menghubungkan kesucian cita-cita langit dengan realitas bumi yang berdebu. Namun, dalam lensa empiris dan deskriptif hari ini, kita melihat […]