Simfoni di Arena Kolektif: Gairah Komunal dalam Piala Raja Hamengkubuwono Cup

Oleh Abdul Mu’iz Dehana Cakra Surya* Dalam kurun waktu terakhir, dunia mengalami disrupsi besar akibat pandemi Covid-19 yang melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, tidak terkecuali industri pertunjukan seni di Indonesia yang sempat terhenti total. Fenomena ini berdampak signifikan terhadap ekosistem marching band di Yogyakarta. Sebagai kota yang dikenal dengan aktivitas artistik yang dinamis, kebijakan pembatasan kerumunan […]

Ruang Tamu Lebaran: Museum Kecil Konsumerisme Religius

Oleh Prof. Dr. Kasiyan* Lebaran datang seperti bianglala yang berputar pelan di langit batin—membawa kita pulang, bukan hanya ke kampung halaman, tetapi ke suatu harapan tentang kesucian. Ada yang bergerak dalam diri: sesuatu yang ingin kembali jernih, seperti air sebelum disentuh tangan. Kita menyebutnya fitrah, seolah ia sebuah tempat, padahal ia mungkin hanya arah—arah pulang […]

Mendaras Puisi Abdul Kadir Ibrahim: dari Penghayatan Personal, ke Spiritualitas, Sampai ke Kritik Sosial

Oleh Syaifuddin Gani* Puisi menjadi jalan bagi penyair, mengutarakan perasaan terdalamnya secara personal, spiritualitas, maupun kritiknya pada realitas sosial. Penyair sebagai manusia, memiliki hasrat dan harapan yang ia suarakan melalui kata-kata, bahasa. Akan tetapi, penyair tidak sekadar mengutarakannya dengan bahasa yang lugas, sebagaiamana manusia umumnya jika berkeluh-kesah. Penyair akan menggunakan kendaraan imajinasi, menuangkan kegelisahan agar […]

Hatsune Miku, Idola Virtual dalam Era Metamodern, Sebuah Refleksi

Oleh Muhammad Three Artois Estuari* Hatsune Miku merupakan sebuah fenomena budaya global yang mucul pada tahun 2007 dan mengalami puncak popularitasnya pada 2009 hingga 2012, yang unik disini adalah Miku bukan bukan seorang manusia tetapi ia adalah karakter Virtual yang merupakan “wajah” dari teknologi Vocaloid yang dimiliki Yamaha Corporation, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Crypton Future […]

Estetika Pesisir: Bedah Seni Visual dan Materialitas Kelenteng Cu An Kiong Lasem

Oleh Muh Nur Khusen* Di tepian Sungai Lasem, berdiri sebuah bangunan yang telah menyaksikan perputaran waktu selama lebih dari lima abad. Kelenteng Cu An Kiong, yang namanya berarti “Istana Ketentraman Welas Asih“, bukan sekadar artefak religi melainkan sebuah Gesamtkunstwerk atau “Karya Seni Total” di mana arsitektur, seni lukis, seni ukir, dan tata ruang menyatu dalam harmoni […]

Yang Tak Terlihat, Bukan Tak Bernilai

Kritik atas Kasus Videografer Amsal Christy Sitepu   Oleh Salsabilla Putri* Informasi dalam media sosial sekarang begitu kilat sampai kepada setiap penggunanya. Video-video dan foto-foto diikuti caption menjadi konsumsi hampir setiap hari, tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan tidak hanya sebagai konsumsi, ini juga menjadi ladang pekerja kreatif di dalamnya. Hal ini bergantung pada bagaimana […]

Membaca Ulang Pakaian Khas pada Ulang Tahun Kota Malang ke-112

Prolog: Antara Perayaan dan Paradoks Oleh Yusuf Munthaha*   Ada sesuatu yang menggelisahkan ketika sebuah kota merayakan ulang tahunnya dengan mengenakan pakaian yang secara historis merepresentasikan era penindasan kolonial. Pemerintah Kota Malang dalam peringatan hari jadinya yang ke-112 memilih konsep yang mereka sebut “kolonial tradisional” sebagai identitas visual perayaan. Seragam dengan estetika Hindia Belanda itu […]

Jejak Mimpi Satu Abad Lalu: 5 Refleksi Radikal dari Manifesto Jong Sumatranen Bond (1917-1922)

Oleh Shohibul Anshor Siregar* Dokumen yang dibahas dalam ini adalah edisi peringatan lima tahun organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond yang diterbitkan antara tahun 1917 hingga 1922. Sumber ini memuat berbagai artikel dari tokoh intelektual, termasuk Dr. B. Schrieke dan Mohammad Hatta, yang membahas gagasan mengenai nasionalisme dan persatuan di Sumatra. Penulis dalam teks ini mengevaluasi […]

Dari Pusat ke Pinggiran: Migrasi Ruang dalam Pasar Kangen Yogyakarta

Ruang yang Berpindah, Makna yang Bergerak   Oleh Ardian Mulyo Jati*   Di Yogyakarta, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, hanya berpindah tempat. Pada momen tertentu, muncul kembali, dikemas, ditata, lalu diadakan sebagai pengalaman yang bisa dinikmati bersama. Pasar Kangen adalah salah satu panggungnya: ruang sementara di mana ingatan dipanggil pulang, tetapi sekaligus dinegosiasikan ulang.  Di […]

Dari Puisi ke Esai: Menata Napas, Menjernihkan Pikiran

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kegelisahan sebagai Titik Berangkat  Sering muncul satu pertanyaan yang jarang diungkapkan secara jujur: mengapa seorang penyair yang piawai merangkai kata bisa terasa buntu saat menulis esai? Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi menyingkap lapisan batin yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis berpikir dan merasakan. Penyair terbiasa menangkap dunia lewat satu […]