Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]

“Happy Rain”, Satire, dan Etika Publik 

Oleh Purnawan Andra* Banjir yang kembali menggenangi Jakarta dalam beberapa hari terakhir tidak lagi datang sebagai kejutan. Ia hadir seperti tamu rutin yang sudah dikenal tabiatnya. Warga pun telah menyesuaikan jam berangkat, menghindari rute tertentu, menyiapkan sepatu cadangan, dan melanjutkan hidup dengan sedikit keluhan.  Tidak ada kepanikan kolektif, tidak ada kegentingan yang benar-benar terasa. Dalam […]

Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu: Urgensi Kultural untuk Generasi NU Milenial

Oleh Abdul Wachid B.S.* Di tengah gempuran budaya global dan arus digital yang tak terbendung, bahasa ibu (seperti Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Sasak, Bugis, hingga bahasa Osing) mengalami peluruhan yang nyata di tengah keluarga-keluarga Nahdliyin. Banyak anak-anak muda NU kini lebih fasih berbicara dalam bahasa Indonesia baku atau bahkan dalam logat media sosial ketimbang dalam […]

Dari Davos Menuju Demokrasi Ekonomi Yang Bermartabat

Memulihkan Retakan Kemanusiaan dan Peradaban Oleh: Gus Nas Jogja* Di bawah langit Alpen yang biru beku, di mana salju Davos berbisik tentang sejarah bumi yang kian menipis, sebuah liturgi sekuler sedang dirayakan. Di sana, di ketinggian 1.500 meter, para “Gembala Zaman”—para Davos Man yang mengenakan jas sutra dan membawa statistik sebagai tongkat gembalanya—berkumpul di dalam […]

Puisi sebagai Ayat Sosial: Membaca Puisi-Puisi Abang Patdeli Abang Muhi

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Puisi dan Perintah Membaca Membaca puisi, bagi saya, tidak pernah berhenti pada urusan keindahan bahasa atau kecakapan metafora. Ia lebih sering hadir sebagai pengalaman batin: pelan, kadang mengganggu, dan tidak jarang memaksa kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang cara kita memandang dunia. Ada puisi yang selesai ketika larik terakhir […]

Budaya Penjelajahan dan Makna Alam di Zaman Konten 

Oleh Purnawan Andra* Akhir-akhir ini linimasa kita dipenuhi berita kematian seorang pendaki asal Magelang di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Muncul beragam respon sedih, doa atau ungkapan simpati, yang meningkahi potongan cerita, unggahan atau narasi yang beredar di media sosial. Tragedi ini kemudian menjadi peristiwa publik. Kita seperti diingatkan untuk bertanya lebih dalam tentang cara kita […]

Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar* Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam […]

Suminto A. Sayuti: Dari Ledakan Sunyi ke Suluk Ketibaan

(Malam Taman Sari ke Bangsal Sri Manganti)   Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Ketika Puisi Tidak Pernah Sia-sia Puisi tidak sekadar deretan kata yang indah; ia adalah tubuh pengalaman batin yang melampaui waktu dan ruang. Ia hadir bukan sekadar sebagai objek estetika, tetapi sebagai peristiwa bahasa yang menuntut pembacaan yang sungguh-sungguh: pembacaan yang bersedia […]