Sesuatu Proyek Y Tanah Tubuh dan Kemungkinan Pulang
Oleh: Eko Yuds*
Arahan Ari Sumitro • Festival Film Madani 2026
Minggu, 11 Oktober 2026 • 19.00–21.00 WIB
Teater Tuti Indra Malaon, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat
Seorang perempuan hadir membawa bibit pohon yang kering. Di dalam Sesuatu Proyek Y, benda kecil itu menyimpan ketegangan antara harapan untuk tumbuh dan kehidupan yang telah kehilangan syarat pertumbuhannya. Bibit biasanya dibawa untuk ditanam, tetapi kekeringannya membuat tindakan tersebut terasa belum memperoleh tempat. Dari citra ini, pertunjukan membuka pertanyaan tentang arti menghuni: bagaimana manusia dapat melanjutkan hidup ketika tempat yang menopangnya berubah atau terlepas dari jangkauan?
Pertunjukan arahan Ari Sumitro ini dipentaskan dalam Festival Film Madani pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, di Teater Tuti Indra Malaon, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Tata ruang arena mempertemukan narasi agraria, aktivitas manusia urban, dan forum percakapan. Melalui susunan tersebut, kehilangan tanah diteruskan ke tubuh yang bekerja, kemudian ke usaha mencari pemulihan bersama. Perjalanan ini memberi pertunjukan kesatuan yang melampaui pengumpulan contoh konflik.
Narator muncul dari antara penonton dengan speaker dan mikrofon, membicarakan hukum agraria kolonial, adat, dan nasional. Posisi pembicara membuat persoalan tanah memasuki ruang yang sedang ditempati bersama. Penonton mendengar penjelasan sambil berada dekat dengan peristiwa yang dikisahkan. Kedekatan ini memperoleh kelanjutan ketika suara AI mengarahkan tubuh dan moderator menata percakapan. Panggung perlahan memperlihatkan bagaimana suara dapat menemani, mengatur, dan mempertemukan orang.
Anjuran membaca Undang-Undang Pokok Agraria memberi dasar bagi pembicaraan tersebut. Pasal 2 mengarahkan hak menguasai negara kepada sebesar-besar kemakmuran rakyat; penjelasannya membedakan penguasaan dari pemilikan (Republik Indonesia, 1960, Pasal 2 dan Penjelasan Umum II angka 2). Saya membaca kehadiran hukum sebagai undangan menimbang tujuan kewenangan. Melalui pengalaman manusia yang kemudian dihadirkan, kemakmuran memperoleh ukuran yang dapat dirasakan: kemampuan mempertahankan penghidupan serta melanjutkan kehidupan di suatu tempat.
Menghuni melibatkan hubungan yang tumbuh melalui waktu. Seseorang mengenali jalan, membangun kebiasaan, dan mengetahui kepada siapa ia dapat meminta pertolongan. Tanah menyimpan pekerjaan sekaligus ingatan tentang orang-orang yang pernah menjalaninya. Karena itu, perpindahan tempat membawa persoalan tentang keberlanjutan hubungan tersebut. Sebuah alamat baru dapat memberi tempat berlindung, sementara rasa berada di rumah membutuhkan kesempatan membangun kembali keakraban dan kemampuan menentukan hidup.
Narasi Teluk Jakarta membawa persoalan itu ke wilayah pesisir. Limbah sungai, penurunan hasil tangkapan, dan reklamasi hadir melalui pembicaraan tentang kehidupan nelayan. Laut menyimpan pengetahuan yang dibentuk oleh kebiasaan membaca cuaca dan jalur perairan. Perubahan akses memasuki perhitungan penghasilan serta kebutuhan keluarga. Bentang ekologis yang luas menjadi dekat ketika pertunjukan menghubungkannya dengan usaha seseorang untuk tetap membawa pulang hasil kerja.
Henri Lefebvre memandang ruang sosial sebagai hasil hubungan sosial sekaligus sarana produksi dan pengendalian (Lefebvre, 1991). Gagasan ini membantu membaca tanah dan laut sebagai tempat berlangsungnya kehidupan. Bagi saya, kedalaman pertunjukan muncul ketika perubahan kawasan dapat dipahami sebagai perubahan kesempatan manusia untuk berhubungan dengan lingkungannya. Peta memperlihatkan bentuk wilayah; tubuh dan pekerjaan menunjukkan bagaimana wilayah itu dijalani. Teater mempertemukan kedua cara memahami ruang tersebut.
Riwayat Julius dalam naskah memberi jembatan menuju kehidupan kota. Kepastian atas tanah keluarganya terguncang, ia meninggalkan kampung, kemudian bekerja di perusahaan asuransi Jakarta (Sesuatu Proyek Y, tanpa tahun, Nota 2). Riwayat ini membantu menerangkan dasar adegan urban. Perpindahan mengubah tumpuan hidup dari tanah menuju upah, sedangkan kampung bertahan sebagai ingatan. Kerentanan yang terbentuk di satu tempat dapat mengikuti seseorang ke tempat lain.
David Harvey menjelaskan akumulasi melalui perampasan dengan menelaah pengambilalihan tanah, pelemahan hak bersama, serta peran negara dalam menopang proses tersebut (Harvey, 2004). Pemikirannya membantu memahami bagaimana kehilangan sumber penghidupan dapat mempersempit pilihan kerja. Namun riwayat Julius memberi teori itu ukuran personal: akibat perubahan penguasaan tanah berlanjut dalam kebutuhan mencari upah dan membayar tempat tinggal. Membaca Julius melalui Harvey membuat perpindahannya tampak sebagai perubahan kedudukan dalam kehidupan ekonomi.
Di panggung, aktivitas manusia urban dijalankan mengikuti suara AI yang dimainkan manusia. Instruksi datang melalui suara, sementara para pemain menyediakan tubuh untuk melaksanakannya. Pemisahan tersebut membuat sesuatu yang akrab dalam penggunaan perangkat digital menjadi terlihat. Gerak seseorang memperoleh arah dari luar dirinya. Karena suara itu mempunyai pelaksana manusia, penonton juga dapat memikirkan keputusan dan kepentingan yang bekerja di balik kesan otomatis.
Naskah memperinci hubungan itu melalui tenggat pekerjaan, tagihan, konsumsi, dan keputusan keuangan. Bahkan kebutuhan tubuh dapat diperintahkan melalui kalimat “Kamu harus lapar” (Sesuatu Proyek Y, tanpa tahun, Nota 3). Ungkapan ini memberi dasar pembacaan atas adegan AI: asisten mengetahui kebutuhan sekaligus ikut menetapkannya. Bahasa perhatian menjaga tubuh agar mampu melanjutkan aktivitas, sementara keleluasaan untuk memilih semakin sempit. Bantuan dan pengaturan berada dalam kedekatan yang sulit dipisahkan.
Pekerjaan Julius di bidang asuransi menambahkan ironi pada rancangan naskah. Ia bekerja dalam lingkungan pengelolaan risiko, sedangkan hidupnya sendiri dikejar ketidakpastian. Penolakannya membaca pesan aktivis buruh juga memperlihatkan bahwa keterlibatan sosial membutuhkan waktu dan perhatian (Sesuatu Proyek Y, tanpa tahun, Nota 3). Riwayat ini memperdalam dasar adegan urban dengan menunjukkan seseorang yang harus membagi tenaga antara kebutuhan bertahan dan kemungkinan terlibat dalam persoalan bersama.
Ketika para pemain membeku, aliran instruksi berjumpa dengan tubuh yang berhenti. Pembekuan dapat dibaca sebagai kelelahan, kepatuhan yang tertahan, atau jeda untuk mengambil jarak. Saya melihat kekuatan adegan ini pada kesempatan yang diberikan kepada penonton untuk menimbang hubungan antara kecepatan dan kehendak. Tubuh dapat terus bergerak tanpa sepenuhnya menentukan arah; berhenti sesaat membuat perbedaan itu terasa.
Naskah juga memenuhi suara asisten dengan pengulangan perintah, rincian waktu yang sangat presisi, dan bunyi-bunyi yang menggeser bahasa menuju deretan suara (Sesuatu Proyek Y, tanpa tahun, Nota 3). Rancangan ini memberi tekanan musikal pada rutinitas. Bagi saya, peralihan antara arti kata dan bunyi menawarkan cara memahami kesibukan yang terus memenuhi perhatian. Tubuh harus menanggapi sesuatu yang belum tentu sempat dipikirkan.
Masuknya Bembenk sebagai moderator mengalihkan perhatian menuju percakapan publik. Pengantar mengenai manusia purba dan manusia masa kini membuka rentang panjang bagi pertanyaan tentang tempat bertahan hidup. Setelah tubuh diperlihatkan mengikuti instruksi, forum mencoba memberi penjelasan terhadap persoalan yang dihadapi manusia. Perubahan bentuk ini menghubungkan pengalaman keseharian dengan usaha menyusun pengetahuan dan menemukan bahasa bersama.
Lima narasumber membawa pembahasan konsesi dan percepatan pembangunan, persoalan di Jawa termasuk Wadas, Merauke, kawasan industri, serta Kalimantan. Seusai pemaparan, tindakan simbolik membentuk pulau melalui kain dilakukan pada figur yang mematung. Nama wilayah yang berbeda bertemu pada tubuh yang sama. Pengulangan tersebut memberi pusat visual kepada keluasan pembicaraan, sekaligus memperlihatkan bahwa perubahan kawasan mempunyai akibat yang harus dijalani seseorang.
Pulau dari kain memungkinkan penonton mengenali wilayah melalui bentuk yang sederhana. Ketika bentuk itu berada pada tubuh, pengenalan geografis mendapat dimensi lain. Ada kerentanan yang tidak termuat seluruhnya dalam nama tempat. Di sini panggung mempertemukan cara merencanakan wilayah dengan pengalaman berada di dalamnya. Ukuran pembangunan menjadi berdekatan dengan ukuran tubuh, sehingga perkara yang tampak jauh memperoleh kedekatan yang dapat dipandang.
Figur yang diam mempertahankan perhatian pada manusia yang sedang dibicarakan. Gayatri Chakravorty Spivak menelaah persoalan berbicara atas nama orang lain dan menggambarkan mereka dalam struktur pengetahuan serta kekuasaan (Spivak, 1988). Gagasannya membantu membaca susunan tubuh dan suara dalam forum. Bagi saya, diam di panggung dapat menjadi kesaksian yang belum selesai diterjemahkan. Kehadiran tubuh membuat pendengar menimbang kembali penjelasan yang telah diterima dan pengalaman yang masih tertahan.
Kue yang hadir di tengah forum mendekatkan persoalan pembagian kepada benda sehari-hari. Dalam naskah, figur pejabat dibayangkan menyuapi para narasumber (Sesuatu Proyek Y, tanpa tahun, Nota 6). Rancangan tersebut membuka pembacaan tentang hubungan antara pemberian dan kebebasan berbicara. Menerima bagian dapat membentuk kedekatan, juga perasaan berutang budi. Simbol kue memberi ruang untuk memikirkan bagaimana manfaat dibagikan dan bagaimana pembagian itu memengaruhi kedudukan penerimanya.
Keterlibatan penonton membawa forum ke dalam perdebatan mengenai pulau yang perlu diprioritaskan. Persoalan kini meminta tanggapan dari orang-orang yang hadir. Kesepahaman tentang adanya kehilangan belum menghasilkan urutan pemulihan yang disepakati. Perbedaan perhatian memperoleh bentuk dalam percakapan, dan moderator menengahinya melalui humor. Pertunjukan menghadirkan pengalaman merundingkan kebutuhan yang sama-sama dianggap mendesak.
Jacques Rancière memandang penonton sebagai penafsir yang menghubungkan apa yang dilihat dengan pengetahuan serta pengalamannya sendiri (Rancière, 2007). Pemikiran ini membantu memahami partisipasi melampaui keterlibatan langsung dalam tindakan. Orang yang tetap menyimak juga menyusun pengertian. Dalam forum Sesuatu Proyek Y, perbedaan tanggapan memperlihatkan bahwa makna pertunjukan berkembang melalui pertemuan dengan perhatian penonton. Kesediaan mendengar alasan orang lain menjadi bagian dari pengalaman menonton.
Perdebatan prioritas juga membuat waktu menjadi bagian dari persoalan ruang. Menentukan yang didahulukan berarti membicarakan siapa yang masih harus menunggu. Pengalaman menunggu dapat sangat berbeda bagi orang yang kehilangan rumah dan orang yang sedang membahasnya. Karena itu, percakapan di panggung memperoleh kedalaman ketika perhatian kepada sebuah wilayah dapat berjalan bersama kepekaan terhadap kebutuhan wilayah lain.
Humor moderator menjaga percakapan tetap mempunyai hubungan antarmanusia ketika pilihan sulit dipertemukan. Perannya menyimpan persoalan yang menarik: kemampuan mengatur giliran berbicara belum tentu menghasilkan kesepakatan. Forum membutuhkan pengetahuan sekaligus kesediaan menanggung perbedaan. Saya membaca keadaan ini sebagai pengalaman tentang batas perumusan. Orang dapat memahami sebuah persoalan, lalu tetap membutuhkan waktu untuk menemukan tindakan yang dapat dijalankan bersama.
Pada bagian akhir, moderator yang merasa gagal menengahi forum dibungkus dengan lembaran berkilau menyerupai aluminium foil. Citra ini mengalihkan perhatian dari percakapan yang ia pimpin kepada tubuhnya sendiri. Selama forum, ia berusaha mempertemukan suara dan menjaga arah pembahasan. Kini tubuh yang menjalankan peran itu menjadi pusat perhatian. Saya membaca perubahan ini sebagai pengakuan atas keterbatasan seseorang ketika menghadapi persoalan yang jauh melampaui kemampuannya mengatur percakapan.

Adegan penutup Sesuatu Proyek Y dalam rangkaian Festival Film Madani 2026 di Teater Tuti Indra Malaon, Taman Ismail Marzuki.
Perubahan posisi moderator memperdalam hubungan antara pengetahuan dan tanggung jawab. Orang yang semula mengatur giliran bicara kini hadir sebagai tubuh yang memerlukan perhatian. Dalam pembacaan saya, pembungkusan itu membuat kewenangan berbicara tampak rapuh: kemampuan menjelaskan persoalan selalu berhadapan dengan tuntutan untuk menanggapi akibatnya. Kesulitan forum menemukan prioritas pun memperlihatkan jarak antara menyusun pendapat dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada mereka yang terdampak. Panggung mengajak kita memikirkan siapa yang bersedia tetap terlibat ketika percakapan belum menghasilkan jalan keluar.
Lembaran yang membungkus moderator mengingatkan pada perlindungan darurat, sedangkan tubuhnya yang tertutup menyimpan kesan keterbatasan gerak. Kedua kemungkinan ini membuat penutup tetap terbuka. Pertolongan dapat menjaga kehidupan, sementara pemulihan membutuhkan kemampuan bertindak. Dengan mempercayakan akhir pertunjukan kepada citra tubuh, Ari Sumitro memberi ruang bagi penonton untuk meneruskan pemikiran setelah percakapan berhenti. Sesuatu yang telah dijelaskan masih menyisakan pekerjaan untuk dipahami.

Tubuh moderator dibungkus lembaran berkilau menyerupai aluminium foil dalam adegan penutup pertunjukan Sesuatu Proyek Y.
Hubungan antara narasi, gerak, dan forum memberi pementasan ini bentuk yang saling menopang. Tanah dikenali melalui pengalaman kehilangan, kehidupan urban memperlihatkan tuntutan untuk menyesuaikan diri, dan forum membuka kesulitan mencari pemulihan. Pergantian cara penyampaian memungkinkan penonton mendekati persoalan melalui pengetahuan maupun pengalaman tubuh. Kekuatan pertunjukan terletak pada kemampuannya membawa perubahan ruang hidup ke dalam hubungan yang dapat dirasakan.
Dua penyempurnaan dapat memperkuat susunan tersebut. Pertama, pemaparan lima narasumber yang diikuti pola tindakan simbolik serupa akan lebih mudah mengendap apabila beberapa uraian dipadatkan atau diberi jeda. Citra pulau pada tubuh dapat memperoleh waktu tersendiri sebelum pembicaraan berpindah. Saran ini memberi ruang bagi penonton untuk menyerap perbedaan pengalaman tiap wilayah, sehingga pengulangan tindakan berkembang bersama informasi yang baru diterima.
Kedua, bagian partisipatif dapat diperluas melalui kesempatan menyampaikan alasan suatu wilayah perlu didahulukan. Ketidaksepakatan yang sudah muncul merupakan bahan berharga bagi pertunjukan. Dengan memperjelas bagaimana pilihan penonton berhubungan dengan kelanjutan peristiwa, forum dapat membuat proses perundingan lebih terbaca. Humor moderator tetap dapat menjadi penghubung, sementara perhatian yang berbeda memperoleh kesempatan untuk saling didengar.
Pementasan dalam festival bertema Rimpang, dengan ungkapan Spreading, Healing, Growing, memberi resonansi kepada bibit kering dan gagasan pemulihan (Madani International Film Festival, 2026). Kehadiran teater menghadirkan pertemuan langsung dalam lingkungan festival film. Tubuh pemain dan penonton berbagi waktu, lalu percakapan berubah melalui tanggapan yang muncul. Gagasan tumbuh memperoleh arti melalui kemampuan menjaga hubungan dan menyediakan tempat bagi kehidupan yang berbeda.
Pembicaraan moderator tentang kota global berbudaya, sementara sebagian warga tidak dapat pulang karena kehilangan tanah, meninggalkan pertanyaan tentang syarat kehidupan berkebudayaan. Rumah dan penghidupan menentukan kesempatan seseorang untuk berkumpul, mengingat, serta mengembangkan harapan. Pulang pun dapat berarti memperoleh kembali kedudukan dalam kehidupan bersama. Orang yang telah berpindah membutuhkan hak untuk hadir di tempat baru, sambil mempertahankan hubungannya dengan tempat asal.
Ingatan pada bibit kering kembali ketika tubuh moderator terbungkus. Kedua citra itu mengajak kita menimbang perbedaan antara mempertahankan kehidupan dan memungkinkan kehidupan berkembang. Seseorang dapat dilindungi, tetapi masih membutuhkan kesempatan untuk memilih pekerjaan, menjaga ingatan, dan membentuk hari esok. Pemulihan menjadi lebih utuh ketika perhatian kepada orang lain disertai pengakuan bahwa ia mempunyai kehendak yang perlu didengar. Merawat seseorang mencakup kesediaan mengubah keputusan ketika ia menyampaikan kebutuhan yang berbeda dari dugaan kita. Hubungan tersebut memerlukan kepercayaan bahwa orang yang dibantu dapat ikut menentukan bentuk bantuan. Dalam pengertian ini, pemulihan mempunyai dimensi etis yang berhubungan dengan kebebasan.
Sesuatu Proyek Y meninggalkan ruang untuk membawa perhatian itu keluar dari teater. Dalam percakapan sehari-hari, kita dapat menimbang kembali kepada siapa diberikan tempat untuk menjelaskan kebutuhan dan menentukan keputusan. Mendengar memperoleh akibat ketika pendapat seseorang turut mengubah tindakan bersama. Di sana, arti menghuni meluas menjadi kesempatan untuk ikut membentuk dunia yang ditempati. Pembangunan baru menjadi kemajuan ketika orang yang menanggung akibatnya ikut menentukan arahnya.
*Eko Yuds, Teaterawan.
Daftar pustaka
Harvey, David. 2004. ‘The “New” Imperialism: Accumulation by Dispossession.’ Socialist Register 40: 63–87. Teks sumber
Lefebvre, Henri. 1991. The Production of Space. Terjemahan Donald Nicholson-Smith. Oxford: Blackwell. Kutipan buku tersedia dalam The People, Place, and Space Reader. Teks sumber
Madani International Film Festival. 2026. ‘Jadwal Festival & Agenda Penayangan.’ Laman resmi festival, diakses 12 Oktober 2026. Teks sumber
Rancière, Jacques. 2007. ‘The Emancipated Spectator.’ Artforum, Maret. Esai juga dikembangkan dalam buku The Emancipated Spectator, terjemahan Gregory Elliott, Verso. Teks sumber
Republik Indonesia. 1960. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, beserta penjelasannya. Teks sumber
Sesuatu Proyek Y. Tanpa tahun. Naskah pertunjukan.
Spivak, Gayatri Chakravorty. 1988. ‘Can the Subaltern Speak?’ Dalam Marxism and the Interpretation of Culture, disunting Cary Nelson dan Lawrence Grossberg. Urbana: University of Illinois Press, 271–313. Teks sumber





