Mata Katsuko Hosoya dan Keelokan Biota Laut Kita
Oleh: Bambang Asrini*
Di sebuah diskusi publik yang mencerahkan, di sebuah sore yang juga indah, Oktober ini kurator dan fotografer senior Oscar Motuloh menyebut dengan takzim seorang nenek berusia 80 tahun, Katsuko Hosoya yang menjadi mata penggugah kekayaan biota laut kita.
Dalam pameran di galeri cemara 6 dengan tajuk Jewels of Indonesia Seas tak berlebihan jika eksibisi menakjubkan ini tak terelakkan karya fotografer otodidak warga Jepang itu patut dianugerahi “photography of of the year 2026”.
Bayangkan saja, seseorang berusia lanjut selama 20 tahun terakhir bolak-balik Jepang-Kepulaun Solomon, Filipina, Malaysia dan Timor Leste dengan 60 kali berkunjung di sekitar Tulamben, Bali, dan Kepulauan Raja Ampat serta pulau-pula kecil yang terserak disekitarnya, Katsuko membuka tabir eksotis salah satu segitiga terumbu karang (coral triangle) terelok di dunia.
Ia menyajikan karya artistik alam area 3% dari luas laut dunia yang memiliki 70% kekayaan terumbu karang rumah bagi jutaan kecantikan “zamrud khatulistiwa mugil” bernama Tunikata dan juga jenis lainnya Peropora serta Nudibran. Semuanya tak lebih dari ukuran “mukzizat mungil” seukuran sekian millimeter, dari 1,5 sampai 15 sentimeter dengan penambahan imej-imej berbagai jenis “udang” dan “siput laut” yang rupawan.
Tajuk pameran dengan kiasan permata dari lautan Indonesia yakni fotografi wujud hewan-hewan laut ini, sungguh bukanlah metafora estetis tetapi realitas alami yang di kandung perairan kepulauan Indonesia.
“Ini tidak hanya menyoal teknis yang rumit dari pemotretan bawah laut, juga rekam keindahan milik Indonesia namun dedikasi luar biasa seorang warga Jepang tentang kita” ujar Oscar sembari menambahkan bahwa sebenarnya kita sangat berkekurangan tentang data-data kekayaan estetika visual mikro organisme bawah laut.
Sumber-sumber serta arsip juga buku-buku pun organisasi profesional fotografi, bahkan sebagian ilmuwan biota laut belum menggali keseluruhan jenis-jenis hewan-hewan di wilayah segitiga koral yang eksposisinya di Cemara 6 ini bisa jadi paling penting eksistensinya.
Estetika Biota Bawah laut
Mantan akuntan pajak dan pebisnis properti di Jepang ini memulai menyelam dan memburu objek-objek eksotis “mikroba laut’ di usia 60an tahun lebih. Katsuko Hosoya semenjak 2005 bersikeras untuk meluapkan kecintaanya pada cahaya, warna-warni biota laut dan kamera khusus disepanjang garis khatulistiwa.
Fotografi bagaimanapun adalah sebuah instrumen teknologi yang membantu seniman dan fotografer mengungkap ekspresi artistik personal tentang sebuah objek yang diamati.

Perlatan kamera dan lampu strobe Katsuko Hosoya yang dipamerkan di Galeri Cemara 6 Foto: Bambang Asrini
Pengalaman Katsuko adalah pergulatan antara merekam secara wadag mahluk-mahluk mikro organisme yang memerlukan kombinasi ketahanan fisik tubuh —yang tidak setiap seniman mampu saat usia merambat senja, juga pilihan-pilihan sudut kamera untuk menangkap serta skill utama “melukiskan objek” via peralatan pencahayaan, yakni alat strobo untuk mendeteksi objek-objek mungil.
Dalam hal itu Katsuko secara intuitif pun logis merekam dengan misalnya memilih objek biotanya dengan latar hitam pekat, misalnya di Bali yang berpasir hitam—yang terbentuk dari pecahan lava basal (batuan basalt) gunung berapi— dan tenar adanya bangkai kapal USS Liberty saat perang Dunai Ke-2 sebagai rumah terumbu karang yang unik.
Objek biota menjadi menonjol tatkala berlatar hitam pekat, maka secara intuitif Katsuko menggerakkan penerang cahaya strobonya memulai penjelajahan menggerakkan sudut tangkap kamera dengan fleksibel. Intuisi inilah yang membuatnya berseloroh dalam diskusi pada pilihan objek fotonya, “mengapa ya, saya selalu tertarik pada cara reproduksi mahluk-mahluk cantik ini, mungkin itu yang menjadi jiwa artistik personal saya” ujarnya tertawa.
Bentuk-bentuk binatang mungil menyerupai sulur, bunga, atau belut dan bahkan sepertinya tetumbuhan pakis laut yang berpendar biru, oranye, coklat terang, kuning sampai menyala merah bersemu putih, seolah tembus pandang, ternyata banyak ditangkap kamera Katsuko dalam dua objek makhluk hidup.
Sebagai yang ia teliti puluhan tahun, secara instingtif objek-objek itu sedang melakukan “ritual percintaan”, yang Katsuko imajinasikan sebagai hewan berkarakter hermaprodit dengan dua buah organ seksual tetap saja memerlukan pasangan.
Anda bayangkan dalam kedalaman ukuran setinggi Gedung sekitar 8 lantai (90-120 meter) menuju dasar laut berpasir, dengan membawa oksigen yang terkompresi dalam tabung dan batas waktu sekitar sejam lebih, Katsuko berimajinasi percintaan dua Tunikata .
Yakni tentang makhluk-mahluk usai pembuahan (sekitar 5-7 menit), kemudian ia menunggu beberapa saat lagi agar sang dua objek tersebut mengeluarkan telur-telur yang acapkali tubuh dan hasil reproduksi itu berubah-ubah warna secara indah.
Katsuko sebagai “seniman foto” harus secara ulet dan plastis, membawa tubuh tak mudanya, misalnya membawa tabung aluminium (ukuran standar AL80 /11 Liter) dengan berat 14,2 kg hingga 14,3 kg ditambahi oksigen sekitar 2-3 kg, menjadi beban di punggungnya sekitar ± 17,2 kg hingga 17,9 kg.

Pakaian selam Katsuko Hosoya yang di pamerkan di Galeri Cemara 6 Foto: Bambang Asrini
Manuver-manuver Katsuko, memotret objek, yang saat diskusi di galeri Cemara 6, praktisi fotografer bawah laut dan jurnalis foto dari harian Kompas menyebut bahwa kedalaman laut sampai puluhan meter memang menyulitkan, terutama karena jarak pandang terbatas.
Selain itu, gerak refleks tubuh terhambat juga yang ditambahi kemungkinan ada arus laut bawah yang acapkali mengganggu pergerakan tubuh memposisikan kamera, mengarahkan sorot lampu strobo, yang ini membutuhkan konsentrasi pun kejelian mata dan nalar.
Kamera khusus yang canggih, hasrat yang tak pernah padam di usia lanjut serta kesetiaan untuk mengikuti intusi membawa Katsuko diganjar gambar-gambar yang indah, tajam dan seolah kita menjumpai organisme yang sama sekali tak terbayangkan kita jumpai di daratan dengan mata telanjang.
Estetika fotografi kemudian tak mengadalkan manipulasi digital saat di studio, yang bantuan jenis kamera digital on the spot lebih bisa menangkap detil dan presisi warna serta bentuk.
Tentunya kita takjub pada keahlian Katsuko memilih objeknya, dengan catatan bahwa banyak dari organisme tersebut melayang-layang, bentuknya yang mungil sekali dan bisa-bisa terselip diantara terumbu karang yang acapkali lepas dari amatan.

Karya biota laut Katsuko Hosoya di pameran Galeri Cemara 6 Foto: Bambang Asrini

Salah satu karya foto Katsuko Hosoya Foto: Buku Jewels of Indonesians Seas

Foto karya Katsuko Hosoya Foto: Buku Jewels of Indonesians Seas

Foto karya Katsuko Hosoya Foto: Buku Jewels of Indonesians Seas

Karya biota laut Katsuko Hosoya di pameran Galeri Cemara 6 Foto: Bambang Asrini
Maka secara visual, meski berusia lanjut dalam makna denotatf, yakni menangkap dengan mata secara fisik pun konotatif, Katsuko membawa permata-permata segitiga koral khatulistiwanya sebagai hadiah dan rambu pengingat bagi Indonesia yang saat ini tersandung banyak beban kerusakan ekologis.
*Bambang Asrini, penulis seni




