Empat Cara Menulis tentang Buku: Ringkasan, Kritik, Resensi, dan Academic Book Review
Oleh: Abdul Wachid B.S.*
I. Pendahuluan: Membaca Buku dan Menuliskan Hasil Pembacaan
Seorang mahasiswa telah menyelesaikan sebuah buku untuk memenuhi tugas perkuliahan. Dia memahami gagasan utamanya, mencatat bagian-bagian penting, dan mungkin menemukan beberapa hal yang ingin didiskusikan. Namun, ketika dosen meminta dia menuliskan hasil pembacaannya, persoalan baru muncul. Apakah dia harus menyajikan isi buku, menguji kekuatan argumentasinya, menjelaskan manfaatnya bagi pembaca, atau menilai sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan? Buku yang sama dapat melahirkan tulisan berbeda, bergantung pada tujuan yang hendak dicapai.
Membaca dan menulis tentang buku merupakan dua kegiatan yang saling berhubungan, tetapi menuntut kecakapan berbeda. Pemahaman terhadap isi buku menjadi dasar penulisan. Setelah itu, penulis perlu menentukan fokus, memilih informasi yang relevan, menyusun alasan, dan mempertanggungjawabkan penilaiannya. Banyaknya informasi yang dikuasai belum menjamin bahwa hasil pembacaan dapat disampaikan secara tepat. Penulis tetap perlu mengetahui bagian mana yang penting bagi tujuan tulisannya.
Kesulitan sering muncul ketika tujuan tersebut belum dirumuskan dengan jelas. Tulisan yang seharusnya berupa ringkasan dapat dipenuhi komentar pribadi. Resensi dapat berhenti pada uraian isi dan pujian umum. Kritik dapat berubah menjadi ungkapan ketidaksetujuan tanpa alasan yang memadai. Dalam penulisan akademik, persoalannya lebih jauh: penulis perlu menjelaskan bagaimana suatu gagasan dibangun, apakah bukti mendukung argumentasinya, dan sejauh mana buku tersebut memberi sumbangan bagi bidang ilmu yang dibahas.
Karena itu, mahasiswa perlu mengenali empat bentuk tulisan yang sering digunakan ketika membicarakan buku: ringkasan, kritik, resensi, dan academic book review. Keempatnya berhubungan, tetapi mempunyai orientasi berbeda. Ringkasan menyajikan gagasan utama secara akurat. Kritik menguji kekuatan pemikiran melalui alasan dan bukti. Resensi memperkenalkan serta menilai buku untuk membantu pembaca mempertimbangkan relevansinya. Academic book review menempatkan buku dalam percakapan keilmuan dan menilai argumentasi serta sumbangannya bagi bidang yang bersangkutan.
Perbedaan orientasi tersebut menentukan cara penulis bekerja. Dia perlu mengetahui apa yang harus diperhatikan, bukti apa yang diperlukan, dan sejauh mana simpulan dapat dipertahankan. Kesalahan memilih bentuk tulisan dapat membuat pembahasan kehilangan arah, meskipun penulis telah membaca buku dengan saksama.
Esai ini membahas perbedaan keempat bentuk tulisan tersebut, cara menyusunnya, serta tanggung jawab intelektual yang menyertainya. Pembahasan kemudian diterapkan pada satu buku yang sama untuk memperlihatkan bagaimana tujuan pembacaan menentukan bentuk dan arah penulisan. Melalui uraian ini, mahasiswa diharapkan mampu memilih bentuk tulisan secara sadar dan menyampaikan hasil pembacaannya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
II. Menjernihkan Konsep: Empat Bentuk Tulisan dan Hubungan di Antaranya
Untuk membedakan ringkasan, kritik, resensi, dan academic book review, pertanyaan pertama yang perlu diajukan ialah: apa yang hendak dicapai melalui tulisan tersebut? Keempat istilah itu tidak berada pada tingkat konseptual yang sepenuhnya sama. Ringkasan merupakan cara menyajikan isi; kritik merupakan kegiatan menguji dan menilai gagasan; resensi merupakan bentuk tulisan yang memperkenalkan serta mengevaluasi karya bagi pembaca; sedangkan academic book review merupakan ulasan akademik yang menilai buku dalam hubungannya dengan persoalan dan perkembangan keilmuan.
Perbedaan tersebut tidak membentuk batas yang mutlak. Sebuah resensi dapat memuat ringkasan dan kritik. Academic book review juga memerlukan penyajian isi buku agar penilaiannya dapat dipahami. Kritik dapat hadir sebagai tulisan tersendiri atau menjadi bagian dari ulasan. Yang membedakan bukan sekadar unsur yang muncul dalam tulisan, melainkan tujuan yang paling dominan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi penulis.
Ringkasan: Menyajikan Isi secara Akurat
Ringkasan bertujuan menyampaikan gagasan utama dan alur pemikiran buku secara lebih singkat daripada sumbernya. Penulis perlu mengenali tesis, memilih bagian penting, serta menjaga hubungan antargagasan agar pemikiran penulis buku tetap terwakili secara tepat. Keberhasilan ringkasan tidak ditentukan oleh sedikitnya kata yang digunakan, tetapi oleh kemampuannya mempertahankan inti pemikiran tanpa mengubah maksud sumber.
Ringkasan tidak dengan sendirinya menuntut penilaian terhadap kebenaran atau kelemahan argumen. Tugas utamanya ialah menyampaikan isi secara akurat dan proporsional. Jika menjadi bagian dari resensi atau academic book review, ringkasan menyediakan dasar bagi pembahasan dan evaluasi berikutnya.
Kritik: Menguji Gagasan dengan Alasan dan Bukti
Kritik mengarahkan perhatian pada kekuatan suatu pemikiran. Penulis memeriksa klaim yang diajukan, alasan yang digunakan, bukti yang disediakan, serta hubungan antara argumentasi dan simpulan. Penilaian harus bertumpu pada kriteria yang relevan dengan jenis buku dan persoalan yang dibahas.
Kritik tidak harus berakhir dengan penolakan. Hasil pengujian dapat memperkuat suatu argumen, menunjukkan keterbatasannya, atau mengidentifikasi persoalan yang masih terbuka. Yang penting, penulis dapat menjelaskan dasar penilaiannya sehingga pembaca memahami mengapa suatu gagasan dianggap meyakinkan atau masih memerlukan dukungan. Panduan How to Write Critical Reviews dari University of Wisconsin–Madison Writing Center (t.t.-a) juga menekankan pentingnya evaluasi yang terarah dan didukung alasan.
Resensi: Memperkenalkan dan Menilai Buku bagi Pembaca
Resensi menghubungkan isi buku dengan kebutuhan calon pembacanya. Penulis memperkenalkan persoalan yang dibahas, menyajikan gagasan penting, menilai kekuatan dan keterbatasan buku, serta menjelaskan relevansinya bagi pembaca tertentu. Penilaian perlu disertai alasan dan contoh yang bersumber dari buku, bukan berhenti pada kesan umum seperti menarik, bagus, atau bermanfaat.
Orientasi pembaca memengaruhi penekanan resensi. Resensi untuk media umum mungkin lebih memperhatikan keterbacaan dan relevansi sosial, sedangkan resensi dalam media pendidikan dapat menekankan manfaatnya bagi guru, mahasiswa, atau pengelola lembaga pendidikan. Kedalaman analisis disesuaikan dengan tujuan penerbitan dan kebutuhan pembaca.
Academic Book Review: Menilai Buku dalam Percakapan Keilmuan
Academic book review menempatkan sebuah buku dalam hubungan dengan persoalan, teori, penelitian, dan perdebatan yang berkembang di bidang ilmu tertentu. Penulis perlu memahami argumentasi utama buku, menilai kecukupan dasar pemikirannya, serta mempertimbangkan sumbangan dan keterbatasannya berdasarkan bukti yang tersedia.
Lee, Green, Johnson, dan Nyquist (2010), dalam artikel “How to Write a Scholarly Book Review for Publication in a Peer-Reviewed Journal: A Review of the Literature”, membahas ulasan buku ilmiah sebagai praktik akademik yang membutuhkan pembacaan cermat dan penilaian beralasan. Texas A&M University Writing Center (t.t.) juga menekankan pentingnya menempatkan buku dalam percakapan keilmuan yang relevan. Sifat akademik sebuah ulasan tidak ditentukan oleh panjang tulisan atau banyaknya kutipan semata, tetapi oleh mutu evaluasi dan ketepatan hubungan yang dibangun antara buku dan pengetahuan yang telah berkembang.
Sumbangan buku perlu dirumuskan secara hati-hati. Sebuah karya dapat menawarkan sintesis pemikiran, penafsiran baru, penerapan teori pada konteks tertentu, atau pertanyaan yang membuka jalan bagi penelitian lanjutan. Klaim tentang kebaruan memerlukan perbandingan dengan penelitian terdahulu. Penulis perlu membedakan kontribusi yang dapat ditunjukkan oleh isi buku dari kontribusi yang masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Perbedaan Orientasi dan Keluwesan Bentuk
Keempat bentuk tulisan dapat dibedakan melalui pertanyaan yang menjadi pusat perhatiannya. Ringkasan bertanya, “Apa gagasan utama dan bagaimana alur pemikirannya?” Kritik bertanya, “Seberapa kuat gagasan itu didukung oleh alasan dan bukti?” Resensi bertanya, “Apa nilai buku ini dan siapa yang mungkin memperoleh manfaat darinya?” Academic book review bertanya, “Bagaimana argumentasi dan sumbangan buku ini dapat dinilai dalam perkembangan bidang ilmu yang bersangkutan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu penulis menentukan fokus dan memilih bukti yang diperlukan. Sebuah buku tentang penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran, misalnya, dapat diringkas dengan menyajikan tesis dan uraian utamanya. Jika ditulis sebagai kritik, perhatian diarahkan pada kecukupan bukti yang mendukung klaim penulis. Dalam resensi, penulis mempertimbangkan relevansi buku bagi guru atau mahasiswa. Adapun academic book review menuntut penilaian tentang hubungan argumentasi buku dengan teori dan penelitian yang telah berkembang.
Pembedaan ini tidak berarti setiap tulisan harus menggunakan satu bentuk secara murni. Penulis resensi tetap perlu merangkum isi dan menguji beberapa argumen. Penulis academic book review juga perlu menjelaskan isi buku sebelum menilai kontribusinya. Namun, setiap unsur harus melayani tujuan utama tulisan. Jika tujuan itu jelas sejak awal, penulis lebih mudah menentukan bagian yang perlu dikembangkan, bukti yang perlu diperiksa, dan simpulan yang sepadan dengan hasil pembacaannya.
III. Ringkasan Buku: Menyajikan Gagasan Utama secara Proporsional
Meringkas buku tampak sebagai pekerjaan sederhana karena penulis perlu menyampaikan isi bacaan dalam bentuk yang lebih singkat. Namun, pemadatan teks dapat mengubah makna apabila dilakukan tanpa pemahaman yang memadai. Ringkasan yang baik menuntut kecermatan dalam menemukan gagasan utama, memilih informasi, dan mempertahankan hubungan antargagasan. Pekerjaan ini dimulai dari pembacaan yang terarah, bukan dari keinginan segera memangkas jumlah kata.
Langkah pertama ialah mengenali tesis atau gagasan sentral buku. Tesis terkadang dinyatakan secara langsung dalam pendahuluan atau kesimpulan. Pada buku yang argumentasinya berkembang secara bertahap, gagasan sentral justru perlu ditemukan melalui hubungan beberapa bab. Membaca judul, daftar isi, pendahuluan, dan kesimpulan dapat membantu membangun gambaran awal, tetapi belum menggantikan kebutuhan untuk memahami isi buku secara menyeluruh.
Panduan Reading a Book to Review It dari University of Wisconsin–Madison Writing Center (t.t.-b) menekankan pentingnya pembacaan aktif ketika seseorang menyiapkan tulisan tentang buku. Pembaca perlu mencatat gagasan penting, memperhatikan struktur pemikiran, dan menandai bagian yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Catatan tersebut membantu memahami buku, tetapi tidak menggantikan buku itu sendiri. Penulis tetap perlu memeriksa sumber ketika menyusun ringkasan.
Setelah gagasan sentral ditemukan, penulis menentukan informasi yang perlu dipertahankan. Informasi tersebut biasanya mencakup persoalan utama, konsep yang digunakan, alasan atau bukti yang mendukung pembahasan, serta simpulan yang ditarik penulis buku. Contoh, data, dan ilustrasi perlu disertakan apabila membantu menjelaskan argumen. Sebaliknya, rincian yang hanya bersifat tambahan dapat dipadatkan sepanjang penghapusannya tidak mengubah maksud uraian.
Proporsi ringkasan mengikuti bobot gagasan, bukan jumlah halaman atau bab. Sebuah bab yang pendek mungkin memuat konsep kunci bagi seluruh pembahasan, sedangkan bab yang panjang dapat berisi penjelasan pendukung. Jika semua bab diringkas dengan porsi yang sama, hasilnya berisiko mengaburkan pusat pemikiran buku. Penulis perlu mempertimbangkan fungsi setiap bagian dalam keseluruhan argumentasi.
Perhatian berikutnya ialah alur pemikiran. Penulis perlu menjelaskan bagaimana persoalan diperkenalkan, konsep dikembangkan, bukti atau contoh digunakan, dan simpulan dibangun. Ringkasan yang hanya menyebutkan pokok bahasan secara terpisah mungkin memuat informasi yang benar, tetapi belum tentu memperlihatkan hubungan di antara informasi tersebut. Susunan dapat disederhanakan demi kejelasan, asalkan urutan dan hubungan logisnya tidak berubah secara menyesatkan.
Bahasa ringkasan sebaiknya menggunakan kalimat penulis sendiri. Parafrasa membantu menyampaikan gagasan dengan lebih ringkas, tetapi tidak membenarkan perubahan makna. Klaim yang terbatas pada kondisi tertentu tidak boleh diubah menjadi pernyataan umum. Dugaan atau hipotesis tidak boleh disajikan sebagai kepastian. Ketika istilah atau rumusan asli memiliki arti khusus yang sulit digantikan, kutipan langsung dapat digunakan dengan penandaan dan rujukan yang tepat.
Menulis ulang dengan kata-kata sendiri bukan pekerjaan mengganti beberapa kata dalam kalimat sumber dengan sinonim. Penulis perlu memahami gagasan, menyusun kembali penjelasannya, kemudian membandingkan hasilnya dengan teks asli untuk memastikan ketepatan makna. Jika menggunakan gagasan, data, atau rumusan dari sumber, rujukan tetap diperlukan sesuai kaidah penulisan yang digunakan. Ringkasan yang singkat tidak membebaskan penulis dari tanggung jawab akademik.
Pemilihan informasi harus mempertimbangkan apa yang membuat pemikiran buku dapat dipahami. Sebuah contoh mungkin tampak sebagai rincian, tetapi sebenarnya menjadi dasar penting bagi simpulan penulis. Sebaliknya, beberapa uraian panjang dapat dipadatkan apabila hanya mengembangkan gagasan yang telah dijelaskan. Setiap pengurangan perlu diuji: apakah inti pemikiran masih terwakili, apakah hubungan sebab-akibat tetap tepat, dan apakah batas klaim masih terjaga?
Secara umum, ringkasan dapat disusun melalui tiga bagian. Pembukaan memperkenalkan buku dan pokok persoalannya. Bagian utama menyampaikan tesis, alur argumentasi, dan informasi penting yang mendukungnya. Penutup merangkum arah pemikiran atau simpulan utama buku. Struktur ini dapat disesuaikan dengan jenis karya. Buku konseptual, misalnya, memerlukan penekanan berbeda dari kumpulan puisi atau laporan penelitian. Yang utama ialah menjaga keterbacaan dan proporsi isi.
Dalam penyusunan ringkasan, penulis perlu menahan diri dari penilaian yang belum menjadi bagian tugasnya. Pendapat bahwa argumen buku lemah, metodenya kurang tepat, atau kesimpulannya tidak meyakinkan merupakan pekerjaan evaluatif yang memerlukan pembahasan tersendiri. Jika tugasnya hanya merangkum, komentar tersebut dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama. Jika ringkasan menjadi bagian dari resensi atau kritik, penilaian dapat disampaikan setelah isi buku dipaparkan secara akurat.
Kualitas ringkasan bergantung pada tiga hal yang saling berkaitan: ketepatan isi, proporsi informasi, dan kejernihan penyajian. Ringkasan yang baik memberi pembaca pemahaman yang dapat diandalkan tentang gagasan utama buku tanpa mengharuskannya menelusuri setiap rincian. Penulis berhasil meringkas ketika dia mampu menyederhanakan penyajian tanpa menyederhanakan pemikiran secara keliru.
IV. Kritik Buku: Menguji Kekuatan dan Kelemahan Pemikiran
Kritik buku dimulai setelah penulis memahami apa yang hendak dikatakan oleh sebuah karya. Perhatian kemudian diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah klaim penulis didukung oleh alasan dan bukti yang memadai? Penilaian tidak cukup didasarkan pada kesan ketika membaca atau pada kesesuaian isi buku dengan pandangan pribadi. Penulis perlu menunjukkan bagian yang diuji, menjelaskan kriteria penilaiannya, dan menyusun alasan yang dapat diperiksa pembaca.
Kritik tidak harus mencari kesalahan. Sebuah buku dapat memiliki argumentasi yang kuat pada satu bagian, tetapi masih menyisakan persoalan pada bagian lain. Kritik dapat mengakui keberhasilan penulis, memperlihatkan batas kesimpulannya, atau menemukan pertanyaan yang belum dijawab. Panduan How to Write Critical Reviews dari University of Wisconsin–Madison Writing Center (t.t.-a) menekankan pentingnya evaluasi terarah dengan kriteria dan alasan yang relevan.
Pekerjaan kritik dimulai dengan menemukan klaim utama. Penulis perlu membedakan pernyataan yang menjadi pusat argumentasi dari penjelasan, contoh, dan ilustrasi pendukung. Pembedaan ini penting karena tidak semua bagian buku memiliki bobot argumentatif yang sama. Kritik terhadap satu contoh tidak otomatis menggugurkan tesis utama, sebagaimana kelemahan suatu tesis tidak dapat ditutupi hanya dengan banyaknya contoh yang menarik.
Misalnya, sebuah buku menyatakan bahwa penggunaan teknologi digital selalu meningkatkan kualitas pembelajaran. Kata selalu mengandung klaim yang luas. Pengkritik dapat memeriksa apakah bukti yang disajikan mencakup beragam situasi, apakah penulis membedakan ketersediaan teknologi dari cara penggunaannya, dan apakah indikator keberhasilan pembelajaran dijelaskan secara memadai. Pertanyaan tersebut membantu menguji jangkauan klaim, bukan sekadar menyatakan bahwa penulis salah.
Namun, munculnya pertanyaan kritis belum membuktikan kelemahan buku. Pengkritik masih perlu memeriksa isi, data, dan penjelasan yang tersedia. Bisa jadi penulis telah membatasi klaimnya pada kondisi tertentu di bagian lain. Bisa pula terdapat penjelasan metodologis yang menjawab keberatan awal. Kritik yang bertanggung jawab memberi kesempatan kepada bukti untuk mengubah penilaian pengkritik sendiri.
Kriteria pengujian perlu disesuaikan dengan jenis buku. Buku filsafat, misalnya, dinilai melalui ketepatan konsep, koherensi penalaran, dan kekuatan argumentasi. Buku penelitian empiris membutuhkan perhatian terhadap rumusan masalah, metode, data, analisis, dan simpulan. Buku sejarah memerlukan pemeriksaan terhadap sumber, penafsiran bukti, dan hubungan antara peristiwa yang dijelaskan. Menggunakan satu ukuran yang sama untuk semua jenis karya dapat menghasilkan penilaian yang tidak adil.
Pengujian argumentasi juga mencakup hubungan antara alasan dan simpulan. Penulis buku mungkin menyajikan dua peristiwa yang berlangsung bersamaan, kemudian menyimpulkan bahwa salah satunya menyebabkan yang lain. Pengkritik perlu memeriksa apakah bukti yang tersedia cukup untuk mendukung hubungan sebab-akibat tersebut. Persoalannya bukan apakah simpulan itu mungkin benar, tetapi apakah alasan yang disediakan mampu membenarkannya.
Ketepatan konsep perlu diperiksa dengan perhatian serupa. Istilah yang berulang kali digunakan dalam sebuah buku seharusnya memiliki pengertian yang cukup jelas untuk mendukung argumentasi. Jika suatu konsep berubah makna di sepanjang pembahasan, penalaran dapat menjadi kabur. Namun, bahasa yang sulit dipahami tidak selalu berarti konsepnya keliru. Pengkritik perlu membedakan persoalan gaya penyampaian dari persoalan ketepatan pemikiran.
Pada buku penelitian, perhatian terhadap metode dan data harus sebanding dengan cakupan klaimnya. Penelitian pada satu lembaga, misalnya, tidak otomatis lemah hanya karena dilakukan pada lingkup terbatas. Jika penulis memang hendak memahami pengalaman dalam satu konteks tertentu, batas tersebut dapat menjadi bagian dari rancangan penelitian. Persoalan muncul apabila simpulan melampaui data yang tersedia atau penulis membuat klaim umum tanpa dukungan memadai.
Pengkritik juga perlu mempertimbangkan penjelasan alternatif yang masuk akal. Suatu gejala mungkin dapat diterangkan melalui lebih dari satu faktor. Jika buku hanya mengajukan satu penjelasan, penulis kritik dapat memeriksa apakah alternatif penting telah dipertimbangkan dan apakah alasan untuk memilih penjelasan tertentu cukup kuat. Tugas ini tidak mengharuskan pengkritik membuktikan seluruh kemungkinan alternatif, tetapi menuntutnya menunjukkan mengapa suatu alternatif relevan bagi persoalan yang diuji.
Setiap keberatan perlu ditopang bukti yang dapat ditelusuri. Rujukan pada halaman tertentu, kutipan yang tepat, data yang dibahas, atau perbandingan dengan sumber relevan membantu pembaca mengikuti jalannya penilaian. Pernyataan seperti “argumentasi penulis kurang kuat” belum memadai jika tidak disertai penjelasan tentang bagian yang bermasalah dan alasan penilaiannya. Kritik menjadi meyakinkan ketika hubungan antara keberatan dan bukti dapat diperiksa.
Secara praktis, sebuah paragraf kritik dapat dibangun melalui empat unsur: klaim atau bagian buku yang diuji, bukti yang relevan, analisis terhadap hubungan keduanya, dan penilaian yang ditarik dari hasil pengujian. Urutan ini bukan rumus kaku, tetapi membantu penulis menjaga agar kritik tidak berhenti pada pendapat. Pembaca perlu mengetahui apa yang dipersoalkan, atas dasar apa persoalan diajukan, dan bagaimana bukti mendukung kesimpulan pengkritik.
Pembedaan antara ketidaksetujuan pribadi dan keberatan argumentatif menjadi penting dalam proses tersebut. Pengkritik boleh berbeda pandangan dengan penulis buku, tetapi perbedaan itu belum cukup untuk menyatakan bahwa pemikiran buku lemah. Keberatan perlu diarahkan pada ketepatan alasan, kecukupan bukti, konsistensi konsep, atau kesesuaian simpulan dengan argumentasi yang dibangun. Dengan cara ini, kritik memberi ruang bagi perbedaan pendapat tanpa mengubahnya menjadi pertentangan selera.
Penilaian juga perlu mempertimbangkan bobot persoalan yang ditemukan. Kekeliruan kecil dalam salah satu bagian tidak selalu membatalkan seluruh isi buku. Sebaliknya, argumentasi yang kuat pada satu bab tidak dengan sendirinya menjamin bahwa semua bagian buku memiliki mutu yang sama. Pengkritik perlu menjelaskan cakupan temuannya agar simpulan tidak lebih luas daripada bukti yang tersedia.
Lee, Green, Johnson, dan Nyquist (2010) membahas pentingnya pembacaan cermat dan penilaian beralasan dalam ulasan buku ilmiah. Prinsip tersebut relevan bagi kritik karena pengujian perlu disusun secara terarah, bukan sebagai kumpulan komentar yang terpisah-pisah. Kritik yang baik membantu pembaca memahami kekuatan dan keterbatasan sebuah karya, sekaligus memperlihatkan persoalan yang mungkin dikembangkan lebih lanjut.
Kritik buku merupakan latihan membaca yang menuntut ketelitian dan kesediaan menguji pendapat sendiri. Penulis perlu memahami argumen sebelum mengajukan keberatan, mencari bukti sebelum menyimpulkan, dan menjaga agar penilaiannya sepadan dengan persoalan yang ditemukan. Hasilnya tidak harus berupa penerimaan atau penolakan menyeluruh. Kritik dapat memperkuat suatu pemikiran, membatasi jangkauan klaimnya, atau membuka pertanyaan baru yang layak diteliti.
V. Resensi Buku dan Academic Book Review: Menilai Buku untuk Pembaca yang Berbeda
Resensi dan academic book review sama-sama memerlukan pemahaman terhadap isi buku dan penilaian yang disertai alasan. Keduanya dapat memuat ringkasan serta kritik. Perbedaan utamanya terletak pada orientasi pembaca, kedalaman evaluasi, dan pertanyaan yang hendak dijawab. Resensi membantu pembaca mengenali nilai serta relevansi sebuah buku, sedangkan academic book review menilai argumentasi dan sumbangan karya dalam perkembangan bidang ilmu tertentu.
A. Resensi Buku: Memperkenalkan Nilai Buku kepada Pembaca
Resensi mempertemukan sebuah buku dengan calon pembacanya. Penulis perlu memperkenalkan pokok persoalan, menyajikan gagasan utama secukupnya, dan memberikan penilaian tentang kekuatan serta keterbatasan karya. Pembaca yang belum mengenal buku tersebut diharapkan memperoleh gambaran yang cukup untuk mempertimbangkan apakah buku itu relevan dengan kebutuhan atau minatnya.
Karena berorientasi pada pembaca, resensi memerlukan pemilihan informasi yang terarah. Tidak semua bab harus diuraikan dengan panjang yang sama. Penulis dapat memilih konsep, contoh, atau bagian yang paling membantu menjelaskan ciri khas buku. Pilihan tersebut perlu disertai alasan yang bersumber dari isi karya. Pernyataan bahwa sebuah buku menarik, penting, atau bermanfaat akan lebih bermakna apabila penulis menunjukkan bagian yang mendasari penilaian itu.
Resensi juga perlu menjaga keseimbangan. Pujian tanpa pemeriksaan dapat menjadikan tulisan menyerupai promosi, sedangkan daftar kekurangan tanpa pengakuan terhadap kekuatan buku menghasilkan gambaran yang timpang. Penilaian yang wajar membantu pembaca memahami apa yang berhasil dicapai sebuah karya, apa yang masih terbatas, dan untuk siapa buku tersebut paling relevan.
Media penerbitan turut memengaruhi penekanan resensi. Resensi di media umum mungkin lebih menonjolkan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Resensi buku kebudayaan dapat memberi perhatian pada konteks sosial dan makna karya, sedangkan resensi buku pendidikan dapat menilai kegunaannya bagi guru, mahasiswa, atau pengelola lembaga pendidikan. Perbedaan ini tidak mengubah kewajiban untuk membaca secara cermat dan menyampaikan penilaian berdasarkan isi buku.
Struktur resensi dapat disusun secara lentur. Penulis dapat memulai dengan identitas dan pokok persoalan buku, kemudian memperkenalkan gagasan penting, menilai kekuatan serta keterbatasannya, dan menutup dengan pertimbangan mengenai relevansi karya bagi pembaca. Susunan tersebut perlu disesuaikan dengan karakter buku. Resensi kumpulan puisi, misalnya, tidak harus menggunakan pola yang sama dengan resensi laporan penelitian. Bentuk tulisan sebaiknya membantu pembaca memahami karakter karya, bukan memaksa semua buku masuk ke dalam kerangka seragam.
B. Academic Book Review: Menilai Sumbangan Buku bagi Bidang Ilmu
Dalam academic book review, perhatian utama beralih pada mutu argumentasi dan kedudukan karya dalam percakapan keilmuan. Penulis perlu menjelaskan persoalan yang ditangani buku, memahami kerangka pemikirannya, lalu menilai apakah pembahasan dan bukti yang disajikan memadai untuk mendukung simpulannya. Penilaian juga mempertimbangkan hubungan buku dengan teori, penelitian, atau perdebatan yang relevan dalam bidang ilmu tersebut.
Istilah book review dalam bahasa Inggris dapat digunakan untuk beragam ulasan buku. Karena itu, sebutan tersebut tidak otomatis menandakan bahwa sebuah tulisan merupakan ulasan akademik. Sifat akademiknya tampak melalui cara penulis menilai karya, penggunaan sumber pendukung, kedalaman analisis, serta upaya menempatkan buku dalam perkembangan pengetahuan. Tugas kuliah dan ulasan untuk jurnal ilmiah mungkin sama-sama disebut book review, tetapi tuntutan keduanya dapat berbeda sesuai tujuan dan ketentuan penerbitan.
Lee, Green, Johnson, dan Nyquist (2010), dalam artikel “How to Write a Scholarly Book Review for Publication in a Peer-Reviewed Journal: A Review of the Literature”, membahas karakter dan praktik penyusunan ulasan buku ilmiah. Buku tetap menjadi pusat pembahasan, sementara sumber lain digunakan untuk membantu menguji argumentasi, memperjelas konteks, atau menilai sumbangannya.
Kriteria penilaian harus sesuai dengan jenis karya. Pada buku penelitian empiris, penulis dapat memeriksa hubungan antara rumusan masalah, metode, data, analisis, dan simpulan. Pada buku teori atau filsafat, perhatian mungkin lebih banyak diarahkan pada ketepatan konsep, konsistensi penalaran, dan kekuatan argumentasi. Pada buku sejarah, penilaian perlu mempertimbangkan sumber yang digunakan dan cara penulis menafsirkan bukti. Tidak ada satu ukuran yang dapat diterapkan tanpa mempertimbangkan tujuan dan karakter buku.
Penilaian terhadap kebaruan memerlukan perhatian khusus. Penggunaan istilah baru belum tentu menandakan lahirnya konsep baru. Demikian pula, penelitian pada lokasi atau lembaga tertentu tidak otomatis menghasilkan kontribusi ilmiah yang belum pernah ada. Penulis perlu membandingkan gagasan buku dengan penelitian terdahulu, kemudian menjelaskan apa yang sungguh-sungguh berbeda, dikembangkan, atau dipertanyakan oleh karya tersebut. Texas A&M University Writing Center (t.t.) menekankan pentingnya menempatkan buku dalam percakapan keilmuan yang relevan.
Sumbangan sebuah buku dapat muncul melalui beberapa jalan. Karya itu mungkin menyatukan pemikiran yang sebelumnya tersebar, menafsirkan kembali persoalan lama, menerapkan pendekatan tertentu pada konteks yang belum banyak dibahas, atau membuka pertanyaan bagi penelitian berikutnya. Namun, penulis academic book review harus membedakan kemungkinan sumbangan dari kontribusi yang telah ditunjukkan oleh bukti. Jika perbandingan dengan penelitian terdahulu belum memadai, klaim kebaruan perlu dirumuskan secara terbatas.
Sumber pembanding digunakan untuk memperjelas penilaian, bukan untuk menggeser perhatian dari buku yang sedang diulas. Penulis perlu membedakan argumentasi pengarang buku, temuan peneliti terdahulu, dan penafsirannya sendiri. Dengan pembedaan ini, pembaca dapat mengikuti dasar penilaian dan melihat bagaimana kesimpulan dibangun. Ketentuan jurnal serta contoh ulasan yang telah diterbitkan juga perlu diperiksa karena masing-masing penerbit dapat memiliki persyaratan panjang, struktur, dan rujukan yang berbeda.
Secara umum, academic book review dapat memuat pengenalan buku dan persoalannya, penyajian ringkas tesis utama, analisis argumentasi dan bukti, pembahasan kontribusi serta keterbatasan, dan penilaian akhir. Unsur-unsur tersebut tidak harus selalu muncul sebagai bagian terpisah. Yang penting, uraian isi tidak mengambil terlalu banyak ruang sehingga evaluasi ilmiah kehilangan tempatnya.
C. Hubungan Resensi dan Academic Book Review
Resensi dan academic book review bertemu dalam kebutuhan untuk memahami buku secara cermat dan menyampaikan penilaian yang beralasan. Keduanya memerlukan bukti dari karya yang dibahas. Perbedaan terletak pada pusat perhatian: resensi menimbang nilai dan relevansi buku bagi pembacanya, sedangkan academic book review lebih jauh memeriksa argumentasi, dasar pengetahuan, dan sumbangan karya terhadap bidang ilmu.
Batas keduanya tidak selalu tegas. Resensi yang ditulis untuk pembaca terdidik dapat memuat analisis mendalam, sedangkan academic book review tetap perlu menjelaskan karakter buku agar pembaca memahami objek penilaiannya. Karena itu, penulis sebaiknya tidak menentukan bentuk tulisan hanya dari panjang naskah, banyaknya kutipan, atau tempat penerbitannya. Pertanyaan yang lebih menentukan ialah tujuan evaluasi dan tanggung jawab yang harus dipenuhi.
VI. Empat Bentuk Tulisan, Satu Buku: Menguji Perbedaan melalui Praktik
Perbedaan antara ringkasan, kritik, resensi, dan academic book review dapat diperiksa melalui satu contoh yang sama. Buku yang digunakan ialah Tinjauan Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Islamiyah Nahdlatuthulab Cilacap, karya Rohmat (2021). Buku tersebut membahas pendidikan multikultural dalam hubungannya dengan pendidikan agama Islam dan kehidupan madrasah. Pembahasannya mencakup nilai kesetaraan, toleransi, keadilan, persaudaraan, serta etika sosial. Uraian mengenai praktik madrasah antara lain berkaitan dengan bahtsul masail, silaturahmi, pembiasaan multilingual, arsitektur, lambang, dan tata tertib (Rohmat, 2021, hlm. vii–viii, 172–190).
Contoh berikut merupakan model singkat untuk memperlihatkan perbedaan pekerjaan penulis. Keempatnya tidak dimaksudkan sebagai pengganti pembacaan menyeluruh atas buku tersebut.
A. Model Ringkasan Buku
“Buku Tinjauan Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Islamiyah Nahdlatuthulab Cilacap membahas konsep dan tujuan pendidikan multikultural serta hubungannya dengan pendidikan agama Islam. Pembahasannya mencakup nilai demokrasi, kesetaraan, keadilan, pluralisme, dan humanisasi, kemudian menguraikan strategi penerapannya melalui kurikulum dan budaya madrasah. Pada bagian yang membahas praktik kelembagaan, buku ini menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan kegiatan dan kebiasaan yang berkembang di lingkungan madrasah (Rohmat, 2021, hlm. 10–68, 69–82, 172–190).”
Model ini memusatkan perhatian pada pokok bahasan dan alur pemikiran buku. Uraian tersebut belum menilai apakah bukti yang digunakan cukup untuk mendukung seluruh simpulan penulis. Pertanyaan evaluatif seperti itu baru diajukan ketika tulisan diarahkan menjadi kritik.
B. Model Kritik Buku
“Salah satu pokok pembahasan buku Rohmat ialah hubungan antara nilai multikultural dan budaya madrasah. Berbagai kegiatan serta kebiasaan kelembagaan dijelaskan sebagai bagian dari lingkungan yang mendukung pembentukan sikap menghargai perbedaan (Rohmat, 2021, hlm. 172–190).
Pokok tersebut membuka pertanyaan tentang hubungan antara praktik yang terlihat dan internalisasi nilai oleh peserta didik. Keberadaan kegiatan, lambang, atau aturan belum dengan sendirinya membuktikan bahwa nilai yang dimaksud telah dipahami dan dijalankan secara konsisten. Untuk menilai kekuatan argumentasi tersebut, pembaca perlu memeriksa jenis data yang disajikan, cara data dikumpulkan dan ditafsirkan, serta hubungan antara temuan dan simpulan.
Pertanyaan itu belum membuktikan adanya kelemahan penelitian. Penilaian baru dapat diberikan setelah bukti yang relevan diperiksa sesuai dengan cakupan klaim buku.”
Inilah pekerjaan kritik: menguji apakah hubungan antara argumentasi, bukti, dan simpulan dapat dipertahankan.
C. Model Resensi Buku
“Buku Rohmat mengangkat pendidikan multikultural melalui pembahasan nilai-nilai dalam pendidikan agama Islam dan praktik kehidupan madrasah. Uraiannya mempertemukan gagasan mengenai toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan dengan contoh budaya kelembagaan yang dibahas dalam buku (Rohmat, 2021, hlm. 69–82, 172–190).”
Bagi mahasiswa pendidikan agama Islam, guru, dan pengelola madrasah, pembahasan ini dapat menjadi bahan untuk mempertimbangkan hubungan antara nilai yang diajarkan dan kebiasaan yang dibangun di lingkungan pendidikan. Relevansinya terletak pada perhatian terhadap kehidupan kelembagaan sebagai bagian dari pengalaman pendidikan. Namun, pembaca tetap perlu mempertimbangkan kekhasan madrasah yang dikaji. Pengalaman satu lembaga tidak dapat langsung dianggap mewakili semua madrasah dengan keadaan sosial dan budaya berbeda.”
Model resensi ini menonjolkan pokok persoalan, relevansi, dan batas penggunaan buku bagi pembaca. Penilaian lebih jauh mengenai kebaruan atau kedudukan teoretis karya memerlukan pembandingan dengan penelitian lain.
D. Model Academic Book Review
“Dari sudut pandang keilmuan, buku Rohmat dapat dikaji melalui hubungan antara konsep pendidikan multikultural, pendidikan agama Islam, dan budaya madrasah. Pembahasannya menyediakan bahan untuk menelaah bagaimana nilai-nilai pendidikan dijelaskan dan dihubungkan dengan praktik pada lembaga yang diteliti.
Penilaian akademik perlu memeriksa ketepatan konsep yang digunakan, konsistensi hubungan antara kerangka pemikiran dan temuan, serta kecukupan bukti dalam mendukung simpulan. Cakupan penelitian pada satu madrasah juga perlu dibaca sesuai tujuan dan rancangan kajiannya. Batas lokasi tidak otomatis mengurangi nilai penelitian, tetapi menentukan sejauh mana temuan dapat digunakan untuk memahami lembaga atau konteks lain.
Untuk menilai kontribusi ilmiah buku tersebut, pengulas perlu membandingkan argumentasi dan temuan yang disajikan dengan penelitian terdahulu tentang pendidikan multikultural, pendidikan agama Islam, dan budaya lembaga pendidikan. Perbandingan itu dapat membantu menjelaskan apakah karya tersebut mengembangkan pemahaman yang telah ada, menawarkan penafsiran tertentu, atau membuka persoalan yang perlu diteliti lebih lanjut. Tanpa pemeriksaan tersebut, klaim tentang kebaruan atau sumbangan khas perlu tetap dibatasi.”
Model ini memperlihatkan bahwa academic book review membutuhkan evaluasi terarah terhadap argumentasi, bukti, cakupan, dan kontribusi. Pernyataan bahwa sebuah buku penting bagi suatu bidang merupakan titik awal penilaian, bukan pengganti pembuktian mengenai sumbangannya.
E. Apa yang Berubah ketika Tujuan Tulisan Berubah?
Penerapan pada buku yang sama memperlihatkan empat pekerjaan berbeda. Ringkasan menyajikan isi dan alur pemikiran. Kritik menguji hubungan antara klaim, bukti, dan simpulan. Resensi mempertimbangkan nilai serta relevansi buku bagi calon pembaca. Academic book review menilai argumentasi dan sumbangan karya dengan memperhatikan percakapan keilmuan yang relevan.
Perbedaan itu memengaruhi bukti yang dipilih dan simpulan yang dapat ditarik. Ringkasan membutuhkan ketepatan representasi isi; kritik memerlukan bukti untuk menguji argumen; resensi membutuhkan bagian-bagian buku yang menjelaskan nilai dan keterbatasannya bagi pembaca; sedangkan academic book review memerlukan dasar pembanding yang memadai untuk menilai kedudukan karya dalam bidang ilmu. Panjang tulisan tidak dengan sendirinya menentukan bentuknya. Yang menentukan ialah pekerjaan intelektual yang dilakukan penulis dan tanggung jawab yang menyertai penilaiannya.
Latihan menggunakan satu buku untuk empat bentuk tulisan membantu mahasiswa menyadari bahwa membaca secara cermat belum cukup. Penulis perlu menentukan tujuan, memilih fokus, dan menyesuaikan simpulan dengan bukti yang benar-benar diperiksa. Kebiasaan ini menjadi dasar bagi pembahasan berikutnya tentang etika membaca dan menulis: bagaimana menyampaikan pemikiran orang lain secara adil, menguji pendapat dengan jujur, dan mempertanggungjawabkan penilaian kepada pembaca.
VII. Etika Membaca dan Menulis tentang Buku
Seseorang dapat menyelesaikan sebuah buku dan menulis penilaian yang terdengar meyakinkan, tetapi keyakinan tidak dengan sendirinya menjamin ketepatan. Sebuah gagasan mungkin dipahami secara keliru karena dilepaskan dari uraian yang mendahuluinya. Kutipan dapat berubah makna ketika diambil dari konteksnya. Penulis yang ingin menunjukkan kelemahan suatu karya bahkan mungkin melewatkan bagian yang sebenarnya menjawab keberatannya. Karena itu, menulis tentang buku menuntut tanggung jawab intelektual dalam memahami sumber, menyusun penilaian, dan menyampaikan simpulan.
Tanggung jawab itu bermula dari kesediaan memahami pemikiran penulis sebelum menilainya. Pembaca tidak harus menyetujui seluruh gagasan yang dijumpainya. Namun, penolakan yang dapat dipertanggungjawabkan perlu diarahkan pada pemikiran yang benar-benar dikemukakan, bukan pada tafsiran yang disederhanakan agar mudah dibantah. Memahami secara utuh justru memberi dasar yang lebih kuat bagi kritik. Setelah argumentasi dikenali dengan baik, pembaca dapat menentukan bagian yang layak diterima, dipertanyakan, atau ditolak.
Kejujuran akademik juga terlihat dalam penggunaan sumber. Parafrasa harus menjaga makna pendapat yang dirujuk, kutipan harus sesuai dengan teks aslinya, dan identitas sumber perlu dicatat secara tepat. Penulis perlu memastikan bahwa sumber yang dicantumkan memang mendukung klaim yang disampaikan. Dia juga harus membedakan pernyataan pengarang buku, pendapat peneliti lain, dan hasil penafsirannya sendiri. Pembedaan tersebut memungkinkan pembaca menelusuri asal suatu gagasan serta memeriksa dasar penilaian yang diajukan.
Kewajaran penilaian menuntut keterbukaan terhadap bukti yang tidak selalu sejalan dengan pendapat pribadi. Seorang pengkritik mungkin menemukan kelemahan dalam argumentasi sebuah buku, tetapi menjumpai pula bagian yang berhasil menjelaskan persoalan tertentu. Mengabaikan kekuatan karya demi mempertahankan kesimpulan negatif akan membuat kritik kehilangan keseimbangan. Sebaliknya, menutupi kelemahan karena menyukai gagasan atau menghormati pengarang juga mengurangi kepercayaan terhadap penilaian. Keberatan boleh disampaikan dengan tegas, asalkan alasan dan bukti yang mendasarinya jelas.
Lee, Green, Johnson, dan Nyquist (2010), dalam pembahasannya tentang ulasan buku ilmiah, menempatkan pembacaan cermat dan evaluasi beralasan sebagai bagian penting dari praktik akademik. Prinsip ini menegaskan bahwa penilaian perlu dapat diikuti dan diperiksa oleh pembaca. Kritik terhadap sebuah gagasan pun harus dibedakan dari serangan terhadap pribadi pengarang. Ketika argumentasi dinilai lemah, persoalan yang perlu dibahas ialah alasan, bukti, konsep, atau cara simpulan dibangun. Dugaan mengenai motif dan watak pengarang tanpa dasar yang relevan hanya mengalihkan perhatian dari persoalan ilmiah.
Tanggung jawab intelektual mencakup kesediaan mengenali batas pengetahuan sendiri. Tidak semua pembaca menguasai seluruh bidang yang dibahas dalam sebuah buku. Ada persoalan yang membutuhkan pemeriksaan metodologis, pembacaan terhadap penelitian lain, atau data tambahan sebelum dapat dinilai secara memadai. Mengakui batas tersebut bukan kelemahan. Pengakuan itu membantu penulis membatasi simpulannya agar sepadan dengan bahan yang telah diperiksa. Dia dapat menyatakan bahwa suatu persoalan belum terjawab dalam sumber yang ditelaah tanpa tergesa-gesa menyimpulkan bahwa persoalan itu tidak pernah dibahas.
Sikap yang sama diperlukan ketika penulis menemukan kekeliruan dalam tulisannya sendiri. Sumber yang terlewat, kutipan yang kurang tepat, atau bukti baru dapat menuntut peninjauan ulang terhadap suatu penilaian. Jika kekeliruan memang terjadi, penulis perlu bersedia memperbaikinya. Mempertahankan pendapat lama semata-mata untuk menjaga citra diri tidak membantu perkembangan pengetahuan. Dalam kegiatan ilmiah, kesediaan mengoreksi diri merupakan bagian dari menjaga kepercayaan terhadap proses berpikir.
Setiap tulisan tentang buku juga membawa konsekuensi bagi pembacanya. Ringkasan dapat menjadi pintu awal bagi seseorang untuk memahami karya yang belum dibacanya. Resensi dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mempelajari sebuah buku, sedangkan kritik dan academic book review dapat membentuk cara pembaca menilai argumentasi serta kedudukan suatu karya. Kesalahan yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan berpotensi menyesatkan pembaca yang mempercayainya. Karena itu, penulis perlu mempertimbangkan apakah kesimpulannya benar-benar didukung oleh bukti dan apakah batas penilaiannya telah dinyatakan secara jujur.
Etika membaca dan menulis tentang buku tampak dalam pilihan-pilihan yang kadang terlihat kecil: memahami konteks sebelum mengutip, memeriksa sumber sebelum menyimpulkan, mengakui bukti yang berlawanan, dan bersedia memperbaiki pendapat. Ketepatan menjaga hubungan tulisan dengan sumbernya; kejujuran memungkinkan penilaian diperiksa; kewajaran membantu penulis mengukur simpulan secara proporsional. Ketiganya menjaga agar perbedaan pendapat tetap menjadi bagian dari pencarian pengetahuan, bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab kepada pembaca.
VIII. Penutup: Memilih Bentuk Tulisan sesuai Tujuan Pembacaan
Membaca sebuah buku dan menuliskan hasil pembacaannya memerlukan dua kecakapan yang saling melengkapi. Pemahaman terhadap isi menjadi dasar, tetapi penulis masih perlu menentukan apa yang hendak disampaikan, bukti apa yang diperlukan, dan sejauh mana simpulannya dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan bentuk tulisan membantu mengarahkan pekerjaan tersebut.
Ringkasan, kritik, resensi, dan academic book review memiliki orientasi berbeda, meskipun unsur-unsurnya dapat saling berhubungan. Perbedaan itu bukan semata-mata persoalan istilah atau panjang tulisan. Setiap bentuk menuntut cara membaca, fokus, dan tanggung jawab yang sesuai dengan tujuannya. Penulis perlu mengenali orientasi utama tulisannya agar informasi yang dipilih, penilaian yang diajukan, dan simpulan yang ditarik tetap berada pada jalur yang tepat.
Bagi mahasiswa, latihan menulis tentang buku merupakan kesempatan untuk memahami pemikiran orang lain sekaligus membangun pendapat sendiri. Dia belajar bahwa keberatan perlu disertai alasan, bahwa kekuatan sebuah argumen patut diakui sebelum kelemahannya dibicarakan, dan bahwa pengakuan atas keterbatasan merupakan bagian dari kejujuran akademik. Kebiasaan tersebut membentuk cara berpikir yang terbuka terhadap pemeriksaan dan perbaikan.
Sebelum menulis, mahasiswa dapat memulai dengan satu pertanyaan: apa yang ingin dicapai melalui pembacaan buku ini? Jawabannya membantu menentukan fokus, memilih bentuk tulisan, dan menetapkan batas penilaian. Jika tujuan itu jelas, penulis tidak perlu memasukkan semua hal yang diketahuinya ke dalam satu tulisan. Dia dapat memilih apa yang relevan dan memberikan perhatian yang cukup pada hal-hal yang memang perlu dibuktikan.
Menulis tentang buku merupakan latihan untuk memahami sebelum menilai dan memberikan alasan sebelum menyimpulkan. Penulis belajar menempatkan pemikiran orang lain secara tepat sekaligus bertanggung jawab atas pendapatnya sendiri. Melalui kebiasaan itu, membaca berkembang menjadi perjumpaan gagasan yang dapat dipahami, diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan bersama pembaca lain. ***
*Abdul Wachid B.S. adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Daftar Pustaka
Lee, Alexander D., Bart N. Green, Claire D. Johnson, dan Julie Nyquist. 2010. “How to Write a Scholarly Book Review for Publication in a Peer-Reviewed Journal: A Review of the Literature.” Journal of Chiropractic Education 24 (1): 57–69. https://doi.org/10.7899/1042-5055-24.1.57.
Rohmat. 2021. Tinjauan Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Islamiyah Nahdlatuthulab Cilacap. Cetakan kedua. Purwokerto: STAIN Press. ISBN 978-602-6753-27-4.
https://repository.uinsaizu.ac.id/18742/1/E-Book_Tinjauan%20Multikultural%20%281%29.pdf.
Texas A&M University Writing Center. t.t. “Academic Book Reviews.” Writing & Speaking Guides.
https://writingcenter.tamu.edu/guides/resources/academic-book-review.html.
University of Wisconsin–Madison Writing Center. t.t.-a. “How to Write Critical Reviews.” The Writer’s Handbook.
https://writing.wisc.edu/handbook/academicwriting/crinonfiction/.
University of Wisconsin–Madison Writing Center. t.t.-b. “Reading a Book to Review It.” The Writer’s Handbook.
https://writing.wisc.edu/handbook/academicwriting/crireadingbook/.




