Membaca Ulang Sejarah dari Pesisir
Oleh: Purnawan Andra*

Purnawan Andra
Sejarah tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga oleh siapa yang mencatatnya, apa yang dianggap penting, dan bagaimana catatan itu diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, membaca sejarah bukan sekadar mengumpulkan fakta tentang masa silam. Kita juga perlu memeriksa cara fakta tersebut disusun menjadi cerita, termasuk sudut pandang yang membuat sebagian pengalaman tampil sebagai pusat sejarah, sementara pengalaman lain tersisih ke pinggir.
Pemikiran inilah yang membuat Kelanamasa: Arkeologi Klasik Dunia Pesisir Demak-Rembang karya Bukhori Masruri (2026) menarik dibaca. Buku ini berangkat dari proyek napak tilas catatan perjalanan J.C. Brumund, penjelajah sekaligus pendeta asal Belanda pada abad ke-19 yang mendokumentasikan sejumlah situs purbakala di pesisir utara Jawa.
Bukhori menelusuri kembali lokasi-lokasi yang pernah dicatat Brumund, kemudian membandingkan deskripsi masa lalu dengan keadaan situs dan artefaknya sekarang. Pembaca diajak melihat peninggalan yang masih bertahan, yang telah berubah fungsi, serta yang berpindah tempat.
Cara kerja tersebut menghadirkan jarak waktu sebagai persoalan yang konkret. Catatan lama tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di perpustakaan, tapi dipertemukan dengan keadaan di lapangan. Apa yang dahulu dilihat seorang pengamat pada abad ke-19, bagaimana peninggalan itu diperlakukan sesudahnya, dan apa yang masih dapat ditemukan hari ini menjadi bagian dari rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan.
Namun, arti penting napak tilas ini tidak berhenti pada perbandingan kondisi situs. Bukhori juga mengritik cara pandang kolonial dalam sumber sejarah. Dalam hal ini, catatan Brumund menempati kedudukan ganda yaitu menjadi petunjuk untuk menemukan kembali peninggalan, sekaligus sumber yang perlu dibaca secara kritis. Dokumen kolonial dapat menyimpan informasi berharga, tetapi cara pengamat memilih, menamai, dan menjelaskan sesuatu tetap perlu diperiksa. Sumber sejarah bukan pintu masuk yang memperlihatkan masa lalu tanpa catatan lain.
Persoalan Penulisan Sejarah Indonesia
Di sinilah Kelanamasa bersentuhan dengan persoalan yang lebih luas dalam penulisan sejarah Indonesia. Selama ini, sejarah kerap lebih mudah dikenali melalui kerajaan, tokoh besar, pergantian kekuasaan, dan pusat-pusat politik.
Sumber tertulis seperti Babad Tanah Jawi, Negarakertagama, Pararaton, hingga Suma Oriental turut membentuk pengetahuan kita tentang masa lalu, meskipun masing-masing lahir dari konteks, kepentingan, dan jenis penulisan yang berbeda. Karena itu, semuanya tidak bisa begitu saja diperlakukan sebagai satu jenis narasi, apalagi dianggap mewakili seluruh pengalaman masyarakat.
Arkeologi membuka jalan untuk memperluas pembacaan tersebut. Peninggalan material menghadirkan jejak kehidupan yang tidak selalu mendapat tempat memadai dalam cerita tertulis.
Akan tetapi, artefak juga tidak berbicara dengan sendirinya. Bentuk, lokasi penemuan, konteks arkeologis, dan riwayat perpindahannya perlu diteliti sebelum sebuah benda dapat digunakan untuk menjelaskan dinamika masyarakat pada zamannya. Kekuatan pembacaan sejarah justru muncul ketika sumber tertulis dan bukti material saling diuji, bukan ketika salah satunya dianggap otomatis lebih benar.
Sumbangan lain buku ini terletak pada upayanya menggugat oposisi antara pesisir dan pedalaman. Dalam cara pandang tertentu, pesisir utara Jawa dibayangkan sebagai ruang yang lebih terbuka dan terus berubah. Sebaliknya, kawasan pedalaman, seperti Magelang, Yogyakarta, dan Solo, lebih mudah diasosiasikan dengan ketenangan, kebangsawanan, dan keteraturan.
Pembelahan semacam ini bukan sekadar perbedaan gambaran geografis. Ia berpotensi membentuk hierarki tentang wilayah mana yang dianggap layak menjadi pusat sejarah dan mana yang hanya ditempatkan sebagai pinggiran.
Padahal, pesisir merupakan ruang perjumpaan. Perdagangan, perpindahan manusia, pertukaran pengetahuan, serta pertemuan tradisi dan kekuasaan menjadikannya wilayah yang dinamis. Perubahan yang berlangsung di sana bukan gangguan terhadap sejarah yang dianggap mapan, tapi bagian dari proses pembentukan masyarakat. Membaca pesisir dari sudut ini berarti menggeser perhatian dari pusat kekuasaan semata menuju jaringan hubungan yang memungkinkan kebudayaan berkembang dan berubah.
Jejak Hindu-Buddha di wilayah Demak hingga Rembang memberi bahan penting bagi pembacaan tersebut. Wilayah yang kini lekat dengan narasi sejarah Islam ternyata juga menyimpan peninggalan dari tradisi keagamaan dan kebudayaan yang lebih tua.
Di Demak, misalnya, keberadaan arca Durga Mahisasuramardini, yoni, dan arca Ganesha di sejumlah situs maupun koleksi museum memperlihatkan bahwa sejarah kawasan ini tidak dapat diringkas menjadi satu lapisan zaman. Temuan tersebut memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu, sekaligus mengingatkan bahwa identitas suatu wilayah terbentuk melalui proses panjang.
Meski demikian, keberadaan artefak Hindu-Buddha tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana perubahan agama dan kekuasaan berlangsung, seberapa luas tradisi tersebut berkembang, atau bagaimana masyarakat kemudian memperlakukan peninggalannya. Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan konteks dan bukti yang lebih luas. Di sinilah napak tilas Bukhori menjadi penting, yaitu bukan untuk mengganti satu cerita besar dengan cerita besar lainnya, tapi untuk membuka kembali ruang pemeriksaan terhadap pengetahuan yang selama ini dianggap selesai.
Kehati-hatian serupa diperlukan ketika buku membahas penghancuran atau perubahan fungsi peninggalan Hindu-Buddha. Catatan Brumund tentang Mahomedaansche atau “Mohammedan”, istilah untuk pengikut nabi Islam Muhammad misalnya, perlu dibaca sesuai konteks sejarah dan bahasa penulisnya.
Istilah tersebut merupakan bagian dari sumber kolonial yang dikutip, bukan kategori yang dapat begitu saja digunakan untuk menjelaskan tindakan suatu kelompok secara menyeluruh. Sikap kritis terhadap kolonialisme tidak berarti menerima semua penilaian penulis kolonial tanpa pemeriksaan.
Sejarah Publik
Di luar perdebatan historiografi, Kelanamasa juga membawa persoalan pelestarian ke hadapan pembaca. Perbandingan antara catatan lama dan kondisi sekarang memperlihatkan pentingnya mengetahui riwayat sebuah situs – apakah masih berada di tempat semula, telah berubah fungsi, atau berpindah ke ruang lain.
Informasi semacam ini membantu masyarakat memahami bahwa cagar budaya bukan sekadar benda tua yang menarik dilihat. Ia merupakan sumber pengetahuan yang memerlukan pencatatan, perawatan, dan akses publik.
Sebagai pegiat Komunitas Edukasi Museum, Bukhori menempatkan upayanya dalam semangat sejarah publik. Masyarakat tidak semestinya hanya menerima sejarah sebagai cerita jadi dari otoritas tertentu, tanpa kesempatan mengetahui sumber dan proses penafsirannya.
Membawa catatan, temuan lapangan, dan persoalan pelestarian kepada pembaca berarti memperluas kesempatan untuk ikut memeriksa bagaimana pengetahuan tentang masa lalu dibangun. Bahasa yang mengalir dan pilihan wilayah yang relatif jarang dibahas dalam buku arkeologi populer membuat usaha ini dapat menjangkau pembaca di luar kalangan akademik.
Pada akhirnya, Kelanamasa mengajak kita melihat pesisir utara Jawa melampaui jalur Pantura yang padat dan wilayah yang kerap dibayangkan sebagai pinggiran. Di sana tersimpan jejak peradaban, perjumpaan, dan perubahan yang ikut membentuk sejarah masyarakat. Napak tilas Brumund yang dilakukan Bukhori tidak hanya membawa kita kembali ke lokasi-lokasi lama, tetapi juga mengajak memeriksa cara pandang yang kita warisi.
Sebab, membuka kembali sejarah bukan semata-mata menemukan apa yang pernah ada. Yang tak kalah penting ialah mempertanyakan mengapa sebagian masa lalu lebih sering diceritakan daripada yang lain. Jika pesisir selama ini ditempatkan di pinggir narasi besar sejarah Jawa, bukankah sudah waktunya kita memeriksa kembali dari mana pusat sejarah itu ditentukan?

Judul Buku : KELANAMASA: Arkeologi Klasik Dunia Pesisir Demak-Rembang
Penulis : Bukhori Masruri
Penerbit : Penerbit Selaklali Surakarta
Cetakan : Pertama (Juni 2026)
Deskripsi Buku : xiv + 242 hlm.
ISBN : 978-634-05-2808-4
*Purnawan Andra, pegiat Diskusi Kajian Kebudayaan (Dikbud) “Tangga Kebon” Jakarta, Pamong Budaya pada Kementerian Kebudayaan.





