Melihat Cara Tiongkok Membaca Buku
Oleh: Agus Dermawan T.
Sejak 1995 pemerintah Indonesia menetapkan 14 September sebagai “Hari Kunjung Perpustakaan”. Hari yang amat menarik, karena akan mendorong insan Indonesia untuk berbondong masuk ke ruang buku. Meski untuk itu infrastruktur dan suprastruktur menuju buku harus disiapkan terlebih dahulu.
————-
DALAM perjalanan tamasya di Provinsi Sichuan, Tiongkok, di bulan Agustus 2026, saya dijebak promosi memikat hati. Iklan itu berbunyi begini : “Anda akan memiliki dunia apabila singgah di Surga Kitab Zhongshuge Dujiangyan”.
Maka dengan ringan kaki saya menuju ke “surga kitab” itu. Siapa yang tidak ingin masuk surga? Kebetulan saya “membawa” dua cucu saya, Rian dan Tasya, yang keduanya sangat suka membaca. Dan seperti saya duga, “surga kitab” atau “shüji tiãntãng” itu adalah rumah buku, istana buku, atau lebih tepatnya: toko buku.
Zhongshuge Dujiangyan adalah toko buku unik, spektakuler, ajaib bahkan lucu, di lantai dua Sunac Mall atau Rongchuang Mall, yang luasnya terbilang gila. Karena mal ini ada di kota Dujiangyan, maka toko buku itu bernama Zhongshuge Dujiangyan. Sementara Zhongshuge artinya jaringan toko buku milik taipan Zhong Shuhao.
Mengapa toko buku ini dibangun dengan unik, spektakuler, ajaib dan cenderung lucu? Ada persoalan yang memicu.

Sunac Mall atau Rongchuang Mall di kota Dujiangyan, yang di dalamnya “menyimpan” Zhongshuge Dujiangyan. (Foto: Agus Dermawan T).

Melawan debu vulkanik internet
Alkisah sejak 15 tahun silam pemerintah Tiongkok sudah mewaspadai kemajuan teknologi komunikasi, yang mengalir deras lewat handphone atau gawai. Terutama gawai yang dipegang anak-anak, remaja dan anak muda. Pemerintah menganggap gawai sangat mudah mengantarkan platform konten yang bikin kecanduan, berita dan pengetahuan melenceng, hoax, dan mendengungkan provokasi. Pemerintah Tiongkok menganggap sebagian besar konten internet itu seperti debu vulkanik yang mengandung mineral tajam silika kristalin, sulfur dioksida sampai karbon monoksida. Itu sangat membahayakan kesehatan pikiran dan mental, sehingga semuanya kudu dicegah.
Pemerintah Tiongkok lantas menguatkan peranan CAC (Cyberspace Administration of China). Lembaga ini menerapkan aturan yang sangat ketat berkait dengan akses anak dan remaja atas internet, yang mudah diakses oleh gawai. Untuk melaksanakan itu pemerintah menciptakan aplikasi yang membatasi durasi pengaksesan secara otomatis.
Maka anak di bawah usia delapan tahun hanya bisa membaca internet maksimal selama delapan menit saja. Sebelum akhirnya jadi 40 menit, setelah pemerintah menawarkan konten-konten menghibur dan edukatif. Sedangkan yang berusia delapan sampai 16 tahun bisa mengakses maksimal satu jam. Untuk yang berusia 16 sampai 18 tahun, maksimal dua jam. Pada pukul 10 malam sampai pukul enam pagi semua internet dibikin gelap!
Untuk mengetahui usia pengguna, perusahaan layanan internet menerapkan sistem login, dengan identitas asli si anak, si remaja dan si anak muda. Semua itu untuk memastikan usia dan kepatuhan batas waktu pemilik dan pengguna gawai. CAC meyakini bahwa aturan yang diterapkan bakal menyelamatkan masyarakat agar tak termakan berita bodong dan provokasi para garong. Sementara tujuan akhirnya adalah mencegah anak-anak, remaja dan anak muda agar tidak kecanduan internet. Fenomena gawat yang sudah melanda generasi dini di seluruh dunia.
Namun Tiongkok tak hanya melarang, tetapi juga memberi kompensasi dan perimbangan. Antisipasi agresivitas internet itu dihadang secara strategis dan didaktik, dengan cara membelokkan masyarakat ke dunia buku cetak, yang terbukti lebih berperadaban. Caranya, pemerintah mengajak generasi baru semakin masuk (lagi) ke dalam dunia kitab. Maka ribuan judul buku bermutu dengan harga terjangkau dicetak dan ramai dipromosikan.
Kemudian, agar generasi dini ramai-ramai menatap dan menangkap buku, ribuan judul buku yang dibikin sangat estetik itu ditawarkan lewat aneka toko buku yang arsitektur dan interiornya sangat menarik. Salah satu toko dahsyat itu adalah Zhongshuge Dujiangyan.
Kuil buku mencengangkan
Yuk masuk ke Zhongshuge Dujiangyan. Toko buku ini interiornya selintas mengimajinasikan ruang-ruang sekolah sihir Hogwarts, kastil Harry Potter. Denahnya meliuk-liuk, dengan warna kecoklatan. Pilar dan tangganya mlintir dan melingkar. Dindingnya bisa datar, mendadak lempeng, tiba-tiba melengkung atau mematah bagai lorong kaku labirin. Ada pula yang terkesan muter bagai gambar surealis Escher. Berbagai meja yang terhampar kelihatan ganjil bentuknya. Oya, langit-langit toko ini berupa cermin, sehingga pantulan rak dan buku yang ada di bawahnya tergambar menjulang riuh. Seolah buku-buku itu terpajang sampai di langit ke-tujuh!

Di Zhongshuge Dujiangyan, buku apa saja ada. Sebagian besar dalam bahasa Mandarin. (Foto: Agus Dermawan T).

Interior Zhongshuge Dujiangyan yang memiliki beberapa lantai. (Foto: Agus Dermawan T).
Tapi jangan tertipu, tidak semua buku yang ada di situ adalah buku betulan. Pada bagian-bagian “rak” yang hampir menyentuh plafon, buku yang terjajar adalah hasil fotografi, dengan sudut pengambilan dan kualitas cetak yang benar-benar menipu ilusi. Sehingga alhasil toko ini bukan sekadar ruang penjualan dan ruang bacaan, tetapi karya seni. Toko buku adalah panggung pertunjukan, selayak seni instalasi.
Interior ini menarik perhatian anak-anak, remaja dan anak muda, bahkan para orang tua. Mereka berdatangan. Banyak yang ingin berlama-lama, untuk kemudian duduk di ruang-ruang yang memang disediakan untuk membaca. Sampai ujungnya mereka antri di konter pembayaran berundak, dengan kasir yang terposisi bak ratu di bagian puncak.
Meditatif, hening, tenang, magis, meriah dan seru bercampur dalam suasana petualangan yang menakjubkan. Sayangnya, 83% buku berdesain menarik itu berbahasa Mandarin, sehingga banyak wisatawan mancanegara yang mati kutu membacanya. Sayangnya lagi, di antara beribu-ribu buku itu tidak ada satu pun buku karangan saya. Ha ha ha.
Tapi Zhongshuge Dujiangyan tidak boleh berbangga-ria sendirian. Lantaran Tiongkok – untuk terus memupuk minat baca generasi dini – juga membangun toko seperti ini di banyak kota, dalam model berbeda.
Zhongshuge Shanghai tahun 2013 sebagai yang pertama. Kemudian Zhongshuge Chongqing, Zhongshuge Shenzhen, Pioneer (Avant-Garde) Songyang – Zhejiang, dan sebagainya. Termasuk Zhongshuge Beijing rancangan biro arsitektur X-Living. Satu toko ikonik yang ada dalam Galeries Lafayette Beijing, dan diberi gelar “Toko Buku Terindah” oleh Departemen Publisitas Komite Kota Beijing.
Namun sebagus-bagusnya berbagai Zhongshuge di banyak kota, Zhongshuge Dujiangyan masih bercokol sebagai yang terbaik. Terbukti dengan reputasi yang dicatat selama ini. Toko ini meraih medali emas dari Desain A Italia, 2020-2021. Penghargaan Architizer A + Awards 2021 untuk desain ruang ritel komersial. Penghargaan dari BOY (Best of Year Awards) Amerika tahun 2021 sebagai toko buku berdesain interior paling mencengangkan. Medali perak dari IFI (International Federation Interior) tahun 2022. Predikat “Toko Buku Tercantik” di Chengdu 2022. Gelar “Sepuluh Toko Buku Paling Artistik di Dunia” oleh lembaga internasional 1000 Libraries, tahun 2025.

Sebelum membeli, pengunjung ramai-ramai membaca di ruang khusus yang terhampar di banyak sisi. (Foto: Agus Dermawan T).
Zhongshuge adalah hadiah tak terhingga untuk generasi dini yang suka membaca, dan rela menapis internet yang banal dan merajalela.
Indonesia, yang punya “Hari Perpustakaan Nasional” dan “Hari Buku Nasional” – 17 Mei, dan “Hari Kunjungan Perpustakaan” – 14 September, tentu boleh saja meniru. Bahkan harus meniru. Meski infrastruktur (fasilitas pendukung) dan suprastruktur (mesin penggerak) jagad baca bangsa indonesia masih sangat mengharu-biru. *
*Agus Dermawan T. Pengamat seni rupa, penulis buku, dan pelancong.





