Kultus Panda Sampai Langit ke-Tujuh

Oleh : Agus Dermawan T.*

Catatan perjalanan. Dari survey wisata, mengunjungi pusat penangkaran panda, sampai ke taman patung para seniman modern dan kontemporer di mal ternama. Seni tinggi dicemplungkan ke dalam komunitas donat, guochao, es krim dan Prada. Tiongkok punya gawe memang luar biasa.

————-

PADA bulan Juli 2026 satu biro travel di Jakarta mengajak saya dan untuk ikut dalam kegiatan site inspectiondan pre-tour survey ke Provinsi Sichuan, Tiongkok.

Site inspection adalah kunjungan langsung yang dilakukan oleh perencana tamasya ke obyek wisata, hotel dan restoran. Kunjungan ini bertujuan memastikan kebagusan obyek, kelayakan fasilitas, keamanan dan kesesuaian dengan standar tour. Sedangkan pre-tour survey adalah kegiatan operasional tour untuk menghitung jalur (itinerary), yang berkaitan dengan tempo tempuh, waktu istirahat, serta sistem koordinasi dengan vendor dan guide lokal. Penelitian ini dilakukan agar paket wisata yang akan dilakukan nanti berjalan lancar dan sesuai dengan standar yang ditawarkan.

Saya pernah terlibat dalam kegiatan ini beberapa tahun silam. Dalam kenangan saya, ini kegiatan amat menyenangkan. Karana ada unsur spekulasi atau coba-cobanya yang asyik punya.

Bagian yang menyenangkan adalah – dasar tukang santap – menu yang dipesan di restoran selalu super komplit, bisa belasan macam. Maka, makaaaan! Dari pesanan yang banyak itu surveyor lantas memilih menu mana yang paling cocok untuk lidah para peserta wisata. Hal ini juga bisa berlaku untuk acara menonton show. Peserta site inspection bisa menonton beberapa pertunjukan, sebelum akhirnya memilih satu yang paling memungkinkan.

Sementara unsur spekulasinya terasa ketika melakukan penelitian ihwal moda transportasi, waktu kunjungan dan jarak perjalanan. Misalnya, tim survey ingin mengajak peserta wisata “punya pengalaman baru” naik bullet train. Percobaan pun dilakukan, walau ternyata agak ruwet dan tidak nyaman. Atau mencoba ikut antrian yang melelahkan bersama ribuan wisatawan yang akan naik River Night Cruise. Meski proses mengantri ini berguna untuk menghitung waktu seberapa lama kita berdiri dan beringsut maju.

Dengan mengenang perjalanan manis masa lalu, tawaran itu langsung saya terima. Maka, bersama Iliana (isteri) serta dua cucu yang sudah remaja, Rian dan Tasya, kami segera bergabung. Apalagi dalam agenda tour itu terselip acara mengunjungi Chengdu Research Base of Giant Panda. Pusat penelitian dan penangkaran panda raksasa yang terletak di pinggir kota Chengdu.

Pintu gerbang Chengdu Research Base of Giant Panda yang familiar dan jenaka. (Foto: Agus Dermawan T.)

Menyinggung panda, sesungguhnya sejak lama kami ingin berkunjung ke pusat kehidupan satwa mulia Tiongkok itu. Keterpikatan saya kepada panda lantaran aspek yang umum. Bentuknya lucu, bulunya bersih hitam-putih, dan wajahnya tampak tak pernah berpikir akan korupsi sedikit juga. Sementara ketertarikan isteri kepada panda adalah lantaran satwa itu pendiam, alias tak suka bicara sosial politik lewat omon-omon kosong.

Sedangkan cucu-cucu ingin segera berjumpa dengan panda karena satwa ini mereka pandang sangat pandai bela diri. Seperti tergambar dalam film Kungfu Panda yang mereka tonton sejak masih bayi. Rian, yang suka menulis review film di Ryan’s Film Dump meyakinkan bahwa semua sekuel film Kungfu Panda yang diproduksi DreamWorks Animation itu istimewa. Jadi panda aslinya harus ditemui. Sementara adiknya, Tasya, menggemari boneka panda. Meskipun si boneka sudah entah di mana.

Separuh Kelapa Gading

Pada awal Agustus 2026 “tim peneliti piknik” ini berangkat. Seperti yang tertulis sebagai salah satu tujuan, kami mengunjungi Chengdu Research Base of Giant Panda atau CRBGP. Tak disangka tempat penelitian dan penangkaran ini bukan main luasnya. CRBGP yang didirikan pada 1987 ini menempati lahan 238 hektar! Letaknya nun jauh dari keramaian, sehingga untuk menuju ke sana harus ditempuh dengan mobil safari. Sesampai di lokasi, semua wisatawan dimonggo jalan kaki. Santai melewati jalan bagus naik turun, menelusuri lahan separuh wilayah Kelapa Gading Summarecon itu.

Dan alhamdulillah, ketika kami ke sana udara sedang sejuk-sejuknya, dengan temperatur sekitar 41 sampai 45 derajat. Sehingga, andai mau nyeplok telor di datar batu, telor bakal mateng tanpa ditunggu.

Namun meski udara panas, para panda tetap hidup nyaman. Karena manusia menyediakan rumah-rumah besar bagai istana bagi mereka. Rumah-rumah itu tersebar di banyak penjuru dalam jumlah belasan. Ada yang dinamai Mountain Moon Giant Panda Pavillion, Cloud Moon Giant Panda Pavillion, Autumm Moon Giant Panda Pavillion, Starry Sky Giant Panda Pavillion, Giant Panda Villa sampai Star Giant Panda Nursery House. Yang luar biasa, setiap paviliun ini arsitekturnya unik, indah, dan mengandung citra dan makna ke-panda-an.

Ada 240 panda yang hidup dan dijamin kesejahteraannya di sini. Jumlah yang cukup banyak apabila disetarakan dengan kenyataan bahwa jumlah panda (termasuk yang tidak giant) di Tiongkok yang hanya 1.900. Panda memang satwa yang amat sangat langka, lantaran susah mengembangkan populasinya. Bayangkan, panda betina hanya memiliki masa subur 45 sampai 80 menit saja dalam setahun. Sehingga hanya panda yang “kawin tepat waktu” saja yang bisa memiliki keturunan.

Panda dianggap sebagai satwa dari langit yang luhur martabatnya. Sehingga panda acap dijunjung sebagai hadiah kehormatan antar raja dan antar negara. Kita lalu ingat bagaimana Wu Zetian mempersembahkan sepasang panda kepada Kaisar Temmu di Jepang pada 685 Masehi. Selain mengirimkan dua panda hidup, perempuan yang memimpin kerajaan pada era Dinasti Tang ini juga menyertakan kulit panda yang mati tua sebagai simbol perdamaian, persahabatan dan niat baik. Peristiwa ini dicatat sebagai “Diplomasi Panda Pertama di Dunia”.

Menara Panda dari bambu setinggi 70 meter, rancangan UDG Atelier Alpha-Shanghai. (Foto: Agus Dermawan T.)

Begitu dijunjungnya sang panda, sampai di pusat penelitian dan penangkaran itu dibangun Menara Panda nan artistik pada tahun 2021. Bahannya full dari bambu. Bentuk menara setinggi 70 meter ini menyerupai rebung atau bambu muda. Orang sedunia tahu, bambu adalah makanan panda. Perancang menara ini adalah studio arsitektur tersohor di Shanghai, UDG Atelier Alpha. Melihat fisiknya, kita boleh saja  membandingkan dengan bangunan Burj Al Arab di Dubai, yang berdiri tahun 1999. “Ada suatu mirip,” kata guide lokal Tiongkok.

Panda sangat dihormati bagai putera mahkota kerajaan atau negara. Dengan begitu semua perangkat untuk melayani disediakan lengkap. Semua itu dikelola oleh para pekerja pilihan yang digaji tinggi. Bayangkan, apabila penjaga profesional kebun binatang umum di Tiongkok rata-rata bergaji 6.000 yuan (sekitar 16 juta rupiah) sebulan, maka para konservator panda di Provinsi Sichuan gajinya mencapai 17.000 sebulan. Itu pun dilengkapi fasilitas tempat tinggal serta mobil lapangan nan nyaman.

Panda memanjat lantai tujuh

Kultus panda di tempat penelitian dan penangkaran diteruskan sampai di mal di Chengdu. Di kota besar ini ada mal Chengdu IFS (International Finance Square) yang bersebelahan dengan area terkenal Sino-Ocean Taikoo Li Chengdu, dekat Chunxi Road, wilayah legendaris kunjungan turis. Di dinding mal Chengdu IFS itu tampak seekor panda raksasa sedang memanjat dinding gedung, dengan kepala yang melongok keluasan lantai tujuh. Patung bertinggi 15 meter dengan berat 13 ton ini berjudul “I am Here”. Yang bikin adalah Lawrence Argent, seniman Amerika.

Setelah melihat si panda memanjat dinding, semua orang diharapkan naik ke lantai tujuh, untuk menatap wajah panda yang mungkin saja kelelahan. Saya menuruti perintah turistik itu. Dan ternyata wajah panda tersenyum renyah dengan seolah berkata: “Ciluk baaa! Gue suruh elo naek, agar elo bisa melihat taman patung di lantai ini…” Saya pun merasa tertipu. Meski kemudian berseri-seri, karena lantai ini area yang artistik sekali.

Empat turis Indonesia turis sedang berpose di bawah patung panda raksasa memanjat gedung. (Foto : Agus Dermawan T).

Panda raksasa yang melongok lantai tujuh Chengdu IFS Sculpture Garden dengan kerumuman pengunjung. Patung berjudul “I am Here” ini karya Lawrence Argent dari Amerika, dicipta tahun 2014. (Foto: Agus Dermawan T.)

Patung “Mala” karya Kumari Nahappan dari Singapura. (Foto: Agus Dermawan T.)

Lantai tujuh Chengdu IFS adalah sculpture garden yang ciamik. Luasnya lebih besar dari Taman Patung ASEAN Suropati, Jakarta, sehingga di sini bisa menampung belasan patung karya seniman ternama dari banyak negara.

Hampir semua menarik untuk dilihat dan dihayati. Walau yang paling memikat bagi saya adalah karya Kumari Nahappan dari Singapura, yang berjudul “Mala”. Patung ini menggambarkan buah mala yang peot dalam warna merah maroon. Mala ada buah pedas sebesar ketumbar, dan menjadi elemen pokok makanan khas Sichuan.

Dua karya Florian Claar dari Jerman yang berjudul “Soundscape” juga asyik disimak. Patung alumunium ini mencitrakan suara musik yang bergema sampai ke langit. Ini simbol suara batin Chengdu sebagai kota damai yang selalu menghibur isi semesta. Patung karya Mok Yat-san dari Hong Kong, “Originally of Perfection and Completion” menggemaskan. Patung perunggu ini hanya berbentuk bulatan hitam yang terbelah persis di tengah, sehingga menampakkan warna kuning melon di dalamnya.

Menarik juga patung remetan kemasan benda sehari-hari karya Jiao Xiangtao, maestro Sichuan. Karya berukuran besar dan penuh warna itu bermedium baja anti karat (stainless steel) berlapis lak (lacquer). Karya Jiao mendampingi karya pematung kebanggaan Provinsi Sichuan lain, seperti He Duoling dan Zhao Nengzhi.

Yang tak bisa luput dari perhatian adalah patung tembaga berjudul “Waiting”. Patung ini menggambarkan bangku kokoh berkaki tiga, yang berbentuk kaki manusia. Di bagian belakang bangku tampak hantu mengambang sambil memegangi sandaran. Siapa pun dipersilakan duduk di situ, agar mendengar bisikan hantu. Karya surealis dan horor yang cocok untuk dipajang di jalanan suram Indonesia.

Sedangkan yang paling menohok adalah karya Zhou Chunya, seniman Tiongkok yang juga populer di Indonesia. Patungnya (masih) berjudul “Green Dog”. Dan seperti biasa, patungnya menggambarkan anjing German Shepherd berwarna hijau sedang melet. Patung ini konon diilhami anjing setia peliharaannya.

Patung karya Zhou Chunya, “Green Dog”. (Foto: Agus Dermawan T.)

 

Patung karya Polo dari Prancis, “Walking”, di Sino-Ocean Taikoo Li Chengdu. (Foto Agus Dermawan T.)

Sedangkan di “toko sebelah”, Sino-Ocean Taikoo Li Chengdu, tergelar belasan patung dan karya instalasi kelas dunia. Di antaranya adalah patung “Meeting Time” karya Nathalie Decoster dari Prancis. “Walking” kreasi Polo dari Prancis. “Hibiscus City” karya Jenny Pickford dari Britania Raya. “Dancing Bamboo” patung kinetik George Cutt dari Britania Raya. Sampai “Sichuan Strawberries” kreasi Wu Haiying dari Tiongkok.

Meski Tiongkok bermusuhan dengan Taiwan, karya Fan Jiangmingdao juga ada di sini. Karya seniman top Taiwan ini berjudul “Gathering”, yang maknanya: yuk ngumpul-ngumpul, berdamai, ngobrohol, sambil hē chá atau minum teh hangat.

Setelah menyaksikan taman patung, saya menghampiri si panda yang wajahnya ciluk baa di lantai tujuh itu. “Xie xie, Bro Panda. Sampeyan sudah membimbing saya untuk datang ke taman luar biasa ini.”

Bersemangat benar saya mengucap, tapi si panda tampak cuek. ***

*Agus Dermawan T. Kritikus seni rupa, penulis buku, dan pelancong.