Gundogan, Semrawut Emas, dan Arketip Indonesia di pojok kota Venesia

Oleh: Azuzan JG*

(Bagian 1 dari 2 tulisan) Catatan perjalanan ini dibuat berdasar kunjungan saya ke Venesia 15-19 Juni 2026.

Venesia
Langkah saya terhenti. Lelaki berusia 60 an itu menarik perhatian. Anyaman daun palem mirip janur Bali ada di tangannya. Ia duduk di atas lantai batu di sebuah jalan kecil di Venesia. Jari-jemarinya seperti memiliki mata. Helai demi helai daun palem kecil itu dianyamnya sambil sesekali menyapa orang lalu lalang. Perawakannya tidak menampakkan dia berasal dari Bali. Tapi oleh sebab tujuan saya hari itu mengunjungi pavilyun Indonesia, keunikan lelaki dan janur itu saya catat dalam hati: saya akan menghampirinya nanti. Saya sibuk mencari: dimana pavilyun Indonesia?

( foto Gondola di Venesia. Foto dok. Azuzan JG)

Jalan-jalan kecil di seluruh kota Venesia kerap menyesatkan pejalan kaki. Pemandangan di kiri kanan sangat menggoda. Bangunan-bangunan tua abad 17, patung-patung di pelataran gedung, hiasan di perahu gondola, museum, jadi rem otomatis langkah kaki di bawah terik matahari.

Venesia dulu hanya berupa rawa-rawa tak berpenghuni. Daratan yang ada terpisah-pisah oleh laguna, danau-danau kecil berair payau. Terbentuk oleh sedimentasi arus laut. Wilayah itu di masa lalu hanya tempat nelayan-nelayan mencari ikan dan menambang garam. Untuk berteduh, nelayan-nelayan itu membuat casoni, gubuk hunian sementara.  Bangunannya sederhana, didirikan di atas pancang-pancang kayu dan beratapkan jerami.1

Di abad ke 5, Romawi (Italia) diserang habis-habisan dari berbagai penjuru oleh bangsa Hun dan Lombardia. Kedua bangsa itu disebut barbar, membunuh dan menjarah harta benda penduduk di setiap wilayah yang diserbunya. Guna menyelamatkan diri, penduduk berhamburan melarikan diri ke laguna tempat nelayan-nelayan itu mencari nafkah. Pasukan berkuda kaum barbar enggan menyeberang ke pulau-pulau yang masa itu masih berupa rawa-rawa. Mereka tidak memiliki armada kapal militer, beresiko tenggelam bila memaksa kuda dan prajurit berbaju besi masuk ke rawa berlumpur. Ribuan kaum pengungsi di abad ke 5 itu pun selamat. Lalu mereka seperti nelayan-nelayan itu, membangun gubug-gubuk hunian sementara disana; menancapkan tonggak-tonggak kayu sebagai fondasi sampai menyentuh lapisan keras di dasar rawa-rawa.

Reproduksi foto sketsa panorama Venesia. Cetakan album anoim sekitar tahun 1850-1900. Koleksi Rijksmuseum Amsterdam/public domain)

Akan tetapi invasi bangsa Hun dan Lombardia berkepanjangan. Satu demi satu wilayah kekaisaran Romawi tumbang, menyisakan kekaisaran Romawi Timur berpusat di Byzantium. Kekaisaran ini memiliki armada laut kuat di perairan Adriatik, memberi perlindungan bagi kaum pengungsi ini dari ancaman pasukan berkuda bangsa Hun dan Lombardia yang tidak bisa menjangkau wilayah perairan. Jumlah pengungsi ke laguna makin membesar.  Mereka membutuhkan lebih banyak kayu guna membuat hunian sementara. Melalui perlindungan kekaisaran, batang-batang kayu yang bersumber dari pegunungan Alpen dialirkan secara bertahap melalui sungai Piave dan dan sungai Brenta yang bermuara langsung ke laguna.2

Inilah keajaiban arsitektur Venesia. Oleh proses alam, pancang-pancang kayu itu mengeras, mampu menopang bangunan batu yang ratusan tahun kemudian didirikan di atasnya. Ini sebab kenapa Venesia disebut kota terapung. Bangunannya tidak didirikan langsung di atas tanah. Setelah invasi kaum barbar berakhir, daerah laguna itu tumbuh pesat, tidak lagi jadi tempat hunian sementara tapi berubah menjadi wilayah perdagangan yang menguntungkan. Letaknya strategis sebagai pintu masuk ke daratan Italia. Jutaan batang kayu kemudian didatangkan dari berbagai wilayah negara, jadi penopang arsitektur kota Venesia, bertahan kuat sampai sekarang. Daerah yang semula rawa-rawa itu di abad ke 7 berubah jadi negara republik maritim, memiliki kekuatan militer tangguh yang mengontrol jalur perdagangan dari laut Adriatik sampai Mediterania. Republik maritim Venezia pernah jaya 1100 tahun lamanya. Lalu runtuh tahun 1797 oleh invasi Napoleon Bonaparte.3

Weker berbunyi di saku  saya. Sudah jam satu siang saya belum menemukan dimana pavilyun Indonesia. Saya keluar dari penginapan jam 11 pagi. Sudah 2 jam berjalan belum juga menemukannya. Menelusuri Venesia itu seperti memasuki labirin. Jalannya bercabang-cabang. Navigasi memakai Google map kadang-kadang tidak bekerja. Gedung-gedung tinggi di jalan-jalan sempit menghambat sinyalnya. Daratan itu muasalnya 118 pulau kecil terpisah-pisah oleh ratusan laguna. Laguna-laguna itu telah dirubah menjadi kanal-kanal. Untuk menyeberangi satu kanal ke kanal lainnya ada 170 jembatan kecil dengan kolong tinggi agar perahu gondola bisa leluasa lewat di bawahnya. Setelah naik turun tangga jembatan belasan kali, pindah dari satu jalan ke jalan lainnya, lelah dan lapar menyergap.

Susah cari nasi. Sepiring spaghetti dan segelas minuman dingin sebagai pengganti. Sambil menanyakan rekening makanan, saya tanya pelayan restoran, dimana pavilyun Indonesia? Pria asal Bangladesh itu tidak langsung menjawab. “Tunggu sebentar,” katanya. Tidak lama seorang pria berdasi menghampiri saya. Ia membawa rekening dan selembar peta Venesia. “Anda berada di wilayah Arsenal, disini. Pavilyun Indonesia ada di Cannaregio di sebelah sana,” ujarnya sambil meletakkan rekening yang harus dibayar. Saya tercekat dua kali. Pertama, selain pajak makanan, ada tambahan harga untuk sebuah meja. Jumlah total 30 euro di rekening itu setara 10 kali makan di restoran Padang di kota Jakarta. Kedua, ternyata saya tersesat cukup jauh. Seketika saya ingat Tiziana. Pemilik penginapan Airbnb itu bilang sebelum saya keluar dari rumahnya:  “Kalau kamu belum tersesat, kamu belum sampai di Venesia.”

Untuk bertanya di jalan, hampir semua orang lalu lalang disana itu pelancong. Tapi saya harus kesana, ke galeri tempat seniman-seniman Indonesia mempresentasikan karyanya. Seminggu sebelum ke Venesia saya bertemu Aminudin T.H. Siregar di IHA Amsterdam 22 Mei 2026; saat ia dan serombongan seniman mempresentasikan konsep Printing the Unprinted di Venesia. Saat itu saya berjanji mengunjungi pameran yang dikuratorinya. Di kesempatan itu saya juga bertemu Titarubi, perupa. Ia membantu persiapan teknis pameran itu di lapangan. Tita saya kenal baik sewaktu suntuk mengamati festival Teater Jakarta 2015. Saya juga janji padanya untuk melihat pameran dari Indonesia yang suaminya, Agus Suwage ikut serta. “Saya jadi runner, membantu mencari macam-macam material yang dibutuhkan, ” ungkapnya. Tita punya pengalaman di Venesia. Tahun 2013 ia berpameran di sana.

Aminudin T.H. Siregar mempresentasikan konsep Printing The Unprinted di IHA Amsterdam 22 Mei 2026. Foto doc.: Azuzan JG

Wurus
Sejarak puluhan langkah dari restoran itu ada sebuah galeri bernama Palazzo Navagero. Di depan gedungnya bertuliskan pavilyun nasional Senegal: La Biennale di Venezia. Langkah saya terhenti lagi. Senegal mengingatkan saya pada Sadio Mane, pesepakbola handal. Apakah mereka memamerkan hal sepak bola? Pameran seni rupa itu ternyata tersebar di seluruh pelosok kota. Saya ingat ucapan Tiziana: jangan anggap sial bila tersesat di Venesia. Lagipula bukankah setiap orang bebas memilih galeri mana yang ingin dikunjungi. Kenapa tidak?

“Wurus,” demikian nama pameran instalasi seni rupa dari Senegal. Bukan tentang sepakbola. Dalam keterangan pameran disebutkan Wurus dalam bahasa Wolof-Senegal berarti emas. Seni Instalasi yang digarap Caroline Gueye itu hampir keseluruhannya memakai materi logam berwarna emas. Komposisinya asimetris, terkesan acak-acakan. Sekat-sekat berupa cermin membatasi satu ruang ke ruang lainnya. Tata cahaya tampak diperhitungkan cermat, tidak terang benderang menyapu ruang. Cermin-cermin itu berfungsi jadi pemantul cahaya dari ruang lainnya. Ketika kita mengamati sebuah karya, cermin itu memunculkan bayangan karya lainnya. Dan ketika kita berpindah posisi mengamatinya, kita memperoleh pengalaman estetik berbeda. Ada banyak pertanyaan muncul melampaui karya yang dipamerkan sehubung tema In Minor Keys yang memayungi seluruh pameran La Biennale Venesia.

Instalasi Wurus karya Caroline Gueye, pavilyun Senegal La Biennale Venesia

In Minor Keys merupakan konsep radikal kuratorial yang dirumuskan Koyo Kouoh, aktivis seni berkebangsaan Swiss. Dalam keterangan pers ia mendeskripsikan In Minor Keys sebagai ajakan untuk menolak “tontonan horor dunia” dengan mendengarkan frekuensi yang lebih rendah. Konsep ini menekankan ketahanan, merayakan keindahan yang diciptakan di tengah tragedi, serta menempatkan seniman sebagai saluran utama.4  Wanita yang lahir di Kamerun 1967 itu wafat sebelum La Biennale 2026 dibuka.

Semasa hidupnya ia aktif menggerakkan seniman-seniman terpinggirkan di Afrika untuk berkarya di kancah global. Di Senegal ia mendirikan Raw Material Company, institusi pendidikan seni di Dakar. Di institusi itu dikembangkan pemikiran bahwa karya seni tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakatnya.5 Hubungan seniman Senegal dengan Kouoh ternyata begitu dekat. Tapi saya kira bukan itu alasan karya Wurus diikutsertakan. Gueye adalah seorang seniman kontemporer dan ahli astrofisika. Emas baginya bukan sekedar objek material fisik, melainkan sebuah konstruksi nilai yang lahir dari persepsi. Karyanya pernah dipamerkan di Centre for Contemporary Art Berlin, FRAC Centre Val de Loire Orleans, dan berbagai negara lainnya.6  Karyanya disertakan bukan oleh sebab koneksi.

Koyo Kouoh . Foto oleh Lard Buurman. Sumber foto Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0

Emas merupakan komoditi eksport andalan negara Senegal. Tapi oleh perseteruan elit politik disana, kekayaan alam itu belum terdistribusikan untuk kemakmuran rakyatnya. Apakah hal ini ingin disampaikan Gueye? Bila hal itu ingin diungkapnya, bagaimana strategi si seniman menggugah pemerintahnya agar mau membiayai pameran di galeri Palazzo Navagero Arsenal itu? Letak galeri itu strategis, berhadapan dengan pelabuhan penyeberangan kapal ke bandara Marcopolo. Sewa galeri di lokasi strategis Venesia cukup mahal, bisa mencapai 25.000 euro per-bulan, tergantung lokasi dan besarnya ruang.7 Penyelenggara La Biennale cuma menyediakan even. La Biennale tahun ini berlangsung 9 Mei sampai 22 November 2026. Setiap negara peserta harus bayar sendiri sewa galeri  berbulan-bulan untuk berpameran disana.8

Massamba Mbaye, kurator paviljyun Senegal memaparkan, Wurus terinspirasi kisah perjalanan ibadah haji Kankou Moussa.9 Ini salah satu peristiwa legendaris sejarah dunia. Raja Mali tersebut membawa ribuan pon emas murni dan menyertakan 60.000 orang untuk menunaikan ibadah haji tahun 1324-1325. Kafilah raksasa. Mereka ke Mekah melalui gurun sahara mengendarai unta. Di perjalanan, sang raja membagi-bagikan emas kepada penduduk. Akibat terlalu banyak emas masuk mendadak, nilai emas di Kairo, Madinah, dan Mekah di masa itu anjlok drastis.10

Komposisi asimetris emas dan pantulan-pantulan cahaya di pameran itu mengajak kita menelusuri tema tentang emas dan negara itu sendiri. 17 Januari 2024 dw.com melaporkan: kebijakan ekstraktif di negara itu menimbulkan konflik dan kerusakan alam. Sedikit banyaknya tentu Gueye melihat problem itu. Seorang seniman tidak terlepas dari realitas lingkungannya. Dari sisi ini Wurus kita lihat sebagai kritik material terselubung. Jika si seniman mengkritik oligarki di negaranya secara vulgar dan frontal, pamerannya mungkin akan dilarang, atau ia tidak akan pernah dikirim ke Venesia. Dengan mengemasnya melalui sains (pantulan cahaya, cermin) serta sejarah kuno, para elite pemerintahan tidak keberatan mendanainya.

Tidak terasa sudah jam 5 sore. Hari itu saya tunda mengunjungi pavilyun Indonesia. Saya sudah janji ke Restu, direktur artistik Bumi Purnati, untuk menulis tentang pertunjukan Yusril dan Uung di gedung teater Alle Tesse.11  Tempat itu tidak terlalu jauh dari lokasi pameran Wurus. Pertunjukan teater Under the Volcano yang disutradarai Yusril telah saya tonton sehari sebelumnya, sedangkan pertunjukan Hikayat Perahu yang disutradarai Uung berlangsung keesokan harinya. Lalu saya putuskan, daripada dua kali menonton pertunjukan yang sama, lebih baik waktu yang ada dimanfaatkan nonton pertunjukan teater eksperimen Italia. Gedung pertunjukannya berdekatan dengan Teater Alle Tesse. Saya ingin tahu, bagaimana bentuk artistik dan pesan di balik pertunjukannya?

Aka Jolly Roger
Pertunjukan Aka Jolly Roger di teater arena Sala d’Army E itu merujuk ke bendera bajak laut. Penulisnya Bruna Bonanno, wanita berusia 29 tahun. Ia memenangkan penghargaan Biennale 2026 untuk penulisan naskah di bawah umur 30 tahun.12 Pertunjukan ini berada dalam program College Teatro