Resep Koreografi dalam “The Kitchen Under Skin” oleh Kenta Masukawa
Oleh: Razan Wirjosandjojo

(Dok. Studio Plesungan, foto oleh Jauhari)
Remang lampu panggung menyinari Kenta yang sedang intim dengan bahan-bahan dan peralatan masaknya. Langkahnya menyeberangi ruang dalam keheningan, menuju kompor di hadapannya. Ia menyentuh lembut panci yang bertengger di atasnya. Dengan seksama, ia meraba isi panci itu, lalu perlahan meremas butiran-butiran beras yang basah.
Pada layar yang menggantung tegak di sisi tengah-belakang panggung, terpampang kalimat “Resep Koreografi”. Teks itu merupakan proyeksi langsung dari sebuah lembar resep yang tergeletak di atas meja. Resep tersebut tak hanya menjadi panduan dalam proses memasak, tetapi juga menjadi alur yang menuntun tubuh Kenta menyusuri ruang pertunjukan, mewujudkan koreografi yang ia beri tajuk “The Kitchen Under Skin”.
Resep itu terdiri dari enam halaman isi, dilengkapi dengan satu halaman sampul dan satu halaman penutup. Ini bukan kali pertama saya melihat teks tersebut, sebab proses penerjemahannya dikerjakan bersama Verina dan saya. Selama proses itu pula, Kenta telah menggunakan resep tersebut sebagai panduan dalam berlatih. Mungkin alurnya telah ia lalui belasan, bahkan puluhan kali.
Demikian giat ia mengenali resepnya selama masa latihan, tetapi dalam pertunjukannya ia tidak menampilkan “kelihaian”. Lihai sebagaimana Ibu Sisca Soewitomo memperagakan proses memasak di layar televisi, ataupun seperti juru masak yang mempertontonkan kecekatannya di warung tenda maupun restoran. Dalam karya ini, Kenta justru mewujudkan keasingan. Ia tampak asing dengan segala hal di atas panggung yang sebelumnya ia tata sendiri. Pertunjukannya pun menyerupai sebuah upaya untuk mengingat sekaligus mengenali kembali benda-benda tersebut. Namun, apa lagi yang tersembunyi di balik butir-butir beras dan lembutnya tahu itu?
Pertunjukan “The Kitchen Under Skin” oleh Kenta Masukawa yang dipresentasikan dalam program On Stagepada 10 Januari lalu, menjadi sebuah karya koreografi yang disusun berdasarkan resep masakan. Karya ini mengajak penonton mengalami keseluruhan proses memasak selama satu setengah jam. Sejak beras mulai dicuci, tidak ada satu pun tahapan yang dilewati. Kenta memulai dengan menata bahan dan perlengkapannya, menuangkan air ke dalam panci berisi beras. Lalu, ia melanjutkan setiap langkah satu per satu, seperti memotong sayuran atau mengaduk telur dan tahu. Semua dilakukan dengan hikmat hingga meja kecil di depan panggung perlahan terisi oleh hidangan yang “menjadi” bersama pertunjukan.
Pertunjukan ini diselenggarakan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah sebagai salah satu puncak program residensi Kenta di kota Solo, yang terlaksana melalui kerja sama Kyoto Art Center dengan Studio Plesungan. Residensi tersebut menjadi ruang bagi Kenta untuk mengembangkan proses kekaryaannya yang berfokus pada penciptaan notasi gerak berdasarkan resep memasak. Ia memberi perhatian pada laku dan gestur memasak sebagai sumber inspirasi dalam menyusun notasi koreografi, yang kemudian memandu pergerakan tubuhnya sepanjang pertunjukan berlangsung.
Memperhatikan pertunjukan maupun proses risetnya, membuat saya merawat pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi selalu sulit untuk dijawab: dari mana asal makanan yang kita makan?

(Dok. Studio Plesungan, foto oleh Jauhari)
Jarak antara Kota dan Dapur
Kenta mulai tertarik memasak setelah lulus kuliah dan meninggalkan rumah orang tuanya, untuk bekerja dan hidup sendiri. Tumbuh besar di Tokyo, hidupnya habis di luar rumah. Pada masa bekerja di kantor, ia menghabiskan waktunya sejak pagi untuk melewati hiruk-pikuk kereta komuter, menghadap komputer selama berjam-jam di lantai 14, kemudian kembali melintasi hiruk-pikuk kota pada pukul sembilan malam. Pada fase tersebut, Kenta mulai menemukan proses memasak sebagai pengalaman yang bermakna. Melalui proses menyaksikan bahan-bahan yang memadu di atas wajan, melihat wujudnya yang berubah dari waktu ke waktu. Ia merasakan jari yang mulai mengecap pengalaman menarik di dalam dirinya.
Memasak menjadi momen untuk merenung tentang bagaimana kehidupan modern dapat menjauhkan tubuh dari hakikat “alam” sebagai realitas yang terhubung dengan keberadaan kita sebagai makhluk hidup. Sistem perkotaan yang demikian kompleks kerap membuat Kenta lupa bahwa ada kenyataan lain di luar rutinitas tersebut. Laku memasak mengembalikan tubuh pada kenyataan di luar sistem kota.
Bagi saya, melihat fenomena antara Kenta dan memasak membuka tabir yang menyembunyikan jarak yang lupa kita ukur, antara kota dan dapur. Luasnya kota ternyata tidak hanya menciptakan jarak fisik, tetapi juga jarak psikis yang menjauhkan tubuh dari dapur rumah. Maka, jarak ini menciptakan tubuh-tubuh yang asing dengan dapur dan laku memasak. Meskipun begitu, ketidakmampuan masyarakat kota untuk memasak sering kali bukan semata-mata “malas”, melainkan terkondisikan.
Setiap hari, mereka yang berada di kota besar dituntut untuk bangun lebih pagi, menempuh jarak yang lebih jauh, dan pulang lebih malam, demi gaji yang tak lebih banyak. Tidak ada waktu dan tenaga yang tersisa untuk memasak. Kesempatan untuk tinggal lebih lama di rumah dan melakukan pekerjaan domestik kini dianggap sebagai kemewahan yang kian mahal. Semakin banyak yang tak dapat menanggung biaya hidup, semakin banyak pula yang harus bekerja sampai malam. Dapur menjadi sepi karena tidak ada lagi waktu yang dapat “dibakar” untuk sekadar menghangatkan panci dan memasak hidangan sederhana untuk keluarga.
Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Kota Jakarta, merantau ke Solo mendekatkan saya dengan dapur. Waktu menjadi lebih lapang karena tidak dirampas oleh jarak perjalanan, ditambah dengan masyarakat yang lebih lentur dalam memaknai waktu. Saya kemudian memiliki kesempatam untuk melakukan kegiatan lain sebagai manusia, salah satunya memasak. Masa tinggal di Studio Plesungan ikut andil dalam mendekatkan tubuh saya dengan dapur dan aktivitas memasak, yang tidak pernah saya alami di rumah sendiri. Ketika mulai menyewa rumah, saya memiliki kesempatan untuk lebih akrab dengan dapur. Maka, saya mulai menggambar ulang peta atas makna rumah, kemudian menempatkan dapur di dalamnya.

(Dok. Studio Plesungan, foto oleh Jauhari)
Tubuh dan Masakan yang “Menjadi”
Kenta tidak menjalani studi formal di akademi tari ataupun seni pertunjukan. Pertemuannya dengan tari terjadi dari keikutsertaannya pada aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa ketika ia kuliah. Pada proses tersebut, ia menyaksikan pameran tari kontemporer di Theatre Museum, Waseda University, dan melihat dokumentasi pertunjukan oleh Min Tanaka. Dokumentasi tersebut menggugah keingintahuan Kenta yang sejak awal tertarik pada tari sebagai fenomena yang mewujudkan pengalaman atas tekstur dan sensasi, daripada upaya untuk bergerak menghafal dan melakukan serangkaian bentuk gerak dengan sempurna.
Ketertarikan Kenta pada butoh berlanjut dengan membaca berbagai buku, mewawancarai praktisi, membaca butoh-fu dan kemudian mencoba sendiri untuk melakukan gerak sebagai proses belajarnya. Setelah mulai memasuki dunia pertunjukan lebih dalam dan mulai mempresentasikan karyanya sendiri, ia belajar secara langsung bersama praktisi butoh. Ketika pindah ke Kyoto, ia belajar dengan seniman Butoh senior, Tenko Ima. Pada wawancara saya dengan Kenta, ia menyampaikan bahwa dirinya tertarik bukan pada upaya untuk melestarikan butoh dari sisi tradisi bentuknya, melainkan cara kerja dan mekanisme penelusurannya. Baginya, mempelajari butoh membantu untuk menyerap gagasan dan pemikiran para pionir seperti Hijikata Tatsumi dan Ohno Kazuo, sembari menelusuri dan bertanya: tubuh dan pertunjukan apa yang dibutuhkan di masa sekarang?
Melihat “The Kitchen Under Skin”, butoh hadir sebagai sesuatu yang menarik pada cara kerja Kenta. Meskipun terlacak bahwa beberapa bentuk gerak yang Kenta hadirkan terinspirasi dari tradisi bentuk butoh, tetapi iatidak terjebak dalam melakukannya sebatas untuk keperluan estetika, melainkan diserap sebagai metode kerja tubuh. Butoh menjadi perangkat yang membuka peluang bagi tubuh Kenta untuk mengolah laku memasak sebagai pengalaman yang transendental.
Bersama dengan kuah sup yang perlahan mendidih dan menguap, tubuhnya diberikan kesempatan untukmengalami proses menyublim. Cara kerja butoh diserap oleh Kenta untuk mengondisikan kehadiran tubuhnya, merasakan perubahan yang terjadi secara beriringan antara bahan makanan dan tubuh, sekaligus melepaskan keduanya dari belenggu fisikalnya.
Tubuhnya membuka diri untuk mengalami perubahan yang terjadi pada bakal-makanan, mengecap dengan kulit dan seluruh inderanya. Pada saat pertunjukan berlangsung, Kenta tidak mengecap dengan lidah. Sepertinya, ia tidak sedang mencari sensasi yang dapat dicerap oleh indera perasa, seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Ia sedang mencari sensasi lain, pengalaman rasa yang memantik tubuhnya untuk menciptakan keputusan gerak. Tahapan ini berjalan sebagai proses tubuh dalam menangkap pengalaman rasa yang memantik keputusan atas gerak dan laku.
Pertunjukan “The Kitchen Under Skin” menghadirkan proses “menjadi” yang terjadi beriringan pada saat memasak: tubuh dan masakan. Memasak tidak lagi tentang memenuhi hasrat konsumsi, melainkan sebagai peristiwa perubahan. Pertunjukan menciptakan pengalaman di-antara yang dihasilkan dari momen-momen peralihan yang dipertunjukkan secara utuh.
Rangkaian momen di dalam pertunjukan Kenta dapat ditarik pada satu kenyataan pahit; ketidaktahuan yang membentang jarak antara tubuh modern dan makanan yang kita masukkan ke dalamnya. Dari mana asal bahannya? Bagaimana kondisinya selama perjalanan? Seperti apa proses membuatnya? Apa saja yang dimasukkan bersamanya? Bagaimana ia disimpan dan diantarkan sebelum tersendok dan masuk ke dalam rongga mulut kita, sampai akhirnya dikunyah dan ditelan sampai ke dalam perut kita?
Dulu, semua pertanyaan ini bahkan tidak terpikirkan oleh saya karena waktu habis dimakan jarak antara rumah dan tempat saya bekerja, yang menghabiskan waktu dua jam perjalanan. Ruang hening pada pertunjukan Kenta memberikan kesempatan bagi kita untuk menyimak sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh bunyi bising kendaraan. Kenta merangkai resep yang menghidupkan tubuhnya untuk menciptakan pengalaman sebagai jawaban atas ketidaktahuan itu. Pertunjukan ini menyajikan sepotong tahu, yang kini kita tahu sepotong sejarahnya.

Resep Koreografi
Pertunjukan mewujudkan “Resep Koreografi” sebagai sebuah skor gerak dalam bentuk panduan memasak. Resep tidak disampaikan dalam bahasa yang matematis, dengan melibatkan sendok makan dan sendok teh sebagai ukuran. Sebaliknya, resep itu ia susun menjadi sebuah dunia yang puitik. Resep yang ia buat menyertakan panduan pragmatis, dikelilingi oleh gambaran-gambaran puitik yang memantik ingatan inderawi. Pendekatan ini menghidupkan fungsi tubuh sebagai wadah ingatan, memanggil kembali ingatan tersebut sebagai pemantik rasa yang menggerakkan tubuh.
Waktu tidak dihadirkan sebagai bilik-bilik durasi. Ia dibentang sebagai ruang yang memberikan tubuh Kenta kesempatan untuk menerima dan mengingat, kemudian mengalirkan ingatan tersebut sebagai daya yang direspons oleh saraf yang memantik tubuh untuk bergerak. Dari proses itu, waktu masih dibentangkan lebih panjang, agar dapat memberikan momen bagi Kenta untuk menyadari setiap keputusan tubuhnya, serta konsekuensi dari keputusan tersebut. Pada proses ini, resep tidak menjadi kitab suci yang perlu dipatuhi tanpa jeda untuk tafsir, ia menjadi butoh-fu yang memantik tubuh Kenta untuk menemukan sendiri maknanya melalui pengalaman gerak.
Pada pertunjukan “The Kitchen Under Skin”, saya melihat upaya Kenta untuk memperhatikan sesuatu di luar dirinya. Ia tidak sedang menguasai panggung, tetapi meletakkan tubuh untuk dipengaruhi oleh lembutnya tahu-telur dan kuah miso yang mendidih, serta panas nasi yang baru matang di telapak tangannya. Ia tidak hadir lebih tinggi dari tahu-telur dan nasi kepal itu, justru dengan kesadaran bahwa keberadaannya saling-silang dengan semua material yang meng-ada bersama dengan dirinya.
Kenta menghadapi ketidaktahuannya bersama dengan penonton. Perhatian tubuh Kenta pada tahu itu, membuat penonton perlu mengalihkan perhatiannya dari diri sendiri kepada tahu itu pula. Penonton tidak dapat berpegangan pada anggapan narsistik bahwa pertunjukan ini akan menghibur dirinya, karena keberadaan Kenta di atas panggung juga tidak dibangun dari anggapan narsistik bahwa penonton datang untuk terhibur oleh pertunjukannya.
Hening mewujud dari proses Kenta menghadapi ketidaktahuannya sendiri, karena ketidaktahuan itu membuka kesempatan untuk mengalami proses. Pengalaman ini rasanya semakin jarang saya temukan di pertunjukan kontemporer saat ini. Sering kali tubuh hadir sebagai entitas yang “sudah tahu” dan penuh kepercayaan diri. Namun, tak jarang kepercayaan diri yang tampak itu sejatinya hanyalah cangkang yang menutupi kenyataan bahwa di dalam dirinya hampa, karena sebetulnya tubuh tidak mengetahui alasan yang mendorongnya untuk bergerak. Kepercayaan diri juga sering kali begitu terang untuk menutupi kehampaan di dalam diri penonton yang menyaksikan. Saya menikmati “The Kitchen Under Skin” yang dengan berani membuka ruang terbuka terhadap keraguan, kelambatan, dan ketidaktahuan.
Terlepas dari berbagai kekurangan pada sisi artistik dan eksekusi yang terjadi di karya “The Kitchen Under Skin”, saya memaknainya sebagai tawaran untuk mempertanyakan kembali keberadaan tubuh-tubuh yang menghadapi putaran roda industri (seni pertunjukan), yang sering kali dipaksa untuk memiliki permukaan yang solid, keras, dan bakoh, agar tidak hancur tergilas kemajuan. Tubuh yang harus tampak meyakinkan, terus-menerus menarik perhatian dan menjaga citra yang diproyeksikan ke luar, sehingga tubuhnya kehilangan ruang untuk pertanyaan dan untuk kesempatan mengalami dirinya sendiri. Kita dapat merenungkan kembali, mengapa gerak tidak lagi menjadi proses menemukan, melainkan pembuktian bahwa dirinya telah “sampai” dan tampil sebagai produk “siap saji”? Saya kira renungan ini baik untuk menyadari hubungan manusia saat ini dengan kecemasan modern: kecemasan untuk dianggap kurang dan tertinggal.
Pertunjukan tidak menjadi transaksi kepuasan, melainkan peristiwa yang membuka kesadaran atas jauhnya manusia modern dengan proses-proses yang menopang keberadaannya. Tersambungnya gestur dan tahap yang hadir dengan perlahan di dalam karya ini menyiratkan keterputusan manusia modern dengan banyak hal; dengan dapur, dengan keluarga, bahkan dengan tubuhnya sendiri, yang terputus karena dianggap beban, yang memperlambat dirinya menuju yang termutakhir.
“The Kitchen Under Skin” menawarkan dapur sebagai ruang untuk memulihkan hubungan tubuh dengan dunia. Sebab, mungkin yang hilang dari kehidupan kita hari ini bukan hanya kemampuan memasak, melainkan kemampuan untuk berada di dalam sebuah proses, tanpa tergesa-gesa menghasilkan citra yang siap saji, yang siap untuk dikonsumsi.
—
*Razan Wirjosandjojo adalah seorang seniman yang berbasis di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta. Razan mulai menekuni praktik tari sejak tahun 2010, belajar di berbagai ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Sejak pindah ke Solo, ia melanjutkan pengembangan artistiknya melalui bimbingan berkelanjutan bersama Melati Suryodarmo yang dimulai pada tahun 2018. Praktik karyanya memandang tubuh sebagai situs fisik sekaligus temporal, tempat gerak menjadi percakapan antara organ dan jiwa, kehadiran dan kelenyapan. Konsep rasa memegang peran penting dalam karyanya sebagai sistem pencerapan yang terhubung dengan ingatan tersembunyi dan pengetahuan intuitif. Dengan bekerja lintas wahana: tari, seni performans, film, dan fotografi, ia menelusuri kembali sejarah untuk mencari keragaman pengalaman rasa dan sensasi yang kerap terabaikan oleh budaya arus utama saat ini.
Karya-karya performance-nya antara lain Fajar di Ufuk Barat, dipresentasikan dalam On Stage oleh Studio Plesungan, Surakarta (2021) dan Bali Performing Arts Meeting, Bali (2023); Soft Square, dipresentasikan dalam Asiatopia, Bangkok (2024); Undisclosed Territory #14, Studio Plesungan, Karanganyar (2024); March Dance, Chennai (2025); serta Bali Performing Arts Meeting, Bali (2025). Karya filmnya meliputi Harga Mahal Yang Dibayar Murah, dipresentasikan dalam Indonesia Bertutur, Borobudur (2022); Mini Film Festival, Kuala Lumpur (2023); Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival (2023); serta Alcine Film Festival, Madrid (2023). Saat ini ia aktif bekerja sebagai staf di Studio Plesungan.




