Wayang Kulit Gedog di Malam Suro Keraton Yogyakarta, Sebuah Amatan
Oleh: Abimanyu Putra Pratama*
Selasa malam (16/6/2026), tepat pukul 19.25 WIB, suasana lorong di sebelah timur Sasana Hinggil Dwi Abad menuju Kagungan Dalem Kamandungan Kidul, Karaton Yogyakarta, tampak lengang. Hembusan angin malam yang membawa aroma harum melati dan dupa menghantar langkah para pengunjung memasuki regol menuju ruang lapang dengan bangunan joglo di tengahnya. Tepat pada malam itu, Karaton Yogyakarta memperingati tahun baru 1 Sura tahun Be 1960. Beberapa acara simbolik diadakan sebagai wujud rasa syukur atas peringatan tahun baru Jawa tersebut, di antaranya adalah pertunjukan Wayang Kulit Gedog yang kemudian dilanjutkan dengan ritual lampah ratri.

Gambar 1. Suasana jam 19.27 Pagelaran Wayang Kulit Gedog di Kamandungan Kidul, Karaton Yogyakarta Hadiningrat, Sumber Pribadi, diambil pada pukul 19.27. Selasa ,16 Juni 2026
Menurut penuturan seorang MC abdi dalem bernama MB. Cermo Diwara yang membuka acara pada malam hari itu mengatakan “1 Sura tidak hanya dipandang sebagai pergantian tanggal, namun secara simbolik digunakan sebagai waktu untuk merenung, introspeksi diri, serta memperkuat nilai-nilai spiritual dan budaya. Salah satu kegiatan untuk memperingati malam satu Sura, Karaton Yogyakarta mengadakan pagelaran Wayang Kulit Gedog, audiens diajak untuk meresapi ajaran-ajaran luhur yang terkandung dalam tuntunan kehidupan sekaligus acara ini menjadi bentuk pelestarian warisan budaya bangsa. Peringatan tersebut tidak hanya berhenti ketika acara pagelaran wayang selesai, namun akan dilanjutkan dengan tirakat tengah malam dengan cara lampah ratri atau langkah mubeng beteng dalam kondisi diam atau mbisu”.
Konsep Pakeliran dan Filosofi Lampahan Jaya Berdangga
Pagelaran Wayang Kulit Gedog mengacu konsep pakeliran ringkas, yang dibawakan seorang Dhalang bernama MB. Cermo Wignyoutomo. Pada Pagelaran Wayang Kulit Gedog ini, audiens diajak untuk mencari makna kehidupan, begitu pula dengan saat diadakannya lampah ratri tuturnya. Rute yang akan dilewati ketika melakukan lampah mbisu yaitu diawali dari Kagungan Dalem Kamandungan Kidul menuju kearah utara, yaitu Kamandungan lor, lalu terus ke utara melewati Regol Gedung Melati dan Plataran Kagungan Dalem Bangsal Magangan, lalu menuju arah timur melewati Jalan Magangan Wetan, lalu ke utara melewati Jalan Kasatrian, sampai pertigaan Kemibumen ke arah barat sampai Plataran Kamandungan Lor atau Bangsal Pancaniti. Pagelaran Wayang Kulit Gedong mengusung lakon “Lampahan Jaya Berdangga”, lakon ini dipilih karena kompleks dan kontekstual, seperti mengajarkan perjuangan hidup, kesetiaan terhadap pasangan, mengedukasi masyarakat mengenai proses produksi Gamelan, menghadirkan dan mengingat kembali konsep kesuburan tanah Jawa yang ada di Lakon Wayang Kulit Gedog yaitu tokoh Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji sebagai simbol lingga yoni, yang selaras dengan upaya Karaton Yogyakarta, yaitu Memayu Hayuning Bawana.
Mahakarya Lintas Zaman dan Restorasi Wayang Pusaka
Dalam pemaparan MB. Cermo Diwara, perangkat yang digunakan dalam Pagelaran Wayang Kulit Gedog tersebut, ia mengatakan bahwa Wayang yang digunakan dalam Lakon malam hari tersebut adalah sebagian besar Wayang Gedog yasan (Karya) ingkang sinuwun Hamengkubuwono V dan untuk melengkapi lakon tersebut, ditambahkan beberapa wayang krucil yasan ingkang sinuwun Hamengkubuwono VI, serta ada beberapa wayang Habiranda sepuh yang mayoritas adalah yasan ingkan sinuwun Hamengkubuwono VII, selain wayang juga perangkat gawang kelir naga yang digunakan adalah yasan ingkang sinuwun Hamengkubuwono VIII. Gangsa atau perangkat gamelan yang digunakan pada malam hari itu adalah Gangsa laras pelog “Kanjeng Kyai Harja Mulya” yasan ingkang sinuwun Hamengkubuwono VI

Gambar 2. Pagelaran Wayang Kulit Gedog di Kamandungan Kidul, Karaton Yogyakarta Hadiningrat, Sumber Youtube Kraton Jogja, diambil pada pukul 14.07. Rabu ,17 Juni 2026
MB. Cermo Diwara menyampaikan sinopsis tentang lakon “Lampahan Jaya Berdangga” yang akan di mainkan sebagai berikut, “Upaya penyamaran Raden Panji dalam syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung, yaitu mendapatkan “Sari Swara Rengganing Jagad” terus dilakukan. Tak lain semuanya demi masa depan, menyambung generasi penerus tahta Kerajaan Jenggala dan Kediri. Banyak godaan dan rintangan di Karaton Kediri karena ulah para senopati dari Negara Seberang, mulai dari Lampung, Siak, Bugis, Goa dan lainnya menghalangi upaya Raden Panji, hingga memberanikan diri meminang Dewi Sekartaji. Atas kegigihan Raden Panji dalam upaya penyamarannya, syarat permintaan tersebut dapat terpenuhi bersamaan lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Dewi Sekartaji.
Dalam satu kesempatan wawancara dengan salah satu abdi dalem Kawedanan Kridhamardawa, MW. Cermo Wiguno yang juga merupakan abdi dalem yang menangani perbaikan maupun pembuatan Wayang Kulit Karaton Yogyakarta mengatakan bahwa wayang Gedog yang digunakan dalam pentas tersebut telah melalui proses restorasi yang panjang, menurut penuturannya proses restorasi telah berjalan satu tahun sebelum pagelaran dilaksanakan, perbaikan yang dilakukan di antaranya menyopak atau menambal lagian yang terkelupas atau patah dengan kulit baru tanpa memberi warna yang baru, hal ini dikarenakan untuk mempertahankan keaslian pewarnaan dari dahulu kala. Ia menambahkan bahwa di beberapa bagian Wayang Kulit Gedog tersebut terdapat tulisan yang menandakan tahun pembuatan, ia memperkirakan tulisan tahun tersebut antara tahun 1800-an yang secara bertepatan dengan masa kekuasaan Hamengkubuwana V.

Gambar 3. Suasana Pagelaran Wayang Kulit Gedog di Kamandungan Kidul, Karaton Yogyakarta Hadiningrat, Sumber Pribadi, diambil pada pukul 22.49. Selasa ,16 Juni 2026
Tancap Kayon dan Refleksi Peralihan Zaman
Mendekati tengah malam, antusias warga lokal maupun mancanegara semakin tinggi, tidak sedikit orang berkulit putih, tinggi, dan berambut pirang di kawasan tersebut. Anak-anak, remaja, bahkan orang tua semakin banyak memasuki area Kamandungan Kidul untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit Gedog dan menantikan acara puncak yaitu Lampah Ratri. Pagelaran Wayang Kulit Gedog berakhir dengan tancap kayon di antara pukul 22.50.
Pengumuman dari pengeras suara abdi dalem menandai akhir dari runtunan pagelaran estetis di atas panggung Kamandungan Kidul. Penonton perlahan beranjak, namun suasana kontemplasi yang dibangun sejak awal acara seolah tidak bergeser dari plataran joglo malam itu. Di bawah langit malam, transisi menuju 1 Sura tahun Be 1960, pagelaran Wayang Kulit Gedog ini telah sukses menunaikan tugasnya, bukan sekadar sebagai perayaan pergantian kalender, melainkan sebuah refleksi budaya yang khidmat, tempat di mana masa lalu yang adiluhung dan masa kini yang dinamis saling bernegosiasi dengan ruang dan waktu yang kontemporer.
*Abimanyu Putra Pratama, Mahasiswa Seni Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





