Estetika di balik “Tari Gandrung”

Oleh: Brusheila Devi Proboyasti*

Refleksi Kritis atas Pengalaman di Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota – Banyuwangi

Seni sebagai Pengalaman Hidup

Seni pertunjukan, terutama tari tradisional, kerap dipahami masyarakat sebagai sekadar tontonan yang indah dan menghibur. Namun, pemahaman semacam itu melupakan hakikat terdalam dari seni itu sendiri, yaitu sebagai pengalaman hidup yang utuh dan berdialog dengan konteks sosial, budaya, serta ekologis penciptanya. Sebagai mahasiswa seni, saya meyakini bahwa kritik seni tidak semata-mata menilai baik-buruknya karya, melainkan menggali makna, proses, serta relasi antara karya, pencipta, ruang, dan penikmatnya. Tulisan ini merupakan bentuk kritik seni yang reflektif atas pengalaman studi lapangan saya di dua tempat, yaitu di Jiwa Jawa Ijen Resort dan Taman Gandrung Terakota, Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana, saya menyaksikan bagaimana ruang, tubuh, dan budaya saling berpadu dan berinteraksi, kemudian melahirkan karya seni yang utuh, hidup, dan penuh makna. Dengan mengusung pendekatan kritik seni yang dialogis dan kontekstual, esai ini akan mengupas bagaimana “Tari Gandrung” perlu dibaca secara kritis sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik-praktik estetika modern yang cenderung memisahkan seni dari akar kemanusiaan dan alamnya.

Kritik atas Dualisme dalam Estetika Modern pada Tubuh dan Ruang

Salah satu kelemahan utama dalam wacana seni rupa dan pertunjukan arus utama adalah kecenderungan memisahkan tubuh dari ruang, serta memisahkan subjek penikmat dari objek seni. Estetika modern yang dipengaruhi pemikiran filsuf René Descartes (1596-1650) “Cartesian” kerap memposisikan tubuh sebagai objek pasif dan ruang sebagai wadah kosong yang netral. Kritik atas pandangan ini menjadi titik tolak penting dalam esai ini. Begitu tiba di Jiwa Jawa Ijen, saya langsung merasakan suasana alamnya yang sejuk dan terbuka. Lingkungan asri yang dipadukan karya-karya seni di sekitar membuat saya semakin penasaran. Di tempat inilah saya mulai bereksplorasi dengan gerakan menggunakan pendekatan embodiment. Pendekatan ini memandang tubuh sebagai alat utama untuk merasakan dan menanggapi lingkungan sekitar. Hal ini dapat memberi pelajaran kepada kita bahwa tubuh tidak hanya bergerak, ia juga “berbicara” dan merespon ruang, suara, bahkan perasaan yang muncul dari alam dan budaya setempat.

Keheningan alam pegunungan Ijen memberikan ruang kontemplasi yang nyaris sempurna. Berbeda halnya ketika rombongan tiba di Taman Gandrung Terakota. “Di taman ini, narasi budaya lokal Banyuwangi tercetak jelas pada ribuan patung terakota yang gemulai.” Di sini dapat kita saksikan bagaimana ekspresi tubuh para penari Gandrung yang terpatri dalam seni terakota mampu menyampaikan emosi dan cerita rakyat secara nonverbal. Interaksi antara tubuh saya sebagai pengamat, ruang taman yang terbuka, dan artefak budaya yang hadir memunculkan kesadaran estetik baru. Perlu kita sadari bahwa seni tidak hadir dalam kehampaan, tetapi lahir dari dialektika antara manusia, alam, dan tradisi yang terus bergerak dinamis.

Kritik atas dualisme tubuh-ruang ini diperkuat oleh pendapat para ahli yang saya kutip dalam pengamatan saya. Menurut Nuning Zaidah dalam jurnal  GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik (2019), “tubuh adalah media tak tergantikan untuk mengalami dan berinteraksi dengan dunia material, dunia sosial maupun dunia mental spiritual.” Pernyataan ini sejalan dengan gagasan bahwa tubuh adalah media utama untuk merasakan dan merespons lingkungan. Lebih lanjut, Bernadett Jobbágy dalam jurnal  Papers in Arts and Humanities (2024) menegaskan bahwa  “space is neither a ‘passive, three-dimensional container’ nor a ‘backdrop for something more dynamic.’ Space is a process, and so is the body.” Dengan kata lain, ruang dan tubuh saling membentuk secara dinamis dalam pengalaman estetis, bukan sekadar wadah pasif yang ditempati tubuh. Di ruang terbuka Jiwa Jawa Ijen, dapat dirasakan kebenaran dari pernyataan-pernyataan ini, tubuh bukan sekadar “bergerak”, ia “menjadi satu” dengan hembusan angin dan tekstur tanah di bawah telapak kaki.

Dari sudut kritik seni, pengalaman ini menolak pandangan bahwa apresiasi seni cukup dilakukan di dalam ruang tertutup, steril, dan terlepas dari konteks alam. Keindahan “Tari Gandrung” tidak dapat dipahami secara utuh jika dipisahkan dari hembusan angin Ijen, tekstur tanah sawah, dan kelembapan udara Banyuwangi. Di sini, kritik saya menegaskan bahwa setiap upaya melestarikan Tari Gandrung harus mempertahankan keterkaitannya dengan ruang ekologis aslinya, bukan sekadar mengemasnya menjadi pertunjukan panggung yang praktis namun hampa makna.

Patung Gandrung sebagai Dialog Antargenerasi

Perjalanan studi dilanjutkan menuju “Taman Gandrung Terakota”. Ratusan patung penari Gandrung yang tersebar dan tertata rapi di area terbuka, di sebuah persawahan, menghadirkan tontonan visual yang mengesankan sekaligus mengugah emosi. Dalam pandangan saya, kumpulan patung tersebut bukanlah sekadar elemen dekoratif, tetapi merupakan simbol ingatan kolektif serta identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang patut untuk dijaga. Pada tahap ini, kegiatan saya beralih menjadi pengamatan dan pemaknaan. Saya meneliti setiap detail bentuk tubuh patung, mulai dari kelenturan posisi tangan, ketajaman arah pandangan mata, hingga kesan dinamis dari sikap tubuh yang terpatri dalam keheningan. Setelah itu, saya berusaha mentransformasikan apa yang saya lihat secara visual ke dalam ekspresi gerak tubuh saya pribadi. Proses penerjemahan visual menjadi gerak ini terasa seperti dialog diam antara saya sebagai pengamat dan patung sebagai medium budaya yang hidup.

Foto: Penulis di depanPatung Seribu Gandrung Terakota Sumber: Dokumentasi penulis.

Dalam teori interpretasi seni, Hans-Georg Gadamer (1960) dalam Truth and Method berpendapat bahwa memahami sebuah karya seni adalah proses dialog yang terus berlangsung. Makna tersebut lahir dari pertemuan antara karya tersebut dengan pengalaman dan latar belakang pengamatnya. Perspektif ini diperbaharui oleh pemikiran kontemporer yang menegaskan bahwa interpretasi itu sendiri adalah tindakan kreatif yang setiap saat memperbaharui keberadaan karya seni. Senada dengan gagasan tersebut, Anthony Wall dalam jurnal  Bakhtiniana (2016) mengembangkan konsep dialogic curiosity dan menunjukkan bahwa makna yang direpresentasikan dalam karya seni tidak akan pernah lengkap jika berbagai sudut pandang semiotik tidak dipertimbangkan, seperti sudut pandang tokoh dalam karya maupun sudut pandang pengamat itu sendiri. Wall menegaskan bahwa prinsip dialogisme tidak terbatas pada bahasa verbal, melainkan juga berlaku dalam pengalaman estetis visual.

Dari sudut pandang seorang kritikus tari Indonesia, Sal Murgiyanto (2017) dalam Kritik Pertunjukan dan Pengalaman Keindahan mengingatkan bahwa pengalaman estetis tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan “lahir dari dialog antara tubuh penari, ruang pertunjukan, dan ingatan budaya penontonnya.” Pandangan ini dapat kita rasakan ketika bergerak di antara patung-patung Gandrung. Saya bukan sekadar “melihat” patung, tetapi “berdialog” dengan mereka; tubuh saya merespons posisi tangan yang anggun, arah pandangan yang tajam, hingga dinamika sikap tubuh yang tertangkap dalam diam. Pendekatan yang saya gunakan bukan sekadar meniru, tetapi bagaimana menangkap esensi dan jiwa dari gerakan tersebut, lalu mengolahnya menjadi ekspresi yang personal dan kontekstual. Bergerak di antara patung-patung tersebut memberikan sensasi yang unik. Diantara patung-patung ini membuat kita seolah-olah sedang berdansa bersama para pendahulu, melestarikan gerakan yang sama namun dengan napas yang baru. Ruang di sini tidak lagi menjadi latar belakang biasa, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman artistik itu sendiri.

Di sini saya mengkritisi bahwa karya seni tradisional, termasuk patung-patung penari Gandrung, tidak boleh diperlakukan sebagai artefak museum yang beku. Ia harus terus dihidupkan melalui dialog dengan generasi baru.

Apa yang membuat Taman Gandrung Terakota begitu berkesan? Santosa Hendra (2025) dalam  Monumentalisme dalam Seni Pertunjukan Tradisional di Indonesia memberikan jawaban yang tajam: “monumentalitas sebuah tarian tidak diukur dari skala panggungnya, tetapi dari kemampuannya untuk terus berdialog dengan generasi baru”. Patung-patung Gandrung yang membisu itu jsebenarnya “berbicara” dengan sangat keras kepada saya. Mereka tidak sekadar menjadi monumen mati, tetapi menjadi undangan untuk terus menari, terus mengingat, dan terus melestarikan dengan cara yang baru.

 

Foto: Detil patung penari Gandrung Terakota Sumber: Dokumentasi penulis.

Foto: Penulis latihan menari bersama penari Gandrung Sumber: Dokumentasi penulis.

Foto: Penulis latihan menari bersama penari Gandrung Sumber: Dokumentasi penulis.

Tentang “Tari Gandrung” Banyuwangi

Sebagai bagian dari kritik seni yang bertanggung jawab, saya tidak bisa hanya memuji keindahan Tari Gandrung tanpa melihat tantangan yang dihadapinya di era kontemporer. Program dari salah satu kegiatan ini, di Jiwa Jawa Ijen yaitu mempelajari tentang “Tari Gandrung”, adalah salah satu program yang akan saya kulik sebagai seorang penari sekaligus sebagai mahasiswa Pascasarjana yang sedang mempelajari lebih dalam tentang “Seni Tari”. Dari penjelasan Bapak Dr. Cand Sigit Pramono, S.E., M.B.A selaku inisiator dan penggagas Taman Gandrung Terakota, dapat saya rangkum bahwa Tari Gandrung Banyuwangi bukanlah sekadar tontonan yang menghibur. Di balik gemulai gerak dan irama kendang yang khas, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan rasa syukur. Kata “Gandrung” sendiri berarti “tergila-gila” atau “jatuh cinta”, yaitu bukan hanya cinta antarmanusia, melainkan cinta kepada Sang Pencipta, alam, dan kehidupan itu sendiri.

Secara filosofis, Tari Gandrung lahir dari ritual sakral masyarakat Osing sebagai ungkapan syukur pasca-panen tembakau. Gerakannya yang dinamis dan ritmis merepresentasikan siklus alam, yaitu tanam, tumbuh, panen, dan kebahagiaan setelah jerih payah. Setiap elemen dalam tarian ini sarat makna. Kain batik atau dodot yang dikenakan penari melambangkan kelembutan dan martabat perempuan Jawa. Yang paling ikonik di sini adalah selendang atau sampur. Ketika penari melemparkan selendang kepada penonton laki-laki (pemaju), itu bukan sekadar ajakan menari. Selendang melambangkan jalinan kasih sayang yang menyatukan manusia dengan alam dan sesama, sekaligus simbol koneksi spiritual. Gerakan ngibing atau menari bersama menjadi bentuk egalitarianisme: di hadapan Tuhan dan kebahagiaan, semua manusia setara. Makna lain yang tak kalah penting adalah filosofi lungguh (cara berdiri) penari yang tegak namun lentur. Ini melambangkan prinsip hidup masyarakat Using: kuat dalam pendirian namun selalu beradaptasi dengan perubahan zaman. Tari Gandrung mengajarkan bahwa jatuh cinta pada kehidupan berarti mampu bersyukur dalam sukacita dan tetap tegar dalam kesedihan.

Kini, di tengah arus pariwisasi (touristification) dan kapitalisme budaya, Tari Gandrung menghadapi risiko besar yaitu reduksi menjadi sekadar “tontonan instan” bagi wisatawan. Gerakan yang dulu sarat doa dan syukur, dapat berubah menjadi gerakan yang dipercepat, disederhanakan, atau bahkan disensualisasi demi memenuhi selera pasar. Kritik saya adalah bahwa tanpa kesadaran kritis dari para pelaku seni dan pengelola wisata, Tari Gandrung akan kehilangan esensi spiritualnya. Keunikan Tari Gandrung Banyuwangi menjadikannya salah satu warisan budaya yang istimewa. Namun, kekhususan itu sebenarnya malah rawan untuk dikomodifikasi. Gerak yang memancarkan kelembutan, sikap ramah, dan rasa gembira dapat dengan mudah ditiru dan dipotong-potong menjadi tayangan media sosial yang dangkal. Iringan tari yang berasal dari musik khas Banyuwangi dengan gamelan Using dan biola, bisa saja direduksi menjadi rekaman digital yang terlepas dari konteks sakralnya. Dinamika musiknya yang beragam lambat dan halus, cepat dan menghentak dapat kehilangan fungsi spiritualnya jika hanya diputar sebagai latar belakang ruang tunggu hotel.

Foto: Contoh 3 Penari Gandrung dengan kostumnya Sumber: Dokumentasi penulis.

Foto: Penari Gandrung menampilkan gerakan-gerakan “Tari Gandrung” di sebuah amphiteater terbuka. Sumber: Dokumentasi penulis.

Foto: Penari Gandrung menampilkan gerakan-gerakan “Tari Gandrung” di sebuah amphiteater terbuka. Sumber: Dokumentasi penulis.

Kritik seni yang saya tawarkan di sini adalah perlunya “pembacaan ulang” terhadap Tari Gandrung sebagai praktik budaya yang utuh, bukan sebagai komoditas. Para penari, koreografer, dan pengelola wisata harus kembali pada filosofi lungguh, tegak dalam pendirian namun lentur dalam adaptasi. Mereka boleh berinovasi dalam penyajian, tetapi tidak boleh menghilangkan inti sakral dan ekologis dari tarian ini.

Seni sebagai Perjumpaan yang Membebaskan

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini, pada tahap kesimpulan bahwa pembelajaran seni yang hakiki terjadi ketika tubuh dan pikiran berfungsi secara simultan. Pendekatan  somatic learning  (pembelajaran berbasis kesadaran tubuh) serta konteks spesifik lokasi (site-responsiveness) membuka wawasan saya bahwa kreativitas tidak terkurung dalam ruang studio. Ia dapat menjelma di mana pun, selama kita memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Seperti yang diungkapkan oleh John Dewey, “Art is an experience”: seni bukan sekadar objek, melainkan pengalaman yang hidup. Kunjungan ini menjadi pengalaman yang amat berharga, yang memperteguh keyakinan bahwa seni tidak pernah berada dalam ruang hampa. Ia senantiasa berdialog dengan konteks ekologis, jejak sejarah, serta sistem nilai yang melingkupinya. Hal ini sejalan dengan pandangan Maxine Greene (2001) tentang aesthetic education, bahwa pengalaman estetis sejati adalah “momen ketika seseorang secara sadar membuka dirinya terhadap dunia, dan dunia merespons melalui imajinasi dan persepsi.” Selama dua hari di Banyuwangi, menjadikan sebuah perjumpaan yang melibatkan seluruh indra dan kesadaran. Pemahaman inilah yang akan menjadi modal penting dalam perjalanan saya untuk terus bertumbuh sebagai seorang seniman ke depan.

Foto: Kunjungan penulis bersama teman-teman Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta didampingi dosen pembimbing Bapak Sigit dan ibu Yohana beserta para Crew

Dalam kritik ini, saya berkesimpulan bahwa “Tari Gandrung” bukan sekadar tarian, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang hidup tentang relasi harmonis antara manusia, alam, dan Yang Ilahi. Kekuatan kritik seni tidak terletak pada kemampuannya untuk menghakimi, melainkan pada kemampuannya untuk membuka mata kita bahwa di balik setiap gerak tari, terdapat dunia yang terus berdialog dengan kita. Dan tugas kita sebagai generasi baru adalah memastikan dialog itu tidak pernah berhenti.

 

*Brusheila Devi Proboyasti – Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta