Horor Mei Taman Suropati
Oleh Agus Dermawan T*
Pada Mei 1998 silam Taman Suropati di Jakarta Pusat, menjelma jadi lapangan horor sosial-politik menyeramkan. Mari mengingat sejarah kecil taman artistik yang berusia seabad lebih ini.
———–
TAMAN Suropati, yang bersentuhan dengan Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, adalah taman legendaris di Jakarta.
Alkisah taman ini dibangun oleh F.J.Kubatz dan F.J.L.Gijshels. Mereka diarahkan oleh P.A.J. Moojen, arsitek yang mendirikan gedung Bataviasche Kunsktring, gedung pameran seni rupa Hindia Belanda, yang kini jadi Resto Kunstkring Paleis. Bataviasche Kunstkring letaknya tak jauh dari taman itu. Mereka bertiga bekerja atas instruksi burgemeester (walikota) Batavia, G.J.Bisschop, yang memimpin kota pada 1916-1920. Sehingga taman seluas 16.328 meterpersegi ini lantas diberi nama Bisschopplein.
Taman ini diyakini mulai dibuka tahun 1919. Pada 1950, ketika Indonesia lepas seluruhnya dari kekuasaan Belanda, nama Bisschopplein dinasionalisasi menjadi Taman Suropati. Satu nama yang merujuk kepada Untung Suropati (1660-1706), seorang budak yang jadi panglima perang gagah perwira kala melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Pintu masuk Taman Suropati di Jakarta Pusat. Taman legendaris yang didirikan lebih seabad lalu. (Foto: Agus Dermawan T)

Bisschopplein atau Taman Bisschop tahun 1937. Asal mula dari Taman Suropati, Jakarta Pusat. (Foto: Dokumen).
Selama puluhan tahun Taman Suropati eksistensial sebagai ruang hijau di pusat kota Jakarta. Posisinya yang berada di kawasan elit Menteng, menjadikan Taman Suropati sebagai wilayah yang paling diperhatikan kesuburan dan estetisme kebunnya. Hampir seratus jenis pohon yang dulu ditanam oleh Bisschop tampak selalu dipelihara. Sehingga pohon mahoni (swietania mahagoni), sawo kecik (chrisophillium spa), ketapang (terminalia cattapa) sampai pohon tanjung (mimmushop elengi) tetap menjadi bagian yang memperkaya pandangan.
Unik, pada tahun 1970 sampai awal 1980-an di sekitar taman ada pedagang yang rutin menjual lukisan girlan (pinggir jalan) atau lukisan komersial. Lukisan-lukisan produksi Bandung dan Tasikmalaya itu digantung berjajaran di trotoar taman. Para pedagang lukisan itu datang pada pagi hari dengan pikulan atau mobil pikap. Dan pulang pada sore hari, sebelum matahari tenggelam. Konon pameran seni lukis di trotoar ini meneruskan jalan perdagangan seni jelata di Hindia Belanda, yang sudah ada sejak sebelum Jepang menjajah Indonesia, 1942.
Keberadaan penjual lukisan kaki-lima ini diijinkan oleh pemerintah kota, karena dianggap sejalan dengan konsep Moojen. Meski kala itu pemameran dan pendagangan hanya dilakukan pada hari-hari tertentu saja. Sementara diketahui bahwa perdagangan lukisan girlan tidak hanya di Bisschopplein, tapi juga di kawasan Molenvliet (kini Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada, di kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran) serta Passer Baroe (kini Pasar Baru).
“Ya, apabila kolektor kelas elit punya rumah seni lukis di gedung Batavasche Kunstkring, rakyat biasa punya taman seni di Taman Suropati,” kata Fauzi Bowo.
Apa yang dikatakan Gubernur DKI Jakarta 2007-2012 itu terbaca sampai jauh hari. Misal, pada beberapa tahun lalu saya bertandang ke rumah famili di Vught, s-Hertogenbosch, Belanda. Di rumahnya tergantung lukisan bertema gunung berlatar thee onderneming (perkebunan teh) yang mooi. Lukisan itu, katanya, hadiah dari teman yang membeli dari “pameran” di Bisschopplein.
Banyak cerita ihwal pelataran lukisan girlan ini. Di antaranya menyangkut lukisan Basoeki Abdullah. Kisahnya, dalam jajaran puluhan lukisan yang diperdagangkan pada tahun 1970-an, banyak yang menyontek sejumlah lukisan Basoeki Abdullah dalam buku Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Sukarno. Lukisan contekan ini termasuk laris manis.
“Tapi celaka, banyak dosen dan mahasiswa seni rupa yang bilang bahwa lukisan saya seperti lukisan Taman Suropati. Lho, kok sejarah jadi kuwalak-kuwalik? Taman Suropati sudah berdosa kepada saya,” kata Basoeki Abdullah sambil keras tertawa.
Naik martabat, lalu horor politik
Taman Suropati naik martabatnya pada akhir tahun 1984, ketika pemerintah Jakarta meletakkan patung-patung para seniman pilihan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Patung-patung yang didirikan oleh Perhimpunan Negara-negara ASEAN itu diberi tema : persahabatan dan kesatuan hati negara-negara ASEAN.
Di hamparan taman itu lantas berdiri patung monumen “Harmony” karya Awang Hj Latif Aspar dari Brunei Darussalam, “Rebirth” karya Luis E.Yee Jr dari Filipina, “Fraternity” karya Nonthivathn Chandhanaphalin dan Thailand, “Peace Harmony & One” karya Lee Kian Seng dari Malaysia, dan “The Spirit of Asean” ciptaan Wee Beng Chong dari Singapura. Indonesia diwakili oleh “Peace” karya Sunaryo, pematung dari Bandung, yang mengabstraksikan dua manusia sedang berpelukan.

Patung Sunaryo, “Peace”, dari Indonesia, berdiri di Taman Suropati yang dikenal sebagai ASEAN Sculpture Park, Jakarta. (Foto: Agus Dermawan T).
Banyak kebahagiaan yang tumbuh ketika orang berada di situ. Perjumpaan kehijauan dedauan dan semarak aneka bunga dengan patung-patung indah, menjadikan taman jadi tempat rekreasi budaya. Meski beberapa tahun menjelang 1990 taman ini kerap menjadi wilayah singgah para tunawisma, yang disusupi pencoleng dan penodong. Suatu hal yang menyebabkan terganggunya perasaan para pengunjung. Walau Taman Suropati – yang oleh sebagian kalangan disebut ASEAN Scupture Park – (kala itu) dianggap sebagai taman paling terperhatikan di Jakarta.
Namun, sejauh-jauh diapresiasi, taman ini pernah menjadi tempat yang mencekam bahkan menyeramkan. Dan itu terjadi pada 1998.
Syahdan Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Berkenaan dengan itu kediaman keluarga Presiden Soeharto yang terletak di Jalan Cendana diincar oleh masyarakat sebagai sasaran kemarahan. Untuk menghindari hal yang tak diduga, jalan-jalan di sekitar Jalan Cendana disterilisasi dan ketat dijaga. Maka sejumlah peleton aparat keamanan membuat kemah-kemah di Taman Suropati. Karena taman ini letaknya terhubung mudah dengan Jalan Cendana, dan tidak jauh dari Jalan Cendana.
Maka sejak awal Mei 1998 Taman Suropati sudah tidak lagi menyerupai taman patung. Tenda-tenda terpal coklat bertebaran di banyak sisi, dengan moncong-moncong senjata yang kadang mengintip di sela-selanya. Jajaran sepatu bot kadang terlihat di beberapa sudut. Sedangkan di trotoar berlalu-lalang lelaki tegap berbaju perang. Bedilnya mengancam dalam diam.

Aparat bersenjata mencegat pergerakan massa yang berdemonstrasi menuntut turunnya Presiden Soeharto. (Foto: Dokumen)
Alhasil, taman pun menjadi seperti markas darurat pasukan. Keindahannya pun runtuh ketika horor sosial politik menyentuh. Patung-patung yang ada di situ mendadak bagai onggokan barang rongsok. Turunnya derajat taman ini berlangsung selama berbulan-bulan, meski Soeharto telah menyatakan diri lengser sebagai presiden pada 21 Mei 1998, dan digantikan oleh B.J.Habibie.
(Kondisi dan situasi taman sebagai markas aparat keamanan ini sangat jauh berbeda dengan ASEAN Scupture Park di negara tetangga, seperti di Fort Canning Park – Singapura; di distrik Nong Kai – Thailand; di Pesiaran Damuan – Brunei Darussalam; di Pesiaran Sultan Salahhudin Kuala Lumpur – Malaysia. Di negara-negara ini ASEAN Sculpture Park dilindungi sebagai wilayah luhur, dihormati seperti sebuah museum.)
Kini anggota ASEAN sudah bertambah dengan masuknya Laos, Myanmar, Vietnam, Kamboja. Karena itu alangkah menarik apabila Panitia Taman Patung ASEAN mulai mengajak para pematung negara- negara tersebut untuk berpartisipasi. Meski Taman ASEAN di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan, telah mengisyaratkan itu. Di taman asri ini terdapat patung besar yang berbentuk 10 pilar, melambangkan 10 negara anggota ASEAN, sebelum Timor Leste akhirnya bergabung sebagai anggota ke-11, pada Oktober 2025.
Kembali jadi taman seni
Pada beberapa waktu lalu saya kembali berkunjung ke Taman Suropati. Kesuburan dan keteduhan taman masih terpelihara. Namun desain taman yang kurang terpola, menyebabkan sebagian taman luas itu terasa ruwet. Kurang estetis dan seperti area kebun belaka. Selebihnya, kelihatan sekali patung-patung dari batu, logam dan kayu itu kurang diurus. Sementara posisi patung yang berdiri tanpa fondasi, terasa terdesak oleh materi taman yang semakin bertambah. Bahkan pada suatu waktu ada patung monumen bersaing rupa dengan bakupon (rumah burung merpati) yang kumuh.

Kelompok musik Taman Suropati Chamber sedang berlatih di Taman Suropati, Jakarta, pada Minggu siang. (Foto: Dokumen)

Patung monumen “Pangeran Diponegoro” karya Moenir Pamoentjak, persembahan Ir. Ciputra untuk Jakarta, mengantar masyarakat memasuki Taman Suropati. (Foto: Agus Dermawan T.)
Komunitas musik orkestra yang didirikan Ages Dwiharso atau Ages Biola ini menjadikan Taman Suropati menjadi riang berbunyi.
Eksistensi Taman Suropati semakin ditegaskan dengan munculnya patung monumen “Pangeran Diponegoro”, yang posisinya di seberang taman, di persimpangan jalan Diponegoro dan Imam Bonjol. Patung perunggu karya Moenir Pamoentjak itu diinspirasi oleh lukisan Hendra Gunawan (1918-1983) yang belum selesai, “Pangeran Diponegoro Terluka”. Patung atraktif ini persembahan kolektor dan pengusaha properti Ir. Ciputra kepada Kota Jakarta.
Pada saat peresmian patung pada 6 Desember 2005, Ir. Ciputra berkata kepada Gubernur Sutiyoso. “Selain untuk mengenang kepahlawanan Diponegoro, patung monumen ini untuk mengantar masyarakat menuju untuk masuk ke Taman Suropati, ASEAN Sculpture Park.”
Agar menarik perhatian, Taman Suropati memang harus terus bersolek dan menaikkan levelnya. Pasalnya di Jakarta kini banyak taman yang sudah hadir sebagai ruang publik memikat. Taman Langsat di Jakarta Selatan, misalnya.

Patung monumen “Fatmawati Menjahit Bendera Pusaka” karya Teguh Ostenrik, di Taman Langsat, Jakarta Selatan. (Foto: Teguh Ostenrik).
Taman molek ini bahkan sudah diintegrasikan dengan Taman Bendera Pusaka, yang sejak Maret 2026 lalu memajang patung karya perupa ternama Teguh Ostenrik, alumnus Hochschule der Kuenste, Berlin, Jerman. Patung indah itu menggambarkan Fatmawati Soekarno sedang menjahit bendera pusaka. Dengan diimbuh air mancar dan pencahayaan lampu estetik, patung logam tersebut seolah bicara ihwal sejarah yang tak boleh dilupa. ***
*Agus Dermawan T – Kritikus. Penulis buku-buku budaya dan seni.




