Kisah Sanggar Dapur Pangbarep

Oleh Jasmine Nurul Asyifa*

Tari bukan hanya soal gerakan yang indah dipandang. Di balik setiap langkah, ada cerita, ada napas, ada perjuangan, dan ada jejak kehidupan. Bagi sebagian orang, tari mungkin hanya hiburan. Namun bagi mereka yang hidup di dalamnya, tari adalah cara untuk memahami diri, budaya, dan dunia. Dari ruang sederhana bernama Dapur Pangbarep di Bandung, lahirlah sebuah karya yang bukan sekadar pertunjukan, tetapi menjadi cara hidup: Barepan.

Perjalanan ini dimulai pada tahun 2016, pasangan seniman Idha Rosmiati atau yang akrab dikenal sebagai Idha Jipo bersama Mpey Ferdy mendirikan Sanggar Tari Dapur Pangbarep. Tempat ini bukan hanya ruang latihan tari, tetapi juga rumah kreatif bagi anak-anak muda untuk belajar seni sekaligus belajar kehidupan. Di sana, mereka tidak hanya diajarkan bagaimana menari dengan baik, tetapi juga bagaimana memiliki rasa hormat, disiplin, tanggung jawab, dan cinta terhadap budaya sendiri. Dari dapur kreatif inilah lahir karya fenomenal berjudul Barepan. Karya ini kemudian menjadi dasar pendidikan dan pelatihan di Dapur Pangbarep. Barepan bukan sekadar tari, tetapi simbol perjuangan, kelenturan, dan kekuatan perempuan dalam menghadapi kehidupan. Gerak-geraknya menggambarkan keseimbangan antara kelembutan dan keteguhan, antara tradisi dan pembaruan.

Barepan sendiri bukan hanya nama sebuah karya tari, tetapi juga refleksi perjalanan panjang pemikiran Idha Jipo sebagai pendidik, seniman, dan perempuan yang terus belajar memahami ruang geraknya sendiri. Kata Barepan berarti memulai. Namun di Dapur Pangbarep, makna ini jauh lebih dalam. Barepan adalah keberanian untuk membuka langkah baru, ruang untuk menemukan diri, dan proses untuk terus bertumbuh. Setiap gerakan kecil dalam Barepan dipahami sebagai dialog antara tubuh dan jiwa, antara pengalaman dan ekspresi, antara tradisi dan kebaruan. Sementara itu, kata Pangbarep dimaknai sebagai bentang panggung, tempat yang paling menonjol, paling terlihat, dan paling memberi pengaruh. Dalam bahasa Sunda, maknanya juga merujuk pada sesuatu yang terbaik, paling terampil, dan paling memberi teladan.

Filosofi inilah yang menjadi dasar Dapur Pangbarep. Di sana, setiap latihan dipahami sebagai proses memulai kembali. Tidak ada gerak yang benar-benar selesai. Selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki, dan menemukan makna baru. Dalam karya Barepan, tubuh tidak bergerak hanya demi keindahan. Tubuh bergerak untuk mengingat, memahami, dan menyampaikan pengalaman hidup. Tentang perempuan, tentang desa, tentang seni yang tumbuh dari tanah sendiri. Dapur Pangbarep menjadi ruang hidup dan tempat bertemunya generasi, tempat bertukar pengalaman, dan tempat mengasah rasa kemanusiaan.

Logo sanggar tari dapur pangbarep. (koleksi. pribadi, 2026)

Melalui karya ini, Idha Jipo mengajak penonton untuk memahami arti memulai. Bahwa setiap awal adalah panggungnya masing-masing. Setiap langkah pertama adalah keberanian. Dan setiap ruang yang dibuka adalah bentuk pernyataan diri. Di situlah Barepan menemukan maknanya yang paling dalam. Harapan ke depannya, Dapur Pangbarep tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi menjadi laboratorium budaya tempat lahirnya generasi “Pangbarep sejati”, yaitu mereka yang berani memulai, berani menonjol bukan untuk bersaing, tetapi karena memiliki cahaya sendiri yang bisa menerangi sekitarnya.Dalam karya Barepan, ada lima gaya utama yang menjadi ciri khas Idha Jipo. Lima gaya ini bukan hanya teknik tari, tetapi juga mengandung filosofi tubuh dan kehidupan, Adapun lima gaya yang terdapat dalam barepan yaitu; 

  1. Nandur Gerakan ini terinspirasi dari postur petani saat menanam padi, dengan posisi tubuh menunduk dan menungging. Dalam Barepan, Nandur bukan hanya meniru aktivitas bertani, tetapi menjadi simbol menanam kehidupan. Posisi tubuh yang merendah menggambarkan kerendahan hati, kesabaran, dan kesiapan perempuan menjadi ruang tumbuh bagi generasi berikutnya. Gerakan ini juga melatih kekuatan kaki, panggul, dan punggung bawah sebagai fondasi tubuh.
  2. Kempot-Kembos. Gerakan ini berfokus pada pengaturan napas dan kelenturan panggul. Kempot-Kembos mengajarkan kesadaran terhadap pusat energi kewanitaan. Gerak ini melatih fleksibilitas, kekuatan, serta kontrol napas yang penting dalam kehidupan perempuan, termasuk dalam proses persalinan maupun keharmonisan hubungan dengan pasangan. Tubuh diajak berdialog dengan napas, menciptakan ritme yang lembut tetapi tetap kuat.
  3. Nunggir. Gerakan ini berpusat pada ujung tulang ekor sebagai poros keseimbangan tubuh. Nunggir membantu memperkuat hubungan antara kaki dan tulang belakang, sehingga tubuh bisa berdiri tegak, stabil, dan tetap anggun. Secara simbolis, gerakan ini menunjukkan bahwa kekuatan perempuan selalu dimulai dari akar yang kokoh fondasi yang kuat sebelum menjulang tinggi.
  4. Sentug Pinareup. Ini adalah gerakan hentakan halus pada bagian dada, baik depan maupun

belakang. Gerakan ini melatih kelenturan sekaligus kekuatan otot dada. Maknanya sangat dalam, karena dada bukan hanya pusat napas, tetapi juga ruang kasih, empati, dan cinta. Sentug Pinareup menghadirkan keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan.

  1. Galemot. Gerakan ini dilakukan dengan posisi tubuh merendah dalam rengkuh yang kuat, menciptakan titik keseimbangan rendah namun tetap lentur. Beban tubuh dipusatkan pada ujung jari kaki. Dalam tempo cepat yang disebut ngerecek, pinggul bergerak melalui hentakan-hentakan kecil yang rapat dan bertenaga. Gerakan ini menghasilkan getaran yang menjalar ke seluruh tubuh, seperti bara api yang terus hidup. Keunikan Galemot terletak pada kontrol napas perut. Saat kaki bergerak cepat dan kuat, tubuh bagian atas tetap harus tenang dan terkendali. Napas perut menjadi jangkar utama agar tubuh tidak kehilangan keseimbangan. 

Idha Jippo fot bersama dengan finalis 10 penari Mahi
(koleksi pribadi, 2026)

Semua filosofi dan kekuatan gerak ini kemudian dipresentasikan dalam Festival Barepan 2026 yang dibuka pada 19 April 2026. Festival ini melibatkan kurang lebih 200 penari drai berbagai sanggar dan menjadi ruang besar bagi regenerasi seni tradisi. Penutupannya berlangsung pada 25 April dengan 36 peserta ngabarep dari berbagai kota. Sebanyak 10 sanggar tari dari berbagai wilayah Jawa Barat seperti Karawang, Sumedang, Cirebon dan Indramayu turut tampil dalam festival ini. Tidak hanya pertunjukan, festival ini juga menghadirkan 5 narasumber dari berbagai bidang keahlian seni dalam sesi bincang karya. Di ruang ini, Barepan dibahas secara mendalam, bukan hanya sebagai tari, tetapi sebagai gagasan budaya dan cara hidup. Dari 36 peserta ngabarep, terpilih 10 penari mahi terbaik yang mendapat persetujuan langsung dari maestro bajidoran, Bah Namin. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa Barepan bukan hanya hidup di atas panggung, tetapi juga diakui sebagai bagian penting dari regenerasi seni tradisi Jawa Barat.

200 Penari barepan. (koleksi Jtwo, 2026)

Idha Jippo fot bersama dengan finalis 10 penari Mahi
(koleksi pribadi, 2026)

Foto penulis bersama Idha Jippo. (koleksi. pribadi, 2026)

Pada akhirnya, Barepan mengajarkan bahwa hidup adalah proses memulai yang tidak pernah selesai. Setiap langkah pertama adalah keberanian. Setiap ruang yang dibuka adalah bentuk eksistensi. Dan setiap gerak adalah jejak yang akan tinggal dalam ingatan. Ketika tari menjadi nafas, maka Barepan benar-benar menjadi jejak-jejak budaya, jejak perjuangan, dan jejak cinta yang akan terus hidup dari generasi ke generasi. Karena pada akhirnya, seperti yang selalu diyakini di Dapur Pangbarep: tari adalah nafas, dan karya adalah jejak.

—-

*Jasmine Nurul Asyifa, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.