Simfoni Terakota: Menyingkap Estetika Klasik di balik Taman Gandrung – Banyuwangi
Oleh Muh Nur Khusen*

Foto: Penulis di depan patun-patung penari Gandrung. Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Taman Gandrung Terakota terletak di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi – Jawa Timur. Patung-patung ini tersebar di area persawahan, kebun kopi, dan tanaman lokal, menciptakan pemandangan yang artistik dan alami. Taman Gandrung Terakota adalah sebuah situs budaya yang melestarikan ikon seni budaya Banyuwangi: Tari Gandrung. Di situs ini dihamparkan 1.000 patung penari gandrung yang dibuat dari tembikar atau terakota. Patung-patung ini tersebar di tepi dan di tengah persawahan dengan fasilitas amfiteater terbuka untuk dimanfaatkan untuk panggung pementasan kesenian Banyuwangi. Patung-patung ini dibuat dengan konsep “dari tanah kembali ke tanah” seperti yang diungkapkan Dr. Cand Sigit Pramono, S.E.,M.B.A sebagai inisiator dan penggagas Taman Gandrung Terakota “Di Taman Gandrung Terakota dihamparkan ratusan patung Penari Gandrung yang sangat ringkih dan mudah pecah. Kalau patung gerabah pecah akan kembali menyatu dengan tanah. Hal ini dimaksudkan karena ingin menampilkan siklus kehidupan manusia, dari tanah dan kembali ke tanah. Patung-patung tersebut dibuat secara manual oleh seniman-seniman patung dari Kasongan, Bantul, Yogyakarta secara berkala,yang akhirnya sampai pada kurang lebih mencapai 1000 patung penari dengan pose gerakan penari gandrung yang seragam.
Kehadiran Taman Gandrung di Banyuwangi menghadirkan lanskap estetika yang tidak hanya memanjakan visual, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai klasik dalam balutan ruang budaya kontemporer. Elemen terakota yang mendominasi sebagian arsitektur dan ornamen kawasan ini menjadi simbol keterhubungan antara manusia, tanah, dan tradisi. Dalam perspektif estetika klasik, Cooper (2019) dalam “Aesthetics: The Classic Readings (2nd ed.).” mengatakan keindahan dapat dipahami melalui relasi antara bentuk, warna, harmoni visual, dan pengalaman apresiasi terhadap karya seni, di mana unsur-unsur formal tetap menjadi aspek penting dalam membangun pengalaman estetis. Taman Gandrung memanifestasikan hal ini melalui harmoni ruang, tekstur material, serta integrasi seni pertunjukan dengan lingkungan fisiknya.
Taman Unggas: Manifestasi Affordance dalam Ruang Bermain Edukatif
Selain deretan patung Penari Gandrung yang menjadi ikon utama kawasan, Taman Gandrung Terakota (TGT) Banyuwangi juga menghadirkan patung-patung unggas atau kelompok ayam-ayaman yang ditempatkan secara khusus pada area Taman Unggas. Area ini dirancang sebagai ruang rekreasi edukatif yang memadukan unsur alam, seni, dan pembelajaran interaktif bagi anak-anak maupun keluarga. Berlokasi di kaki Gunung Ijen dengan landskap alam yang sejuk dan asri, Taman Unggas menjadi pelengkap destinasi budaya yang dikenal sebagai situs seribu patung penari Gandrung.
Konsep utama kawasan ini adalah memperkenalkan berbagai jenis unggas melalui wahana mini zoo unggas yang bersifat edukatif dan rekreatif. Beragam jenis ayam-ayaman ditempatkan dalam kandang aviary yang tertata secara terpisah sehingga setiap jenis unggas memiliki ruang yang sesuai dengan karakteristiknya. Penataan ini memudahkan pengunjung, khususnya anak-anak, untuk mengenal keragaman fauna secara lebih dekat melalui pengalaman observasi langsung. Menurut Falk dan Dierking (2018) dalam bukunya “Learning from Museums: Visitor Experiences and the Making of Meaning” mengatakan bahwa pembelajaran di ruang rekreasi edukatif seperti kebun binatang atau taman tematik lebih efektif karena pengunjung memperoleh pengalaman langsung yang membangun pemahaman secara kontekstual. Selain fungsi edukasi, area ini juga menyediakan ruang bermain ramah anak melalui interaksi dengan unggas dan patung-patung besar yang dapat dinaiki sebagai sarana hiburan.

Foto: Penulis di area Taman Unggas dan Kandang aviary di atasnya yang menyimpan berbagai jenis unggas. Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Sejalan dengan teori affordance yang dikemukakan James J. Gibson (1979) dalam “The Ecological Approach to Visual Perception”, desain Taman Unggas di Taman Gandrung Terakota mempertimbangkan hubungan antara lingkungan, objek, dan tindakan yang dapat dilakukan oleh pengunjung. Konsep affordance menjelaskan bahwa suatu lingkungan menyediakan peluang tertentu bagi individu untuk berinteraksi sesuai dengan fungsi yang ditawarkan oleh objek di dalamnya. Dalam konteks ini, patung-patung unggas tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi juga dirancang memiliki nilai interaktif sebagai sarana bermain bagi anak-anak.
Patung unggas berukuran besar yang dapat dinaiki menghadirkan keterjangkauan fisik yang mendorong anak-anak untuk mengeksplorasi ruang melalui aktivitas motorik, sehingga karya seni bertransformasi menjadi media bermain yang aktif dan edukatif. Selain area bermain, terdapat pula panggung dengan susunan patung unggas menyerupai amphitheater, seolah-olah para unggas sedang menyaksikan anak-anak bermain dengan penuh kegembiraan. Konsep ini merefleksikan kepedulian penggagas Taman Gandrung Terakota, Sigit Pramono, terhadap pelestarian unggas sekaligus menciptakan ruang rekreasi yang ramah, edukatif, dan menyenangkan bagi anak-anak serta keluarga.



Foto: Lokasi Taman Unggas Terakota Banyuwangi, berupa area taman bermain anak-anak dan panggung Amphithetaer Unggas. Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Di Jiwa Jawa Resort-Banyuwangi juga menyediakan fasilitas pendukung seperti Amphitheater terbuka, ruang Belajar, Meeting Room, Roemah Tjokelat Ijen, Galeri Seni, Java Banana Cafe, Roemah Oleh-oleh, Penginapan dengan pemandangan alam terbuka, dan Kolam Renang, serta Pendopo-pendopo multifungsi.
Studi Lapangan Interaktif: Menyelami Seni dan Tradisi di Taman Gandrung
Dalam kunjungannya para Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta, 10-11 April 2026 dalam Kelas lapangan matakuliah Pengeloaan Wisata Budaya yang diampu oleh Bapak Dr. Cand Sigit Pramono, S.E.,M.B.A dan Ibu Dr. Yohana Ari Ratnaningtyas, M.Si, mereka sangat takjub melihat keberadaan Taman Gandrung ini, dengan fasilitas yang cukup memadai dan di sambut hangat oleh pengelola dan para Crew-nya. Pada kesempatan kunjungannya ini para Mahasiswa sangat memanfaatkan moment ini untuk mengeksplorasi seluruh yang ada di Taman Gandrung ini. Para Mahasiswa begitu memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan untuk melakukan studi yang telah dipersiapkan dalam Ekskursi kunjungan Pengeloaan Wisata Budaya, dari studi kelas melukis di pendopo bersama para pelukis senior Banyuwangi, studi kelas tari yang dibimbing langsung oleh beberapa Penari Gandrung dan studi kelas karawitan yang dibimbing langsung oleh para seniman karawitan Banyuwangi. “Saya pribadi sangat antusias dan sangat puas mengikuti studi ini, belajar karawitan langsung dengan ahlinya meskipun saya sendiri bukan mahasiswa program studi karawitan, tetapi sebagai mahasiswa seni rupa saya benar-benar bisa menikmatinya, dan ini akan menjadi pembelajaran berharga buat saya dan teman-teman” ujar Khusen, mahasiswa pascasarjana saat ditanya Pak Budiman, salah satu crew Jiwa Jawa Resort Banyuwangi.
Taman Gandrung Terakota berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa yang mempelajari pengelolaan wisata budaya karena menghadirkan pengalaman belajar yang berlangsung secara langsung di lapangan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai aktivitas budaya bersama seniman lokal, seperti kelas tari Gandrung, karawitan, hingga seni lukis. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa estetika dan pelestarian budaya tidak dapat dipahami hanya melalui konsep akademik, melainkan harus melalui praktik nyata dan pengalaman langsung. Kondisi ini sejalan dengan teori experiential learning yang menjelaskan bahwa pengetahuan terbentuk melalui pengalaman konkret, refleksi aktif, konseptualisasi, dan eksperimen dalam situasi nyata (Kolb, Boyatzis, & Mainemelis, 2021). Antusiasme mahasiswa selama mengikuti kegiatan mencerminkan keberhasilan pendekatan pembelajaran ini, di mana ruang fisik, aktivitas budaya, dan partisipasi individu berpadu menjadi pengalaman edukatif yang utuh, kontekstual, dan bermakna.

Foto: Studi kelas menari langsung dengan penari Gandrung oleh Mahasiswa Pascasarjana di Pendopo.
Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Dari studi kelas menari diikuti 6 orang Mahasiswa seni tari, Jasmine Nurul A, Elvin Anderson, Brusheila Devi, Tarisya, Laras dan Amanda melodia terlihat begitu menghayati setiap gerakan-gerakan yang diajarkan oleh si Gandrung, dengan harapan dapat menjadi pewaris dan pelestari kebudayaan Gandrung di era mendatang.


Foto: Studi kelas Karawitan oleh Mahasiswa Pascasarjana di Amphitheater terbuka. Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Begitu juga pada kelas melukis diikuti 6 Mahasiswa, Aisyah Khairunnisa, Nanan Kusasi, Edo Marquez, Surya Adi, Galih Al Qodri dan Seday Ganefabra begitu sangat ekspresif dan menikmati pembelajaran ini yang didapat langsung dari Maestro Pelukis Banyuwangi. Dalam kunjungan ini dikiuti sebanyak 30 Mahasiswa dari berbagai jurusan, seni musik, seni tari, seni karawitan, seni lukis, seni patung, seni kriya, seni DKV, Tata Kelola Seni yang semua menjadikan moment ini sebagai pembelajaran berharga yang didapat dari kuliah lapangan pada matakuliah Pengelolaan Wisata Budaya.


Foto: Pertunjukan hasil studi Karawitan dan Tari (atas) dan ekspresi bahagia para Mahasiswa setelah menampilkan hasil belajarnya (bawah) di Amphitheater terbuka Jiwa Jawa Resort.
Sumber: Dokumentasi Penulis (11/4/2026)
Dalam konteks pelestarian budaya, Taman Gandrung juga memperlihatkan bagaimana estetika klasik dapat diadaptasi tanpa kehilangan esensinya. Gerak tari Gandrung yang dipelajari mahasiswa, misalnya, bukan sekadar rangkaian koreografi, melainkan representasi nilai historis dan identitas lokal. Pengalaman seni dipahami sebagai proses interaksi aktif antara individu, lingkungan, dan nilai budaya yang melingkupinya, sehingga makna seni hadir melalui keterlibatan langsung dan refleksi pengalaman estetik (Fesmire, 2019). Dengan demikian, “simfoni terakota” di Taman Gandrung tidak hanya merujuk pada keindahan visual semata, tetapi juga pada orkestrasi pengalaman estetis, edukatif, dan kultural yang saling berkelindan, menjadikannya ruang yang penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya di era modern.
—
*Muh Nur Khusen, Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta.




