Sehari Boleh Gila: Menguji Batas Seni, Menyembuhkan Luka, dan Menemukan Kebebasan
Oleh Abad Akbar*
Dalam lanskap seni rupa Yogyakarta yang dinamis, terdapat satu program yang secara konsisten menghadirkan ruang refleksi sekaligus eksperimen ia dinamai Sehari Boleh Gila (SBG). Program ini bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan ruang alternatif yang mempertemukan gagasan, praktik artistik, serta pengalaman batin yang jarang terakomodasi dalam sistem seni yang semakin terstruktur dan berorientasi pasar.
Sejak dimulai pada 2007, SBG awalnya tidak diselenggarakan pada 15 April. Dwi Marianto menjelaskan bahwa dalam perkembangannya, hari itu dipilih karena bertepatan dengan Hari Seni Sedunia sekaligus hari kelahiran ilmuwan sekaligus seniman kondang Leonardo da Vinci. Pemilihan tanggal ini bukan tanpa makna. Leonardo sering diposisikan sebagai figur yang menjembatani seni dan sains, dua ranah yang kerap dipisahkan, bagai dua wajah koin yang berbeda tetapi sejatinya saling menguatkan. Dalam semangat ini, SBG menghadirkan gagasan bahwa memahami dunia tidak cukup melalui rasio semata, tetapi juga melalui pengalaman estetik dan sensibilitas rasa. Seni menjadi medium untuk menjelajahi dualitas tersebut: antara logika dan intuisi, antara pengetahuan dan pengalaman, antara ekspresi dan estetika.
Pada tahun ini, SBG diselenggarakan di Studio Kalahan, milik seniman Heri Dono. Pemilihan ruang ini mempertegas karakter SBG sebagai peristiwa yang berakar pada praktik seni, bukan sekadar wacana akademik. Studio menjadi ruang hidup, tempat gagasan tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dialami secara langsung.

Penampilan Marsmolys Band bersanding dengan karya instalasi di panggung SBG (Sumber: Abad Akbar)
SBG sebagai Ruang Diskursus yang Inklusif nan Egaliter
Dibuka pagi hari pukul 10.00 dan dilanjutkan dengan diskusi. SBG tahun ini menghadirkan tiga pembicara: Prof. Dr. Dwi Mariyanto, dr. Oei Hong Djien, dan Heri Dono, dengan moderasi oleh Paku. Ketiganya membawa perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi dalam membangun wacana tentang seni, kesadaran, dan kondisi manusia hari ini.
Dalam diskusi, dr. OHD menekankan bahwa berkesenian menuntut totalitas. Seni tidak cukup dipahami secara intelektual, tetapi harus dirasakan secara utuh. Ia menyoroti pentingnya “rasa” sebagai dimensi yang membedakan manusia dari makhluk lain. Dalam pandangannya, seni adalah ruang yang mana manusia dapat melatih kepekaan tersebut. Ketika seni hanya dipahami secara rasional, ia kehilangan daya hidup. Sebaliknya, ketika seni dihayati, ia menjadi pengalaman yang tidak pernah membosankan.
Pandangan ini menjadi relevan dalam konteks kehidupan modern yang cenderung menekankan efisiensi dan rasionalitas. Manusia didorong untuk memahami, tetapi jarang diberi ruang untuk merasakan. SBG, dalam hal ini, hadir sebagai ruang untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.

Studio Kalahan tempat SBG 2026 berlangsung dan wujud mimbar tempat orasi kesenian (sumber: Abad Akbar)
Tema SBG yang diangkat tahun ini, spiritual anarchy, menjadi titik tolak bagi diskusi yang lebih luas. Heri Dono menyampaikan bahwa “kegilaan ilahi” dalam seni semakin terkikis oleh perkembangan zaman, terutama ketika seni mulai bergeser ke arah komodifikasi. Dalam kondisi ini, seni berisiko kehilangan dimensi reflektif dan spiritualnya.
Konsep spiritual anarki dapat dipahami sebagai upaya untuk membebaskan diri dari berbagai batasan, mulai dari teori, kebiasaan, maupun struktur sosial yang membatasi kreativitas. Prof. Dwi Marianto menegaskan bahwa kebebasan ini bukan berarti tanpa arah, melainkan keberanian untuk keluar dari habitus yang mapan. Seniman dituntut untuk terus mempertanyakan, bukan sekadar menerima apa yang ia alami. Seni menjadi ruang eksperimentasi yang tidak tunduk pada satu sistem nilai tertentu. Ia membuka kemungkinan bagi munculnya kesadaran baru, yang lahir dari pertemuan antara pengalaman spiritual dan refleksi intelektual. Kesadaran inilah yang kemudian diwujudkan dalam karya.
Sehari Boleh Gila (SBG) menghadirkan ruang yang terbuka, inklusif, dan egaliter bagi berbagai praktik seni. Di dalamnya, batas antar-disiplin menjadi cair: musik bertemu seni rupa, performans memperoleh panggung, sementara patung dan instalasi hadir sebagai medium interaksi yang mempertemukan berbagai pengalaman estetik. Tidak ada hierarki yang menempatkan satu bentuk seni lebih tinggi dari yang lain. Semua praktik ditempatkan dalam posisi setara sebagai ekspresi yang sah.
Kehadiran ruang semacam ini menjadi penting dalam konteks seni hari ini yang cenderung mengalami stagnasi. Banyak praktik artistik terjebak dalam pola yang repetitif, kehilangan daya eksplorasi karena orientasi yang bergeser dari produksi gagasan menuju kepentingan pasar. Seni tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang dialektika ide, melainkan sering kali menjadi komoditas yang mengikuti selera pasar. Dalam situasi ini, tidak sedikit seniman yang dihadapkan pada dilema antara mempertahankan ideologi berkesenian atau menyesuaikan diri dengan tuntutan ekonomi. Realitas material memang tidak dapat diabaikan, seniman tetap membutuhkan penghidupan, namun justru di sinilah kreativitas mereka diuji, bagaimana menemukan celah untuk tetap setia pada gagasan tanpa sepenuhnya terserap oleh logika pasar.
Ruang-ruang yang menjunjung kesetaraan menjadi krusial dalam menjaga ekosistem seni yang sehat. SBG hadir sebagai respons atas kebutuhan tersebut. Ia tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga ruang pertemuan lintas generasi dan lintas pendekatan. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda, SBG menawarkan ruang alternatif untuk menyalurkan keresahan, kecemasan, dan tekanan hidup melalui praktik seni. Di saat sebagian seniman senior menghadapi kebuntuan kreatif, dan seniman generasi baru berada dalam fase eksplorasi yang belum terarah, SBG berfungsi sebagai titik temu yang mempertemukan semuanya dalam satu medan seni yang sama.

Diskusi SBG yang dipandu oleh Paku Kusuma diisi oleh dr. Oei Hong Djien, Prof. Dwi Marianto, dan Heri Dono (Sumber: Abad Akbar)
Seni, Kesehatan Mental, dan Kompleksitas Zaman
Isu kesehatan mental menjadi salah satu poin penting dalam diskusi dan karya-karya yang tampil di acara ini. dr. OHD mengaitkan kondisi ini dengan dinamika sosial yang semakin kompleks. Ia menyinggung bahwa dalam sistem yang semakin pragmatis, manusia rentan kehilangan keseimbangan antara rasio dan rasa. Bahkan, ia secara provokatif menyatakan bahwa dunia bisa saja dikuasai oleh mereka yang tidak memiliki kesehatan mental yang baik, jika kesadaran tidak terus diasah.
Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi seni sebagai medium penyembuhan. Seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai terapi. Dalam konteks ini, praktik seni dapat membantu individu memahami dirinya sendiri, sekaligus merespons tekanan sosial yang dihadapi. Hal ini terlihat dalam karya Sri Mulyani (performans) yang menghadirkan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui konsep ruang yang bergerak dan kesadaran napas, karya tersebut menawarkan pengalaman spiritual healing. Seni menjadi medium yang memungkinkan tubuh dan pikiran berinteraksi secara harmonis.

Penampilan Srikandi Pendopo nDalem di panggung SBG (sumber: Dwee)
Krisis Identitas dan Tantangan Seni Yogyakarta
Di tengah dinamika tersebut, muncul refleksi kritis terhadap kondisi seni rupa Yogyakarta hari ini. Kota yang selama ini dikenal sebagai pusat seni justru dinilai mulai kehilangan identitas yang kuat sebagai parameter nasional. Rutinitas pameran dan kegiatan seni yang terus berlangsung tidak selalu diiringi dengan kedalaman makna. Rutinitas ini justru membawa pada hilangnya rasa dan mengarahkan pada hilangnya kesadaran akan arti seni secara luas.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kecenderungan generasi muda yang semakin pragmatis. Proses kontemplasi yang seharusnya menjadi bagian penting dalam praktik seni sering kali tergantikan oleh orientasi hasil. Seni diproduksi dengan cepat, tetapi tidak selalu melalui proses refleksi yang mendalam. Para seniman ingin serba instan dan mengabaikan proses panjang dalam merefleksi seni sebagai sebuah perjalanan spiritual dan intelektual.
Perkembangan media sosial turut mempengaruhi cara pandang terhadap seni dan budaya. Algoritma yang cenderung menyeragamkan selera membuat keberagaman semakin terpinggirkan. Kemajemukan, yang seharusnya menjadi kekuatan budaya, justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak relevan. Semua dituntut seragam dengan selera pasar alias audiens, ketika ada yang berbeda maka ia akan dibunuh oleh algoritma. Dalam situasi ini, SBG hadir sebagai ruang tandingan yang menawarkan alternatif terhadap arus utama yang cenderung homogen. Melalui pendekatan yang lebih reflektif dan eksperimental, SBG berupaya menghidupkan kembali semangat keberagaman dalam seni.

Nanang Garuda dan karyanya bersama rekan di depan baliho utama SBG (sumber: Abad Akbar)
Praktik Artistik sebagai Respons
Selain diskusi, SBG juga menampilkan berbagai praktik artistik yang merepresentasikan beragam pendekatan. Nanang Garuda, misalnya, mengolah material bekas menjadi karya yang memiliki makna baru. Praktik ini tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang kesadaran ekologis dan transformasi nilai.
Sementara itu, Sheila menghadirkan eksplorasi tubuh melalui tari kontemporer. Dengan mengamati fenomena seperti kuyang dan mengembangkan free body movement, ia menciptakan bahasa gerak yang bebas dari struktur konvensional. Tubuh menjadi medium ekspresi yang langsung, tanpa perantara. Terdapat juga nama-nama lain seperti Arahmaiani, Juju, Iwan Wijoyo, Munir Kahar, John Paul dan lainnya turut meramaikan acara ini.
Kehadiran seniman dari berbagai disiplin ilmu seni ini menunjukkan bahwa seni itu tidak bermakna tunggal. Ia dapat hadir dalam berbagai medium dan pendekatan, selama mampu menyampaikan pengalaman dan gagasan secara autentik. Praktik seni menjadi medium untuk ekspresi diri atas refleksi diri dalam berbagai aspek kehidupan.
Selama satu hari penuh, Studio Kalahan menjadi ruang yang membebaskan. Tidak ada batasan yang kaku, tidak ada aturan yang mengekang ekspresi. Siapa pun dapat datang, terlibat, atau sekadar mengamati. Pengunjung bebas menentukan pengalaman mereka sendiri: karya mana yang ingin dinikmati, performans mana yang ingin disaksikan, dan interaksi apa yang ingin dijalin. Kebebasan ini menciptakan suasana yang cair, di mana seni tidak lagi terasa eksklusif, melainkan dekat dan dapat diakses.

Beberapa karya yang dipamerkan pada SBG. (sumber: Abad Akbar)
Lebih dari sekadar peristiwa seni, SBG menyediakan ruang katarsis. Ia menjadi tempat bagi mereka yang kehilangan arah, diliputi kecemasan, atau mengalami tekanan psikologis untuk kembali pada esensi seni. Dalam ruang ini, seni tidak diukur dari nilai jual atau legitimasi institusional, tetapi dari kemampuannya menyentuh dan menggerakkan rasa SBG dapat dipahami sebagai ruang penyadaran. Ia tidak menawarkan solusi instan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi, tetapi membuka ruang untuk refleksi. Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk memahami dan memaknai pengalaman menjadi semakin penting. Seni berfungsi sebagai alat untuk membangun kesadaran tersebut. Ia membantu manusia melihat kembali realitas, tidak hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari apa yang dirasakan. Melalui proses ini, seni berkontribusi dalam penyembuhan, baik secara mental maupun fisik. SBG menunjukkan bahwa “kegilaan” dalam seni bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dirayakan sebagai bentuk kebebasan. Dalam kebebasan itulah, seni menemukan potensinya untuk terus berkembang, sekaligus menjadi cermin bagi kondisi manusia..
Pernyataan para pembicara dalam diskusi SBG memperkuat pemahaman ini. dr. OHD menegaskan bahwa seni adalah soal rasa yaitu sesuatu yang harus dialami, bukan sekadar dipahami. Prof. Dwi Marianto melihat seni sebagai kebebasan dari segala bentuk pembatasan, baik yang bersifat struktural maupun konseptual. Sementara itu, Heri Dono memandang seni sebagai ruang refleksi, tempat manusia merenung sekaligus mengejawantahkan pengalaman batinnya.
Dari berbagai pandangan tersebut, seni tidak lagi dapat dipersempit dalam satu definisi tunggal. Ia adalah pengalaman yang terus bergerak, terbentuk dari pertemuan antara rasa, kebebasan, dan refleksi. Seni hadir sebagai ruang hidup, tempat manusia dapat memahami dirinya sendiri sekaligus dunia di sekitarnya. Pertanyaan “apa itu seni?” pada akhirnya tidak menuntut jawaban yang pasti. Justru dalam keterbukaan itulah seni menemukan relevansinya. Ia memberi ruang bagi setiap individu untuk merumuskan maknanya sendiri, berdasarkan pengalaman yang dialami. Dalam ruang yang inklusif dan egaliter seperti SBG, seni tidak hanya dipertontonkan, tetapi dihidup.
—
*Abad Akbar, Peneliti seni dan budaya.





