Dari Jalanan ke Galeri: Membaca Pameran “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini”

Oleh Saptaria An-Nisa Nirwikara*

Gambar 1. Karya pameran “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini”. Sumber: Instagram EDSU House.

Street Art dan Ruang Publik

Seni jalanan atau street art merupakan salah satu praktik seni yang ekosistemnya masih bertahan hingga sekarang. Praktik ini terus menarik perhatian anak muda dan telah lama digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pesan maupun kritik. Street art tumbuh di ruang publik dan berinteraksi langsung dengan lingkungan kota serta masyarakat yang melintas di dalamnya.

Kehadiran karya di ruang publik memberi kelebihan tersendiri. Street art mampu menembus batas yang biasanya muncul dalam ruang galeri formal. Karya hadir tanpa jarak kuratorial yang kaku sehingga masyarakat dapat merespons secara langsung. Dinding kota berubah menjadi ruang percakapan visual yang merekam kehidupan sehari hari serta isu sosial yang sedang berlangsung.

Pertanyaan kemudian muncul ketika praktik tersebut dipindahkan ke ruang galeri. Apa yang terjadi ketika karya yang lahir dari jalanan dipamerkan dalam ruang seni yang lebih terstruktur. Apakah identitas dan esensi jalanannya tetap terasa atau justru memudar ketika berada dalam sistem pameran yang berbeda.

Pameran Street Art di EDSU House

Pertanyaan tersebut muncul ketika saya mengunjungi pameran “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini” di EDSU House. Judulnya terdengar nyleneh dan terasa menyentil situasi yang sedang hangat dibicarakan. Pameran ini juga menarik perhatian karena menghadirkan delapan perupa yang dikenal melalui praktik street art di ruang publik.

Pameran ini mempertemukan Begok Oner, Digie Sigit, Media Legal, Neus One, Pangestumu, Riski Reas, Sicovecas, dan Tuyuloveme. Pameran berlangsung sejak 6 Maret hingga 3 Mei 2026.

Ketika memasuki ruang pamer, saya langsung menemukan teks kuratorial yang ditulis oleh Donna Carolina. Teks tersebut menjelaskan bahwa ruang pamer kali ini tidak menghadirkan pengalaman visual yang steril seperti galeri pada umumnya. Permukaan ruang justru memperlihatkan jejak material, perubahan tekstur, dan sisa fungsi bangunan yang masih terlihat. Situasi ini membuat ruang terasa menyimpan lapisan waktu yang biasanya tersembunyi dalam sistem display pameran.

Gambar 2. Teks kuratorial “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini”. Sumber: Dokumentasi pribadi penulis.

Membaca Ruang Pamer

Dalam penjelasan kuratorial tersebut, praktik yang berangkat dari jalanan dipahami sebagai proses yang terus bergerak. Karya tidak lahir dari bentuk yang stabil dan selesai. Praktik ini tumbuh dari repetisi, skala, dan negosiasi dengan ruang kota yang selalu berubah. Ketika praktik tersebut hadir di galeri, ruang pamer tidak lagi sekadar tempat menampilkan karya. Ruang berubah menjadi medan yang menyimpan jejak tindakan dan durasi kerja para seniman.

Teks kuratorial juga menyinggung pertemuan dua pendekatan ruang. Model white cube yang menekankan kejernihan visual bertemu dengan pendekatan yang lebih imersif seperti black box yang mengajak tubuh pengunjung masuk ke dalam pengalaman ruang. Pertemuan dua pendekatan ini memengaruhi cara pengunjung membaca karya di dalam pameran.

Karakter Visual Street Art di Galeri

Gambar 3. Karya Grafitti Tuyuloveme. Sumber: Dokumentasi pribadi penulis.

Ketika berjalan mengelilingi ruang pamer, saya melihat karakter visual yang familiar dari kultur seni jalanan. Karya yang dipamerkan mencakup berbagai bentuk praktik street art seperti grafiti, tagging, dan stencil. Ketiga pendekatan ini selama ini menjadi bagian penting dalam praktik visual di ruang kota.

Menurut penjelasan manajer galeri EDSU House, Benita, pameran ini berangkat dari keinginan menghadirkan praktik seni jalanan ke dalam ruang galeri tanpa mengubah identitasnya. Para seniman tetap membawa pendekatan visual yang mereka gunakan ketika bekerja di ruang kota.

Upaya tersebut cukup terasa dalam sejumlah karya. Para seniman mempertahankan karakter visual dan gaya yang mereka gunakan di jalanan. Karya yang dipamerkan tidak selalu tampil rapi seperti lukisan kanvas di galeri. Beberapa di antaranya justru mempertahankan kesan spontanitas yang selama ini menjadi ciri penting praktik street art.

Pandangan lain datang dari Bambang ‘Toko’ Witjaksono yang telah lama terlibat dalam praktik seni jalanan sejak dekade 1990 an. Dalam wawancaranya dengan Artopologi, ia menjelaskan bahwa ruang galeri sering membawa ekspektasi tertentu terhadap karya seni. Karya yang dipamerkan di galeri sering diasosiasikan dengan standar visual yang rapi dan sempurna. Dalam konteks grafiti, ekspektasi tersebut sering bertentangan dengan karakter street art yang lahir dari spontanitas ruang kota.

Arsip Visual Kota dalam Karya Neus One

Gambar 4. Karya Grafitti Neus One. Sumber: Dokumentasi pribadi penulis.

Salah satu karya yang menarik perhatian saya berasal dari Neus One. Ia menampilkan maket miniatur bangunan kota yang disusun dari arsip grafiti yang ia dokumentasikan di Yogyakarta. Bangunan yang direpresentasikan bukan bangunan imajinatif. Lokasinya nyata dan dapat ditelusuri melalui pemindaian barcode yang tersedia pada karya.

Melalui pendekatan ini, Neus One berusaha mendokumentasikan wajah street art di kotanya. Ia merekam permukaan bangunan yang selama ini menjadi medium para penulis grafiti. Dokumentasi tersebut kemudian diterjemahkan kembali dalam bentuk maket tiga dimensi.

Ia memfokuskan pengamatan pada bagian fasade bangunan. Bagian depan bangunan dipilih karena menjadi permukaan yang paling sering menampilkan lapisan grafiti. Detail pada maket dibuat sangat menyerupai kondisi aslinya. Bentuk jendela, tekstur dinding, hingga posisi grafiti direkonstruksi dengan teliti sehingga menghadirkan gambaran visual yang dekat dengan bangunan sebenarnya.

Pendekatan ini membuat karya tersebut berfungsi sebagai arsip visual. Maket hadir sebagai objek pameran sekaligus sarana untuk merekam bagaimana wajah street art muncul pada permukaan bangunan di kota Yogyakarta.

Karya yang Mengangkat Isu Sosial Global

Gambar 5. Karya Stencil Digie Sigit dan Pangestumu. Sumber: Instagram EDSU House.

Beberapa karya dalam pameran ini juga menyoroti persoalan sosial yang lebih luas. Salah satu yang menarik perhatian saya berasal dari Digie Sigit. Ia menampilkan karya stencil grafiti berjudul One Note About Economic Justice yang dikerjakan dalam rentang 2015 hingga 2026. Karya tersebut berangkat dari pengalamannya ketika menjalani residensi seni di Austria. Digie mengangkat kisah seorang perempuan pengemis yang kemudian diketahui menjadi korban perdagangan manusia.

Melalui karya ini, Digie menyoroti praktik eksploitasi manusia yang masih terjadi di berbagai negara. Ia menjelaskan bahwa banyak korban berada dalam posisi sangat rentan karena status imigrasi yang tidak jelas. Kondisi tersebut membuat mereka mudah dimanfaatkan oleh pihak tertentu. Stencil yang ia tampilkan menghadirkan citra yang kuat dan langsung, sejalan dengan karakter street art yang sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial secara tegas di ruang publik.

Isu global lain juga muncul dalam karya Pangestumu. Ia menampilkan karya stencil dengan gaya visual yang menjadi ciri khasnya. Dalam karya tersebut, Pangestumu menyoroti persoalan perang dan keadilan. Visual yang ia tampilkan dilengkapi dengan kutipan dari Bertrand Russell yang berbunyi “War does not determine who is right, only who is left.” Kutipan tersebut memperkuat pesan kritik terhadap konflik bersenjata yang terus terjadi di berbagai wilayah dunia.

Karyanya yang lain mengangkat isu keadilan, terlihat tulisan “justice” yang divisualisasikan sedang terhimpit oleh dorongan dua figur laki laki. Komposisi ini menghadirkan ketegangan visual yang kuat. Posisi kata justice berada di tengah tekanan dua tubuh yang mendorong dari sisi berlawanan. Saya membaca visual ini sebagai metafora mengenai posisi keadilan yang semakin terdesak. 

Dorongan dua figur tersebut memberi kesan adanya kekuatan yang menekan ruang keadilan hingga menyempit. Dalam interpretasi saya, citra ini mengarah pada kritik terhadap kondisi sosial ketika akses terhadap keadilan semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.

Refleksi Ruang Jalanan dan Galeri

Sebagai pengunjung sekaligus pengamat seni visual, saya melihat pameran ini sebagai pertemuan dua ruang yang berbeda. Jalanan memiliki sifat spontan, terbuka, dan sering kali tidak terkontrol. Galeri menghadirkan situasi yang lebih terstruktur dan kuratorial.

Pameran ini menunjukkan bahwa praktik street art masih dapat mempertahankan identitas visualnya ketika masuk ke ruang galeri. Namun konteks pembacaan karya berubah. Di jalanan, karya hadir sebagai interupsi visual dalam kehidupan kota. Di galeri, karya dibaca lebih dekat sebagai objek seni yang dipamerkan.

Perubahan ruang ini tidak menghilangkan karakter street art sepenuhnya. Justru ia membuka kemungkinan baru dalam cara publik melihat praktik seni jalanan. Bagi saya, pameran ini memperlihatkan bagaimana visual yang lahir dari tembok kota dapat berdialog dengan ruang seni formal tanpa sepenuhnya meninggalkan akarnya.

—-

*Saptaria An-Nisa Nirwikara, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.