Pengalaman Estetik dan Apresiasi Budaya dalam Pagelaran Sabang Merauke 2025
Oleh Habibillah*
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki tradisi, bahasa, musik, serta bentuk seni pertunjukan yang berbeda. Keragaman tersebut menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, seni pertunjukan sering kali menjadi medium yang efektif untuk mempertemukan berbagai budaya tersebut dalam satu ruang ekspresi yang sama. Melalui seni pertunjukan, tradisi dapat dihadirkan kembali secara visual, emosional, dan simbolik sehingga mampu memberikan pengalaman estetik yang mendalam bagi penonton.
Salah satu pertunjukan yang berhasil menampilkan kekayaan budaya tersebut adalah Pagelaran Sabang Merauke 2025, yang diselenggarakan pada 23-24 Agustus 2025 di Indonesia Arena. Pagelaran ini merupakan pertunjukan kolosal yang menggabungkan berbagai unsur seni seperti tari, musik, teater musikal, serta tata panggung yang megah. Melalui konsep yang mengangkat perjalanan budaya dari Sabang hingga Merauke, pertunjukan ini menampilkan beragam representasi budaya Nusantara dalam satu panggung besar.
Bagi saya sebagai penonton, menyaksikan Pagelaran Sabang Merauke 2025 merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Pertunjukan ini tidak hanya memberikan hiburan visual yang spektakuler, tetapi juga menghadirkan rasa bangga terhadap keberagaman budaya Indonesia. Selain itu, pengalaman personal seperti melihat teman-teman yang terlibat dalam pertunjukan serta mengenakan busana dengan nuansa etnik Nusantara turut memperkuat kesan emosional dalam menyaksikan pagelaran tersebut. Oleh karena itu, esai ini akan membahas pengalaman estetik yang saya rasakan ketika menyaksikan Pagelaran Sabang Merauke 2025 serta bagaimana pertunjukan tersebut merepresentasikan keberagaman budaya Indonesia.
Pengalaman pertama yang saya rasakan ketika menyaksikan Pagelaran Sabang Merauke 2025 adalah rasa takjub yang muncul sejak awal pertunjukan. Skala produksi yang besar, tata panggung yang megah, serta jumlah penari dan musisi yang sangat banyak menciptakan suasana pertunjukan yang spektakuler. Pertunjukan ini terasa berbeda dari pertunjukan seni yang biasanya saya lihat karena memadukan unsur tradisi dengan teknologi panggung modern.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika penyanyi Yura Yunita tampil dalam salah satu adegan bertema Jawa. Dalam adegan tersebut, ia mengenakan gaun yang terinspirasi dari sosok mitologis Nyi Roro Kidul, sosok yang sangat dikenal dalam tradisi budaya Jawa sebagai penguasa laut selatan. Penampilan tersebut menjadi sangat spektakuler ketika ia muncul dari area penonton dan seolah “terbang” menuju panggung utama. Momen ini benar-benar diluar ekspektasi saya sebagai penonton.
Yang membuat adegan tersebut semakin dramatis adalah ketika ia kemudian naik ke properti panggung berbentuk naga yang bergerak di atas panggung. Perpaduan antara kostum, tata cahaya, musik, serta gerakan panggung menciptakan visual yang sangat memukau. Bagi saya, adegan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pertunjukan ini mampu menggabungkan unsur tradisi, mitologi, dan teknologi panggung modern dalam satu komposisi artistik yang kuat.
Pengalaman estetik seperti ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya dinikmati melalui cerita atau pesan yang disampaikan, tetapi juga melalui sensasi visual dan emosional yang dirasakan oleh penonton. Rasa takjub yang muncul ketika menyaksikan adegan tersebut membuat saya menyadari betapa besar potensi seni pertunjukan Indonesia ketika dikemas dalam produksi yang profesional dan kreatif.

Di backstage berfoto bersama adik-adik yang mewakili Aceh: (Sumber Habibillah)
Selain pengalaman visual yang spektakuler, pengalaman lain yang membuat pertunjukan ini terasa sangat bermakna bagi saya adalah keterlibatan teman-teman saya dalam pagelaran tersebut. Beberapa teman saya turut berpartisipasi sebagai penari dan performer dalam Pagelaran Sabang Merauke 2025. Mengetahui bahwa mereka berada di atas panggung memberikan rasa kedekatan emosional yang berbeda ketika menonton pertunjukan tersebut.
Melihat mereka tampil dengan penuh energi dan profesionalisme membuat saya merasa bangga sekaligus terharu. Saya dapat membayangkan betapa banyak latihan dan persiapan yang mereka lakukan untuk dapat tampil dalam produksi sebesar ini. Hal tersebut membuat saya semakin menghargai kerja keras para seniman yang terlibat dalam pertunjukan tersebut. Keterlibatan teman-teman saya juga membuat pengalaman menonton menjadi lebih personal. Pertunjukan ini tidak lagi hanya menjadi sebuah tontonan yang dinikmati dari kejauhan, tetapi juga menjadi ruang di mana saya dapat merasakan hubungan emosional dengan para performer di atas panggung. Dalam konteks ini, seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium yang mempertemukan berbagai pengalaman manusia, baik sebagai penonton maupun sebagai pelaku seni.
Hal lain yang turut memperkuat pengalaman saya dalam menyaksikan pertunjukan ini adalah suasana penonton yang mengenakan berbagai busana bernuansa etnik Nusantara. Banyak penonton yang hadir dengan mengenakan pakaian yang terinspirasi dari motif batik maupun busana tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menciptakan atmosfer yang sangat menarik karena seolah-olah seluruh ruangan menjadi ruang perayaan budaya Nusantara.

Setelah menyaksikan semua rangkaian acara. (Sumber Habibillah)
Pada kesempatan tersebut, saya juga mengenakan kostum etnik yang terinspirasi dari motif Kerawang Gayo, salah satu motif khas dari budaya Gayo di Aceh Tengah. Bagi saya, mengenakan busana tersebut bukan hanya sekedar pilihan estetika, tetapi juga bentuk kebanggaan terhadap identitas budaya daerah saya. Motif kerawang memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Gayo, yang sering kali melambangkan nilai-nilai kehidupan, harmoni, serta hubungan antara manusia dan alam.
Ketika berada di tengah penonton yang juga mengenakan berbagai busana etnik dari daerah lain, saya merasakan sebuah pengalaman yang sangat menarik. Seolah-olah keberagaman budaya Indonesia tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga tercermin melalui para penonton yang hadir dalam pertunjukan tersebut. Hal ini menciptakan suasana yang sangat khas, di mana batas antara penonton dan pertunjukan terasa semakin dekat.
Setelah menyaksikan keseluruhan pertunjukan Pagelaran Sabang Merauke 2025, saya merasa bahwa pagelaran ini merupakan salah satu produksi seni pertunjukan yang sangat berkualitas. Dari segi koreografi, musik, tata panggung, hingga kostum, semuanya terasa dipersiapkan dengan sangat matang. Setiap segmen pertunjukan menampilkan komposisi visual yang indah serta transisi yang halus antara satu adegan dengan adegan lainnya.
Secara pribadi, saya tidak melihat adanya kekurangan yang signifikan dalam pertunjukan ini. Sebaliknya, yang saya rasakan justru adalah kekaguman terhadap bagaimana seluruh elemen pertunjukan dapat bekerja secara harmonis. Kolaborasi antara ratusan penari, musisi, serta tim produksi menunjukkan tingkat profesionalisme yang tinggi dalam dunia seni pertunjukan Indonesia. Pertunjukan ini juga menunjukkan bahwa seni tradisional Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dalam format pertunjukan modern. Dengan pendekatan kreatif dan dukungan produksi yang baik, tradisi dapat dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih spektakuler tanpa kehilangan nilai-nilai budayanya.
Oleh karena itu, saya ingin memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam Pagelaran Sabang Merauke 2025. Pertunjukan ini tidak hanya memberikan pengalaman hiburan yang luar biasa, tetapi juga menjadi bentuk perayaan terhadap kekayaan budaya Indonesia. Pagelaran Sabang Merauke 2025 merupakan sebuah pertunjukan seni yang berhasil menghadirkan kekayaan budaya Indonesia dalam bentuk yang spektakuler dan memukau. Melalui perpaduan antara tari, musik, teater musikal, serta teknologi panggung modern, pertunjukan ini mampu menciptakan pengalaman estetik yang sangat kuat bagi penonton.
Beberapa momen seperti penampilan Yura Yunita dengan kostum yang terinspirasi dari Nyi Roro Kidul, serta adegan panggung yang dramatis, menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan bahkan melampaui ekspektasi saya sebagai penonton. Selain itu, keterlibatan teman-teman saya dalam pertunjukan serta suasana penonton yang mengenakan busana etnik Nusantara turut memberikan dimensi emosional yang lebih dalam dalam pengalaman menonton tersebut. Saya tidak melihat pertunjukan ini dari sudut pandang kritik terhadap kekurangan yang mungkin ada, melainkan sebagai sebuah karya seni yang patut diapresiasi setinggi-tingginya. Pagelaran ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang dan menjadi kebanggaan budaya bangsa.
—-
*Habibillah, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





