Antara Adat dan Kesetaraan: Dinamika Gender dalam Perlon Unggahan Komunitas Adat Banokeling
Oleh KRHA. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I.*
Di lereng sunyi pedalaman Banyumas, tradisi hidup bukan sekadar warisan, melainkan laku batin yang menyatu dengan denyut keseharian. Di tengah ritus tahunan Perlon Unggahan, Komunitas Adat Banokeling menghadirkan pemandangan yang menggugah nalar sosial. Asap dapur mengepul dari tungku-tungku besar, dan tangan-tangan laki-laki cekatan meracik bumbu, memotong daging, serta mengaduk kuah dalam kuali raksasa. Sementara itu, perempuan duduk berkelompok, berbincang dalam tenang, menunggu sajian matang dengan wibawa yang tidak tergesa. Adegan ini berkelindan dengan kebiasaan umum masyarakat Indonesia yang lazim menempatkan perempuan sebagai pengelola dapur pada perhelatan besar. Tradisi yang berbeda tersebut menghadirkan ruang tafsir yang luas tentang makna peran, kuasa, dan kesetaraan. Dalam keheningan ritus, terselip pernyataan sosial yang kuat tentang pembagian kerja berbasis adat.
Komunitas Adat Banokeling di Banyumas merupakan bagian dari jejaring kultural yang menjaga ajaran leluhur dengan penuh disiplin. Nilai-nilai spiritualitas dan kebersahajaan menjadi landasan dalam setiap upacara adat. Perlon Unggahan bukan sekadar perjamuan makan, melainkan momentum sakral sebagai fase penting dalam kalender tradisi: menyambut bulan puasa. Seluruh warga terlibat dalam kerja kolektif yang telah diatur turun-temurun. Pembagian tugas bukan lahir dari negosiasi spontan, melainkan dari konsensus budaya yang mengakar. Dalam struktur tersebut, laki-laki mengambil alih kerja domestik selama ritual berlangsung. Fakta ini membuka pertanyaan reflektif mengenai konstruksi gender dalam ruang adat.
Ruang Domestik
Fenomena laki-laki memasak dalam upacara adat menghadirkan pembalikan dari arus utama budaya patriarkal. Dalam banyak tradisi Nusantara, dapur dilekatkan pada tubuh perempuan sebagai kodrat sosial. Narasi domestifikasi perempuan menguat melalui pembiasaan dan simbol-simbol budaya. Namun di Banokeling, dapur pada momentum sakral justru menjadi arena pengabdian laki-laki. Tangan-tangan yang sehari-hari bekerja di sawah atau ladang beralih memegang ulekan dan pisau dapur. Peralihan ini tidak dianggap sebagai pelanggaran norma, melainkan sebagai kehormatan adat. Situasi tersebut menantang asumsi umum tentang pembagian peran berbasis jenis kelamin.
Secara fenomenologis, pengalaman memasak bagi laki-laki Banokeling bukan sekadar aktivitas teknis. Kegiatan tersebut dipahami sebagai laku spiritual dan tanggung jawab kolektif. Aroma rempah dan panas api menyatu dengan kesadaran pengabdian kepada leluhur. Dalam perspektif fenomenologi ala Maurice Merleau-Ponty (1908-1961), tubuh menjadi medium pengalaman yang sarat makna. Tubuh laki-laki yang memasak tidak kehilangan maskulinitas, melainkan merayakan makna baru tentang peran. Kesadaran kolektif membentuk horizon pemaknaan yang berbeda dari masyarakat urban. Dengan demikian, kerja dapur dalam Perlon Unggahan melampaui kategori domestik yang sempit.
Dalam teori konstruksi sosial yang dipopulerkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, sebagaimana dalam buku The Social Construction of Reality (1966), realitas sosial terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Tradisi Banokeling memperlihatkan bagaimana pembagian kerja diwariskan dan diterima sebagai kenyiscayaan budaya. Laki-laki yang memasak tidak merasa terancam identitasnya karena struktur makna telah mengafirmasi peran tersebut. Sejak kecil, generasi muda menyaksikan ayah dan paman terlibat dalam dapur ritual. Pola tersebut membangun kesadaran bahwa kerja domestik tidak selalu identik dengan subordinasi. Konstruksi sosial di Banokeling menunjukkan fleksibilitas yang jarang disadari publik luas. Realitas yang terbentuk justru menawarkan alternatif atas dominasi tafsir patriarkal.
Ketimpangan Gender
Indonesia kontemporer masih bergulat dengan ketimpangan gender di berbagai sektor. Data partisipasi kerja dan beban ganda perempuan sering menjadi sorotan kebijakan nasional. Wacana kesetaraan digaungkan melalui regulasi dan kampanye publik. Namun praktik keseharian di banyak keluarga tetap menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik. Dalam konteks tersebut, tradisi Banokeling menghadirkan cermin kritis bagi masyarakat luas. Adat yang kerap dianggap konservatif ternyata menyimpan praktik yang progresif. Pembalikan peran dalam Perlon Unggahan memperlihatkan bahwa kesetaraan dapat tumbuh dari akar budaya lokal.
Pendekatan feminisme kultural melihat bahwa nilai-nilai lokal dapat menjadi sumber emansipasi ketika dibaca secara kritis. Dalam kerangka pemikiran Simone de Beauvoir (1949), perempuan tidak dilahirkan dengan takdir sosial tertentu, melainkan dibentuk oleh konstruksi budaya. Banokeling menunjukkan bahwa konstruksi tersebut dapat dinegosiasikan melalui adat. Ketika laki-laki mengambil alih dapur, stereotip tentang kodrat menjadi cair. Perempuan memperoleh ruang istirahat dan penghormatan dalam momentum sakral. Relasi yang terbangun bukan kompetisi, melainkan kerja sama simbolik. Situasi tersebut memperkaya perbendaharaan praktik keadilan gender berbasis kearifan lokal.
Meski demikian, pembacaan kritis tetap diperlukan agar romantisasi adat tidak menutup ruang evaluasi. Pertanyaan muncul mengenai posisi perempuan di ruang-ruang pengambilan keputusan adat. Apakah pembagian kerja ritual berbanding lurus dengan distribusi kuasa struktural? Dialog semacam ini penting agar kesetaraan tidak berhenti pada simbol. Tradisi yang hidup selalu berinteraksi dengan perubahan sosial di luar komunitas. Generasi muda Banokeling kini bersentuhan dengan pendidikan formal dan media digital. Dinamika tersebut berpotensi memperluas tafsir tentang peran gender di masa depan.
Dalam konteks antropologi Indonesia, Clifford Geertz (1960) pernah membaca masyarakat Jawa melalui simbol dan makna. Perspektif simbolik membantu memahami bahwa tindakan memasak dalam ritual bukan sekadar aktivitas material. Kegiatan tersebut merepresentasikan tanggung jawab moral laki-laki terhadap keberlangsungan adat. Api dapur menjadi metafora penjaga harmoni komunitas. Perempuan yang duduk menunggu bukan simbol pasivitas, melainkan bagian dari ritme kolektif yang telah disepakati. Keduanya terikat dalam jaringan makna yang saling melengkapi. Dengan cara itu, ritus menghadirkan keseimbangan yang khas.
Adat dan Modernitas
Realitas sosial Indonesia hari ini sering memisahkan adat dan modernitas sebagai dua kutub yang berlawanan. Banokeling justru memperlihatkan kemungkinan dialog antara tradisi dan gagasan kesetaraan. Praktik lokal memberi inspirasi bagi gerakan gender yang sering berangkat dari teori Barat. Keadilan tidak selalu lahir dari slogan, melainkan dari kebiasaan yang dijalankan secara konsisten. Laki-laki yang memasak dalam Perlon Unggahan memberi pesan bahwa maskulinitas tidak identik dengan dominasi. Keteladanan semacam ini berpotensi meruntuhkan sekat psikologis dalam keluarga Indonesia. Dalam pada ini, transformasi sosial justru dapat dimulai dari dapur adat yang sederhana.
Argumen bahwa adat selalu mengekang perempuan perlu ditinjau ulang melalui kasus ini. Banokeling menawarkan narasi berbeda tentang distribusi kerja. Tradisi bukan tembok beku, melainkan ruang hidup yang dinamis. Ketika masyarakat lain mempersoalkan beban ganda perempuan, komunitas ini telah mempraktikkan pembagian yang relatif seimbang dalam momentum penting. Pengalaman tersebut memberi dasar empiris bagi diskursus akademik tentang gender dan lokalitas.
Dari sudut pandang etika sosial, kerja kolektif dalam Perlon Unggahan memperlihatkan solidaritas yang kuat. Laki-laki tidak merasa direndahkan oleh tugas dapur karena makna kehormatan dilekatkan pada kerja tersebut. Perempuan tidak dipinggirkan karena posisi duduk menunggu memiliki legitimasi simbolik. Relasi yang terbentuk berlandaskan saling percaya. Kepercayaan menjadi fondasi kohesi sosial yang jarang terlihat di masyarakat urban. Nilai tersebut patut direnungkan dalam konteks fragmentasi sosial dewasa ini. Dengan inilah tradisi Banokeling menyajikan pelajaran penting tentang harmoni peran.
Fenomenologi pengalaman ritual juga menyingkap dimensi afektif yang mendalam. Keringat laki-laki yang menetes di atas tungku menjadi bagian dari persembahan kolektif. Perempuan yang menyaksikan proses tersebut merasakan keterlibatan emosional tanpa harus bekerja fisik. Kesadaran bersama membentuk rasa memiliki terhadap hasil masakan. Hidangan yang tersaji bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kebersamaan. Setiap suapan menghadirkan ingatan tentang kerja gotong royong. Momen tersebut memperkuat identitas komunitas secara berkelanjutan.
Referensi Kontekstual
Dalam lanskap kebijakan nasional tentang pengarusutamaan gender, praktik lokal seperti ini dapat menjadi referensi kontekstual. Program pemberdayaan sering kali gagal karena mengabaikan akar budaya. Banokeling menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu memerlukan intervensi eksternal. Kearifan lokal mampu mengoreksi bias patriarki secara subtil. Pemerintah dan akademisi dapat belajar dari pendekatan berbasis komunitas. Penguatan nilai egaliter dapat tumbuh dari dalam tradisi. Sinergi antara adat dan kebijakan modern membuka peluang transformasi yang lebih membumi.
Dinamika gender di Indonesia juga dipengaruhi arus globalisasi dan media sosial. Representasi maskulinitas sering dibingkai secara sempit melalui budaya populer. Laki-laki didorong untuk tampil dominan dan menjauhi kerja domestik. Kontras dengan gambaran tersebut, Banokeling merawat maskulinitas yang merangkul kerja dapur sebagai kehormatan. Praktik ini menjadi kritik diam terhadap stereotip modern. Kesadaran alternatif semacam ini penting dalam membangun generasi yang inklusif.
Kesetaraan gender bukan sekadar distribusi tugas, melainkan pengakuan martabat yang setara. Dalam Perlon Unggahan, martabat tersebut terjaga melalui peran yang saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan berbagi ruang tanpa saling meniadakan. Pembagian kerja ritual memperlihatkan bahwa keadilan dapat hadir dalam format yang berbeda dari standar urban. Pengalaman ini mengingatkan bahwa kesetaraan tidak selalu berarti kesamaan mutlak. Harmoni dapat tercapai melalui keseimbangan yang kontekstual. Banokeling menghadirkan model relasi yang berakar pada kearifan.
Refleksi atas tradisi ini mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat adat dengan kacamata baru. Alih-alih memosisikan tradisi sebagai hambatan, pendekatan dialogis membuka peluang reinterpretasi. Komunitas lokal memiliki daya kreatif dalam merespons isu kontemporer. Dinamika gender dalam Perlon Unggahan membuktikan bahwa adat dapat berjalan seiring dengan semangat keadilan. Praktik tersebut memberi harapan bahwa perubahan sosial tidak selalu datang dari pusat kekuasaan. Desa dan komunitas adat menyimpan energi transformasi yang sering terabaikan. Dari dapur-dapur sederhana di Banokeling, percakapan tentang kesetaraan menemukan akar yang membumi dan bernas.
nDalem Sastronegaran, 2026
—-
*KRHA. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I. (Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto. Saat ini menjabat sebagai Pengageng Kapujanggan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat).




