Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*

 

1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika

Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian kontemporer yang kerap menampilkan metafora abstrak, bahasa teoritik, dan simbol-simbol yang menuntut jarak intelektual, Fajrul justru mengambil jalan berlawanan. Ia menghadirkan dapur, ibu, makanan, kopi, gorengan, dan ruang hidup sehari-hari sebagai pusat imajinasi puisinya. Pilihan ini bukan kebetulan, dan jelas bukan tanpa konsekuensi.

Pilihan estetik tersebut tidak dapat dilepaskan dari posisi hidup penyairnya. Fajrul Alam lahir di Kebumen (2001) dan tumbuh dalam lanskap keseharian yang tidak jauh dari dapur rumah, angkringan malam, kampung, dan ritme hidup kelas pekerja. Ia bukan penyair yang lahir dari jarak sosial dengan realitas yang ditulisnya. Pengalaman hidupnya (sebagai guru (ngaji), anak, bagian dari keluarga, dan individu yang akrab dengan kerja sunyi) menjadi sumber utama pengendapan puisinya. Karena itu, ketika makanan, ibu, dan aktivitas sehari-hari muncul berulang kali dalam puisinya, ia tidak sedang mengonstruksi tema, melainkan sedang menuliskan apa yang sungguh ia hidupi.

Dalam pengalaman saya membaca dan mengikuti dinamika sastra mutakhir, kesederhanaan sering kali disalahpahami sebagai ketiadaan kedalaman. Puisi yang terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari dianggap tidak cukup “tinggi”, tidak cukup “rumit”, atau tidak cukup “intelektual”. Namun Fajrul tampaknya tidak sedang berlomba menciptakan puisi yang ingin dikagumi karena kecanggihannya. Ia memilih menulis puisi yang ingin ditemani: puisi yang bersedia tinggal bersama pembacanya dalam ruang-ruang hidup yang paling biasa.

Sikap ini segera terasa sejak kita berhadapan dengan larik-larik yang, pada pandangan pertama, tampak ringan, bahkan nyaris main-main. Dalam sajak “Sekilas Pertanyaan”, Fajrul menulis:

“Apa yang kau tahu tentang wanita?
Ia adalah candu, rindu,
dan Seblak dan Es boba”

Di tangan penyair lain, perempuan sering dihadirkan sebagai figur abstrak: simbol kekosongan, mitos asal-usul, atau metafora kosmik yang jauh dari pengalaman konkret. Fajrul memilih arah yang berbeda. Ia menyandingkan “candu” dan “rindu” dengan “Seblak dan Es boba”: objek keseharian yang akrab, banal, bahkan dianggap remeh. Pilihan ini bukan sekadar strategi stilistika. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa pengalaman manusia (termasuk cinta dan rindu) tidak selalu harus diangkat ke langit simbolik agar terasa bermakna.

Sikap membumi ini berulang dan konsisten. Dalam sajak “Nasi Jamblang”, misalnya, makanan tidak hanya menjadi objek kuliner, melainkan metafora etika hidup:

“Dibingkisnya kecil-kecil dengan daun jati
Ditemaninya dengan sejumlah lauk-pauk
yang sabar dan rendah hati”

Kesederhanaan nasi jamblang (dibungkus kecil, lauk yang “sabar dan rendah hati”) menjadi cermin cara pandang terhadap hidup. Bahkan ketika pilihan lauk digambarkan sebagai sesuatu yang “lebih diminati”, puisi ini tidak berubah menjadi kritik sosial yang lantang. Ia tetap bergerak dalam nada rendah, membiarkan pembaca menemukan sendiri maknanya, hingga akhirnya kebahagiaan digelar “lebar-lebar / pada sepiring kebahagiaan”. Kebahagiaan di sini tidak hadir sebagai pencapaian besar, melainkan sebagai kecukupan yang disadari.

Pilihan serupa muncul dalam sajak “Purworejo”, ketika sebuah kota tidak digambarkan melalui narasi sejarah besar atau simbol-simbol monumental, melainkan melalui kedekatan emosional yang sangat konkret:

“Purworejo tak lain adalah kota
yang dikonstruksi dari cinta,
rindu, dan dawet ayu.”

Kota dibaca sebagai ruang batin, bukan entitas administratif. Dawet ayu tidak hadir sebagai ornamen lokalitas, melainkan sebagai penanda pengalaman hidup yang benar-benar dialami. Di titik ini, makanan berfungsi sebagai bahasa ingatan dan kedekatan; sesuatu yang hanya mungkin ditulis oleh penyair yang hidup di dalam ruang itu, bukan sekadar mengamatinya dari jauh.

Bahkan ketika berbicara tentang pengabdian dan kerja, Fajrul tetap memilih bahasa yang tenang. Dalam sajak “Pengabdian”, ia menulis:

“Pengabdian adalah geliat dedaunan
yang menuruti sepoi angin
dengan tekun dan rajin”

Tidak ada heroisme. Tidak ada jargon perjuangan. Pengabdian justru disamakan dengan daun yang “tak sekalipun mengeluh”. Sikap ini selaras dengan figur ibu yang kelak menjadi pusat etika puisinya: ibu yang bekerja, memberi, dan menanggung tanpa perlu pengakuan.

Kesederhanaan semacam ini sering kali dianggap aman, bahkan terlalu aman. Namun justru pada titik inilah tampak bahwa puisi-puisi Fajrul mengandung risiko estetik yang tidak kecil. Dengan memilih bahasa yang dekat, ia berhadapan langsung dengan tuduhan banal, sentimental, atau tidak kritis. Akan tetapi, alih-alih menghindari tuduhan itu dengan menaikkan tingkat abstraksi, Fajrul justru menguatkan pilihannya: tetap tinggal di dapur, tetap berbicara tentang ibu, tetap menuliskan makanan yang dimasak dan dimakan sehari-hari.

Pertanyaan yang kemudian menjadi penting bukan lagi soal apakah puisi-puisi ini indah atau tidak, melainkan apa yang sedang ia lawan melalui pilihan kesederhanaan tersebut. Mengapa dapur dijadikan pusat imajinasi? Mengapa ibu hadir berulang kali sebagai figur yang bekerja dalam diam? Dan mengapa makanan (yang kerap dianggap urusan remeh) diberi ruang begitu serius dalam puisinya? Dari pertanyaan-pertanyaan inilah esai ini bergerak, membaca Resep Bahagia bukan sebagai perayaan rasa, melainkan sebagai sikap estetik dan etika hidup sunyi yang bekerja tanpa suara keras, tetapi justru karena itu terasa lebih tahan lama.

2. Apa yang Dilawan Fajrul Alam? 

Dalam sajak “Sekilas Pertanyaan”, Fajrul Alam menutup puisinya dengan larik yang sengaja mengganggu kenyamanan estetika:

“Apa yang kau tahu tentang wanita?
Ia adalah candu, rindu,
dan Seblak dan Es boba”

Di sinilah medan perlawanan estetik Fajrul dapat ditandai dengan cukup terang. Ia tidak sedang bercanda, apalagi merendahkan puisi. Ia justru sedang mengoreksi arah; menggeser puisi dari bahasa yang terlampau sublim menuju bahasa yang berani menyentuh tubuh, lidah, dan pengalaman sehari-hari.

Menariknya, sebelum sampai pada “Seblak dan Es boba”, puisi ini telah terlebih dahulu melewati jalur metafor yang lazim dan mapan. Perempuan digambarkan sebagai “air mata yang mengalir dari samudra lara”, “belantara cinta”, hingga “paragraf yang berserakan tanda koma”. Semua metafor itu indah, puitis, dan sah secara tradisi. Namun justru karena terlalu akrab di telinga sastra, ia berisiko menjadi klise: indah, tetapi menjauh.

Maka ketika Fajrul tiba-tiba menyebut makanan jalanan yang akrab di lidah generasi kini, puisi seolah berhenti sejenak, lalu berbalik arah. “Seblak dan Es boba” tidak hadir sebagai lelucon, melainkan sebagai tindakan estetik yang sadar. Ia menurunkan perempuan dari langit simbol menuju dunia yang bisa disentuh, dirasakan, dan dibagikan. Cinta dan rindu tidak lagi melayang di awang-awang bahasa, tetapi hadir dalam pengalaman inderawi yang konkret: pedas, manis, hangat, dan segar.

Pola ini bukan kasus tunggal. Dalam sajak “Nasi Jamblang”, Fajrul kembali menegaskan keberpihakannya pada kehidupan sehari-hari:

“Selezat-lezatnya lauk-pauk adalah lapar”

Kalimat ini bekerja sebagai hikmah yang lahir dari pengalaman, bukan dari teori. Kebahagiaan dalam puisi ini tidak dibangun melalui metafisika rumit, melainkan melalui sepiring nasi yang digelar “pada sepiring kebahagiaan”. Puisi tidak sedang mengajak pembaca mengagumi kecerdikan simbolik, tetapi mengingatkan pada sesuatu yang sering luput: bahwa rasa syukur kerap lahir justru dari kekosongan.

Demikian pula dalam “Nasi Kucing”, puisi memilih hadir di angkringan malam hari, ruang sosial yang jauh dari kemegahan sastra:

“Nasi kucing dan Angkringan
tak sudi datang di siang terang
Melainkan di pekat malam
yang suntuk oleh kangen beserta kenangan”

Di sini, puisi bekerja sebagai teman sunyi, bukan sebagai monumen. Ia menemani manusia ketika rindu tidak selesai oleh kata-kata besar, melainkan oleh kehadiran sederhana: sebungkus nasi kecil dan percakapan yang tidak perlu dipamerkan.

Maka, yang sesungguhnya dilawan Fajrul Alam adalah puisi yang menjadikan keindahan sebagai jarak. Puisi yang terlalu sibuk membangun aura keagungan, tetapi lupa pada denyut hidup orang kebanyakan. Bahasa semacam ini, meminjam Pierre Bourdieu, kerap berfungsi sebagai symbolic domination: bahasa sastra menjadi penanda otoritas kultural, bukan medium empati (Bourdieu, The Rules of Art, Stanford: Stanford University Press, 1996).

Namun perlawanan Fajrul tidak mengambil bentuk konfrontasi. Ia tidak menulis pamflet, tidak membangun retorika ideologis, dan tidak menuding siapa pun. Ia cukup menulis tentang nasi, gorengan, kopi, dan makanan kecil yang akrab. Justru dalam kesederhanaan itulah kritik bekerja secara halus dan efektif. Puisi ini memilih menghindari elitisme, bukan menyerangnya secara frontal.

Sikap semacam ini berkelindan dengan apa yang oleh Carolyn Forché disebut sebagai poetry of witness: puisi yang bertanggung jawab pada dunia konkret tempat manusia hidup, bukan semata pada kemegahan bahasa atau kecanggihan simbol (Forché, The Country Between Us, New York: Harper & Row, 1978). Puisi menjadi kesaksian yang rendah hati: hadir, mendengar, dan menemani.

Dengan demikian, yang dilawan Fajrul Alam bukanlah estetika, melainkan estetika yang lupa pada asal-usulnya. Ia mengingatkan (tanpa suara keras) bahwa puisi tidak harus menjauh untuk menjadi “dalam. Puisi justru menemukan daya hidupnya ketika ia setia pada pengalaman yang paling dekat, paling biasa, dan paling manusiawi.

3. Dapur dan Ibu : Pusat Imajinasi Etika, Bukan Nostalgia

Pilihan estetik Fajrul Alam menjadi semakin terbaca ketika dapur dan ibu muncul berulang kali dalam puisinya. Namun penting ditegaskan sejak awal: dua ruang ini tidak dihadirkan sebagai ornamen sentimental atau nostalgia masa kecil. Dapur dan ibu dalam puisi Fajrul justru bekerja sebagai pusat laku etika: tempat nilai hidup dijalankan tanpa wacana, tanpa pidato, tanpa klaim moral.

Dalam sajak “Sayur Kangkung”, Fajrul menulis:

“Emak menyajikan bahagia melalui masakannya
Ia teramat terampil tampil bahagia
Meski duka tertambat di dadanya
dan luka tertanam di ladang sunyi hatinya”

Bait ini menampakkan ironi yang tenang, nyaris tidak disuarakan. Kebahagiaan disajikan oleh seseorang yang justru menyimpan duka paling dalam. Ibu tidak hadir sebagai figur heroik yang dielu-elukan, juga bukan sosok mitologis yang disucikan. Ia hadir sebagai manusia konkret, yang memilih memasak, menyambut, dan memberi, meskipun luka tidak pernah benar-benar pergi.

Di titik ini, dapur berhenti menjadi ruang sentimental. Ia berubah menjadi ruang etika. Tidak ada deklarasi pengorbanan, tidak ada pengakuan kesalehan. Yang ada hanyalah kerja berulang yang sunyi: memasak, menyajikan, dan menahan luka agar tidak menetes ke meja makan. Etika dalam puisi Fajrul tidak lahir dari slogan, melainkan dari ketekunan yang tidak mencari sorotan.

Nada semacam ini berlanjut dalam “Bumbu Pecel”:

“Ibu menabur kasih berkali-kali
pada setiap-setiap nasi,
bumbu pecel, sambal terasi
dan tahu isi.”

Kata menabur di sini penting. Ia menandai kerja yang dilakukan berulang, nyaris mekanis, tanpa ekspektasi balasan. Kasih tidak hadir sebagai perasaan besar yang diumumkan, melainkan sebagai kebiasaan kecil yang terus dilakukan. Dalam horison ini, cinta bukan peristiwa emosional, tetapi laku yang konsisten.

Cara pandang semacam ini beresonansi dengan gagasan Emmanuel Levinas tentang etika sebagai tanggung jawab yang lahir dari kehadiran konkret yang lain. Etika, bagi Levinas, tidak bermula dari sistem nilai abstrak, melainkan dari relasi sehari-hari yang menuntut tanggung jawab tanpa pamrih (Totality and Infinity, Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969). Ibu dalam puisi Fajrul bekerja tepat di wilayah ini: etika yang tidak berkhotbah, tetapi hadir sebagai tindakan.

Menariknya, etika dapur ini tidak hanya melekat pada figur ibu, tetapi juga merembes ke objek-objek makanan itu sendiri. Dalam “Nasi Jamblang”, misalnya, makanan kecil yang dibungkus daun jati justru menyimpan hikmah yang besar:

“Selezat-lezatnya lauk-pauk adalah lapar”

Kalimat ini tidak tampil sebagai pepatah yang diajarkan, melainkan sebagai kesadaran yang lahir dari pengalaman. Lapar di sini bukan sekadar kondisi fisik, tetapi keadaan batin yang membuat manusia kembali peka. Kebahagiaan tidak datang dari kelimpahan lauk, melainkan dari kesiapan menerima apa yang ada. Etika hidup sunyi bekerja melalui kesederhanaan rasa.

Hal serupa tampak dalam “Nasi Bakar”, ketika nasi digambarkan “merelakan dirinya / dibakar dan ditelan”. Metafora ini sederhana, tetapi sarat makna. Pengorbanan tidak dibingkai sebagai tragedi besar, melainkan sebagai bagian dari siklus hidup yang diterima dengan lapang. Bahkan waktu, dalam sajak ini, “rela dibakar rindu”: sebuah penerimaan yang tidak berisik.

Dalam “Nasi Kucing”, etika dapur bergerak ke ruang sosial yang lebih luas: angkringan malam hari.

“Nasi kucing dan Angkringan
tak sudi datang di siang terang
Melainkan di pekat malam
yang suntuk oleh kangen beserta kenangan”

Di sini, makanan kecil menjadi penyangga kesehatan batin. Ia hadir justru ketika manusia berada di titik rapuh: malam, rindu, kenangan. Puisi tidak menawarkan solusi besar, tetapi kehadiran yang cukup: sebungkus nasi, percakapan singkat, dan senyum yang kembali kuat.

Dengan demikian, dapur dan ibu dalam puisi Fajrul tidak bergerak ke masa lalu sebagai nostalgia, melainkan ke dalam sebagai etika hidup sunyi. Etika ini tidak membutuhkan panggung, tidak memerlukan pengakuan. Ia bekerja pelan, diam, nyaris tak terlihat, namun menopang kehidupan sehari-hari jauh lebih kokoh daripada slogan moral apa pun.

Puisi-puisi ini tidak sedang merayakan kenangan, melainkan mengajukan cara hidup: bahwa kebajikan dapat tumbuh dari tindakan paling sederhana, dan justru karena kesederhanaannya, ia menjadi nyata, manusiawi, dan bertahan lama.

4. Puisi Kuliner sebagai Kritik terhadap Sastra Elitis: Dari Gorengan ke Etika Kehadiran

Dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer, puisi kerap diposisikan sebagai wilayah eksklusif: bahasa yang ditinggikan, metafora yang dirumitkan, dan pengalaman hidup yang disaring sedemikian rupa agar tampak “layak” disebut sastra. Di tengah kecenderungan itu, pilihan estetik Fajrul Alam tampak bergerak ke arah yang berlawanan. Ia justru menghamparkan puisinya di meja makan, di angkringan, di dapur, dan di pagi hari yang berbau kopi dan gorengan. Dalam sajak “Jumat Pagi”, Fajrul menulis:

“Bahagia adalah sibuk di pagi hari
menekuni gorengan
menyelami kopi yang mengepul harum”

Bait ini nyaris tanpa ambisi simbolik. Tidak ada metafora kosmik, tidak ada krisis ontologis, tidak ada kegelisahan metafisik yang rumit. Namun justru di situ letak sikap estetiknya. Fajrul tidak sedang meniadakan kedalaman, melainkan menggeser sumber kedalaman: dari bahasa yang rumit ke pengalaman yang jujur.

Gorengan dan kopi adalah benda yang terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga sering dianggap tidak pantas masuk wilayah puisi serius. Dalam tradisi sastra yang elitis, benda-benda semacam ini kerap dipandang banal; tidak cukup “tinggi” untuk diolah menjadi makna. Fajrul menolak anggapan tersebut. Ia tidak mengangkat gorengan agar menjadi simbol agung; ia justru membiarkannya tetap sebagai gorengan, dan dari situ memetik hikmah.

Sikap ini tampak konsisten dalam sajak “Nasi Jamblang”. Puisi ini tidak hanya menyebut makanan khas Cirebon, tetapi juga menghadirkan proses batin di balik pilihan lauk yang sederhana: “Selezat-lezatnya lauk-pauk adalah lapar”.

Kalimat ini sering terdengar sebagai pepatah, tetapi dalam konteks puisi Fajrul, ia tidak hadir sebagai nasihat kosong. Lapar menjadi syarat etis: kondisi batin yang membuat manusia mampu menghargai apa pun yang ada di hadapannya. Kebahagiaan tidak dihasilkan oleh kelimpahan, melainkan oleh kesiapan menerima. Bahkan tindakan pembeli yang “mengambil tiga bungkus / nasi jamblang yang menggemaskan” dan “menggelarnya lebar-lebar / pada sepiring kebahagiaan” menegaskan bahwa kebahagiaan tidak identik dengan kemewahan, melainkan dengan kecukupan yang disadari.

Di titik ini, puisi kuliner Fajrul mulai menunjukkan fungsinya sebagai kritik kultural. Ia mengajukan pertanyaan diam: mengapa sastra harus selalu berbicara tentang penderitaan besar, konflik ideologis, atau kegelisahan abstrak, sementara kehidupan sehari-hari (tempat manusia sungguh-sungguh hidup) justru disisihkan?

Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa selera estetik sering kali berfungsi sebagai mekanisme pembeda sosial, sebagai bentuk kekuasaan simbolik yang menentukan siapa yang dianggap berbudaya dan siapa yang tidak (Distinction, Cambridge: Harvard University Press, 1984). Puisi yang terlalu elitis, sadar atau tidak, bekerja dalam logika ini: ia menuntut kompetensi tertentu agar bisa diakses. Fajrul, sebaliknya, menurunkan puisi ke ruang bersama, tanpa mengorbankan martabatnya.

Hal ini terlihat pula dalam “Nasi Kucing”, ketika makanan kecil angkringan menjadi penyangga kesehatan batin:

“Katanya, supaya manusia
Sehat batinnya seraya kuat senyumnya”

Angkringan tidak diromantisasi secara berlebihan. Ia hadir sebagai ruang sosial malam hari, tempat manusia yang letih oleh siang menemukan jeda. Puisi ini tidak memuja kemiskinan, tidak menertawakan kesederhanaan. Ia justru menunjukkan bahwa kehidupan batin sering kali diselamatkan oleh hal-hal kecil yang bersedia hadir saat manusia rapuh.

Dalam “Nasi Bakar”, sikap ini mencapai bentuk yang lebih reflektif:

“Sehimpun nasi
merelakan dirinya
dibakar dan ditelan”

Pengorbanan di sini tidak digambarkan secara heroik. Tidak ada tragedi besar, tidak ada kepahlawanan. Yang ada hanyalah penerimaan sunyi. Bahkan waktu pun “rela dibakar rindu”. Fajrul tidak mengubah nasi menjadi simbol besar; ia membiarkan nasi tetap nasi, lalu dari situ mengalir kesadaran tentang hidup yang tak selalu memilih, tetapi menerima.

Konsistensi ini berlanjut hingga sajak “Piscok”, ketika makanan ringan bersinggungan dengan dunia digital dan kerapuhan mental. Notifikasi pengiriman, keterlambatan kurir, dan kalimat “maaf” yang datang terlambat justru membuka kritik sosial yang halus: tentang penundaan, ketidakhadiran, dan kegagalan empati dalam dunia modern. Sekali lagi, Fajrul tidak menggurui. Ia cukup mencatat, dan catatan itu berbunyi lebih keras daripada khotbah.

Dengan demikian, puisi kuliner Fajrul tidak sekadar menghadirkan tema alternatif, tetapi menawarkan sikap estetik sekaligus etis. Ia menolak puisi yang sibuk memamerkan kecanggihan bahasa, dan memilih puisi yang bersedia menjadi ruang singgah. Puisinya tidak ingin dikagumi dari kejauhan, tetapi dirasakan dari dekat.

Dalam konteks ini, puisi Fajrul dapat dibaca sebagai kritik diam terhadap sastra yang kehilangan empati karena terlalu sibuk membangun jarak simbolik. Ia tidak menurunkan standar sastra; ia justru mengingatkan bahwa ukuran kedalaman tidak selalu terletak pada kerumitan bahasa, melainkan pada kemampuan puisi untuk hadir bersama manusia.

Maka, gorengan dan kopi dalam puisinya bukan sekadar objek. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa sastra yang berjarak dari kehidupan sehari-hari, betapapun canggihnya, berisiko kehilangan fungsinya yang paling mendasar: menjaga manusia agar tetap merasa ditemani.

5. Etika Hidup Sunyi: Puisi sebagai Cara Bertahan, Bukan Menang

Puncak sikap estetik Fajrul Alam tampak paling jernih dalam sajak “Menjelang Subuh”. Di puisi ini, seluruh pilihan tematik dan etik yang sebelumnya tersebar (dapur, kopi, kehangatan kecil, waktu rapuh) bertemu dalam satu citra yang tenang dan rendah hati:

“Aku ingin menjelma secangkir kopi
yang membawa kehangatan
di kala hujan bergemuruh menjelang subuh”

Tidak ada metafora besar yang mengklaim pencerahan. Tidak ada janji keselamatan atau seruan untuk menaklukkan hidup. Yang hadir hanyalah secangkir kopi (hangat, sederhana, dan sementara) di tengah waktu yang paling rawan: menjelang subuh, ketika tubuh belum sepenuhnya kuat, pikiran masih berantakan, dan hujan menambah rasa dingin yang tak perlu dilebih-lebihkan.

Di titik ini, puisi Fajrul memperlihatkan watak etiknya dengan sangat terang. Ia tidak menempatkan puisi sebagai alat kemenangan, melainkan sebagai cara bertahan. Bertahan dari dingin, dari lelah, dari hidup yang sering kali tidak memberi jeda. Kehangatan yang ditawarkan puisi ini bukan solusi struktural, bukan pula resep kebahagiaan universal. Ia hanyalah kehadiran kecil; cukup agar manusia tidak runtuh.

Pilihan untuk “menjelma secangkir kopi” adalah pernyataan estetik yang penting. Fajrul tidak ingin menjadi api unggun yang menyala terang dan mengundang sorak. Ia memilih menjadi hangat secukupnya. Sikap ini berlawanan dengan logika keberhasilan yang kerap merembes ke dalam dunia sastra, ketika puisi diharapkan “menang”: menang secara intelektual, simbolik, bahkan moral. Fajrul tidak mengambil jalur itu. Ia menolak puisi yang ingin tampil penting.

Nada serupa dapat ditelusuri dalam sajak “Kain Lap”, ketika penyair tidak bercita-cita menjadi penyembuh agung, melainkan alat kecil yang meredam:

“Aku ingin jadi sekuyup kain lap
yang mampu meredam setiap demam
yang naik pada tubuhmu”

Kain lap bukan simbol heroik. Ia benda rumah tangga yang sering diremehkan, bekerja diam-diam, dan baru dicari saat tubuh benar-benar membutuhkan. Dalam pilihan citra ini, etika hidup sunyi Fajrul menemukan bentuknya: membantu tanpa pamrih, hadir tanpa deklarasi, dan bekerja tanpa ambisi simbolik.

Etika yang sama muncul dalam “Nasi Bakar”, ketika pengorbanan digambarkan tanpa tragedi:

“Sehimpun nasi
merelakan dirinya
dibakar dan ditelan”

Pengorbanan di sini tidak dipentaskan sebagai kepahlawanan. Ia berlangsung wajar, nyaris biasa. Bahkan perbandingannya dengan waktu “yang rela dibakar rindu” menegaskan bahwa hidup, bagi Fajrul, sering kali tidak membutuhkan penjelasan besar. Ia hanya perlu diterima dengan lapang.

Sikap bertahan ini juga terlihat dalam “Nasi Kucing”, ketika angkringan malam menjadi ruang pemulihan batin:

“Katanya, supaya manusia
Sehat batinnya seraya kuat senyumnya”

Puisi ini tidak sedang meromantisasi kemiskinan atau kesederhanaan. Ia justru menunjukkan bahwa kesehatan batin sering kali dipulihkan oleh ruang-ruang kecil yang tidak disorot sejarah besar. Angkringan malam hari, nasi kucing, dan percakapan singkat menjadi penyangga kewarasan, bukan kemenangan sosial.

Dalam horison etika, sikap semacam ini beririsan dengan apa yang oleh Emmanuel Levinas disebut sebagai etika kehadiran: etika yang tidak lahir dari kehendak menguasai atau mengubah dunia secara total, melainkan dari kesediaan untuk hadir bagi yang lain, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana (Levinas, Totality and Infinity, Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969). Kehangatan dalam puisi Fajrul tidak tampil sebagai klaim moral, tetapi sebagai tindakan kecil yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung.

Dengan demikian, etika hidup sunyi dalam puisi Fajrul bukanlah pelarian dari dunia. Ia justru cara yang lebih rendah hati untuk menghadapinya. Hidup dijalani tanpa ambisi simbolik berlebihan, tanpa hasrat untuk selalu tampak berhasil. Yang dipertahankan justru empati, kewarasan, dan kesediaan untuk tetap ada (meski hanya sebagai secangkir kopi, kain lap, atau sebungkus nasi kecil) di saat dunia terasa paling dingin.

Di sinilah terjadi pergeseran penting: dari wacana kebahagiaan menuju ketahanan. Puisi tidak lagi berfungsi sebagai perayaan, melainkan sebagai penyangga. Ia tidak menjanjikan terang yang abadi, tetapi cukup cahaya agar langkah tidak tersesat. Dalam dunia yang kerap memaksa manusia untuk menang atau kalah, puisi Fajrul Alam menawarkan kemungkinan lain: tetap hidup, tetap manusia, tanpa harus menaklukkan apa pun.

6. Posisi Fajrul Alam dalam Peta Sastra Indonesia Kontemporer: Puisi Empati di Tengah Estetika Jarak

Untuk memahami posisi Fajrul Alam dalam sastra Indonesia kontemporer, kita perlu terlebih dahulu membaca medan sastra tempat puisinya bekerja. Dalam dua dekade terakhir, puisi Indonesia (terutama yang beredar di ruang-ruang legitimasi) cenderung bergerak ke arah simbolisme padat, bahasa konseptual, dan metafora-metafora yang menuntut jarak intelektual. Puisi tidak lagi sekadar ruang berbagi pengalaman, melainkan arena pertunjukan kecanggihan bahasa dan kedalaman referensi.

Dalam situasi semacam ini, puisi sering kali bekerja sebagai tanda kelas kultural: ia memisahkan yang “mengerti” dari yang “tidak”. Bahasa menjadi instrumen seleksi, bukan jembatan empati. Pierre Bourdieu menyebut mekanisme semacam ini sebagai praktik distingsi, ketika karya seni berfungsi mempertahankan hierarki simbolik melalui selera dan kode yang eksklusif (Bourdieu, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, 1984).

Fajrul Alam berdiri di luar arus ini, atau lebih tepatnya, memilih jalur menyamping. Ia tidak mengajukan perlawanan teoritik, tidak menulis manifesto estetik, dan tidak memosisikan puisinya sebagai antitesis eksplisit. Yang ia lakukan justru lebih sunyi dan lebih berisiko: mengosongkan puisi dari ambisi simbolik, lalu mengisinya kembali dengan pengalaman paling dekat dari kehidupan sehari-hari.

Pilihan estetik ini menempatkan Fajrul pada posisi diferensial yang jelas. Ketika banyak penyair berusaha menaikkan puisi ke wilayah abstraksi, Fajrul justru menurunkannya ke dapur. Ketika bahasa sastra sibuk membangun jarak, ia memilih kedekatan. Dapur, ibu, gorengan, kopi, pagi hari; semua itu bukan sekadar tema, melainkan sikap terhadap dunia.

Dalam konteks ini, puisi Fajrul tidak berfungsi sebagai alat representasi ide besar, melainkan sebagai praktik kehadiran. Puisi tidak ingin menguasai pembaca, tidak ingin mengesankan, dan tidak ingin menang dalam kompetisi makna. Ia ingin menemani. Ia ingin berguna secara batin.

Gagasan semacam ini sejalan dengan pemikiran Martha C. Nussbaum tentang peran sastra sebagai wahana empati moral. Menurut Nussbaum, karya sastra yang berakar pada pengalaman sehari-hari justru memiliki kekuatan etis karena melatih pembaca untuk “melihat dunia dari posisi manusia lain secara konkret, bukan abstrak” (Nussbaum, Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life, 1995). Dalam kerangka ini, kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan syarat etika.

Di sinilah letak signifikansi puisi Fajrul. Ia tidak sedang menolak kompleksitas, tetapi menolak kompleksitas yang tercerabut dari kehidupan. Ia tidak menolak metafora, tetapi menolak metafora yang kehilangan tubuh. Puisinya mengingatkan bahwa sastra, pada mulanya, lahir dari kebutuhan manusia untuk saling memahami, bukan untuk saling mengungguli.

Lebih jauh, posisi Fajrul juga dapat dibaca sebagai kritik implisit terhadap apa yang oleh Terry Eagleton disebut sebagai “estetika otonom yang lupa pada fungsi sosialnya” (Eagleton, The Ideology of the Aesthetic, 1990). Ketika sastra terlalu sibuk merayakan dirinya sendiri, ia berisiko kehilangan daya empatinya. Puisi Fajrul bergerak berlawanan arah: ia merendahkan suaranya agar kehidupan sehari-hari dapat terdengar.

Namun penting dicatat: posisi ini bukan posisi marginal dalam pengertian lemah. Justru karena ia tidak mengejar sensasi simbolik, puisi Fajrul memiliki daya tahan yang berbeda. Ia tidak bergantung pada mode teori atau kecenderungan estetik tertentu. Ia bertumpu pada pengalaman universal: makan, bekerja, mencintai, bertahan, dan pulang.

Dengan demikian, Fajrul Alam menempati posisi penting dalam peta sastra Indonesia kontemporer sebagai penyair yang mengembalikan puisi pada fungsi empatiknya. Ia menunjukkan bahwa puisi tidak harus menjadi medan pertarungan makna, tetapi bisa menjadi ruang berbagi keheningan. Tidak harus menjadi monumen, tetapi bisa menjadi meja makan.

Di tengah sastra yang kerap kehilangan empati karena terlalu sibuk membangun jarak simbolik, puisi Fajrul hadir sebagai pengingat: bahwa kedekatan adalah juga sebuah pilihan estetik, dan sekaligus pilihan etika.

7. Penutup: Melawan dengan Dapur, Bertahan dengan Puisi

Pada akhirnya, puisi-puisi Fajrul Alam tidak sedang menawarkan dunia baru, juga tidak mengajak pembaca meninggalkan kenyataan. Ia justru mengajak kita tinggal lebih lama di dalam kehidupan, dengan segala kesederhanaannya, keletihannya, dan kehangatan kecil yang sering terlewat. Dapur, ibu, makanan, kopi, pagi hari: semua itu bukan simbol besar, melainkan ruang hidup yang nyata, tempat manusia belajar bertahan tanpa harus menang.

Dalam lanskap sastra yang kerap memaknai perlawanan sebagai teriakan dan pembaruan sebagai kebaruan bentuk, Fajrul memilih jalan yang nyaris tidak terdengar. Ia melawan dengan merawat. Ia mengkritik dengan mendekat. Ia menolak elitis­me bukan dengan polemik, melainkan dengan kesetiaan pada pengalaman sehari-hari. Puisi, dalam tangan Fajrul, tidak menjadi alat dominasi makna, tetapi sarana empati yang tenang.

Etika hidup sunyi yang bekerja dalam puisinya menunjukkan bahwa sastra tidak selalu harus menjadi medan heroik. Ada kalanya sastra cukup menjadi cara agar manusia tidak tercerabut dari kemanusiaannya sendiri. Dalam pengertian ini, puisi Fajrul tidak mengklaim perubahan besar, tetapi memungkinkan keteguhan kecil: tetap hangat, tetap hadir, tetap peduli.

Maka “melawan dengan dapur” bukanlah sikap pasif, melainkan pilihan etis. Ia adalah perlawanan terhadap lupa, terhadap jarak, terhadap kecenderungan sastra untuk menjauh dari kehidupan yang melahirkannya. Dan justru karena itu, puisi-puisi Fajrul Alam menemukan kekuatannya: bukan sebagai monumen estetik, melainkan sebagai teman hidup yang diam-diam setia.

Di sanalah puisinya bekerja: sunyi, sederhana, dan bertahan lama.***

—-

Daftar Pustaka

Alam, Fajrul. 2025. Resep Bahagia, Kumpulan Puisi. Yogyakarta: Jejak Pustaka.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Bourdieu, Pierre. 1996. The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field. Stanford, CA: Stanford University Press.

Eagleton, Terry. 1990. The Ideology of the Aesthetic. Oxford: Blackwell.

Forché, Carolyn. 1978. The Country Between Us. New York: Harper & Row.

Levinas, Emmanuel. 1969. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press.

Nussbaum, Martha C. 1995. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. Boston: Beacon Press.

—-

*Penulis adalah penyair, Ketua Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.