Teater Dalam Pembelajaran Mendalam (Mengulik Teater Pelajar)
Oleh: Madin Tyasawan*
Kendala sistemik dan guru yang tak menguasai strategi pengajaran membuat teater kurang mendapat perhatian di sekolah.
Kita akan berdecak kagum saat menyaksikan penampilan kelompok teater pelajar berlaga di Festival Teater Pelajar (FTP) yang digelar setiap tahun di Jakarta. Pada rerata penampilannya, mereka memiliki semangat bermain yang enerjik, tubuh yang luwes, dengan vokal yang bertenaga, mengeluarkan potensi permainannya yang apik menarik. Alur lakon dibangun dari kekuatan penghayatan atas karakter yang dimainkan.
Panggung ditata dengan penempatan properti yang dinamis. Tata cahaya yang diperhitungkan bukan semata penerang juga meruang dan mewaktu dalam pengadeganan. Ilustrasi musik atau efek suara atau iringan lagu terintegrasi dalam alur lakon. Kostum dan tata rias dirancang untuk memberi penguatan karakter.
Bahkan, pada beberapa bagian adegan dari beberapa kelompok digarap dengan teknik musikal, menghibur dan mengharukan. Termasuk penggunaan multimedia pada bagian tertentunya tak terkesan sebagai tempelan. Pentas teater pelajar menjadi bukan semata hiburan, juga menawarkan nilai edukasi dan pencerahan.
Perkembangan perteateran pelajar melalui fenomena FTP di Jakarta, terutama pada tiga tahun terakhirnya, amatlah menggembirakan. Lebih dari 50 kelompok teater pelajar yang aktif sebagai peserta FTP. Ajang lomba yang digelar mulai dari babak penyisihan di lima wilayah kota, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara, sampai babak final di tingkat provinsi DKI Jakarta selalu semarak pada setiap tahun penyelenggaraannya.
Kesemarakan pentas teater pelajar bukan saja terjadi di atas panggung, pun kehadiran penonton selalu memenuhi gedung pertunjukan. Setiap kelompok mangerahkan penonton dari para siswa sekolah asal kelompoknya dan orangtua siswa. Juga tak sedikit kehadiran penonton lainnya yang memang tertarik untuk menyaksikan. Kelompok teater pelajar itu berasal dari sekolah menengah atas/kejuruan dan madrasah aliyah yang ada di DKI Jakarta baik dari sekolah negeri maupun swasta.
Ada sekurangnya 12 trophy kemenangan yang dapat diraih melalui capaian prestasi terbaik pada masing-masing kategorinya. Bagi siswa, kemenangan di ajang FTP, dapat membawanya ke jalur pretasi dalam melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguran tinggi.
Kendala yang terjadi
Dari kesemarakan pentas-pentas teater pelajar di ajang FTP, ternyata menyimpan ironi. Berdasarkan tuturan beberapa pelatih, bahkan dari guru pembinanya, aktivitas teater di sekolah belum sepenuhnya didukung oleh kebijakan pimpinan sekolah. Bahkan ada satu dua pelatih yang harus mengeluarkan kocek pribadinya untuk membiayai produksi pentas anak bimbingannya. Kalaupun sekolah mengeluarkan bantuan dana produksi, besaran bantuannya amat tak mencukupi kebutuhan riil mereka. Masih ada sekolah yang sama sekali tak memberi bantuan dana produksi, para siswa anggota kelompok teater berinisiatif melakukan kocekan dari sisa uang saku sekolahnya
Pada kenyataan lainnya, apresiasi sekolah kepada pelatih yang didatangkan dari luar sekolah, amat memperihatinkan. Kalau menghitung sekali seminggu saja mereka mengadakan pelatihan persiapan pentasnya, pada satu bulannya seorang pelatih hanya dibayar tak lebih dari 300 ribuan. Dari perlakuan kurang apresiatif itu, tak sedikit pelatih yang mengundurkan diri. Akibatnya, pelatihan teater mandeg karena tak mendapatkan pelatih pengganti.
Kendala lain yang tak kalah krusialnya ikhwal perekrutan pelatih—yang umumnya kemudian menjadi sutradara atau supervisi penggarapan. Pelatih yang tak memiliki pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak, akan cenderung memaksakan sebuah lakon pilihannya untuk digarap walaupun lakon tersebut belum layak untuk dimainkan oleh para siswa. Ada juga pelatih yang tak memahami metodologi pengajaran, cenderung mengukur capaian permainan siswa dengan ekspektasinya sebagai orang dewasa. Akibatnya, siswa berperan, berdialog, dan bergerak di atas panggung masih terlihat sebagai sebuah instruksi, bukan laku alami yang keluar dari penghayatannya.
Jika di satu sekolah pembimbing sekaligus pelatihnya adalah guru sekolah tersebut, umumnya yang terjadi adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru tersebut pada bidang teater. Tidak banyak guru seni budaya di sekolah yang menguasai pengetahuan dan keterampilan teater, termasuk kurang memahami strategi pengajaran teater. Salah satu alasan itulah, Pusat Perbukuan di bawah Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen telah menerbitkan buku Panduan Guru Seni Teater untuk semua kelas dalam setiap jenjang pendidikan.
Teater dalam Pembelajaran Mendalam
Teater seperti mendapat penguatan eksistensinya saat tahun kemarin (2025) Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) perlu diterapkan di sekolah. Pembelajaran Mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindfull), bermakna (meaningfull), dan menggembirakan (joyfull) melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu (Puskurjar – Kemendikdasmen RI, 2025). Pendekatan pembelajaran seperti ini adalah suasana pelatihan teater yang sudah berlangsung sejak perteateran modern ada di Indonesia.
Proses pembelajaran yang menerapkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga ini menjadi bagian dari kegiatan pelatihan dasar teater. Olah pikir diterapkan ketika siswa diajak membedah naskah lakon dengan menganalisis tema, alur, karakter, dan problematika yang dihadapi tokohnya. Olah hati diberikan saat pelatihan teater memasuki fase simulasi empati dengan aktivitas bermain peran (role-playing) atau latihan improvisasi. Pelatihan olah rasa dilakukan bertahap melalui konsentrasi, penginderaan, kepekaan rasa untuk mengembangkan ekspresi emosi dan pengembangan imajinasi. Olah raga yang biasa disebut dalam terminologi teater sebagai olah tubuh dan acap digabungkan dengan olah vokal dan pernafasan yang juga memiliki banyak varian latihannya dalam teater.
Pembelajaran Mendalam yang memfokuskan pada keterlibatan aktif siswa, pemahaman konsep yang mendalam, dan pengembangan karakter yang mengintegrasikan enam kompetensi pembelajaran global, termasuk komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis juga menjadi sasaran tujuan pembelajaran teater di sekolah.
Pembelajaran teater di sekolah (khususnya sekolah umum, non-seni) memang tidak ditujukan agar siswa menjadi teaterawan atau dramawan profesional—walau ke arah itu juga tak ada buruknya—tetapi bagaimana siswa dibimbing untuk memiliki keterampilan 4C, yaitu: Creativity (peningkatan kreativitas), Critical thinking and problem solving (berpikir kritis untuk memecahkan masalah), Collaboration (dapat bekerjasama), dan Communication (kepandaian berkomunikasi baik lisan maupun tulisan). Dari keterampilan 4C tersebut diharapkan dapat terbentuk dan menguatnya 2C, yaitu Character Building (pembentukan karakter) dan Confidence (kepercayaan diri).
Proses berteater sejatinya adalah pendidikan keterampilan halus (soft skill). Dimana siswa diasah keterampilan berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Selain menempa kemampuan mengelola pribadinya dalam lingkungan, siswa juga mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan memiliki empati kepada orang lain. Pada kemampuan berkomunikasinya, siswa berlatih menyampaikan ide dengan gamblang dan aktif menyimak pendapat temannya. Siswa juga belajar bertanggung jawab kepada tugasnya demi kelancaran dan kesuksesan pentas kelompok teaternya.
Penerapan di sekolah
Basis penciptaan teater merupakan pemaduan banyak bidang seni. Selain berpijak pada seni peran (akting), teater ditopang oleh sastra, seni rupa, musik, tari, bahkan oleh pemanfaatan multimedia. Sebagai seni yang kompleks, teater membutuhkan orkestrasi kerja kelompok. Kebutuhan pada masing-masing bidang kerja kreatif dalam produksi teater memungkinkan pelibatan banyak talenta.
Pada produksi teater di sekolah, keahlian spesifik dan kepeminatan masing-masing pelajar dapat dikolaborasikan dengan optimal. Semisal, pelajar yang punya kepeminatan pada sastra (menulis cerita) dapat diarahkan untuk menulis lakon. Siswa yang memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) dapat diminta untuk menyutradarai. Murid yang berminat pada seni rupa disalurkan untuk mendesain panggung dan pencahayaan.
Peserta didik yang pandai bermain alat musik atau pandai bernyanyi dapat menjadi pengiring atau penata musik. Mereka yang senang dengan seni peran dapat dilatih sebagai pemain. Dan, untuk yang acap menjadi pengurus organisasi di sekolah dipersilakan untuk membentuk tim manajemen produksinya. Begitu pula pada elemen kerja kreatif lain yang menopang proses penciptaan teater dapat dibentuk berdasarkan pada kepeminatan siswa. Di sinilah teater menjadi ruang pembelajaran yang efektif dapat menyalurkan ekspresi kreatif pelajar dari kepeminatan ragam seni dan keterampilan.
Tema pentas teater pelajar pun dapat diarahkan untuk tidak keluar dari konteks pelajaran di sekolah. Mereka dapat dibimbing untuk memilih tema lakon berbasis satu atau lebih mata pelajaran. Misalnya, mereka memilih basis cerita dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan Lingkungan Hidup.
Lakon disusun melalui konflik sosial bagaimana menangani lingkungan hidup agar bencana banjir dan longsor tidak terjadi. Penokohan dihidupkan dari bangunan konflik atas perbedaan persepsi atau konflik kepentingan antartokoh, atau dapat juga dibangun dari perbedaan karakter yaitu tokoh protagonis dan antagonis.
Untuk memperkuat premis lakon, para pelajar dibimbing untuk mencari data mutakhir melalui riset pustaka atau survei dan observasi lapangan. Melalui pembimbingan seperti ini, teater menjadi ruang ekspresi kreatif yang bukan saja tidak terlepas dari pelajaran sekolah, pun menjadi pendekatan pembelajaran yang mendalami mata pelajaran yang ada di sekolah.
Melalui proses penciptaan dan pentas teater, siswa dikondisikan terlibat langsung untuk mendapatkan pemahaman pengetahuan lewat banyak praktik ketimbang teori. Tema lakon yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari juga dapat membuka ruang kesadaran siswa atas tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari masyarakat. Pada akhirnya, siswa mendapat pengalaman bermakna dalam suasana yang menyenangkan. Maka, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang disodorkan Kemendikdasmen kepada sekolah-sekolah mendapat contoh terbaiknya (epitome) dalam aktivitas berteater siswa.
Harapan
Semoga pihak sekolah tidak perlu lagi meragukan manfaat dari keaktifan siswa-siswanya dalam berteater. Jika pihak sekolah berkenan mendanai produksi pentas pelajar, memfasilitasi proses pelatihannya, dan mau mendatangkan ahlinya untuk melatih—berandai dari internal guru tidak ada yang mumpuni—maka, tidak tertutup kemungkinan akan melejitkan nama sekolah sebagai pencetak siswa berprestasi dengan keunggulan karakternya. Profil lulusan seperti yang diharapkan Pemerintah juga akan terpenuhi melalui capaian prestasi akademik dan non-akademik siswa. Hard skill dan soft skill siswa berpadu membentuk karakter unggul.
Kepada instansi terkait, baik instansi pemerintah maupun swasta, memberi dukungan pendanaan dan memfasilitasi pentas-pentas teater pelajar—seperti penyelenggaraan FTP di Jakarta—adalah investasi kebudayaan jangka panjang yang akan melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kreatif dan berdaya saing.
Harapan lainnya ditujukan kepada pegiat teater profesional untuk juga belajar memahami karakteristik pelajar. Sehingga ketika diminta pihak sekolah untuk memberi pelatihan teater, pelatih mampu menerapkan strategi pelatihan yang memperhitungkan aspek psikologi perkembangan usia. Sehingga pentas teater pelajar bukan saja sebagai hiburan yang menarik, mengoptimalisasi keterampilan siswa, pun memberi edukasi, baik kepada pelajar anggota kelompok teaternya juga kepada masyarakat penontonnya. Semoga …
———————————–
Tangerang, 5 Januari 2026
—–
*Madin Tyasawan. Dosen Kajian Drama FKIP UMT / Juri Festival Teater Pelajar 2023 dan 2024/Penulis Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas X SMA/SMK/MA, Pusat Perbukuan – Kemendikdasmen RI.





