Menyobek Kalender: Kapai-Kapai Arifin C Noer dan Ilusi Pergantian Waktu

Oleh: Purnawan Andra*

 

Yang Kelam:

Ini adalah tahun 1960. Ini bukan tahun 1919. Dia akan mati pada tahun 1980. Sudah waktunya kerut ditambah di dahinya.

Abu:

Tobat, apa yang telah kau lakukan?

Yang Kelam:

Menyobek kalender!

(Kapai-kapai, Arifin C Noer, 1970)

 

——

Pergantian tahun hampir selalu dibingkai sebagai peristiwa yang menjanjikan dan penuh dengan nada optimistik. Kalender berganti, kembang api dinyalakan, dan kita percaya bahwa waktu bergerak maju membawa kemungkinan baru.

Menjelang pergantian tahun, waktu terasa menjadi “sesuatu”: ia dihitung, ditandai, dirayakan, sekaligus ditakuti. Kalender disobek, resolusi disusun, kegagalan dikenang setengah bercanda.

Dalam kebudayaan modern, tahun baru dimaknai sebagai titik nol yang menjanjikan perbaikan. Namun keyakinan ini, bisa jadi, sesungguhnya berhak untuk dipertanyakan. Tidak semua orang mengalami waktu sebagai kemajuan.

Bagi sebagian besar orang, terutama mereka yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi dan sosial, pergantian tahun sering kali hanya menandai pengulangan beban yang sama. Di titik inilah naskah teater Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer menjadi relevan untuk dibaca ulang.

Refleksi ini muncul ketika teringat diri saya di tahun 1997 sebagai seorang pemuda kampung nan tanggung yang (sok gelisah) mencari eksistensi diri tiba pertama kali di kota besar bernama Yogya. Bersama kakak yang sudah terlebih dahulu bergabung, saya mengikuti proses kreatif Teater Garasi dalam rangka pementasan naskah Kapai-kapai ini di Gedung Pertunjukan Purna Budaya (waktu itu) di bilangan boulevard UGM. Pementasan waktu itu disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin.

Inti drama yang ditulis Arifin C. Noer pada 1970 itu mengisahkan perjuangan hidup tokoh utama bernama Abu, seorang tokoh yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan materiil juga moral. Alur kisahnya berpusat pada pencarian Abu untuk menemukan Cermin Tipu Daya. Benda yang dianggap ajaib itu selalu diceritakan ibunya yang dipanggil Emak. Dongeng itu mengisahkan seorang pangeran dan putri yang hidup bahagia dan terhindar dari bahaya dan malapetaka berkat Cermin Tipu Daya.

Cerita itu sangat mempengaruhi Abu hingga ia percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh jika menemukan cermin itu yang berada di ujung dunia. Mimpinya itu hidup bersama kesehariannya yang bekerja sebagai buruh. Hingga Abu mengajak istrinya, Iyem, untuk berpetualang mencari cermin itu. Konon setelah melakoni perjalanan spiritual yang panjang dan berat, Abu mendapatkan cermin itu di ujung dunia alias menjelang ajalnya (Tempo.co, 12/11/2025).

 

Kondisi Eksistensial

Kapai-Kapai adalah salah satu karya penting Arifin C. Noer yang tidak sekadar memotret kemiskinan sebagai masalah ekonomi, tetapi sebagai kondisi eksistensial. Naskah ini menghadirkan tokoh-tokoh yang hidup dalam keterbatasan, terjebak dalam rutinitas, dan terus-menerus berhadapan dengan harapan yang gagal terwujud.

Secara estetika dramaturgi, Kapai-kapai bergerak jauh dari struktur drama realis konvensional. Arifin tidak menawarkan alur progresif yang rapi dengan konflik yang menuju resolusi. Yang dihadirkan justru fragmen peristiwa, dialog yang berulang, situasi yang stagnan, dan tokoh-tokoh yang seperti berputar di tempat.

Dramaturgi semacam ini mendekati teater absurd, tetapi tidak sepenuhnya jatuh ke absurditas metafisik ala Beckett. Arifin tetap membumikan absurditas itu pada konteks sosial Indonesia, seperti kemiskinan, keterpinggiran, dan kegagalan struktural yang diwariskan dari waktu ke waktu.

Ruang dalam Kapai-kapai adalah ruang menunggu. Tokoh-tokohnya hidup di antara harapan dan kenyataan yang tak pernah benar-benar bertemu, antara hari ini dan esok yang terasa sama saja. Secara dramaturgis, waktu tidak bergerak ke depan, tetapi berhenti dan mengendap. Arifin membangun estetika stagnasi ini untuk mengajak penonton ikut merasakan kebuntuan hidup yang dialami tokoh-tokohnya.

Melalui dialog tokoh Yang Kelam dan Abu, kegelisahan tentang waktu hadir dalam lakon ini. Abu menyimpan harapan akan hidup yang lebih baik, tetapi yang terus ia terima hanyalah kenyataan yang berulang dan tak berubah. Usia bertambah, hari berganti, tetapi kehidupan tetap berada di titik yang sama. Dalam konteks inilah Kapai-kapai menghadirkan pengalaman manusia yang terjebak dalam kefanaan waktu, waktu yang terus berjalan tanpa menjanjikan perbaikan.

Kalimat “menyobek kalender” yang dikutip di awal tulisan ini menjadi penanda kelelahan manusia terhadap waktu. Yang disobek bukan sekadar tanggal, melainkan harapan bahwa hari berikutnya akan membawa perubahan. Tindakan itu menunjukkan kekecewaan pada waktu yang terus berjalan, tetapi tidak pernah benar-benar mengubah keadaan.

Kapai-kapai menghadirkan manusia yang terlempar ke dalam dunia yang tidak ramah. Tokoh-tokohnya memiliki kehendak, tetapi kehendak itu selalu dibatasi oleh kondisi sosial dan ekonomi yang menekan. Harapan muncul, tetapi segera patah oleh realitas. Eksistensi di sini bukan soal kebebasan abstrak, melainkan soal bertahan hidup dalam struktur yang timpang.

 

Perlawanan yang Ambigu

Dalam konteks masyarakat Indonesia hari ini, terutama menjelang pergantian tahun, kegelisahan ini terasa semakin dekat. Banyak orang merayakan waktu yang berganti, tetapi tidak semua mengalami perubahan yang nyata.

Kalender boleh disobek, resolusi boleh disusun, tetapi struktur hidup sering kali tetap sama. Dalam situasi ini, “menyobek kalender” dapat dibaca sebagai perlawanan yang ambigu, sekaligus tanda keputusasaan dan upaya kecil merebut kendali atas hidup yang terasa dikendalikan oleh waktu.

Di titik ini, sikap Arifin terlihat jelas. Ia tidak sedang mencari makna hidup yang agung atau menawarkan jalan keluar yang meyakinkan. Yang ditampilkan justru kesadaran bahwa hidup berjalan di tempat.

Ketika lakon ini dibaca ulang dalam konteks sosial masyarakat terkini, terutama menjelang tahun baru, banyak orang mengalami stagnasi yang serupa. Upah tak naik, pekerjaan tak pasti, rumah makin jauh dari jangkauan, dan masa depan terasa seperti pengulangan yang ditata ulang dengan istilah baru. “Resolusi tahun baru” sering kali menjadi versi halus dari kalender yang disobek. Kita mengganti angka, tetapi tidak struktur.

Dengannya, konsep kefanaan waktu dalam lakon ini relevan dengan kondisi psikologis masyarakat hari ini. Dalam Kapai-kapai, waktu bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang melelahkan. Menyobek kalender menjadi ekspresi ironis terhadap lingkaran itu.

Menjelang tahun baru, Kapai-kapai mengajak kita bertanya apakah hidup kita benar-benar bergerak, atau hanya mengganti lembar tanpa mengubah cerita. Ia seharusnya tidak berhenti pada rasa getir atau nostalgia estetika. Lakon ini justru menantang kita untuk menggeser cara memaknai waktu dan harapan.

Jika pergantian kalender terbukti tidak otomatis membawa perubahan, maka yang perlu dipikirkan ulang bukanlah harapan itu sendiri, melainkan pada apa harapan digantungkan. Arifin C. Noer, melalui dunia yang beku dan tokoh-tokoh yang terjebak, seolah mengingatkan bahwa perubahan tidak lahir dari angka yang berganti, melainkan dari keberanian menyingkap struktur yang membuat hidup berjalan di tempat.

Di titik inilah pembacaan Kapai-kapai bisa menjadi pijakan etis dan politis. Ia mengajak kita bukan pada kesadaran euforia reflektif tahunan setiap pergantian waktu, tapi kesadaran eksistensial kita di dalam lingkaran kehidupan.

Barangkali, dari kesadaran itulah kemungkinan baru bisa dirumuskan: bukan dengan menyobek kalender demi ilusi waktu yang baru, tetapi dengan membaca ulang hidup kita sendiri, lalu bertanya apa yang benar-benar perlu diubah agar waktu tak lagi sekadar lewat, tapi memberi arah pada proses dirii yang terus dijalani sampai mati nanti.***

 

———

*Purnawan Andra, Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan