Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

Inilah Saatnya

serupa bunyi genta di mulut goa.
kumandangnya menyela ke mana-mana.
juga rongga telinga kita.

ini saatnya, bisikmu dalam isyarat rahasia.
lalu kita pun berbagi dalam sunyi.
dalam desir angin sepoi.
ketika badai gurun pun reda.
inilah saatnya berbagi cerita.
juga cinta. bersama hasrat-hasrat rahasia.
ketika daun-daun pun gugur.
tapi harapan masa depan tetap bertahan.
ditangkainya. adalah catatan bagi umur.
dan kesabaran yang takpernah luntur.

“inilah saatnya kata berakhir diucapkan,”
bisikmu manja.

“dan engkau tidak boleh berduka,” lanjutmu.

apa mau dikata. jitapsara sudah lama dituliskan.
sejak usiamu masih mimpi dan angan-angan
nenek moyang. kita pun wayang.
menunggu kapan panjang ilang ngumandang.
lagu pathetan.

“inilah saatnya matahari suram,”
bisikmu melanjutkan.

dan mega lembayung menaungi bukit
dan gunung. tapi cahaya memancar di baliknya.
isyarat akhir peristiwa adalah awal peristiwa baru.
kisah-kisah abadi antara kita.
engkau dan aku.
catatan abadi di kalbu anak cucu.

 

Sepanjang Doa, Sepanjang Kata dan Frasa

di ambang rembang. terdengar ladrang
panjang ilang. lalu maskumambang
kumandang menembus tawang.
adalah isyarat engkau datang.

lambai tangan perpisahan dan
salam selamat tinggal. aku pun paham.
kebersamaan senantiasa bermakna sendirian.
dalam masing-masing diri yang telah diberkati.

sunyi pun gelora dan huru hara
padang perburuan.

“tidak perlu menjadi ki mandraguna
yang melepas panah bagi si kijang, cintaku,”
bisikmu.

“dalam tiada, aku selalu jaga dalam
rongga dada. sepanjang doa.
sepanjang kata dan frasa.”

ya. ya. hidup adalah pasang surut kalimat.
kesunyian awal dari akhir.
juga kesunyian antara sebagian jeda.
isyarat-isyarat rahasia. itulah rumah kita.
berfondasi kata berdinding klausa.
bertiang makna.

beratapkan alinea. tanpa jendela
dan pintu. terbuka ke arah mana saja.
tempat anak cucu bercengkerama.
mengenang bapak-ibu dan kakek-neneknya.

 

Pohon Kesabaran

tanah pun tak akan kering. karena airmu yang bening. selalu menyela dan membuka pori-pori.

pagi, siang juga malam hari. lewat embun dan hujan. bagi perdu dan rumputan. bagi kolam dan selokan. bagi sawah dan ladang. bagi bunga dan buah. cabang pohon dan daunan. cinta kita yang meruah. musim demi musim. takpernah lelah.

benih ditebar di pesemaian. tumbuh bersama ruh peradaban. sebatang pohon kesabaran. berbungakan doa berbuahkan harapan masa depan. aku tapaki pematang pagi. bersama matahari.
lambai tanganmu menyela-nyela mega. hari pun terbuka sarat cinta. aku tapaki pematang senja. bersama jala-jala sutra.

lambai tanganmu menebar cempaka. hari pun terbuka sarat cinta. dari pematang ke pematang. kita bergandeng tangan. dari pematang ke pematang. kita bertukar peran. agar selalu dalam kebersamaan.

 

Dan Kutulis Kembali Namamu

salam terakhir. darimu.
adalah kata-kata terakhir.
bagi anak cucu.

aku pun tahu ihwal itu.
karena aku lahir dari kalbumu.
dirawat oleh kasih sayangmu.
dan kini giliranku.
merawat bukit-bukit cintamu.
tiga anak dan tiga cucu.

nakal seperti aku.
cantik dan sabar seperti kamu.
kueja. dan kueja kembali namamu.
dalam huru-huruf kapital dan tebal.
seperti tertulis di batu nisan.
700 hari lalu.

ketika salam terakhir kauucapkan.
lewat kerdip mripat yang melati.
walau sunyi, wanginya abadi.
hingga kini. juga nanti.
adalah puisi bagi anak cucu.
yang selalu bicara dalam bahasa kalbu.
serupa harapan dan doa-doamu.

kutulis. dan kutulis kembali namamu.
kini. dalam puisi. biar semua paham
dan mengerti. dirimu selalu ada dalam diriku.
juga anak cucu. kini. dan nanti.
seturut hari-hari berlalu.
hingga maut menjemputku.

 

Kota Kata

memasuki kota kata. selalu saja terbaca.
namamu. di dinding dan batu waktu.
di papan-papan nama jalan.

juga arah ke mana diri harus berjalan.
kueja dan kueja kembali. berkali-kali.
menapaki lorong-lorong kata.
huruf demi huruf berjajar.
menulis namamu.
menjadi bayang-banyang penyerta.
bagi diri. yang terus ngembara.
menenun sisa usia. takhenti-henti.
dalam upaya buat kembali.
mengitari alun-alun kata.

gema suara pun kumandang.
juga lambai tangan dan senyuman.
di seberang hijau rumputan.
lalu kelebat bayang. nyelinap
ke balik pohon keabadian.

aku pun paham.
kata-kata adalah rumah kita.
tempat diri berbagi. juga bercinta.
kita pun abadi. walau di pisah cuaca.

 

Ritus Kenangan

kenangan adalah irisan. juga perjumpaan.
masa lalu dan masa kiniku. ataupun sebaliknya.
masa kinimu dan masa lalumu.

ketika badai waktu lerai.
kenangan adalah gapai tangan kita yang sampai.
serupa telur-telur ayam yang memecah diri.
setelah dua puluh satu hari dierami.
ciapnya pun memecah pagi. bersama
syair-syair pembuka hari.
kita terjemahkan hari-hari.

kemarin dan kini. demi nanti. menunggu
rembang petang. isyarat saat melenggang pulang.
karena kita diikat kontrak.
perjanjian yang musti ditunaikan.
utang piutang hidup dan mati. tanpa
kuat menolak. kita pun cuma berserah diri.

aku memang tidak sendiri. dirimu selalu ada
di balik sunyi.
senyum melati dan lambai salam pandan wangi.
cengkerama anak cucu dan
bisikan-bisikan lirihmu. aku pun bersetia menunggu.
letih diri dilecut-lecut rindu. engkau pun paham
ihwal itu.

kenangan pun membuka ruang. kita cuma
bayang-bayang. boneka wayang di tangan ki dalang.
bergerak dalam irama ladrang panjang ilang.

 

Baris-baris Puisi

kutulis tentang hujan. seusai kemarau.
angin pun desau. malam-malam panjang.
wajahmu mengambang. menghalau risau.
satu gongan ladrang panjang ilang.
lalu dhudha kasmaran.

kumandang pun jauh. hasrat kehendak
mau berlabuh. engkau di beranda rumah cinta.
duduk bersimpuh. dalam lantun doa.
di sana. seharum cempaka mulia.
lalu untaian melati. meredakan gelisah
dalam diri. di sini. dalam baris-baris puisi.

 

Engkau Pun Bumi

engkaulah sebidang tanah. tempat dewi sri
bersemedi.menebar gabah. demi hidup kini
dan nanti. demi diri dan anak cucu di kemudian hari.
maka engkau pun sepetak sawah.
tempat kutebar benih. biar tumbuh dan berakar.
lalu berbuah kebajikan.
karena lumpur dan airmu adalah kesuburan.
lumbung masa depan pun
terbuka. musim demi musim. panen pun
tiada habisnya.

engkau pun bumi. tempat bijian tumbuh.
kecambah bagi masa depan. demi hidup kini
dan nanti. maka engkau pun sebidang pekarangan.
tempat-tempat diri nyiapkan biji-biji tumpang sari.

engkau juga sebidang tanah. tempat diri
mendirikan rumah. pondasinya batuan keyakinan.
tiangnya pohon kesetiaan. dindingnya anyaman
kesabaran. dan atapnya rumbia keteguhan.
maka engkau pun sebidang batur.
tempat diri menambat umur.

tapi kini engkau sebuah pusara. gundukan
tempat anak cucu menyemai rindu. dan aku pun
hujan yang tumpah. menghilir. menuju muara akhir.
merumahkan gelisah.
menunggu hari-hari selesai menghitung mimpi.
dan penjumlahan hingga
pembagian. bersama anak cucu. bersama doa
berayat rindu. menujumu. menuju-Mu.

 

Lambai Tanganmu

seperti harapanmu. nulis puisi takboleh henti.
biar anak cucu ngerti. puisi itu abadi.
dalam jiwa sarat cinta.

“apa saja,” katamu suatu waktu.

dulu. dongeng masa lalu. atau kisah-kisah
para pahlawan. juga cerita pengungsi merapi.
dan anak-anak lahar. aku pun tertawa.
tanpa komentar. aku menjadi penyair lagi.
catatku dalam hati.

hari ini pun kutulis puisi. tapi tentang lambai
tanganmu. ditubir cakrawala ujung sana.
ketika gapaiku hampir sampai. kausambut hangat
dengan canda.

ya, ya. penyair dan puisi. tampak dua tapi
tunggal jiwa. ya, ya. aku dan kamu. di sini
dan di sana. tapi tunggal jua.

—–

* Suminto A. Sayuti lahir di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober 1956. Pada dekade 1970-an saat tergabung dengan komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam forum-forum diskusi sastra maupun pementasan-pementasan puisi dan teater. Di kalangan seniman Yogyakarta, Suminto dikenal sebagai pemuda “bengal” yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh dunia sastra sejak masuk Yogyakarta sekitar 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, mulailah ia menancapkan kukunya di dunia sastra. Suminto yang juga Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerpen, esai sastra, dan sebagainya.

Di antara karya Suminto A. Sayuti adalah, Kumpulan Sajak Malam Tamansari, Resepsi Sastra, Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra, Ensiklopedia Sastra Indonesia, Evaluasi Teks Sastra (2000, terjemahan The Evaluation of Literary Texts karya Rien T. Segers), Semerbak Sajak (2000), Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000), Berkenalan dengan Puisi (Gama Media, 2002). Penghargaan, Kedaulatan Rakyat Award, Bidang Kebudayaan (2005), Anugerah Sastra Yayasan Sastra Yogyakarta (2014).