Pos

Acep Zamzam Noor dan Puisi sebagai Jalan Tarekat Kultural

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Posisi Acep dalam Peta Sastra Indonesia Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960, dan merupakan putra sulung dari KH Ilyas Ruhiat, seorang kiai ternama di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Pengaruh lingkungan pesantren sangat kuat dalam kehidupan awalnya, dengan praktik tarekat dan zikir harian, sehingga […]

Syair Braen: Dari Doa Ritual menuju Etika Sosial dan Tasawuf Komunal

Oleh Abdul Wachid B.S.* Syair Braen: Doa, Perempuan, dan Ingatan Kolektif Jawa-Islam Syair Braen tidak dapat dipahami hanya sebagai teks atau pertunjukan. Ia adalah ingatan yang dilagukan. Ia hidup dalam tubuh orang-orang desa, dalam suara perempuan, dan dalam situasi-situasi genting ketika hidup berhadapan langsung dengan batasnya: kematian, sakit, kehilangan, dan harapan yang digantungkan sepenuhnya kepada […]

Ngalah, Ngalih, Ngelih, Ngantuk

Arsitektur Kesadaran dalam Perjalanan Menuju Kosong Oleh: Gus Nas Jogja* Mukadimah: Empat Gerbang Menuju Jati Diri Dalam jagad pemikiran Jawa, eksistensi manusia tidak dipahami melalui *diktum Cartesian* _“Cogito Ergo Sum”_ yang maknanya “Aku berpikir maka aku ada”, melainkan melalui sebuah laku rasa yang dinamis dan melingkar. Hidup adalah sebuah orkestra perpindahan energi yang dirangkum dalam […]

Mens Rea Patung Macan Kediri: Dari Ilusi Estetik ke Delusi Birokrasi

Oleh: Gus Nas Jogja*   Catatan Kuratorial   Pendahuluan: Singa yang Salah Identitas Di sebuah persimpangan jalan di Kediri, atau mungkin dalam imajinasi kolektif kita yang paling liar, berdiri sebuah patung macan. Namun, ini bukan sembarang macan. Ini adalah macan yang tampak seperti sedang mengalami krisis eksistensial—wajahnya lebih mirip kucing yang baru saja melihat tagihan […]

Bang Jaya Arjuna dan Keberanian yang Mendahului Zaman

Oleh: Selwa Kumar*   Pada awal tahun 2000-an, ketika banyak orang masih nyaman dalam diam, Bang Jaya Arjuna sudah memilih berdiri di ruang terbuka: taman-taman kota Medan. Diskusi-diskusi kritis tentang kekerasan, lingkungan, dan ruang publik ia gelar bersama para aktivis, berpindah dari satu taman ke taman lain—dari Taman Beringin hingga Taman Ahmad Yani di Jalan […]

Desa, Bencana dan Politik Liyan

Oleh: Purnawan Andra*   Bencana sering kita pahami sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba. Hujan deras, tanah longsor, banjir bandang, atau kebakaran hutan kerap dijelaskan sebagai akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Penjelasan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ia belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam. Dalam banyak kasus di Indonesia, bencana bukan semata […]

Dialektika Genosida dan Ekosida dalam Kebiadaban Manusia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Preludium: Ketika Langit Malu Menatap Bumi Di hadapan mimbar sejarah yang retak, kita berdiri memegang dua belah pisau yang sama tajamnya: Genosida dan Ekosida. Satunya menyayat nadi kemanusiaan (humanity), yang lainnya memutus napas alam semesta (ecosystem). Pertanyaan “mana yang lebih biadab?” sejatinya adalah sebuah upaya untuk mengukur kedalaman neraka di […]

Seni dan Hermeneutika: Ketika “Tafsir” dan “Riset” Menjadi Senjata Legitimasi

Oleh: Eko Yuds*   Tulisan ini berpijak pada satu posisi yang tegas: hermeneutika bukanlah pembenar tafsir bebas dalam seni, melainkan disiplin pemaknaan yang justru membatasi kesewenang-wenangan makna. Ketika “tafsir” dan “riset” digunakan tanpa prinsip metodologis dan kesadaran etis, seni berisiko kehilangan watak dialogisnya dan berubah menjadi instrumen legitimasi simbolik—baik bagi ego individual maupun kepentingan institusional. […]

Kaleidoskop Pendidikan 2025: Antropologi Disrupsi dan Politik Pencerahan

Oleh: Gus Nas Jogja*   “Dunia ini adalah sekolah, dan setiap insan adalah buku yang harus kita baca dengan rasa hormat.”   Fragmen Pembuka: Dialektika Ruang Hampa Pendidikan bukanlah sekadar transmisi dogma di atas papan tulis yang berdebu; ia adalah sebuah Kaleidoskop. Sebuah tabung optik di mana setiap pecahan kaca—baik melalui metafisika Sunan Kalijaga, nalar […]

Demokrasi Tabrak Lari: Genealogi Caci-maki dan Banalitas Digital dalam Arus Post Truth

Oleh: Gus Nas Jogja*   Mukaddimah Senjakala Diskursus Publik Demokrasi, yang secara etimologis berakar pada demos dan kratos, seharusnya menjadi ruang bagi kedaulatan yang diskursif. Namun, di bawah bayang-bayang revolusi digital, kita menyaksikan mutasi radikal: Demokrasi Tabrak Lari. Ini adalah kondisi di mana partisipasi politik tidak lagi berbasis pada argumen yang diuji, melainkan pada serangan […]