Lokasi yang dianggap paling angker di situs Calon Arang

Situs Mpu Baradah-Calon Arang. Kediri? Mojokerto?

“Bapak dari Bali?”

Para pekerja yang memperbaiki jembatan kecil dan gorong-gorong  ke arah situs Calon Arang itu mengira kami rombongan dari Bali. Situs di kawasan kecamatan Dirah, Kediri yang letaknya di belakang ladang tebu itu memang kerap dikunjungi peziarah dari Bali, sehingga para pekerja menyangka kami datang dari Bali.

Para pekerja tersebut tampak menyemen  jembatan kecil dan gorong-gorong.  Agakya sebelum diberi semen lintasan jalan kecil  hanya berupa tanah  saja. Gorong-Gorong itu diberi plakat peresmian: Gorong-gorong Calon Arang. Bisa dibilang, areal di depan gorong-gorong adalah tempat parkir bagi mereka yang datang ke situs ini dengan bermobil. Selanjutnya untuk mencapai situs Calon Arang diperlukan sedikit jalan kaki.

Jalan menuju situs Calon Arang

Jalan menuju situs Calon Arang

Di mulut jalan setapak dipancang spanduk seadanya yang diikat di dua tiang bambu bertuliskan: Selamat Datang Di Kawasan Wisata  Situs Calon Arang, Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kediri. Jalan setapak menuju situs sesungguhnya hanya beberapa meter. Namun kita bagaikan masuk meniti sebuah terowongan atau lorong karena di kanan kiri diapit  ladang tebu. Sampai di lokasi situsnya sangat sederhana. Tak ada arca, patung atau pura yang sugestif, indah atau mengesankan. Sama sekali tak ada sesuatu yang menonjol di lokasi. Tapi suasana lumayan teduh karena terdapat beberapa pohon besar.

Kita melihat ada sebuah pendapa ala kadarnya bertiang bambu dan beratap seng. Lantai pendapa itu berupa lantai semen yang dilapisi “karpet” plastik  bermotif kotak-kotak hitam putih seperti kain poleng. Pendapa itu  menaungi tumpukan batuan yang dipagari dan diselimuti dengan kain poleng. Pagar atau jeruji besi bersegi empat yang letaknya di pokok itu dikunci. Namun kita bisa melongok melihat bentuk-bentuk batuannya. Batu besar semi arca  dan batu balok kecil kecil berbentuk silindris  bertumpuk dan berdekatan satu sama lain. Untuk yang diselimuti kain poleng kita menduga-duga bentuk batuan. Juga terdapat batu-batu umpak (batu penyangga tiang rumah) ,doorpel (batu ambang pintu).

Tampak yang menjadi sentral adalah dua batu besar yang dipahat sangat sederhana menyerupai arca beraut wajah manusia. Satu batu menampilkan sosok seorang mengatupkan kedua tangannya. Sementara arca batu lain raut wajahnya dan posisi tangannya  malah sama sekali belum jelas terbentuk, seolah pahatan yang tak jadi dibuat. Tak terlihat sama sekali  batu yang berelief atau bertorehkan aksara sebagaimana prasasti atau inskripsi. Betapapun sederhananya ,adanya  batu-batu yang ditutupi dengan kain poleng menandakan bebatuan di dalam pagar itu dianggap sakral. Sisa lantai yang cukup lebar di depan batu-batu berpagar itu   jelas digunakan tempat penziarah untuk berdoa.

Zaenuri, juru  kunci situs Calon Arang membenarkan cukup  banyak penziarah berdoa di situs ini – meski waktu datangnya tak tentu. “Memang banyak penziarah dari Bali,” kata lelaki berumur 60-an tahun tersebut. Para peziarah menurutnya sering memberikan  sesajen di antara batu-batu tersebut.  “Beberapa waktu lalu rombongan umat Hindu Jawa Timur berbus-bus datang ke sini,”tuturnya. Menurutnya memang beberapa tahun terakhir minat penziarah beragama Hindu dari Bali meningkat . Yang membeayai pembuatan jembatan dan gorong-gorong kecil di depan jalan masuk situs ini menurutnya adalah juga  warga dari Bali. “Tanah tempat parkir mobil telah dibeli oleh orang Bali .Sesungguhnya tanah di situs Calon Arang ini juga mau dibeli, tapi masih belum diperbolehkan oleh pemilik ladang tebu ini,” katanya.

Situs Calon Arang dan Juru Kuncinya

Situs Calon Arang dan Juru Kuncinya

Di samping pendapa itu, tumbuh sebuah pohon preh besar. Di bawah pohon preh itu juga terdapat batu-batuan  dipagari. Pagarnya kayu. Tapi  batu-batunya berserakan. Lebih seperti onggokan batu. Sama sekali tak ada yang berbentuk semi arca atau terlihat dipahat walau sederhana. ” tapi justru di sini yang dianggap lokasi paling angker oleh para penziarah,” kata Edi Santoso, anak muda yang membantu juru kunci .”Ada penziarah Bali yang mengatakan di sini tempat leaknya.”

Calon Arang adalah kisah yang sampai kini masih hidup di Bali. Dan dianggap sebuah kisah sakral. Kisah ini datang dari Jawa Timur. Kita ketahui Calon Arang adalah kisah berlatar belakang zaman Erlangga. Calon Arang, adalah seorang janda dari Dirah yang memimpin sebuah pertapaan yang mempelajari ilmu hitam. Calon Arang sesungguhnya seorang penganut sekte Tantrayana namun dia tergelincir  mempelajari ilmu perleakan. Dalam kisah popular mengenai Calon Arang, ia disebut selalu melakukan ritual terhadap Durga. Calon Arang memiliki putri bernama  Ratna Mangali. Karena putrinya tak kunjung dilamar orang, ia menculik seorang perempuan untuk dipersembahkan sebagai sesaji kepada Durga. Calon Arang melalui ilmu hitamnya dan kekuatan Durga  kemudian menyebarkan teluh ke mana-mana. Ia dan murid-muridnya meniupkan wabah yang menyebabkan banyak warga  di Kediri meninggal.

Lokasi situs Calon Arang termasuk kawasan kecamatan Dirah. Entah memang nama kecamatan ini mengacu kepada  desa tempat Calon Arang berasal atau hanya kesamaan nama saja. Sebab secara arkeologis sesungguhnya sama sekali belum ada bukti bahwa  lokasi  situs Calon Arang adalah betul di masa lalunya merupakan pertapaan Calon Arang atau janda dari Dirah itu. Papan pengumuman dari dinas purbakala yang dipasang di situs Calon Arang sebenarnya sudah memberikan informasi kepada siapapun yang berkunjung ke situs itu bahwa secara arkeologis belum ada data kuat berupa prasasti atau apa yang menunjukkan bahwa benar tempat itu adalah lokasi pertapaan Calon Arang.

Informasi  di papan itu bertuliskan: Situs Calon Arang (Situs Sukorejo) merupakan situs yang berasal dari masa klasik, keberadaan  situs ini sangat melekat erat dengan legenda/kepercayaan masyarakat tentang tokoh Calon Arang atau Nyi Girah. Dalam kajian ilmu arkeologi situs ini belum   dapat disebut kan sebagai situs/petilasan dariCalon Arang atau Nyi Girah, karena  belum ada data arkeologis yang merujuk pada tokoh Calon Arang di tempat ini. Namun demikian kearifan lokal masyarakat tersebut masih terpelihara dengan baik seiring dengan keberadaan situs ini.  Pada tahun 2012, kegiatan penggalian arkeologi bersama antara Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta , BPCB Jawa Timur dan Disbudpar Kabupaten Kediri pernah dilakukan di situs ini dan hasil yang diperoleh adalah ditemukannya struktur bata di sisi timur dan utara situs . Struktur ini diperkirakan dibangun pada periode Majapahit (1293-1478 Masehi).

Betapapun demikian, kepercayaan bahwa lokasi tersebut merupakan bekas pertapaan Calon Arang sudah berlangsung turun temurun di warga sekitar. “Sejak zaman dulu. Zaman mbah-mbah saya tempat ini sudah dikenal sebagai tempat Calon Arang. Tempat ini dulu dianggap angker sekali. Tak ada yang berani ke sini” kata Edi Santoso.  Zaenuri, sang juru kunci membenarkan bahwa sejak dulu tempat ini sudah dikenal sebagai tempat Calon Arang. “Saat  saya kecil di tempat ini  banyak terdapat batu-batu kecil berbentuk patung sederhana tapi kemudian dibuang di sungai atau dihancurkan oleh warga atau pemilik ladang tebu ini, ”katanya. Pemilik lahan tebu dulu adalah seorang ulama Muhammadiyah. Dia sama sekali tak suka ada orang-orang yang berdoa di tempat ini dan memberi sajen kepada batu-batu. ”Dianggap musyrik,” kata Zaenuri  .

Lokasi yang dianggap paling angker di situs Calon Arang

Lokasi yang dianggap paling angker di situs Calon Arang

Lokasi yang dianggap paling angker di situs Calon Arang

Lokasi yang dianggap paling angker di situs Calon Arang

Zaenuri menceritakan beberapa kali terjadi vandalisme di situs ini. Arca-arca batu di situs itu pernah dirusak dan sebagian  ditimbun. Awal Maret 2014, batu-batu umpak yang ada di situ diacak-acak dan beberapa batu artefak  hilang keberadaannya. Terakhir dua tahun lalu, tahun 2017. Beberapa arca dihancurkan. Dan yang paling mengkawatirkan lantai semen ditulisi coretan: Ini bukan tempat dipuja. Ingat Allah murka seperti Aceh, Tsunami. Jelas pelaku vandalisme itu member ancaman. Mereka  tak suka bahwa situs itu sebagai tempat sembahyang atau berdoa .

Menurut Zaenuri namun pertemuan di kantor kecamatan Gurah antara polsek Gurah, pemerintahan kecamatan Gurah, Dinas Budaya dan Pariwisata Kediri dan Balai Pelestarian cagar Budaya (BPCP) Mojokerto menyepakati  bahwa tanah situs sebagai cagar budaya  . “Tanah di situs ini memang belum dibeli oleh pemerintah. Sekarang desa masih melobi anak-anak pemilik tanah terdahulu yang sudah almarhum  untuk meminta tanah di Situs Calon Arang menjadi hak desa,  karena dari pencatatan desa  tanah milik mereka ternyata tak seluas yang mereka hitung,” ungkap Zaenuri.

***

Di Kediri selain ada Situs Calon Arang juga terdapat Situs Mpu Bharadah. Lokasi situs ini  tak jauh dari Situs pamuksaan (tempat moksa) Jayabaya di kawasan Pamenang, Kediri. Lokasi tepatnya dekat dengan kawasan Sendang Tirtakamandanu.  Mpu Baradah kita tahu dalam kisah Calon Arang adalah seorang pandita Buddha yang dititahkan oleh Erlangga untuk melawan Calon Arang. Mpu Bharadah mulanya mengirim putranya sendiri  Mpu Bahula untuk meminang dan menikahi Ratna Mangali, putri Calon Arang. Mpu Bahula diterima oleh Calon Arang. Hidup dalam lingkungan Calon Arang, Mpu Bharadah meminta agar Mpu Bahula mencuri kitab teluh Calon Arang. Supaya rahasia ilmu hitam Calon Arang terkuak. Setelah kitab diambil,  Mpu Bharadah bertarung melawan Calon Arang. Janda dari Dirah itu  tewas.

Kedudukan Mpu Bharadah sangat penting dalam pemerintahan Erlangga. Mpu Bharadah adalah juga seorang mpu yang kemudian diminta Erlangga untuk  membagi wilayah kerajaanya  kepada putra-putranya agar mereka tidak bertikai satu sama lain setelah Erlangga turun dari tahta dan memilih menjalani kehidupan  pendeta. Legenda menceritakan Mpu Bharadah terbang dan dari ketinggian ia mengucurkan dari kendi  membagi Jawa Timur menjadi wilayah : Panjalu dan Janggala.

Berkaitan dengan Calon Arang, dalam Serat Calon Arang terjemahan Poerbatjaraka misalnya dapat dibaca bagaimana Mpu Bharadah saat akan bertarung melawan Calon Arang, dari pertapaannya Lemah Tulis ia berjalan dengan langkah yakin  ke arah pertapaan Calon Arang. Dia melewati panorama  bangkai-bangkai mayat hasil teluh Calon Arang. Mengimajinasikan perjalanan Mpu Bharadah dari lokasi pertapaannya Lemah Tulis ke padepokan Calon Arang  memang bisa masuk di akal umpama memang lokasi Lemah Tulis berada di kawasan Pamenang Kediri sementara lokasi pedepokan Calon Arang di desa Sukorejo, Gurah, Kediri. Jarak antara Pamenang ke Gurah tidak jauh-jauh amat. Bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Persoalannya, seperti juga di Situs Calon Arang belum ada prasasti dan inskripsi apapun yang mendukung bahwa Petilasan Mpu Bharadah di Pamenang memang di masa lalu adalah sebuah situs tempat pertapaan. Bahkan dibanding Situs Calon Arang di Gurah, masyarakat di sekitar lokasi juga tak memiliki kisah lisan turun temurun mengenai keberadaan situs tersebut. Juga lokasi petilasan ini belum pernah diteliti atau dieksvakasi oleh arkeolog. Statusnya juga bukan sebuah cagar budaya.   Situs Mpu Bharadah di Pamenang memang merupakan situs baru. Situs itu dibangun  lebih mirip sebuah pura kecil di Bali. Saat berkunjung ke situs ini beberapa waktu lalu terlihat satu bus penuh keluarga dari Bali melakukan ibadah ke situs ini. Mereka semua mengenakan busana adat.

”Petilasan Mpu Bharadah di Pamenang dibangun sekitar tahun 1995,” kata juru kunci  petilasan. Juru kunci tersebut, seorang laki-laki setempat yang kira-kira berumur 40-an  menceritakan bahwa seorang pengusaha dari Bali yang kemudian menjadi seorang pendeta  mendirikan petilasan ini. Pengusaha itu mulanya sering mengajak pedanda (pendeta Bali)  datang ke kawasan petilasan Jayabaya dan bermeditasi di sekitar petilasan. “Suatu malam katanya pedanda melihat ada semacam teja (cahaya) datang dari areal ini. Areal ini dianggap suci,” tutur juru kunci . Lalu pengusaha tersebut membeli tanah yang memancar  atau kejatuhan teja itu dan lalu membangun pura kecil. “Dulunya areal ini  sawah, memang seperti ada gundukan-gundukan di sini yang katanya saat dibersihkan untuk pembangunan petilasan Mpu Bharadah  isinya seperti bekas-bekas batu kuno ,”tambahnya.

Bagian dalam petilasan Mpu Bharadah

Bagian dalam petilasan Mpu Bharadah

Bagian luar petilasan Mpu Bharadah

Bagian luar petilasan Mpu Bharadah

Denah Pura Mpu Bharadah memang mirip denah pura di Bali. Ada bagian halaman luar, ada bagian dalam untuk sembahyang. Bagian luar di pojok kiri terdapat tempat istirahat pengunjung berupa lantai semen yang dinaungi atap seadanya. Di tengah halaman luar terdapat sebuah  gapura untuk memasuki bagian dalam. Di situ pengunjung diminta melepas  sepatu atau sandal.

Di  samping gapura tersebut terdapat sebuah ”pondok”  kecil terbuka mirip pos jaga.Yang menarik di dinding pondok tersebut  dipasangi sebuah papan tulis besar yang menampilkan Silsilah Panca Tirta Maha Rsi. Di situ kita dapat  membaca silsilah  lima saudara mpu-mpu sakti di zaman Erlangga yang sangat berpengaruh di Bali dan Jawa Timur. Mereka antara lain  Mpu Gni Jaya-Mpu Semeru-Mpu Gana-Mpu Kuturan-Mpu Bharadah. Mereka lima mpu kakak beradik pemimpin agama di Bali dan Jawa Timur. Silsilah itu dibuat cukup detail.    Dari silsilah itu kita bisa melihat keturunan-keturunan mpu-mpu itu sampai jauh ke bawah. Bila kita cermati lebih lanjut keturunan-keturunan dari jalur Mpu Bharadah sampai ke mpu-mpu terkemuka yang dianggap sebagi mpu-mpu pelopor di Bali. Itulah sebabnya bisa dimengerti apabila petilasan Mpu Bharadah itu banyak diziarahi oleh warga Hindu Bali.

Dari silsilah itu dapat kita baca  Mpu Bharadah menghasilkan keturunan Mpu Bahula. Seperti dikatakan di atas  Mpu Bahula menikah dengan  Ratna Mangali, putri Calon Arang. Yang menarik dalam silsilah itu digambarkan Ratna Mangali adalah anak dari Mpu Kuturan, kakak dari Mpu Bharadah. Dari silsilah itu artinya kita dapat menarik kesimpulan Ratna Mangali adalah putri hasil perkawinan   Mpu Kuturan  dengan Calon Arang.  Persoalannya nama Calon Arang tidak ditampilkan dalam silsilah itu. Perkawinan antara sepupu Mpu Bahula dan Ratna Mangali dalam genealogi itu sendiri ditunjukkan  melahirkan dua orang anak laki-laki Mpu Tantular dan Mpu Ciwa Bandu serta empat putri: Dewi Amerta Mangali, Dewi Amerta Jiwa, Dewi Adnyani, Dewi Dwara Nika.

Mpu Tantular, putra sulung Mpu Bahula dan Ratna Mangali  kita tahu  adalah mpu dan sastrawan besar pengarang kakawin Sutasoma. Kakawin bernuansa Buddha Mahayana yang sampai kini masih dibacakan di desa-desa  Bali.  Dari jalur keturunan Mpu Tantular ini kita lihat dalam silsilah lahir pendeta-pendeta dan mpu-mpu sakti di Bali. Dari jalur Mpu Tantular kita baca di silsilah lahir Danhyang Panawasika, Danghyang Sidhamantra, Danghyang Semaranata, Danghyang Kepakisan. Dari jalur Danghyang Semaranata ini kemudian lahir Danghyang Angsoka dan Danghyang Nirarta. Danghyang Nirarta  sangat terkenal bagi kehidupan religious warga Bali.Danghyang Nirarta yang juga dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh atau Danghyang Dwijendra adalah pendiri ajaran Saiwa di Bali. Pada sekitar awal abad 16 dia meninggalkan kota Blambangan, Jawa Timur dengan keluarganya untuk menjadi penasehat utama Raja Gelgel, Dalem Waturenggong. Danghyang Nirarta dikenal mempelopori penggunaan symbol padmasana bagi Siwa di pura-pura Bali.

Dari silsilah itu kita juga dapat membaca putra Danghyang Angsoka adalah pendeta Siwa Buddha tersohor Danghyang Astapaka.   Danghyang Astapaka yang merupakan keponakan Danghyang Nirartha dalam kisah-kisah sejarah agama Bali juga diceritakan dari Jawa Timur kemudian diundang Raja Dalem Waturenggong ke Bali untuk melaksanakan upacara Yadna Homa atau Agni Horta. Demikian dari silsilah yang ditampilkan di Petilasan Mpu Bharadah kita bisa membaca bagaimana asal usul keluarga para mpu-mpu terkenal di Bali yang saling bertautan.

Silsilah anak cucu Mpu Bharadah

Silsilah anak cucu Mpu Bharadah

“Dari lima bersaudara, Mpu Bharadah paling muda. Dia tinggal di Kediri,” kata juru kunci petilasan. Begitu memasuki gapura untuk masuk ke areal dalam pura, kita melihat beberapa pelinggih, bangunan suci untuk memberi penghormatan kepada para leluhur . “Ini pura persembahan bagi Mpu Bharadah juga saudara-saudaranya. Ini untuk penghormatan kepada Mpu semeru ,”katanya sambil menunjuk sebuah bangunan serupa tugu . “Mpu Semeru adalah kakak Mpu Bharadah.  Mpu Semeru berposisi sebagai perantara saat Mpu Bharadah ke Bali menemui kakak tertuanya Mpu Kuturan,” katanya.

Dalam, kisah Erlangga,  ketika Erlangga hendak mewariskan kekuasannya ia semula berniat satu anaknya memerintah di Bali yang merupakan tempat asal usul Erlangga. Sementara satu anak memerintah di Jawa Timur. Mpu Bharadah diutus untuk pergi ke Bali untuk melobi kakaknya Mpu Kuturan yang sudah meninggalkan Kediri dan menjadi penasehat di Bali.  Namun Mpu Kuturan menolak usulan Erlangga dan lobi Mpu Bharadah karena di Bali sudah ada raja lain yang merupakan saudara Erlangga.  “Pertemuan antara Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan di Bali   selalu diperantarai lebih dulu oleh Mpu Semeru,” kata sang juru kunci.

***

Ditetapkannya sebuah lokasi dekat areal pamuksan Jayabaya Kediri –   menjadi petilasan Mpu Bharadah melalui wangsit, tidak melalui bukti-bukti arkeologis yang kuat namun kini banyak dikunjungi peziarah mengingatkan kita pada  penggalian yang pernah dilakukan oleh Henri  Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda di sebuah areal pekuburan di daerah Kedung wulan yang berbatasan dengan areal Trowulan, Mojokerto pada tahun 1925. Sebuah penggalian penting tapi sampai kini dilupakan atau tepatnya jarang diketahui  orang.

Setelah melakukan penggalian di tahun 1925, pada tahun 1929, Maclaine Pont menulis sebuah catatan mengenai eksvakasinya itu. Dalam catatan itu ia menyampaikan temuan bahwa kuburan yang digalinya itu sesungguhnya di masa lampau adalah Lemah Tulis, tempat pertapaan Mpu Bharadah. Maclaine Pont, arsitek Belanda yang menekuni arkeologi itu  juga menyatakan bahwa di situlah patung Joko Dolog yang saat itu berada di Surabaya berasal. Menurut Maclaine Pont, patung Joko Dolog adalah patung yang menyimbolkan sosok Mpu Bharadah. Patung itu lokasi aslinya berada di pekuburan.  Patung itu dibuat di zaman Kertanegara.

Pada tahun 1817, Residen Surabaya A.M. Th de Salis (menjabat residen  tahun 1817-1822) memindahkan patung Joko Dolog yang berada di Trowulae halaman rumah Gubernuran Surabaya (sekarang Wisma Simpang Surabaya). Karena tidak adanya pendataan dan dokumentasi pemindahan yang rapi namun sesudah itu para arkeolog Belanda dan pegawai pemerintah Belanda kebingungan di mana lokasi asal muasal tepatnya patung Joko Dolog  ditemukan di Trowulan .

Sayangnya laporan Maclane Pont tentang sebuah pekuburan di Trowulan yang diyakininya sebagai tempat kediaman  Mpu Bharadah dan soal patung Joko Dolog yang diyakininya sebagai simbol Mpu Bharadah  itu tak banyak diketahui para peminat sejarah petilasan-petilasan Jawa Timur maupun peneliti dunia akademis. Sampai sekarang opini umum dan rata-rata masyarakat ilmiah  menyepakati patung Joko Dolog yang berada di Surabaya tersebut sebagai patung perwujudan Kertanegara.   Informasi penggalian Maclane Pont atas pekuburan di dekat Trowulan itu muncul terang benderang di dunia akademis setelah pada tahun 2012 , Amrit Gomperts, Arnoud Haag dan Peter Carey mempublikasi artikel berjudul: The Sage  who divided Java in 1052. Maclaine Pont’s excavation of Mpu Bharadah’s hermitage-cemetry at Lemah Tulis in 1925 di jurnal Bijdragen tot deal, KITLV, Belanda.

Menurut Amrit Gomperts dan kawan-kawan, selama ini laporan Maclaine Pont  mengenai situs Mpu Bharadah tak dikenal luas  di dunia arkeologis karena laporan tersebut pada tahun 1925-1929 oleh Jawatan arkeologi Hindia Belanda Netherland Indies Archaeological Service (Oudheidkundige Dienst atau Oudheidkundige Verslagen) tak pernah dipublikasikan ke dalam jurnal-jurnal mereka atau  penerbitan-penerbitan resmi mereka. Menurut Amrit Gomperts dan kawan-kawan hal itu dikarenakan terdapat ketidakcocokan antara Maclaine Pont dengan F.D.K Bosch, arkeolog Belanda yang mengepalai jawatan arkeologi tersebut. Penemuan-penemuan yang didapat Maclaine Pont selama penggaliannya di pekuburan Trowulan walhasil tidak pernah mengemuka di kalangan arkeolog. Dan tidak pernah mendapat perhatian dan penelitian lebih lanjut  secara proporsional sampai kini.

Amrit Gomperts dan kawan-kawan awalnya menemukan memoir atau catatan personal Maclaine Pont tentang penggalian di tahun 1925 tersebut di The Netherland Architecture Institute (NAI) di Rotterdam. Mereka juga melakukan peninjauan dan studi lapangan ke kuburan di Trowulan yang pernah digali Pont. Di kuburan Kedung Wulan, Trowulan mereka melakukan wawancara-wawancara dengan warga tua sekitar kuburan yang memiliki cerita-cerita mengenai penggalian yang dilakukan Pont. Amrit Gomperts dan kawan-kawan misalnya bertemu dengan Pak Moestawi (kelahiran 1933) dan Pak Mahsoen (kelahiran 1942) yang sanak saudaranya yang lebih tua pernah membantu penggalian-penggalian yang dilakukan Pont.   Mereka lebih jauh berusaha menemui putri dari Maclaine Pont, Elisabeth van Mens Maclaine Pont (pada tahun 2010 Elisabeth  wafat) yang semasa kecil pernah tinggal bersama bapaknya di Trowulan, untuk mewawancarai kenangan-kenangan eksvakasi.

Maclaine Pont menurut Amrit Gomperts mula-mula mencari lokasi Lemah Tulis, padepokan Mpu Bharadah  berdasar keterangan di Serat Jawa kuno Calon Arang (1540)  dan Negarakertagama (1365). Dalam teks Calon Arang, diceritakan Mpu Bharadah melakukan perjalanan ke Bali menemui saudaranya Mpu Kuturan. Di situ diuraikan Mpu Bharadah berangkat dari pertapaannya yang berlokasi di pekuburan Lemah Tulis dan kemudian menempuh rute melalui Watulanggi, Sangkan, Banasara dan Japan. Dalam Negarakartagama saat menjelaskan perjalanan Hayam Wuruk kelililing Jawa Timur, Mpu Prapanca menguraikan sang raja berangkat dari istana melalui Japan dan kemudian balik melalui Banasara dan Sangkan Adoh.  Dari empat lokasi di atas yang dapat didentifikasi kini hanyalah Japan. Japan adalah nama lama Mojokerto sampai tahun 1838. Japanan sendiri adalah nama kawasan yang kini letaknya 8 kilometer sebelah timur laut Trowulan.

Berdasar keterangan itu Maclaine Pont melakukan pencarian kuburan di kawasan sekitar Trowulan. Maclaine Pont adalah orang pertama menurut Amrit Gomperts yang mengaitkan atau menemukan bukti bahwa Lemah Tulis adalah nama kuno bagi sebuah desa yang kini berbatasan dengan Trowulan yaitu desa:Kedung Wulan. Pada tahun 1974, arkeolog Indonesia almarhum Abu Sidik Wibowo menurut Amrit Gomperts pernah mewawancarai orang-orang tua di Kedung Wulan. Para orang tua itu juga ingat bahwa sebelum disebut Kedung Wulan, nama desa mereka adalah Lemah Tulis.

Foto Maclaine Pont di Museum Trowulan

Foto Maclaine Pont di Museum Trowulan

Selanjutnya Amrit Gomperts dan kawan-kawan, dari Elisabeth van Mens, putri Maclaine Ponts,  mendapatkan memoir Maclaine Pont yang ditulis pada  tahun 1968-1969. Memoir ini sangat berharga. Memoir berbahasa Belanda itu ditulis hanya berselang dua tahun sebelum kematian Pont. Judulnya: Biografie van Ir Henri Maclaine Pont.   Memoir penting yang tak diterbitkan ini berisi refleksi Maclaine Pont  selama ia tinggal di desa Kedung Wulan antara tahun 1925-1943.

Biografi ini dikompilasi oleh Elisabeth bersama sebuah surat dari bapaknya bertanggal 7 Oktober 1928 yang ditujukan kepada seorang ningrat Belanda bernama Mrs M.E.E van der Does de Wilebois-Ingen Housz.  Nyonya Wilebois dan suaminya Jonkheer Pieter Joseph Hendrik yang menjadi pengacara di Batavia adalah sahabat dari kakak Maclaine Ponts. Mereka berdua mengunjungi Maclaine Pont di Trowulan sekitar awal 1928 dan mereka terkesan atas kerja-kerja arkeologis yang dilakukan Maclaine Pont.

Menurut Amrit Gomperts, surat itu sangat bernilai karena dalam surat itu, dari hasil temuannya dalam penggalian Maclaine Pont,  membuat sketsa rekonstruksi atau rekaan mengenai adanya sebuah bangunan pavilyun di areal pekuburan.  Rekonstruksi Pont menampilkan pavilion berdinding itu memiliki dua tingkat atap. Di antara dua atap itu terdapat perhiasan. Menurut Pont dinding pavilyun itu memiliki ceruk atau rongga yang kemungkinan besar diisi oleh arca atau patung. Pont sendiri beranggapan pavilyun itu sendiri adalah semacam vihara kecil atau kuil kecil yang di bangun di tengah kuburan. Dari hasil telaah terhadap sktesa pavilyun yang dibuat Ponts itu, Gomperts dan kawan-kawan memperkirakan empat sisi pavilyun tersebut lebarnya masing-masing 6 meter.Dan tingginya 6 meter.

Lebih jauh dalam surat itu Pont  mengungkapkan temuan-temuan  berharga lainnya seperti arca. Pont misalnya menjelaskan di pekuburan itu dia menggali dan berhasil mengangkat sebuah arca utuh Durga Mahisasuramardini. Lokasi penggaliannya di sebelah timur lokasi ditemukannya sisa-sisa pavilyun.  Yang menarik saat Gomperts dan kawan-kawan mengunjungi pekuburan Kedung Wulan Trowulan tersebut, nara sumber mereka, warga tua di desa itu Pak Moestawi dan Pak Mahsoen secara terpisah masih ingat cerita-cerita ditemukannya arca itu dan mampu menunjukkan lokasi di mana diangkatnya arca. Menurut para informan itu arca Durga Mahisasuramardini (yang mereka ingat sebagai arca Lara Jongrang) adalah arca batu yang gelap dan hampir hitam seluruh tubuhnya.

Para informan juga masih ingat ciri-ciri arca Durga tersebut misal hiasan di badan atas agak rusak. Lalu terdapat hiasan-hiasan berbentuk kepala raksasa tanpa mahkota di rambut Durga. Gompert dan kawan-kawan berusaha melacak keberadaan arca tersebut di Museum Trowulan. Ada beberapa arca Durga yang menjadi koleksi Museum trowulan.  Tapi mereka tidak berhasil mengidentifikasi secara pasti mana arca Durga temuan Maclaine Pont.

Pont juga menjelaskan dalam suratnya bahwa di lingkar luar sisa-sisa pavilyun itu ia mendapatkan sebuah porselen Cina berbentuk singa. Benda itu entah untuk celegan atau jambangan,belanga pengorbanan. Pont selanjutnya  menyebut dalam penggaliannya ia berhasil menemukan adanya sisa-sisa batu bata sepanjang empat sisi kuburan. Ia memperkirakan sisa batu bata itu dulunya adalah bagian dari tembok yang mengelilingi kuburan. Ia juga menemukan sisa-sisa parit kuno di pekuburan. Namun penemuan Pont yang  paling penting yang diutarakan dalam surat menjelang ajalnya itu adalah pada penggalianya di tahun 1925 tersebut ia memperoleh sebuah pasu atau kendi tanah liat dengan sisa-sisa abu kremasi pembakaran tulang belulang. Pasu itu merupakan tempat abu jenasah. Dalam testimoninya ia menyebut abu jenasah itu bukan abu binatang melainkan  abu jenasah manusia.

Pont menjelaskan tatkala ia menemukan pasu itu, ia lantas memeriksakan abu dan sisa-sisa tulang belulang di dalam pasu itu kepada seorang dokter Belanda yang berdinas di Mojokerto. Dokter itu bernama Dr De Graaff .Dr De Graff lah yang memastikan bahwa tulang belulang dan abu dalam pasu itu adalah abu dan tulang belulang manusia. Dr De Graff juga lah yang lebih jauh mengidentifikasi bahwa tulang belulang dan abu dalam tempat abu jenasah itu adalah abu dan tulang anak-anak. Berdasar riset Gomperts dan kawan-kawan memang di zaman Pont hidup, di Mojokerto seorang dokter bernama Dr De Graff.Nama lengkapnya adalah Dr Jan Francois Hendrik de Graff (1876-1958). Dia adalah Direktur Rumah Sakit Eschauzier di Mojokerto. Dalam pelacakan Gomperts, sosok Hendrik de Graff ini adalah seorang dokter yang memang tertarik dengan masalah paleontologi.

Identifikasi Dr De Graff  bahwa abu jenasah yang ditemukan Maclaine Pont  dalam sebuah pasu di pekuburan Kedung Wulan adalah abu jenasah anak-anak adalah identifikasi  sangat penting. Sebab bagi Pont ini  bisa membuktikan bahwa arca Joko Dolog asal muasalnya berada di pekuburan Kedung Wulan. Seperti dikatakan di atas pada zaman Maclaine Pont hidup, arca Joko Dolog sudah berada di Surabaya. Terjadi kesimpang siuran informasi asal muasal lokasi ditemukan arca tersebut di Trowulan.  Arca Joko Dolog sendiri adalah arca setinggi 1,7 meter. Arca ini berwujud seorang biku gundul tengah dalam posisi bermeditasi.

Jari jemari tangan sang biku dalam posisi bhumi sparsa mudra. Atau menunjuk ke tanah.Di pedestal arca Joko Dolog itu terdapat inskripsi berbahasa Jawa kuno yang menerangkan Mpu Bharada membagi Jawa menjadi Janggala dan Panjalu. Dalam inskripsi itu juga disebut nama tempat diletakkannya arca yaitu: Wurare. Secara etimologis Wurare berasal dari kata Awu rare atau abu anak-anak. Maka dari itulah  temuan sebuah pasu berisi abu jenasah anak-anak atau awu rare di pekuburan Kedung Wulan secara kuat meyakinkan Maclaine Pont  bahwa arca Joko Dolog memang lokasi awalnya diletakkan di kuburan.

Amrit Gompert dan kawan-kawan memandang keyakinan Maclaine Pont bahwa abu di dalam pasu di atas adalah abu jenasah anak-anak benar. Sebab dari  wawancara-wawancara yang dilakukan oleh mereka terhadap  orang-orang tua dan warga di sekitar pekuburan terdapat data-data tambahan yang makin memantapkan bahwa di pekuburan tersebut memang banyak terdapat jenasah anak-anak. Dari anak perempuan Pak Mahsoen, Gompert mendapat cerita bahwa anak perempuan tersebut pernah melihat di lokasi sekitar pekuburan ditemukan sebuah patung dewi berdiri  dengan payudara besar. Dewi itu membawa seorang anak  di lengan kirinya dan seorang anak lainnya berdiri di dekat kaki kanannya. Dari cerita anak perempuan Pak Mahsoen terhadap cirri-ciri ikonografi arca, Amrit Gompert dan kawan-kawan bisa mengidentifikasi bahwa arca dewi tersebut adalah arca Hariti.

Hariti dalam konsep Budhisme Mahayana adalah dewi untuk anak-anak.Dia adalah dewi  penyayang anak-anak. Pada mulanya Hariti adalah seorang yaksa yang gemar memakan daging anak-anak. Lalu kemudian setelah ia mendengar ajaran Buddha ia mengalami pencerahan. Ia kemudian menjadi dewi pelindung anak-anak.  Ditemukan abu jenasah anak dan kesaksian putri Pak Mahsoen bahwa terdapat penemuan arca seorang dewi (yang meski dalam pelacakan Gomperts arca Hariti tidak bisa ditemukan di Museum Trowulan) bahwa pekuburan itu adalah pekuburan anak-anak. Bertolak dari penemuan dua arca:  Durga Mahisasuramardini dan Hariti di atas lebih lanjut Gomperts  berani menyimpulkan bahwa pekuburan itu adalah tempat berlangsungnya ritual Tantrayana.

Perihal arca Joko Dolog dalam pendapat Maclaine Pont lokasi asalnya adalah di pekuburan Kedung Wulan di atas juga dikukuhkan oleh pembacaan sejarawan Peter Carey, rekan penelitian Gomprets atas peta situs Trowulan yang pernah dibuat oleh Wardenaar dan telah lama dianggap hilang. Pada Mei 1815 Thomas Stamford Raffles mengunjungi Trowulan. Tak lama sesudah kunjungannya,pada 22 Agustus 1815, Raffles memerintahkan perwiranya Kapten Johannes Willem Bartholomeus Wardenaar(1785-1869) untuk memetakan kawasan Trowulan. Wardenaar berdarah separuh Jawa. Ibunya adalah perempuan Jawa. Kemampuannya berbahasa Jawa memudahkan Wardenaar untuk berinteraksi dengan warga desa Trowulan. Trowulan saat itu masih banyak tertutupi semak belukar tebal dan pohon jati. Pada Oktober 1815 Wardeenar kemudian melakukan survey di Trowulan. Ia  mampu menghasilkan sebuah peta tentang Trowulan. Dan juga beberapa tulisan dan  gambar-gambar mengenai Trowulan termasuk gambar Candi Bajangratu, remah-remah Candi Muteran, Candi Brahu dan Arca Joko Dolog.

Sesuai dengan keterangan bulan dan tahun yang ditorehkan Waardenar dalam gambar-gambarnya mengenai candi-candi di Trowulan diketahui Wardenaar berada di Trowulan antara tanggal 5-7 Oktober 1815. Namun kemungkinan besar untuk pendahuluan survei dan pembuatan peta, Wardenaar berada di lokasi Trowulan beberapa minggu sebelumnya. Bisa disebut peta Wardenaar adalah peta modern pertama tentang Trowulan. Peta ini namun jarang digunakan para peneliti Trowulan di masa sekarang lantaran untuk sekian lama peta ini tidak dapat ditemukan. Pada akhir 1815 Wardeenar mengirim peta aslinya ke Raffles dan dia tidak membuat sebuah kopi pun. Peta asli ini kemudian yang dianggap hilang oleh peneliti. Peter Carey pada tahun 2008 tapi akhirnya bisa melacak keberadaan peta ini. Peta Wardenaar  terhimpun dalam koleksi Drake (Drake Collection) yang disimpan di British Museum.

Dalam ceramahnya berjudul: Raffles, Majapahit and Wardenaar’s Survey of Trowulan in October 1815 – The Case of The Dog That Didn’t Bark In The Night  di Borobudur Writers and Cultural Festival 2018, Peter Carey  menulis bagaimana ia melacak peta dan gambar-gambar Wardenaar. Menurut Carey  sesudah  kematian Wardenaar di tahun 1869, tulisan-tulisan dan tiga gambarnya mengenai candi-candi  di Trowulan diserahkan ke Bataviaasch Genootschap van Junsten en Wetenschappen. Tulisan-tulisan dan gambar Wardenaar itu kemudian dipublikasikan oleh ahli batu bara dan vulkanolog Rogier Verbeek (1845-1926) dalam artikelnya De oudheden van Majapahit in 1815 en 1887 (Reruntuhan Majapahit di 1815 dan 1887).

Menurut Peter Carey saat memetakan Trowulan, Wardeenar menggunakan alat-alat yang canggih di masanya seperti astrolabe, kompas dan sebagainya. Peter Carey berpendapat tingkat akurasi peta buatan Wardeenar tinggi. Persoalannya, selain peta asli Waardenar hilang, peta dan laporan Waardenar mengenai Trowulan sama sekali tak dimunculkan atau dipakai sebagai bahan oleh Raffles saat menyusun buku: The History of Java. Sehingga peta Waardenar tidak banyak diketahui oleh public maupun peneliti. Mengapa Raffles tak memasukkan laporan-laporan serta peta Waardenar tentang Trowulan ke dalam bukunya?  Menurut perkiraan kurator British Museum bagian Asia tenggara Alexandra Green yang diwawancarai oleh Peter Carey, itu disebabkan Raffles menganggap peradaban yang ada di Trowulan kurang adiluhung dibanding temuan-temuan candi di Jawa Tengah seperti Borobudur dan Prambanan. Bahwa data-data yang disodorkan Waardenaar menyajikan fakta candi-candi di Trowulan semuanya berbahan batu bata merah hasil bakaran dan cetakan dianggap  oleh Raffles kurang tinggi pencapaiannya dibanding candi-candi dengan bahan batu andesit di Jawa Tengah .Sesuatu yang kurang tepat menurut Peter Carey dan bisa dianggap merupakan sebuah tragedi akademis.

Berdasar peta buatan Waardenar ini kemudian Peter Carey berusaha mengecek lokasi asli di mana diletakkannya arca Joko Dolog. Peta Waardenar dibuat dua tahun sebelum arca Joko Dolog pada tahun 1817 dipindahkan oleh Residen  Surabaya A.M. Th de Salis ke pelataran rumah dinasnya di Surabaya. Ternyata peta Wardeenar menurut Peter carey menunjukkan lokasi asli arca pada ordinat yang tidak jauh dari perkiraan Maclaine Pont. Yaitu berada di pekuburan Kedung Wulan. Dengan bukti peta Waardenar dan catatan harian Maclaine Pont yang memberikan testimoni bahwa di pekuburan ia menemukan bekas-bekas  pavilion kuil, lalu abu jenasah anak-anak maka Amrit Gompert dan kawan-kawan sepakat bahwa Padepokan atau pertapaan Mpu Bharadah yang bernama Lemah Tulis memang letaknya berada di pekuburan desa Kedung Wulan, Trowulan sekarang.

Mereka juga sepakat dengan analisa Maclaine Pont bahwa arca Joko Dolog adalah arca perwujudan dari Mpu Bharadah bukan Kertanegara. Kertanegara memang meresmikan arca tersebut. Dalam Negara Kertagama disebut inagurasi patung itu dilakukan oleh Kertanegara, raja Singosari, sesaat setelah matahari terbit pada hari Rabu 21 September 1289.  Patung itu tapi bukan patung yang menyimbolkan dirinya namun patung yang melambangkan Mpu Bharadah.

Yang jadi masalah mengapa sampai sekarang baik kalangan akademik maupun umum menganggap bahwa patung Joko Dolog adalah patung perwujudan Kertanegara? Menurut  Amrit Gompert dan kawan-kawan seperti sudah disinggung di atas itu disebabkan laporan-laporan dan foto-foto yang dibuat Maclaine Pont tidak pernah dipublikasi oleh Oudheidkundige Dienst, lembaga jawatan purbakala resmi pemerintah kolonial saat itu. Sehingga  menurut Gompert, analisa yang mengemuka dari kalangan arkeolog mengenai patung Joko Dolog adalah analisa versi epigraf Kern. Atas analisanya terhadap inskripsi yang tertulis di pedestal Joko Dolog , Kern menyimpulkan bahwa patung Joko dolog adalah patung Kertanegara.  Tiga arkeolog  terkemuka saat itu F.D.K Bosch, N.J Krom dan Poerbatjaraka semuanya mengikuti pandangan Kern. Menurut pembacaan ulang Gompert dan kawan-kawan terhadap inskripsi di pedestal Jomo Dolog dan mempertimbangkan  data-data temuan Maclaine Pont,mereka cenderung menyatakan  lebih tepat pendapat Maclaine Pont daripada Kern yang menyatakan arca Joko Dolog adalah arca yang menyimbolkan  Mpu Bharadah.

Peter Carey sendiri dalam makalahnya yang dipresentasikan di Borobudur Writers and Cultural Festival 2018 di atas menyatakan mengapa laporan-laporan Maclaine Pont tidak dipublikasikan oleh  Oudheidkundige Dienst. Menurut Peter Carey itu dikarenakan adanya kecemburuan F.D.K Bosch terhadap penemuan  Maclaine Pont atas pertapaan Mpu Bharadah di Trowulan. Maclaine Pont dianggap bukan arkeolog dan tidak memiliki ketrampilan metodologi arkeolog karena latar belakangnya adalah arsitek. Peter Carey namun juga menyebut kemungkinan tidak dimunculkannya penemuan dan riset-riset Maclaine Pont di Trowulan oleh Oudheidkundige Dienst adalah karena tendensi politis.

***

“Pernah ada 40 bus umat Hindu Bali datang berdoa ke Petilasan Mpu Bharadah ini,” kata-kata sang juru kunci Petilasan Mpu Bharad tersebut masih hangat dalam ingatan. Juru kunci lebih jauh menceritakan hubungan Petilasan Mpu Bharadah dan Petilasan Calon Arang . Saat ditanya apakah para penziarah ke Petilasan Mpu Bharadah juga kemudian mengunjungi petilasan Calon Arang – yang merupakan musuh Mpu Bharadah? Ia serta merta langsung menjawab: tidak. “Mereka yang datang ke Petilasan Mpu Bharadah belum tentu mau ke Situs Calon Arang. Demikian juga sebaliknya. Itu karena mereka  berbeda aliran. Tapi juga yang ada mengunjungi baik petilasan Mpu Bharadah maupun Petilasan Calon Arang ,” kata juru kunci tersebut.

Bahwa ke dua petilasan itu seperti dikatakan di atas tidak berdasar data-data arkeologis yang kuat mungkin agaknya tidak menjadi pertimbangan utama bagi para pengunjung kedua petilasan tersebut. Mereka tetap yakin kesakralan kedua petilasan tersebut. “Duh, Saya sudah lama ingin ke sana. Itu petilasan yang menurunkan para kaum brahmana di Bali.” Respon cepat seorang teman di Bali, ketika  foto-foto  Petilasan Mpu Bharadah saya  kirimkan ke dia  melalui telpon genggam.

Rombongan penziarah satu bus dari Bali yang datang ke Petilasan Mpu Bharadah  saat kami berkunjung membuktikan memang petilasan ini cukup ramai diyakini sebagi tempat Mpu Bharadah di zaman lampau, betapapun secara penelusuran sejarah belum terdapat data-data yang kuat. Sementara  pekuburan Kedung Wulan, Trowulan, Mojokerto yang secara arkeologis, telah dibuktikan Maclaine Pont lewat penggalian-penggaliannya di tahun 1925 merupakan  Pertapaan Lemah Tulis tempat Mpu Bharadah tinggal – tetap tak diketahui orang.

Jadi kalau Anda ingin ziarah ke petilasan Mpu Bharadah. Mau ke  Kediri? Atau Mojokerto?

Ditulis oleh: Anapana

Fotografer: Yono N.

1 reply
  1. rudi irawanto
    rudi irawanto says:

    ….Para pekerja yang memperbaiki jembatan kecil dan gorong-gorong ke arah situs Calon Arang itu mengira kami rombongan dari Bali. Situs di kawasan kecamatan Dirah, Kediri ………..nama kecamatannya salah,. yang betul adalah Gurah….bukan dirah, nama dirah tidak dikenal di kediri

    Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *