Sajak-sajak Seno Joko Suyono

Sajak Ramadhan 4

Buku-buku tua di kios loakan ini
Sudah lebih 50 tahun berderet di rak
Tak ada yang pernah membuka halaman
Apalagi berniat membelinya

Ia kalah laris dengan buku-buku Tajwid bagi pemula
Pelajaran Tahsin dan kiat pelafalan dari tenggorokan, bibir, lidah
Kitab Halal dan Haram dalam Rumah Tangga
Atau buku metode cara shalat khusyuk

Di pertengahan Ramadhan lalu
Seseorang tapi membawamu ke kios sempit itu
Ia seolah tahu kau sama sekali tak bisa membaca Al Quran
Dan selalu merasa berdosa, karena tak bisa memahami
Buku-buku huruf-huruf Hijaiyah dan rahasia sifat-sifatnya

“Zakatkan hatimu membaca selembar dua lembar “
Ia menyorongkan sebuah buku yang sampulnya sudah kabur
Jam 4.30 sore. Masih satu setengah jam lagi, maghrib
Sekilas kau baca, soal fikih welas asih

Kau tak pernah tahu siapa dia

Di kios-kios sebelah , buku-buku mengenai Ya’juj Ma’juj dipajang
Dipromosikan besar-besaran.Buku buku baru yang meyakinkan orang
Kaum keturunan Nuh yang menyimpang datang lagi
menghancurkan peradaban lebih dari zaman sebelum masehi

Tanda-tanda Ya’juj Ma’juj datang hari ini makin terlihat
Para pedagang seolah khatib yang mewartakan tanda-tanda kiamat
Mereka berkoar-koar mengumumkan Ya’juj Ma’juj bakal menyerang,
Membunuh jutaan orang
Sebagaimana dulu di Kaspia,Laut Hitam, Asyria dan Cina

“Jangan mampir ke kios sana. Allah lebih memberikan pengampunan daripada keadilan.
Lihat saja buku ini. Kau tak usah beli
Aku sudah suka ada yang membukanya .”katanya.
Nadanya bahagia. Padahal dia bukan penjual
Hanya pengunjung lalu lalang tanpa juntrung seperti dirimu

15 menit lagi buka, kau berniat menuju warung Sate Padang Bukit Tinggi
Kau ingin mengajaknya .
Tapi dia sudah tak ada. Melesat pergi.
Saat pedagang penjual buku Ya’juj Ma’juj menghampirinya.

Dan buku yang baru kau pegang
Oleh pemilik kios tiba-tiba direbut kasar dan diletakkan di atas rak
Seolah takut kau mengambilnya
“Anak itu gak jelas. Dia dicurigai orang sini suka mencuri buku,” katanya.

Di warung, sambil memesan sate lidah dan kerupuk rambak,
pikiranmu berkelana ke halaman yang sempat kau buka, tentang:
Rahmat dan Pemaafan lebih didahulukan Allah
Daripada hukuman dan pembalasan

 

Sajak Ramadhan 5

Kau bawakan mantra-mantra yang
mereka nyanyikan di kuil pinggir sungai timur kota
Tubuhku jauh dari kebaktian-kebaktian dan devosi
Dan tak pernah melakukan pelayanan apapun

Tubuhku lebih meresapkan blues jalanan John Lee Hoker
Daripada nyanyian avatar-avatar
Yang mengumandangkan kabar-kabar kebahagiaan
Di luar hasrat seksual

Tapi Ramadhanku hari ini ingin menyelami
Abu-abu suci milik Swami
Kesunyian Ramadhanku menyentuh ajakan-ajakan
Seseorang almarhum yang mewaspadai maya

Satya, Dharma, Shanti, Prema, Ahimsa….

Kalau kau masih hidup, aku ingin datang ke tempatmu
Menemuimu yang duduk di kursi roda
Dan mengharapkan dari telapak tanganmu
Keluar Vibhuti , lambang pengingat kefanaan
Yang kau usapkan ke dahiku

 

Sajak Ramadhan 6

Kulawan ogoh-ogoh saat Ramadhanku memasuki Nyepi
Ogoh-ogoh yang berkelamin besar
Dan berpayudara gembung yang menerjang diriku

Kelaminnya yang panjang tegang dihadapanku
Mengolok olok diriku yang lemah
Putting buah dadanya yang ranum menggoda kamaku

Nyepi adalah latihan menaklukan Kala
Listrik dimatikan, lampu tak dinyalakan
Dan kita diinginkan bergulat dalam diri
Daripada larut dengan keramaian neon neon di luar

Diriku berkeringat
Dalam Ramadhanku, kusadari ogoh-ogoh
Tertanam lama dalam diriku dan makin membesar cakar-cakar dan ekornya
Kukunya menggaruk-garuk organ-organku

Lilin yang kunyalakan di gelap kamarku mengingatkanku
Tentang orang-orang yang rela membakar dirinya sendirinya
Agar terang apinya bisa membuat orang lain melihat

Aku bukan lilin
Aku tapi ingin bagian dari bayang-bayang lilin
Yang tarian kelap kelipnya di dinding,
Mampu menangkal, membunuh ogoh-ogoh yang memamerkan vaginanya di hatiku

 

Sajak Ramadhan 7

Aku mungkin bagian dari kelompok kecil yang memilih arah ke Selatan
Bukan dari kelompok besar yang melanjutkan perjalanan ke barat
Perjalananku mungkin lebih berliku-liku
Melewati waduk-waduk suci yang airnya dialirkan ke kran-kran wudhu yang jauh

Kaum yang akan kutemui tak kukenali ucapannya
Mereka kau katakan bagai kaum yang dalam Al Quran ditemui Zulkarnaen
Tak mengenali bahasa lain dan terisolasi dari dunia
Mereka adalah kaum terbelakang yang jauh dari pengetahuan

Tapi air yang mengalir dari berbagai kanal dan saluran air menuju kota-kota
Membuatku yakin di kompleks mereka ada sesuatu keseimbangan
Darasan-darasan mereka menyentuh
Membuat air Bahagia, sama sekali tak pernah mengering

Dan matahari, tetap menerangi mereka
Kemarau tak membuat pancaroba
Hujan tak membuat banjir menggenang

Tuhan, izinkanlah aku menjadi pengembara di luar tuntunan
Yang tetap akan menemui kaum yang Kau buatkan tempat perlindungan
Meski kaum itu tak kumengerti ungkapan-ungkapannya

 

Sajak Ramadhan 8

Karma baikku
Dan karma burukku adalah hutan
Yang selalu pohon-pohonnya meneduhi diriku

Diriku tak pernah mengetahui,adakah di masa lalu
Aku pernah membunuh? Pernah memperkosa? Pernah ikut menjarah sebuah kota?
Pernah menjadi Perempuan? Pernah menjadi Rsi? Pernah menjadi pangeran atau bankir?

Lalitavistara yang tertoreh di relief
Tak sampai membuatku mampu menebak
kelahiran-kelahiranku di masa lampau

Di Ramadhan ini aku mencoba diam
Duduk tenang, hanya memperhatikan nafas
Agar pikiranku bisa sedikit mengenang kejadian-kejadian seabad lalu
Yang kukerjakan , dan pernah menyakiti hati seseorang

Aku melakukan pemaafan lahir dan batin
Terhadap siapa saja yang melukaiku
Aku meminta penghapusan dendam
Terhadap kamu-kamu yang pernah kuciderai di masa lalu

Ramadhan tak membuatku betul betul kembali bersih
Kelahiran-kelahiranku tak terhitung banyaknya
Puasa akan mengurangi dosa untuk sebuah kelahiran, namun tidak kelahiran lain

Tapi menjelang lebaran ini aku berharap karma baikku
Lebih cepat matang daripada karma burukku

 

—-

*Seno Joko Suyono, Penulis, tinggal di Bekasi.