Puisi-Puisi Teguh Tri Fauzi

Revolusi Puisi
: Rabindranath Tagore

kaumasuki rimba puisi
Tagore, ketika kata tak sampai
menyebut namamu

yang retak di mulut waktu

di Bengal bunyi dan alunan
lagu sunyi yang bernapaskan

—gelanggang
nyanyian
kebebasan mencari muasal
antara dua ketiadaan:

di timur menanam cinta
di barat memanen luka

saat bahasa membakar makna
yang menolak menjadi senjata

kau berbaring dengan nisan
Gitanjali, Tagore
sebuah sunyi yang tetap hidup
setelah puisi mati

berulang kali.

 

Asramaluka
: Dante Alighieri

dengan sehelai kehilangan, Dante,
Florence mengunci pintu waktu
sebelum puisi cintamu
selesai mengetuk hatinya

maka kaubangun Ravenna
dari material kata-kata
yang luka: goresan bahasa batu
sebagai jejak kisah hidupmu

kautaruh kenangan dalam lorong
pengembaraan, kauukir sendiri neraka
sebagai arsitektur, tempat amarah penyair
yang kehilangan rumah

dan Virgil datang menghiburmu
mengajakmu ke ruang hampa
yang tak bisa kaumasuki sendiri labirinnya
tapi lihatlah, Dante, ada satu pintu
yang bahkan Virgil tak bisa membukanya:

pintu Florence! pintu Florence!

ketika maut datang menjelma sejarah
tepat ketika puisimu akan dikuburkan
nasib telah lebih dulu memakamkan segalanya.

 

Perang Bahasa
: César Vallejo

penyair, Vallejo
selalu pincang
di hadapan sejarah

kau mengais kata-kata
dari sisa peristiwa
dan berlindung di balik bahasa

agar hidupmu kebal
dari luka-luka
kecil yang terus menggerogoti

dengan puisi, penderitaanmu
tak pernah menang
dari sunyi

ketika kau menulis
di puing tumpukan kekalahan
berulang kali bertahan

menantang nasib
merayu kelam.

 

Kamus Nasib
: Pablo Neruda

hidup telah mengajarimu
menulis duka, Neruda,
ketika ibumu lenyap ditelan waktu

menyisakan satu bait
puisi kehilangan

di mana kehidupan lahir
dari jejak langkah kematian

nasib memilihmu sebagai kamus
satu entri ketika kata belum selesai
merajut ulang lafalnya

fatamorgana c i n t a: sebuah dunia
suram dalam siklus sejarah

lihatlah!
Malva merindukanmu
Andes memburumu
Pinochet menikammu

maka kau renungi Amerika Latin
sebagai gelanggang imajinasi
yang menerangi kegelapan hati

kautulis Machu Picchu
kautulis soneta untuk Matilde
seolah duka bisa diselamatkan
oleh kata-kata

tapi kata-kata, Neruda, bergegas membunuhmu
serupa La Chascona yang runtuh.

 

Kamar Puisi
: Emily Dickinson

waktu adalah guru bagi para petapa,
Dickinson, yang telah membimbingmu
dalam menjahit luka tentang hidup

dari rahim kata-katamu
berulang kali puisi lahir
melalui beragam kematian sunyi

yang lebih akrab dengan sepi

ketika dunia tak pernah usai
mengetuk pintu jiwamu
memamerkan musim gugur
pada serbuk bunga yang diam-diam

merindukan dekapanmu

kau jahit luka-luka itu
dengan benang pergulatan
batin, di mana kamar serupa semesta
yang mengajakmu membaringkan diri
di antara hamparan padang rumput

dan burung-burung terbang
bernyanyi menuju abad yang lain

sementara namamu tetap tinggal
di laci sejarah, menunggu nasib
menghimpun ribuan kisah
perjalanan manusia

menemui ajalnya.

 

Periode Keheningan
: T.S. Eliot

keheningan rela menghimpun
namamu, Eliot, ketika kau belajar
menghembuskan keraguan hidup
di sela asap tembakau
dan Paris yang bohemian

kau menekuni gelak tawa
dari para penyair purba
yang datang sebagai bayang-

bayang:

sebelum Prufrock menikam
dengan puisi kesepianmu
kau adalah kembara
yang membakar
p e t a dunia

lalu London menyergapmu
menguncimu di ruang bawah tanah
di antara angka-angka Lloyds Bank
perlahan-lahan menyesakkan napasmu

serupa april yang kejam

tapi pecahan kenangan
lebih mematikan, Eliot,
serupa Vivienne yang lenyap dalam tidurmu

maka kau kumpulkan puing-puing
peradaban menjadi katedral kata-kata
di atas tanah yang gersang
isaklah yang bisa membangun

keabadian:

kautahu dunia berulang kali runtuh,
Eliot, oleh ledakan bom sejarah
di mana api dan mawar berebut

sunyi:

Valerie yang hangat
Saint Stephen yang dingin
dan nasib yang rela menunggu

abu yang pulang ke tanah asal
tepat ketika lonceng waktu
berhenti membunyikan namamu.

 

Setelah Puisi Dikuburkan

setelah puisi
dikuburkan

sebuah kisah lahir
dari jasad para penyair
yang kehabisan daya

kini hanya jejak
yang tersisa dari waktu
bahasa karam di lautan

tanpa makna—tanpa pertolongan

dan sejarah sebatas maut
menunggu giliran musnah
dimakan nasib

di puncak sunyi.

 

—–

Teguh Tri Fauzi adalah redaktur di media Halimun Salaka plus membidani Halimun Salaka Institute dalam kerja-kerja pengarsipan dan pencatatan sastra, sejarah, dan budaya. Puisinya yang berjudul, “Bogor bagiku bukan hanya ruang pengembaraan, jauh sebelum itu melebihi batas waktu persembunyian: kelahiran dan kematian” mendapat penghargaan puisi terbaik tahun 2023 di Kolonian Sastra Award. Buku puisi pertamanya berjudul Tuhan dan Rahasia: Aku Sendiri di Balik Jendela Dunia (Narulis Publisher, 2025).