Puisi-puisi Sulton Sahara

Kaleidoskop Perang AS/Israel Vs. Iran 2026

 

Palu di Tengkorak Dunia

Di ujung peta
seorang penguasa berdiri
dengan ilusi menjadi penjaga bumi.

Ia menatap planet ini
seperti meja operasi.

Rudal telah membuka malam, kilatan logam
yang mengiris langit
seperti kuku raksasa kosmos.

Namun kesombongan tidak pernah puas
dengan api dari jauh.

Ia ingin tanah.

Maka sepatu-sepatu perang turun seperti palu kiamat
menghantam tulang bumi.

Tanah mengerang.

Retakan terbuka… seperti rahim monster purba
yang telah terlalu lama
meminum darah sejarah.

Darah tidak lagi metafor.

Ia sungai merah, yang merayap di kulit planet
seperti nanah dari luka peradaban.

Langit retak perlahan,
seperti wajah Tuhan
yang muak pada eksperimen manusia.

Pasukan bergerak, seperti hantu sejarah
yang lupa bagaimana cara mati.

Dan setiap langkah mereka
mengajukan pertanyaan purba:

apakah maut satu-satunya kebenaran
yang benar-benar kita percayai?

Atau manusia
hanyalah bisul kecil
di pantat kosmos, 

yang sesekali pecah
lalu menyebutnya

perang.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Hari Ketika Uang Mulai Berbau Darah

Di ujung peta
seseorang memandang dunia
seperti meja bedah kosmik.

Benua adalah daging.
Samudra adalah arteri raksasa.
Pasar-pasar dunia, hanyalah denyut nadi
yang menunggu pisau.

Rudal telah jatuh sebelumnya,
kilatan besi yang merobek malam
seperti tulang rusuk langit.

Namun perang belum puas.

Ia selalu lapar.

Tanah di suatu gurun jauh
menggeliat
seperti rahim monster purba
yang terlalu lama dipaksa tidur.

Sepatu-sepatu perang
akhirnya mencium pasir.

Dan bumi mengerang.

Bukan sekadar tanah yang terbuka,
melainkan luka planet
yang menguapkan bau logam panas.

Darah menetes
bukan sebagai metafor.

Ia sungguh cair. Sungguh hangat.
Sungguh mengalir
seperti sungai merah
yang mencari laut.

Di saat yang sama di kota-kota jauh
lampu pasar berkedip.

Angka-angka di layar
mulai gemetar.

Harga-harga merangkak seperti serangga lapar
di atas wajah manusia.

Minyak menjadi lebih gelap.
Roti menjadi lebih mahal.
Perjalanan menjadi lebih jauh.

Perang tidak hanya memakan tubuh,
ia memakan jarak,
memakan waktu,
memakan masa depan
yang belum sempat lahir.

Di pelabuhan yang jauh
kapal-kapal berhenti
seperti paus yang lupa cara berenang.

Perdagangan dunia
tersedak
oleh satu keputusan manusia.

Dan tiba-tiba
planet ini terasa kecil.

Terlalu kecil
untuk menampung kesombongan kita.

Di gang-gang sempit rakyat kecil menghitung uang receh
seperti menghitung napas terakhir.

Mereka tidak pernah menembakkan rudal.
Tidak pernah duduk di ruang perang.

Namun merekalah
yang paling dulu membayar harga.

Sebab ekonomi dunia
bukan mesin.

Ia adalah tubuh kolektif
yang dipenuhi jutaan perut lapar.

Ketika satu luka terbuka
seluruh tubuh menggigil.

Langit malam retak perlahan
seperti kulit wajah Tuhan
yang lelah melihat eksperimen ini.

Dan sejarah
berdiri di sudut waktu
sambil mencatat dengan tinta abu:

bahwa manusia
membangun peradaban ribuan tahun
hanya untuk menemukan cara
yang lebih efisien
untuk menghancurkannya.

Pada akhirnya, perang bukan tentang kemenangan.

Ia adalah cermin raksasa
yang memperlihatkan sesuatu
yang sangat tidak nyaman:

bahwa mungkin
kita bukan penguasa bumi.

Kita hanya cacing kecil
yang menggeliat di kulit planet
sambil menyebut kehancuran

sebagai kemajuan.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Ketika Sepatu Perang Ingin Menyentuh Tanah

Ada seseorang di ujung peta
yang memandang bumi
seperti meja permainan.

Di atas meja itu
gunung hanyalah kerutan,
kota hanyalah titik,
manusia hanyalah angka
yang bisa dipindahkan seperti bidak.

Ia berkata:
“Langit tidak cukup.”

Rudal sudah melubangi malam,
api sudah menulis namanya di awan,
namun itu belum cukup.

Ia ingin tanah.

Ia ingin sepatu-sepatu besi
menyentuh pasir yang panas,
ia ingin langkah-langkah pasukan
mengubah bumi menjadi drum perang.

Sebab ada kesombongan purba
yang selalu kembali dalam sejarah:

keinginan manusia
untuk membuktikan kekuasaan
dengan menginjak tanah orang lain.

Namun tanah bukan peta.

Tanah memiliki ingatan.

Ia mengingat setiap darah
yang pernah diserapnya,
setiap tulang
yang pernah ia jadikan debu.

Tanah tidak pernah benar-benar kalah.

Ia hanya menunggu.

Di padang yang terbakar itu
angin berhembus
seperti napas para leluhur
yang telah lama mati
namun belum selesai berbicara.

Mereka tahu rahasia tua:

bahwa pasukan yang datang
selalu percaya
mereka sedang menulis kemenangan.

Padahal sering kali
mereka hanya sedang berjalan
menuju liang sejarah mereka sendiri.

Sebab perang darat
adalah bentuk kejujuran paling brutal.

Di udara
manusia masih bisa bersembunyi di balik mesin.

Di tanah
manusia harus bertemu manusia.

Mata bertemu mata.
Ketakutan bertemu ketakutan.
Kematian berjalan tanpa topeng.

Dan ketika sepatu-sepatu perang itu
akhirnya menyentuh bumi,

dunia akan belajar lagi
satu pelajaran purba
yang selalu diabaikan para penguasa:

bahwa bumi bukan panggung.

Ia adalah kuburan raksasa
yang selalu punya ruang
bagi ambisi manusia
yang terlalu besar.

Di kejauhan
rakyat kecil masih menyalakan lampu
dengan tangan gemetar.

Mereka tahu sesuatu
yang sering tidak diketahui para pemimpin:

bahwa setiap perang besar
selalu dimulai oleh keputusan kecil, 

seorang manusia
yang suatu hari bangun pagi

dan percaya
bahwa dunia ini

cukup luas

untuk menampung
kesombongannya.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Pesta Api yang Sepi Tamu

Ada seorang lelaki
yang berbicara kepada dunia
seperti pemilik korek api
yang yakin seluruh bumi
adalah tumpukan jerami.

Ia mengangkat tangannya
dan menyebutnya kepemimpinan.
Padahal barangkali itu hanya
keinginan purba manusia
untuk melihat sesuatu terbakar.

Ia memanggil kawan-kawan lamanya,
bangsa-bangsa yang selama ini
berjalan di belakang bayangannya.

“Datanglah,” katanya,
“malam ini kita menyalakan sejarah.”

Namun anehnya
kursi-kursi di meja perang
tetap kosong.

Beberapa sekutu hanya berdiri di ambang pintu,
memandang api yang ingin dinyalakan
seperti seseorang
yang baru sadar
bahwa pesta ini
tidak punya jalan pulang.

Mereka tahu sesuatu
yang sering dilupakan para pemimpi perang:

bahwa api yang cukup besar
tidak mengenal tuan.

Ia memakan segalanya,
termasuk tangan yang menyalakannya.

Di kejauhan
sebuah negeri berdiri di bawah langit yang penuh logam.

Rudal melintas seperti doa yang salah arah,
malam terbelah oleh cahaya
yang tidak pernah diminta siapa pun.

Namun tanah itu tidak berlutut.

Ia berdiri
seperti batu tua
yang terlalu lama ditempa sejarah
untuk belajar menyerah.

Sementara di meja-meja diplomasi
para sekutu saling memandang
dengan kesadaran yang pahit:

bahwa kadang-kadang
kesetiaan paling berani
adalah menolak ikut membakar dunia.

Sebab perang bukan sekadar strategi.

Ia adalah lubang hitam
yang memakan logika,
memakan empati,
memakan masa depan
seperti binatang kosmik yang kelaparan.

Dan siapa pun yang cukup dekat
akan ikut terseret.

Maka sebagian dari mereka
memilih diam.

Diam yang berat.
Diam yang hampir seperti pengkhianatan.

Namun barangkali
diam itulah satu-satunya bentuk kewarasan
di tengah manusia
yang terlalu mencintai ledakan.

Di padang yang terbakar itu
orang-orang masih berdiri.

Mereka tidak menunggu pahlawan.
Mereka tidak percaya pada penyelamat.

Mereka hanya tahu satu hal:

bahwa ketika dunia berubah menjadi arena
di mana para penguasa bermain dengan api,

rakyatlah
yang selalu menjadi kayu bakarnya.

Dan mungkin itulah rahasia paling gelap dari sejarah:

bahwa perang besar
sering lahir bukan dari keberanian, 

melainkan dari satu orang
yang terlalu yakin

bahwa dunia ini
diciptakan

untuk menuruti
amarahnya.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Ketika Takhta Kehilangan Bayangannya

Pada suatu malam
langit tidak meledak,
ia hanya retak sedikit
seperti cermin tua
yang terlalu lama memantulkan kesombongan.

Di istana yang dibangun dari keputusan-keputusan keras
sebuah kursi tiba-tiba menjadi kosong.

Tidak ada suara dramatis.
Tidak ada musik kemenangan.

Hanya keheningan
yang jatuh seperti debu
di atas peta-peta perang.

Seorang penguasa pernah percaya
bahwa sejarah bisa ditulis
dengan ujung misil.

Ia lupa sesuatu yang sangat purba:

sejarah adalah makhluk sabar
yang selalu menunggu
sampai penulisnya sendiri
menjadi catatan kaki.

Di tanah yang telah lama belajar hidup
di antara tembok dan sirene,
orang-orang keluar dari rumah
dengan perasaan aneh.

Bukan pesta.
Bukan pula duka.

Hanya napas panjang
yang untuk pertama kalinya
tidak terasa terlalu sempit.

Anak-anak memandang langit
seperti seseorang
yang baru saja membuka jendela
di rumah yang lama terkunci.

Para ibu masih memegang foto lama,
para ayah masih mengingat malam-malam panjang,
dan tanah masih menyimpan terlalu banyak nama.

Namun sesuatu berubah
di udara.

Seolah-olah
sebuah bayangan besar
yang terlalu lama menutupi matahari
akhirnya bergeser sedikit.

Ironisnya
perang tidak pernah benar-benar berakhir
ketika seorang pemimpin jatuh.

Perang adalah makhluk yang lebih tua.

Ia hidup
di dalam ingatan manusia,
di dalam dendam yang diwariskan
seperti kitab keluarga.

Tetapi malam itu
dunia belajar satu hal lagi:

bahwa takhta setinggi apa pun
tetap berdiri
di atas tanah.

Dan tanah memiliki kebiasaan yang aneh, 

ia selalu sabar
menunggu saat
untuk menelan kembali
semua yang terlalu yakin
dirinya abadi.

Sementara itu
di lorong-lorong kota yang lama terluka
orang-orang berjalan lebih pelan.

Mereka tidak bersorak.

Mereka hanya saling memandang
seperti dua orang yang baru sadar
bahwa langit
ternyata masih ada.

Dan jauh di atas sana
bintang-bintang tetap dingin,
tetap jauh,
tetap tidak peduli.

Karena bagi semesta
runtuhnya seorang penguasa

hanyalah satu butir debu lagi

yang akhirnya ingat
bahwa ia
bukan Tuhan.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Ketika Minyak Menjadi Bayangan

Di suatu malam
laut yang sempit itu mengunci napasnya sendiri.

Kapal-kapal berhenti
seperti ikan yang lupa cara berenang.
Air tidak lagi mengalirkan perjalanan,
ia menyimpan ketakutan
seperti rahasia yang terlalu mahal.

Di dasar laut
minyak tidur selama jutaan tahun,
sisa hutan purba
yang mati sebelum manusia belajar rakus.

Kini ia bangun
bukan sebagai cahaya,
melainkan sebagai alasan
mengapa langit harus terbakar.

Perang selalu lapar.
Ia memakan kota,
memakan tubuh,
memakan masa depan.

Tetapi ada sesuatu yang lebih sunyi
yang juga ia makan:

bensin di pompa kecil,
lampu yang tak jadi menyala,
motor yang berhenti di gang sempit.

Di kota-kota jauh dari medan perang
orang-orang kecil berdiri di depan mesin kosong.

Mereka menunggu.

Jarum meteran tidak bergerak.
Seperti waktu
yang tiba-tiba kehilangan keberanian.

Harga naik
seperti doa yang dipaksa naik ke langit
tanpa sayap.

Dan rakyat kecil
harus belajar lagi
cara bertahan hidup.

Ada yang berjalan lebih jauh.
Ada yang mematikan lampu lebih cepat.
Ada yang menunda mimpi
seperti menunda makan malam.

Sebab perang tidak pernah benar-benar jauh.

Ia merambat seperti bayangan minyak
di permukaan air,
tipis, hitam,
namun cukup untuk mengubah warna laut.

Ironisnya
semua ini lahir dari sesuatu
yang dulu hanya daun.

Ya, minyak itu dulu hutan.

Hutan yang mati
dan berubah menjadi cairan hitam
yang kini menggerakkan dunia
dan sekaligus menghancurkannya.

Manusia menggali masa lalu bumi
untuk menyalakan masa depannya.

Namun setiap api
memiliki kebiasaan yang sama:

ia selalu ingin lebih banyak kayu.

Di gang-gang sempit
rakyat kecil masih berjalan.

Mereka tidak memiliki kapal perang.
Tidak memiliki rudal.
Tidak memiliki pidato besar.

Yang mereka miliki
hanyalah tubuh yang terus bergerak
meski dunia terasa semakin mahal.

Dan barangkali
itulah bentuk keberanian paling purba:

tetap hidup
di dunia yang semakin dibuat
tidak ramah bagi kehidupan.

Sementara laut yang sempit itu
tetap diam
seperti leher dunia
yang sedang dicekik perlahan.

Dan di kejauhan
mesin-mesin perang masih bernyanyi.

Tidak tahu,
atau mungkin tidak peduli, 

bahwa setiap tetes minyak
yang diperebutkan manusia

pada akhirnya
akan kembali menjadi gelap

di bawah tanah
yang sama

yang suatu hari
akan mengubur kita semua.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Orasi yang Tersesat di Tengah Api

Ada seorang lelaki
yang mencintai gema suaranya sendiri.

Ia berdiri di panggung tinggi
yang dibangun dari mikrofon dan kamera,
menghadap dunia
seperti nabi yang salah alamat.

Ia berkata:
“Berhentilah berperang.”

Kalimat itu melayang
melewati samudra,
melewati gurun yang hangus oleh besi,
jatuh di tanah
yang sudah terlalu lama belajar
menjawab bom dengan kesabaran.

Di sana
sebuah bangsa berdiri
di antara kota yang pecah
dan langit yang robek.

Mereka tidak menjawab pidato itu.

Sebab mereka tahu
ada saat ketika damai
bukanlah kebajikan,
melainkan bentuk lain dari menyerah.

Para penyerang datang
dengan mesin yang bisa menembus malam,
dengan keyakinan tua
bahwa kekuatan adalah hak.

Keangkuhan selalu sederhana:
ia percaya dunia adalah meja makan
dan bangsa-bangsa kecil
hanyalah piring.

Namun tanah yang diinjak terlalu lama
akan belajar satu hal:

bagaimana cara menolak lutut.

Sementara itu
di negeri jauh yang basah oleh hujan tropis,
seorang lelaki masih berbicara
tentang perdamaian dunia.

Ia lupa sesuatu yang kecil,
sesuatu yang sangat dekat:

rakyat.

Di pasar yang sempit,
harga-harga naik seperti doa yang tidak dijawab.

Di sawah yang retak,
petani menunggu negara
seperti anak menunggu ayah
yang terlalu lama pulang dari pidato.

Negara seharusnya hadir
di setiap napas rakyatnya.

Bukan di langit konferensi.
Bukan di panggung diplomasi.

Negara seharusnya ada
di piring makan yang penuh,
di sekolah yang tidak bocor,
di rumah yang tidak takut pada esok.

Tetapi panggung memiliki godaan aneh:
ia membuat manusia percaya
bahwa dilihat
lebih penting daripada berguna.

Dan sejarah,
sejarah sangat sabar
menunggu kesalahan seperti itu.

Sebab pada akhirnya yang akan diingat dunia
bukan siapa yang paling sering berbicara,

melainkan
siapa yang berdiri
ketika api benar-benar datang.

Di gurun yang terbakar itu
sebuah bangsa masih berdiri.

Bukan karena mereka kuat.

Tetapi karena mereka tahu
satu rahasia yang tidak dimengerti panggung:

martabat manusia kadang lebih keras
daripada seluruh senjata di langit.

Dan suatu hari
ketika semua mikrofon telah sunyi
dan semua pidato berubah menjadi arsip,

sejarah akan membuka satu halaman
yang sangat pendek.

Di sana tertulis:

ada bangsa yang dibombardir
namun tetap berdiri.

Dan ada pemimpin
yang terlalu sibuk berbicara
kepada dunia, 

hingga lupa
mendengar
rakyatnya sendiri.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Mazmur Abu di Atas Langit yang Terbakar

Ada suatu bangsa
yang belajar berbicara dengan bahasa api,
bukan karena ia mencintai perang,
tetapi karena dunia
hanya mendengar suara yang meledak.

Di kejauhan, dua bayangan raksasa berdiri di atas menara besi,
mengira langit adalah milik mereka
karena mereka memiliki petir di genggaman.

Mereka lupa,
petir pertama di alam semesta
tidak pernah meminta izin kepada manusia.

Keangkuhan selalu lahir dari ingatan yang pendek.
Ia percaya sejarah dimulai
pada saat ia membuka mata.

Maka mereka mengirimkan besi yang bernyanyi di udara,
roket-roket yang mengunyah malam,
seolah bumi hanyalah papan catur
dan manusia sekadar bidak yang boleh terbakar.

Mereka lupa satu hal yang sangat tua:

bahwa tanah yang telah terlalu lama diinjak
akan belajar menggertakkan giginya sendiri.

Di gurun yang terbakar matahari itu
berdiri sebuah bangsa
yang tidak terlalu percaya pada kemenangan,
tetapi sangat akrab dengan penderitaan.

Dan penderitaan, adalah guru paling sabar di alam semesta.

Setiap bom yang jatuh
hanya mengingatkan mereka
bahwa tubuh manusia memang rapuh,
namun kehendak
tidak pernah dibuat dari daging.

Kehendak dibuat dari sesuatu
yang lebih tua dari langit:
harga diri.

Para penyerang percaya
bahwa kekuatan adalah jumlah senjata.

Tetapi mereka tidak mengerti
rahasia paling mengerikan dari sejarah:

bangsa yang sudah berdamai dengan kematian tidak bisa ditaklukkan.

Karena apa lagi yang bisa kau ancam
pada seseorang
yang sudah menatap kehancuran
seperti menatap cermin?

Maka perang ini bukan sekadar perang.

Ini adalah duel antara dua keyakinan purba:

satu percaya bahwa dunia bisa dimiliki,
yang lain percaya
bahwa dunia hanyalah titipan Tuhan
yang tidak boleh diinjak dengan lutut kesombongan.

Di langit malam
rudal-rudal melintas seperti ayat yang salah dibaca, mencabik sunyi kosmos.

Namun di tanah yang terbakar itu
orang-orang masih berdiri.

Bukan karena mereka kebal,
tetapi karena mereka telah mengerti
rahasia yang tidak dimengerti para raja:

bahwa hidup bukan soal bertahan lama,
melainkan tentang
tidak menyerahkan martabatmu
kepada ketakutan.

Dan barangkali,
di balik semua asap ini
Tuhan sedang tertawa pelan
melihat manusia yang selalu lupa:

bahwa setiap imperium
pada akhirnya hanyalah debu
yang terlalu sombong
untuk menyadari
ia sedang kembali menjadi tanah.

Sebab sejarah memiliki kebiasaan aneh, 

ia selalu memakamkan
yang paling angkuh

di bawah kaki
yang paling keras kepala
untuk tetap berdiri.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Langkah Pelan Menuju Cahaya yang Retak

Di hutan ini
pohon-pohon tidak tumbuh dari tanah,
mereka tumbuh dari sisa-sisa niat manusia
yang pernah ingin menjadi baik
lalu lupa caranya.

Taring berkeliaran di udara
seperti doa yang kehilangan Tuhan.
Nafsu tidak lagi berburu daging,
ia berburu alasan
agar tetap merasa hidup.

Maka berjalanlah pelan.
Bukan karena jalan ini suci,
tetapi karena tanah di bawah kakimu
adalah kuburan keputusanmu sendiri.

Jangan meniru kebaikan dengan suara.
Kebaikan yang keras
biasanya hanya kesombongan
yang belajar membaca kitab.

Jika kau melihat yang baik,
curilah ia seperti bayangan mencuri cahaya:
tanpa suara,
tanpa tepuk tangan.

Dan jika kau melihat kejahatan,
jangan buru-buru melempar batu,
barangkali batu itu
pernah menjadi tulang di tubuhmu
pada kehidupan yang lain.

Duduklah di depan bayangmu.
Tatap ia lama-lama
sampai kau sadar:
yang kau sebut musuh
sering kali hanya dirimu
yang menolak pulang.

Jangan bicara tentang keadilan.
Keadilan bukan kata,
ia adalah luka tua di tangan waktu
yang terus berdarah
setiap kali manusia merasa benar.

Hati-hatilah
ketika hatimu terasa paling suci.
Kesucian sering bersembunyi
di balik topeng malaikat
yang diam-diam menikmati tepuk tangan.

Periksa cerminmu.

Bukan wajahmu yang berbahaya,
melainkan retakan kecil
yang membuat kebohongan terlihat simetris.

Karena kiamat paling sunyi
tidak datang dengan sangkakala,
ia datang ketika seseorang tahu segalanya,
namun tetap mencintai
kebodohannya sendiri.

Pada saat itu
langit tidak runtuh.

Yang runtuh
hanyalah kemungkinan
untuk menjadi manusia baru.

Ya Tuhan,
ingatkan aku pada-Mu
sebelum ingatanku dipenuhi diriku sendiri.

Biarkan syukurku
seperti angin yang tidak tahu arah
namun tetap bergerak.

Dan biarkan ibadahku
seperti daun yang jatuh dari pohon yang terbakar, 

pelan,
sunyi,
namun membawa kabar
bahwa bahkan dalam kehancuran

cahaya masih mencari
cara lain
untuk lahir.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Orang yang Menantang Waktu

Ada seorang lelaki
yang berdiri di atas peta dunia
seperti anak kecil
yang baru menemukan palu.

Ia menunjuk ke arah timur
dan berkata:
“Sejarah bisa diubah.”

Langit tidak menjawab.

Karena langit telah melihat terlalu banyak raja
yang mengira waktu adalah pelayannya.

Di sana,
di tanah yang lebih tua dari banyak kitab,
pasir menyimpan ribuan kota mati,
dan setiap batu
pernah menjadi saksi
ketika dunia masih belajar berjalan.

Peradaban itu bukan sekadar negeri.

Ia adalah ingatan bumi.

Ia pernah melihat imperium lahir
seperti kilat musim panas,
lalu padam
seperti lilin yang kehabisan malam.

Orang yang menantang sejarah
biasanya lupa satu hal kecil:

sejarah tidak pernah bertarung.

Ia hanya menunggu.

Ia menunggu raja berubah menjadi debu,
menunggu tentara berubah menjadi fosil,
menunggu pidato berubah menjadi arsip
yang dibaca sambil menguap oleh generasi baru.

Sebab waktu memiliki selera yang aneh.

Ia selalu memakan yang paling keras berteriak.

Dan suatu hari
ketika semua mesin perang berhenti
dan semua mikrofon berkarat,

pasir akan tetap ada.

Angin akan tetap berjalan
di antara reruntuhan yang lebih tua
daripada semua ambisi manusia.

Lalu sejarah akan berbisik
dengan suara yang sangat pelan:

bahwa manusia boleh saja menantang dunia, 

tetapi dunia
tidak pernah benar-benar peduli.

Bandung, 16 Maret 2026

 

Orang yang Menantang Waktu

Seorang lelaki berdiri di atas peta
seperti algojo kecil
yang baru menemukan palu.

Ia menunjuk ke timur
dan berkata:
“Sejarah bisa dihancurkan.”

Angin tertawa.

Di sana
pasir lebih tua dari ambisi manusia.
Batu-batu telah menyaksikan
kerajaan lahir
dan runtuh
seperti buih di bibir laut.

Peradaban tua itu
bukan sekadar negeri, 

ia adalah tulang belakang waktu.

Ia pernah melihat penakluk datang
dengan dada penuh api,
lalu pulang
sebagai debu di kaki sejarah.

Orang yang menantang sejarah
biasanya lupa satu hal:

 sejarah tidak perlu menang.

Ia hanya menunggu.

Menunggu para penantang
menjadi tanah.

Dan ketika semua pidato membusuk
di dalam arsip waktu,

pasir akan tetap berhembus
di atas tulang ambisi manusia.

Bandung, 16 Maret 2026

—-

*Sulton Sahara, Mahasiswa Doktoral Ilmu Teknik Universitas Sriwijaya.