Puisi-puisi Samsudin Adlawi
GULA PUISI
Karena tak manis, tak mau kau sebut ia gula
Karena tak cantik, tak mau kau panggil ia wanita
Karena tak indah, tak mau kau sebut ia puisi
Ah, tak mengapa tak indah. Yang penting
Puisi ini masih gula dan wanita
2025,
the sunrise of java
DESEMBER GUS MUS
–Membaca sajak Kalender-Kalender Tua Gus Mus—
Gus Mus tercekat. Getir
Memandangi lembar-lembar kalender tua
Yang sekali pun dengan kehatian-hatian
Ia robek. Tercampak juga akhirnya
Menyampah, menyumpal
Tong usia
Kalau pun menyisakan ruang, gumam Gus Mus,
Barangkali tinggal serongga
Duri penyesalan
Belaka
2024 – 2025,
the sunrise of java
DOA DESEMBER
–Doa-Doa Desember F. Rahadri—
Sebelum Desember pergi jauh
Rahardi buru-buru mengajak kita
Mengaca. Membaca diri sebisa-bisanya
Kita lihat diri kita: Gelap
Kita kecap diri kita: Pahit
Kita adalah bayangan-bayangan
Gelap dan pahit
Kita menulis, kita menangis
Kita tertawa, kita berdoa
Sambil gojegan Rahardi menyeru:
Ya, Tuhan
Mengapa kau tak mau turun untuk
Minum-minum bersama
Kami di kantin ini
Agar kita bisa leluasa bicara
Dari hati ke hati
Agar kami punya kepastian-
Kepastian
Di sini
2024 – 2025,
the sunrise of java
LEMBAH AKSARA
Lembah aksara
Begitu dalam, begitu hitam
Ketika hendak menyair
Aku selalu rindu jatuh ke dasarnya
Terbenam dalam tumpukan aksara
Kubiarkan setiap aksara, yang paling
Runcing sekali pun, menancam di
Tubuhku. Di otakku. Di ulu hatiku
Karena darah yang muncrat dari luka
Mata aksara adalah puisi
paling indah. Puisi
Paling puisi
2024 – 2025,
the sunrise of java
MENEBAS LUPA
Kupahat sebait janji di dinding
Lupa: Aku tidak akan pernah lupa lagi
Setelahnya terus kuasah mata pisau
Ingatanku dan kusiapkan jurus khusus
Menebas kelebat lupa
Aku sadar manusia adalah sarung dari
Pedang lupa
Walau hanya serupa bayangan
Yang namanya lupa
Tetap berbahaya
2024 – 2025,
the sunrise of java
DUA BIDADARI
Dik, lihatlah
lihat bintang itu.
Tak berkedip matanya,
Sekedip pun.
Tak henti-henti mata
ia menatap paras
cantikmu.
Bahagia aku,
Dik
Dua bidadari saling
bertukar pandang
dalam bola
mataku.
2025,
the sunrise of java.
GEMBRUNG
Ini nyamyian bukan sembarang tembang
Ini tembang pembuka jalan menuju
Rumah sunyi, senyap tak bertepi
Tempat kami luapkan rindu
Kepada Kanjeng Nabi
Lamat-lamat
Mendayu-dayu
Suara gembrung
Bertalu-talu
Timpal menimpal
Senandungkan rindu
Rindu tak terbendung
Kepada manusia agung
Dalam gembrung kami meriung
Merapal selawat dan al-Barzanji
Menabur puja dan puji
Sambut kehadiran kekasih
Pujaan hati, Wali para nabi
Dalam gembrung kami teguk
Secawan rindu
Tanpa sisa, tanpa…
2025 – 2026,
the sunrise of java
GILING CINTA
Berapa kata telah kau
Pungut dari halaman idulfitri
Banyak sedikit tak peduli
Giling selekasnya menjadi bubuk
Lalu seduh dengan setuang
Senyum hangat pagi lalu
Tuang ke mulut cangkir purba
Sepasang bibir tak kuasa
Menunggu menyambutnya
Mengecupkan cinta yang
Mengapung di atas bulan
Ramadan
2025,
the sunrise of java
HANYA BERJARAK
Cinta tak pernah pergi
Ia selalu diam di sekitar kita
Hanya berjarak, tak begitu jauh
Menunggu pintu hati dibuka
Menunggu hati siap ditaut dipagut
Cinta butuh kebeningan pikir
Bening yang tumbuh dalam hening
Bening yang jauh dari cadar kepalsuan
Ketika kejujuran bermekaran di
Taman hati
Ketika itu pula cinta hinggap
Seperti lebah, patuknya menghisap
Tuntas saripatinya
Cinta pun tak lagi
Berjarak
2025 – 2026,
the sunrise of java
JATUH DI DASAR MALAM
Malam makin dalam
Hitam dan sunyi
Hening
Berderet doa melanting tinggi
Berlomba mengetuk pintu langit
Tak terasa sajadah menjadi sungai
Air mata
Alirnya makin menderas
Larung segunung daki ke muara
Ampunan
2025
—-
SAMSUDIN ADLAWI lahir pada 1970 di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Menjadi ketua DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Banyuwangi periode 2015 – 2019 dan ketua Dewan Pengarah DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Banyuwangi periode 2019 – 2024.
Puisinya ‘’Di Balik Lipatan Peci Ismail Marzuki’’ terpilih sebagai 115 Karya Terbaik pada Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi Tahun 2021 dengan tema: Kenangan tentang Taman Ismalil Marzuki dalam Rentang Tahun 1968 – 2018. Puisinya ‘’Yakni Nietzshe Ternyata Injil’’ Terpilih sebagai Peringkat 22 dari 100 Puisi untuk 100 Tahun Chairil Anwar Tahun 2022, Penerima penghargaan ‘’Tokoh Inspirator Pengembangan Budaya Daerah Banyuwangi’’ dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2011. Penerima penghargaan ‘’Tokoh Pendorong Perkembangan Sastra Indonesia Modern di Banyuwangi’’ dari Hasnan Singodimayan Centre pada 2012. Karya puisinya sudah diterbitkan dalam empat buku antologi puisi tunggal. Yakni, Jarang Goyang (2009), Haiku Sunrise of Java (2011), Selingkar Pedang Jalan Pulang (2018), Ribang Kala Aksa (2020), Rahim Suci Bunda Sri Tanjung (2022), dan Yo Mung (2025). Beralamat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, Gedung Grha Pena Banyuwangi, Jalan Brawijaya 77, Kebalenan, Banyuwangi, Jatim, WA +62 812496 1975.




