Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS

HALO

 

bahkan untuk mengabarkan padamu

amat sulit dan terbata

sinyal tiada

bersama tumbangnya menara

seperti juga jembatan putus

menghentikan segala perjalanan

 

telepon genggam tak aktif

lampu layar kerap padam

tiangtiang pengantar listrik rubuh

bencana membuat segala lumpuh

juga pesan pendek dan halo darimu

hanya melayang di udara

 

kalau sudah begini

percakapan sungguh dirindui

bagai rindu yang mesra

dengan kekasih jauh di mata

 

entah, beratus pesan singkat

menunggu masuk beri kabar

atau notifikasi telepon; “halo…”

masih tersendat

 

di sini seperti tanpa peta

orangorang primitif

sekelompok warga kehilangan

rumah, tanah, dan perjalanan

menuju pulang

atau eksodus ke kampung sebelah

 

tapi, masih adakah tetangga

di saat seluruh berduka?

 

halo…

itu hanya kerinduan

khayalan seorang remaja

sekadar berkabar ke kekasih

tapi, kemudian tak terucap

sebab telepon padam

listrik juga mati

di sini malam sungguh kelam

 

halo…

“kami masih hidup,

meski tak punya apaapa

seluruh milik kami

terbenam dalam puing

dan lumpur,” kabar seseorang

kemudian sinyal hilang

seiring tak ada kabar

berjamjam, beberapa hari

“halo, kau selamat?

bagaimana sandang pangan.”

kabar pendek mengetuk

tubuh telepon

cuma tak bisa dibalas

 

telepon genggam padam

lampulampu gulita

hidup kami terasa kelam

 

halo…

“maukah kita ganti peran

kau di sini sebagai korban

dan aku di tempatmu

purapura dermawan

memikul sekantong bantuan?”

 

halo…

tak ada sinyal

untuk mengabarkan

bahwa ribuan kami

jadi korban dan mati!

 

2025

 

 

 

 

 

PESAN SINGKAT DARI SAHABAT

 

setiap kau baca aceh di buku pelajaran,

cerita di lembar media, atau kawanmu

yang bercerita; teuku umar, tjut nyak dien

akan jadi bumbu. seperti

jamuan yang dihidang

agar merangsang makan

dan, tanpa sadar kau kembali mencentong

nasi beserta lauk di meja. jamuan malam

yang mungkin hanya sekali dalam hidup

 

setiap kau dengar cerita tentang aceh,

kau akan membayangkan tsunami 2024

bumi serambi mekah ini sengeri

di waktu nuh mengayuh

perahunya ke bukit tinggi. tampak

hanya bentangan air, lumpur, tanah basah

kampungkampung rata, jalan lengang

hanya rintuh dan tangis. air mata berubah

jadi laut pula. gemuruh di tiap telinga

 

ya, setiap mengeja aceh di lembar peta

kau akan kesulitan mencari titik di mana

aku dilahirkan. di situ aku pernah menumpahkan

air mata dari luka yang dalam. di sana

aku pernah menjumlahkan luka demi luka

di sini. sejak teuku maju di muka kompeni

tjut nyak yang tak henti meradang

walau ia seorang perempuan

 

di aceh, tak akan kau temukan yang meriang

meski bencana bertubi datang

bahkan saat tanah rencong inj tenggelam

oleh tsunami yang berang

 

di sini tiada pamer duka

kendati kami amat terluka

 

jika kau membaca suratsurat

dan kau eja ada nama aceh

percayalah itu kabar biasa

kepada sahabat, jika ada rindu

tak disimpan sendiri

sebab setiap kau mendengar tentang

aceh, sudah lama alam di sini

jadi bancakan. mereka amat rakus,.

tak ada sisa lagi. bahkan nyawa

diminta, dalam bencana demi bencana

 

setiap kaubaca suratku ihwal aceh

sepertinya tak ada lagi sisa untuk kukabarkan

selain kau rasakan orangorang

yang gemuruh di hati

karena senjata sudah disimpan di museum

mungkin diam adalah kuasa paling mahal

daripada kembali memanggul senjata

ketika tiga pulau punya aceh pun

dipindahkan ke garis peta lain

 

2025

 

 

 

 

 

PERJALANAN PULANG

 

perjalanan pulang ini terasa lama

padahal hari kemarin seperti

selangkah sudah di pelukan ibu

lalu menuju meja makan,

 

kunikmati masakan ibu

seperti kuperah sayang

yang ditanak sejak bayi

dalam timang malam hari

 

rumah ibu tak lagi bisa

aku tandai; kemarin hijau

di seluruh dinding luar

genting merah

bahkan pohon sirsak

tertancap di samping

tak terlihat daunnya

 

ibu seperti memanggil

agar segera pulang

sudah ibu buatkan tandang

kesukaanku dan ayah

begitu jelas di telingaku

tapi, mengapa tak kulihat

ibu bergegas menjauh

seperti tetangga. — berlindung

dari bah yang tak terbendung,

layaknya banjir di waktu Nuh

dan… — aku hanya ingin pulang

menemui ibu lalu memelukku

“ibu selamat, galodo amat dahsyat

menghajar dan melumat…”

sepertinya ibu bercerita

sebagai kesaksian

 

tapi, tak seorang berdiri

di depan rumah yang tak lagi

mampu kutandai. juga ibu;

alamat ia tertimbun rumah

ada getar di dadaku

menunjuk arah ke sana

“ibu sedang shalat

saat sujud

lalu tak terasa apaapa

seperti tanpa gemuruh,”

ibu seperti berkata padaku

 

ibu telah terbang

sebagai burung

sayapnya mukena

derunya adalah dzikir

 

begitu cepat ibu pulang

bertemu Tuhan

sedang perjalananku

terasa sangat lama

sampai rumah…

 

2025

 

 

 

 

 

BAGAIMANA MUNGKIN…

 

bagaimana mungkin batangbatang kini jadi

sampan, dari pohonpohon yang tumbang

dan lama berdiam di hutan. kami tak bisa

berlayar di sana ketika air muntah ke kampung

“kami dikepung!”

setiap mata di arahkan, warna lumpur

dan duka lara terdengar

 

kami tak pernah mengira yang hanyut adalah

sampan. berlayar dari bukit, hutan, dan entah

tetapi, batang pohon batang pohon yang sudah

lama lelap. kini dihanyutkan. kala curah air dari

langit tak lagi bisa ditahan

“di sini tiada lagi sampan

sejarah Nuh lama hilang

bahkan, mungkin, dari ingatan,”

desis air yang datang

 

sejak anakanak

setiap sejarah

mesti dilupakan

 

diganti dongeng baru

dari dunia lain

di tangantangan kita

yang kerap layu

oleh luka dan sendu

 

30 November 2025

 

 

 

 

 

WANGI TUBUHMU

 

aku masih mencium wangi tubuhmu

di arus sungai, aliran muntah

gelombang gairah. dari

kaki bukit, wajah huan yang gelisah

 

menampung air mata

orang banyak

dari kampung nan jauh

tak pernah tersuluh

oleh kabar apapun

“tapi,

kami paham yang terjadi

ketika banjir mengantar

tangan perkasa

yang menampar

dan mendepak. kami mengaduh

juga mengadu; ‘Tuhan, telah

Kau sebut dulu kala, kami

memang perusak di bumi-Mu.”

 

apa mau bilang

kini kamipun dilanda bimbang;

saat hutan tersisa daun

sungai dipenuhi sampah

rumah kami layaknya sampan

jalan bagai lautan

 

ke langit kami menengadah

sebagai orangorang papa

— sangat nestapa —

di bumi, dulu Kauberkahi,

kini Kaulaknati

sebab kami lalai

 

2025

 

 

 

 

 

KEMBALIKAN

 

kembalikan batangbatang itu

ke dalam hutan. sebab bukan

sampan ia di saat datang bandang

menghantam rumah dan orang

 

sampai pun tak bersisa

bahkan disebut orang hilang

terbawa jauh oleh arus. arus

 

jangan katakan ini bencana biasa

untuk menutupi kesengajaan

merampas hidup hutan

secara bancakan

 

rakyat menanggung luka

dari tamak yang amat lama

karena telunjuk orang pusat

ribuan orang daerah sekarat

 

kembalikan utang kalian

pada alam, sebelum petala tanah retak

lalu petaka berulang

lebih dahsyat dari negeri Nuh

 

2025

 

 

 

 

 

 

SEKARANG DI DEKAT MATA INI
ADALAH BUNCAHAN AIR

  : sy

 

kata masih punya kekuatan

ia sihir    ia magnet    ia jadi doa

 

di bumi yang jauh dari percakapan

jalur yang terputus, ucapan yang

jadi kabar kini mahal. baiknya

tabung kata rebut ucap; jadi doa

dan kirimkan ke langit

ke semesta

dibungkus dalam puisi

meski sering dilupakan

karena dianggap tak berarti

 

namun, kini baru tahu, puisi

lebih kuat dari pidato pejabat

apalagi datang di bawah kilat

kamera;

memanggul sekarung beras

meniru amirul mukminin

mendatangi rumah umat

yang tiada bisa ditanak

mengendapendap di waktu

sunyi malam

 

datang di depan kilau kamera;

sekarung beras di pundak

di tangan jutaan hektare hutan

habis dibabat dan dibakar

untuk tauke dari luar

 

sekarang di dekat mata ini

adalah buncahan air

melebihi ubunubun

melibas rumahrumah

meruntuhkan jembatan

memutus setiap jejak

dari suatu perjalanan

ke kota atau perkampungan

Aceh, Sumut, Sumbar

        segala duka jadi kabar

        segala air mata menyebar

           : sebagai bencana,

ya petaka

 

ketika berhektare hutan sunyi

tangis dan ratap datang dari

jutaan orang; menyaksikan

rumah berserak dan hanyut

perjalanan seperti menuju maut

 

di telepon genggam, katamu,

hanya menyala tapi tanpa kabar

perut yang lapar

cemas menjalar

 

pada keluarga di rumah

tumbuh duga

di layar telepon

cuma nyala tanpa gambar

 

Lampung, Senin 1 Desember 2025

 

 

 

 

 

 

KENDURI

 

dari kenduri ke kenduri

kita bersila, saling berbincang

ihwal keamanan komplek, rumpi

ibuibu depan rumah, lalu banjir

kau bilang “sumatera menangis.”

tapi ia berujar, “bencana ini hanya

mencekam di media sosial.”

 

sesungguhnya, aceh kehilangan

jalan menuju rumah atau kota

dan kotakota lain terhapus

dari google

“seseorang memanggul sekarung

beras, tapi di tangannya masih

tersisa hutanhutan yang

ditebas.” dia ingin meniru umar

bin khatab yang mengantar

beras ke rumah ibu tua

yang sedang menanak batu

bagi anak yang lapar

 

sesungguhnya, hutanhutan yang

lantak

mengirim air itu dari hilir

entah di mana akhir

 

hanya rumah + jembatan + jalan

mengambang, selaksa tangisan

: air mata sumatera

 

2122025

 

 

 

 

 

 

 

PENGHIBUR

 

petir bercanda, namun aku

tak juga bisa tertawa. wajahmu

menangis di hampar peta itu

dalam kubang lumpur yang banjir

 

seseorang ingin jadi jenaka

menghibur orangorang duka

 

untuk jadi penghibur

cukup kaubawa karung

–entah berisi atau kosong —

cukup wajahmu meringis

 

seolah beban di pundak

adalah kenangan silam

saat masuki hutanhutan

cukur belantara

 

sisanya yang hanyut itu

pamer  di pundakmu

 

 

 

 

 

 

 

JANGAN TAHAN TUBUHKU

 

jangan tahan tubuhku yang mengalir,

kata air, sebab hutanhutan

yang dulu membendung

atau yang pernah menyerapku ke akarakar

telah kau tebang seluruh. “maka kini

aku bebas menembus sungai lalu masuk

ke rumahrumah.”

 

jangan bendung perjalananku, kata air,

karena sekarang tak ada lagi kekuatan

akar dan pohon untuk menahanku agar

tak bebas ke mana suka. tubuhku telah

menciptakan sungai supaya mudah

memburu kampungkampung; “kalian

tak lagi tenang, diburu cemas dan takut

tibatiba datang maut.”

 

bersama air akan kuhantam kampung,

rumah dan menenggelamkan kalian

akan kuratakan kampung itu. kata

longsor, “seperti air, aku juga kejam

dan tak mengenal kemanusiaan.”

 

sebab, manusia juga menjadikan kami

hancur. demi kekayaan dan amat rakus

 

Bandar Lampung, 3 Desember 2025

 

 

 

 

 

 

AKU BERCERITA

 

aku  bercerita

di waktu bencana

seorang lelaki tiba

karung beras di pundaknya

 

langkahnya gontai

seperti menyeret beban

wajahnya amat duka

saat melihat bencana

 

ia ingin seperti umar

hatinya terbakar

melihat rakyat lapar

tapi yang ini, bagai kelakar

 

di panggung sandiwara

semua bisa jadi pemain

yang baik atau purapura

seperti konten TikTok

 

wahai sangat menohok!

 

di saat bencana, duka yang lara

mengapa orang ingin tampil

di depan berpuluh kamera

yang siaga mengabadikan

 

lalu layar layar televisi sumpek

halaman media jadi kotak sampah

aromanya menyengat,

“kau kentut?” pantatmu mendesis

 

aku bercerita

ini kisah kudapat

dari kerabat

yang kini menjeritjerit

menyaksikan rumah hancur

ibu mati tertimbun lumpur

 

“aku korban bencana

akibat hutan tak bersahabat

setelah habis dibabat

oleh para pejabat!” pesan pendek

kuterima jelang subuh tadi

 

awal Desember 2025

 

 

 

 

 

 

CARA BERTANAM

 

kau ajari kami cara bertanam

agar kami lupa bagaimana

kau habiskan hutanhutan

kau gali seluruh tambang

 

kau ajari kami bertaman

diamdiam kau gunduli hutan

kau kirim batangbatang kayu

ke tauke yang sudah menunggu

 

kau ajari kami mengganti hutan

dengan kebunkebun sawit

setelah menanggung sakit

karena bencana menimpa

: begitu lucu kau ini,

di kepalamu otak anak kecil

 

kau mengajari kami

agar didik anak sekolah

merawat alam

menjaga belantara

namun kau amnesia

siapa yang membabat hutan

hingga kala musim hujan

jadi banjir bandang

kampung  kami tenggelam

rumahrumah diratakan

 

inikah caramu mengajari kami

merawat alam di negeri ini?

 

sebuah cara yang diamdiam

kau perintahkan bawahan

menghabisi tambang dan hutan

 

2025

 

 

 

 

PETA SUMATERA

 

aku bentangkan peta

di meja besar ini kuhampar

lembar bergambar banjir longsor

dari peta yang koyak koyak

 

rumah hancur di atas atlas

batang kayu hanyut bagai sampan

dalam peta warna biru hijau merah

alamat yang kini begitu jauh

 

peta sumatera, tiga daerah

berwajah parah; yang mati

yang pindah ke tanah lain

yang lapar menanti bantuan

 

dari langit terhampar

bantuan dilempar

ke wajah peta

yang koyak koyak

 

setiba di tanah

bercampur lumpur

 

30 November 2025

 

 

 

 

 

SEJAUHJAUH KITA

 

sejauhjauh kita;

mata tak saling menatap

tangan tak bisa menangkup

percakapan tak tertangkap

 

tapi, hatiku masih ada

di dalam batinmu

 

sebab, jika aku tak bisa

membawa bantuan

izinkan aku mencatat

segala kesaksian

 

agar yang datang kemudian

tahu: di negeri ini pernah

hampir tenggelam

senasib kaum Nuh

yang bersauh

menembus bah

 

tapi, tiada lagi Nuh

di sini, saat bandang

tanah longsor yang

menenggelamkan

 

perahu Nuh terdampar

sedang perkampungan

di sini rata dalam kubangan

lumpur.          terkubur

membawa umur

 

karena tangantangan

menggunduli hutan

menggali tambang

menganga kematian

kematian

kematian

 

Nuh

beri suluh

lagi untuk kami

 

Desember 2025

 

 

 

 

 

 

ALAMAT PERTAMA KAYU GELONDONGAN

 

kayukayu gelondongan berserak dan

terdampar di setiap mata mengarah

ia jadi pintu yang terkunci bagi air

mengarus di sungai, sebagai tombak

yang menghantam rumah dan kampung

 

lalu dari mana kayukayu gelondongan itu

di mana alamat pertama ia semayam

sebelum banjir menghanyutkan

sesudah bandang mendamparkan

 

di pantai, di tubuh sungai

di atas badan orangorang

 

di mana alamat pertama

kayu gelondongan itu

mengapa ia pindah

dari rumah semesta

 

kaukah yang mengusir

kayukayu gelondongan itu

lalu ia tanamkan amarah

kepada seluruh manusia

 

2025

 

 

 

 

 

 

MENUJU PENGUNGSIAN

 

tak pernah ada keinginan

harus tinggalkan rumah

bagi kelahiran dan wafat

tapi karena petaka alam

hampir empat ribu orang

menuju pengungsian

di rumah sementara

sebagai warga baru

anakanak yang disuapi

menunggu malam

menanti siang

sambil mengenang

desadesa yang hilang

dari atlas negara

 

di pengungsian

hampir empat ribu orang

hanya menunggu petang

dan berdoa terbit matahari

dari timur matamu

yang menghapus luka

 

ratusan orang mati

ditikam air raya

kayukayu gelondongan

masuk perkampungan

tanpa assalamualaikum

melainkan dibawanya

sekawanan maut

manangkap serentak

seperti takdir akhir

kiamat telah disiapkan

 

di teneatenda pengungsian

selalu jauh dari malam

waktu istirah

sebab dalam waktu

tampak hanya siang

selalu berdetak

memanggil puing rumah

dan peta yang koyak

 

kami kini tanpa alamat

bertempat tinggal tak tercatat

nama lorong dan nomor

rukun tetangga

yang dulu dipasang di atas pintu

 

2025

 

 

 

 

 

SETELAH BENCANA ITU

 

setelah bencana itu runtuhan rumah

masih berserak, batang kayu

seperti kapal terdampar

di luar bandar

lumpur mencipta gunung

atau hamparan padang; bertumpuk

setiap mata menatap; luka pelupuk

 

bencana besar

semirip tsunami dulu

mengingatkan zaman Nuh

atau dua kota yang roboh

 

batangbatang kayu punya siapa

dan kini untuk dipakai apa

setelah menghantam bangunan

dan orangorang; di sini tanpa ampun!

 

lumpur menumpuk dan menggenangi

hamparan perkampungan

juga bisa untuk apa? sungai dangkal

perkampungan tak tercatat dalam peta

lalu, katamu, lumpur itu bisa dijual

jadi devisa daerah; ah, ekonomis sekali

 

sementara namanama di sini

sudah terhapus berharihari

hidup seperti menunggu mati

kalian hanya bicara untung dan rugi

 

tentang lumpur itu

kayukayu gelondongan itu

sebagai penghuni baru

transmigran di sini

 

2026

 

 

 

 

SERIBU GAMBAR

 

bahkan seribu gambar

dalam lembar album itu

telah kulupa tajuknya

karena selalu wajahmu

yang dulu mampir

lalu diempas badai

 

: serpihan

 

 

——-

Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain. Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020) Buku-buku puisi Isbedy lainnya, ialah Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, Kota Cahaya, Menuju Kota Lama (memenangi Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia, tahun 2014): Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi. Kemudian sejumlah buku cerpennya, yakni Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung, Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020), dan Kau Kekasih Aku Kelasi (2021). Isbedy pernah sebulan di Belanda pada 2015 yang melahirkan kumpulan puisi November Musim Dingin, dan sejumlah negara di ASEAN baik membaca puisi maupun sebagai pembicara. Beberapa kali memenangkan lomba cipta puisi dan cerpen.