Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
PUISI-PUISI RUKUN IMAN
– IMAN KEPADA ALLAH
YANG TAK PERNAH PERGI
Di balik sunyi
yang menusuk ke tulang,
ada jejak-Nya
yang tak pernah benar-benar hilang.
Ia bersembunyi
di balik desir angin
yang menyentuh reranting,
di mata air
yang menetes dari pelupuk waktu,
di dada
yang kadang sesak oleh rindu
tanpa nama.
“Apa yang di langit dan di bumi adalah milik Allah.”
Segala milik akan pergi,
kecuali Dia
yang tak pernah datang
karena memang tak pernah pergi.
Aku mencarinya dalam gerak,
padahal Ia lebih dekat
dari denyut uratku sendiri.
Ia tak membutuhkan nama
untuk dikenali,
tak membutuhkan tempat
untuk hadir.
Ia adalah
yang memanggil dalam diam,
yang menjawab
bahkan sebelum aku bertanya.
Dalam kabut,
dalam terang,
dalam luka yang paling dalam
Ia tetap ada
sebagai pelipur
dan pembakar
segala yang semu.
Maka aku berhenti bertanya,
berhenti mencari,
dan mulai mendengar:
segala yang sunyi
adalah suara-Nya.
2025, 2026
“Alā inna lillāhi mā fī as-samāwāti wa al-arḍ.”
(QS Yunus [10]: 66)
BAYANG-BAYANG CAHAYA
Tak ada bayang
tanpa cahaya.
Dan tak ada cahaya
tanpa sumber yang kekal.
Aku berdiri
di antara sinar dan gelap,
menyaksikan tubuhku
memanjang di tanah
menjadi pertanyaan
tentang arah dan asal.
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”
Setiap gerakku
membentuk bayang-bayang
yang menuntunku
pada asal mula cahaya
bukan untuk memujanya,
tetapi untuk mengenal
siapa yang memancar dari baliknya.
Bayangan bukan aku,
tetapi ia mencerminkan
segala gerakku.
Cahaya bukan milikku,
tetapi ia menghidupkan
segala yang fana dalam diriku.
Dalam tiap sujud,
bayang-bayangku pun rebah,
menyatu dalam tanah
dan menghilang dalam terang.
Aku pun tahu,
tak ada yang lebih dekat
dari cahaya yang tak terlihat,
dan tak ada yang lebih benar
dari bayang yang mengajakku kembali
kepada Yang Maha Awal.
2025, 2026
QS An-Nūr (24): 35,
“Allāhu nūru as-samāwāti wa al-arḍ…”
NAMA-NYA MENYUSUPI NAFAS
Setiap pagi
kubuka mata
dan kudengar
nama-Nya
bergeletar di dalam dadaku
seperti desir yang tak selesai
dalam satu hembus napas.
Tak perlu lidah,
nama-Nya telah menetap
di balik denyut
yang menandai aku hidup.
Dalam tiap helaan,
ada langit yang masuk
dalam dadaku,
dan bumi yang keluar
melalui keikhlasan.
Aku tak mengucap,
tapi paru-paruku
mengalunkannya
tanpa perlu guru.
Nama-Nya bukan huruf
tapi kehadiran.
Bukan suara
tapi keberadaan yang diam
namun mengisi segalaku.
Sejak aku diciptakan,
nama-Nya telah menyusupi
segala rongga,
hingga tubuhku sendiri
menjadi zikir
yang tanpa bunyi.
Dan dalam diam
aku belajar bahwa
segala yang hidup
sesungguhnya sedang menyebut-Nya.
2025, 2026
CINTA YANG TAK BERTEPI
Cinta bukan api,
ia tak membakar
tapi menyelimuti
seperti langit
yang tak pernah jenuh
meneduhi bumi.
Cinta bukan kata,
ia adalah diam
yang menjelma air mata
di antara doa
yang tak disebut
namun didengar.
“Dia mencintai mereka
dan mereka mencintai-Nya…”
Aku belajar
mencintai tanpa syarat,
seperti malam
yang tetap turun
meski langit dihujat oleh petir.
Aku belajar
menerima cinta yang tak berbalas,
karena cinta sejati
tak pernah berdagang dengan balasan,
ia hanya memberi,
lalu kembali kepada-Nya.
Dan di saat aku mencintai-Mu
dengan segenap takut dan rindu,
aku tahu
yang mencinta dalam diriku
bukan aku,
melainkan Engkau sendiri
yang mengajari ruh ini
tentang rindu
yang sujud dalam sepi.
Cinta pun menjadi jalan,
bukan tujuan.
Ia menjadi samudra
tempat segala kehendak larut
dan hanya satu kehendak
yang tetap:
Kehendak-Mu.
2025, 2026
QS Al-Mā’idah (5): 54, “Yuhibbuhum wa yuhibbuunahum…”
DALAM DIAM, ADA DIA
Di antara desir angin
yang mengelus tirai jendela malam,
aku melihat sepasang cahaya
bergetar dalam bening yang tak terucap
seakan ada yang mengetuk
tanpa suara,
mengingatkanku
kepada sesuatu
yang tak pernah pergi.
Diam menyusupi detak nafas,
seperti rindu
yang tak butuh jawaban,
seperti luka
yang tak ingin sembuh
karena telah menjadi doa.
Dalam diam,
kulihat ayat-ayat
yang tak tertulis
berkilau di sela-sela
desah udara
dan denyut dada.
Diam bukanlah kosong
melainkan kepenuhan
yang menepi dari bising dunia,
tempat makna menyelinap
tanpa nama
tanpa gema
tapi menggetarkan seluruh jiwa.
Diam adalah jalan pulang
yang tak bertanda,
tempat cahaya bersembunyi
di balik air mata
dan gelap
yang kita duga sebagai tiada.
Diam bukanlah akhir suara,
tapi awal fana,
saat semua kata kehilangan daya,
dan hanya Nama-Nya
yang menetap dalam dada.
Sebab dalam diam,
ada Dia
yang menunggu kita kembali
dalam tunduk
dan cahaya
yang tak pernah pergi.
2025, 2026
– IMAN KEPADA MALAIKAT
PENJAGA SUNYI
Dalam sepi yang tak bernama,
aku duduk menimbang kata-kata
yang tak sempat kututurkan
kepada siapa-siapa.
Tapi ada yang mendengar
walau tak pernah menjawab,
ada yang mencatat
walau tak pernah bertanya.
Ia hadir di ujung lenganku
sejak aku dilahirkan
penjaga sunyi
yang tak pernah lelah,
menyalin bisik nurani
dan retakan niat di dada.
Tak kulihat wajahnya,
tapi aku tahu
dialah yang menangis diam
saat aku memaki malam,
dan tersenyum senyap
ketika aku berzikir dalam gelap.
Betapa sering aku lupa
ada langit yang bersandar
pada pundak manusia.
Dan para malaikat
bukan penjaga neraka,
tapi penjaga agar aku
tak menuju ke sana.
2025, 2026
SAYAP YANG TAK TERLIHAT
Aku berjalan di antara dua dinding:
yang satu dari waktu,
yang lain dari bayangku sendiri.
Lalu ada desir,
seperti nama yang lupa dilafalkan,
seperti cahaya yang memilih tinggal
di ruang yang tak bernama.
Mereka bilang:
“Dia tak punya wajah.”
Tapi aku melihatnya
pada keheningan yang duduk
di bahuku.
Ia tidak mengetuk pintu,
tidak mengirim pesan.
Namun setiap aku hendak jatuh,
ada sesuatu, bukan tangan,
tapi sesuatu
yang membatalkan luka.
Apakah dia puisi?
Atau sekadar udara
yang mengerti arti air mata?
Ia menulis tanpa tinta.
Ia menjaga tanpa tidur.
Ia menjadi saksi
bagi doa-doa yang bahkan aku
tak pernah sempat lantunkan.
Dan setiap aku bertanya,
siapa engkau?
Ia menjawab dalam diam:
“Aku yang tak kau kenal,
tapi kau percayai.”
2025, 2026
DI ANTARA DUA PUNDAK
Aku berjalan
seperti yang lain berjalan
namun bayanganku selalu terlambat
setengah langkah dari cahaya.
Di antara dua pundak
ada bisikan
yang tak datang dari bumi,
bukan pula dari langit yang gemetar oleh petir.
Mereka tak berwajah
tapi mengenal wajahku lebih dari aku sendiri.
Mereka tidak menulis
namun kata-kataku merasa diawasi
oleh mata yang tidak kulihat.
Aku tidak sendirian
meski sunyi begitu pandai menyamar
menjadi udara.
Setiap aku ingin berkata:
“Aku lelah menjadi manusia,”
ada yang memelukku
tanpa tangan,
tanpa suara,
tanpa menjanjikan apa pun
selain kesetiaan.
Mereka menyaksikan
setiap harap yang kulipat
dan doa yang gugur sebelum lahir.
Dan aku tahu,
aku tahu dari detak yang bersabar
bahwa yang tak terlihat
justru paling setia.
2025, 2026
BISIKAN DARI LANGIT
Langit tidak selalu biru,
kadang ia menjatuhkan senyap
ke jantungku
seperti kelopak doa
yang belum sempat mekar.
Aku tidak tahu
dari mana suara itu datang
ia tidak bernada,
tidak berhuruf.
Namun aku mengerti
sebagaimana batu mengerti
kenapa ia diam.
Bisikan itu
mengalir ke dadaku
seperti sungai yang telah hapal
jalan pulang.
“Jangan takut,” katanya,
meski tak ada kata di udara.
“Langkahmu dicatat.
Air matamu dikumpulkan
seperti embun pagi.”
Aku pun terus berjalan,
menyeka debu dari ingatan,
membaca isyarat di balik cahaya,
di antara bayang-bayang
yang tak lagi asing.
Siapa yang menyuruhku bersabar
di malam paling kelam?
Siapa yang membangunkanku
tepat saat aku hendak lupa
bahwa hidup ini adalah jalan pulang?
Aku tidak tahu namanya.
Tapi aku yakin:
ia tidak tinggal di langit.
Ia tinggal
di antara ketulusan
dan detak hatiku yang paling lirih.
2025, 2026
CAHAYA YANG MENUNTUN
Di tepi hari
yang belum selesai kutuliskan,
ada suara
yang tidak lahir dari mulut,
tapi dari cahaya
yang pernah singgah
di dahi para nabi.
Ia tak berkata,
tapi keheningannya
menyibak arah.
Ketika jalan bercabang
dan tak ada tanda,
aku hanya memejam
maka langit membuka
satu kelopak cahaya
tepat di depan langkahku.
Bukan peta.
Bukan tanda panah.
Bukan suara terompet dari langit.
Tapi ketenangan
yang menuntun
lebih tajam dari kompas
dan lebih lembut
dari nasihat ibuku.
Cahaya itu
tak pernah menuntut pujian,
tak meminta aku menjadi suci.
Ia hanya ingin
aku tiba
sebagai aku yang percaya,
meski langkahku
kadang lambat
dan doa-doaku
kadang terlambat.
Dan jika kelak aku sampai,
itu bukan karena aku hebat,
tapi karena ada yang menuntun
dengan sabar,
dengan kasih,
dengan cahaya
yang setia menunggu.
2025, 2026
– IMAN KEPADA KITAB-KITAB
HURUF-HURUF YANG MENYALA
Aku melihat
huruf-huruf itu tidak diam
meski terbaring
di mushaf tua yang kerap kau dekap
setiap usai subuh.
Mereka hidup
di setiap tarikan nafasmu,
berjalan
menyusuri celah hati yang retak
dan memperbaikinya
dengan cahaya yang tak terbakar.
Ada alif,
yang tegak seperti doa
yang belum kau lafalkan.
Ada ba,
yang menyimpan laut
dan seluruh gelombang rindu kepada Tuhan.
Ada ta,
yang selalu mengajarkan
diam yang setia.
Mereka menyala
bukan karena tinta,
melainkan karena firman
yang memilih tempat tinggal
di dalam dirimu.
Dan ketika kau menyebut satu huruf saja
dengan air mata,
langit pun bergetar
mengulanginya dengan suara
yang hanya bisa didengar
oleh ruh yang bersujud.
2025, 2026
NAPAS DALAM DADA
pada daun lontar yang menguning
kupandangi gurat yang tak memudar
seperti desir angin dari langit
menggetarkan petuah dalam dada
huruf-hurufnya tak tinggal di kertas
ia berembus dalam napas
menetes dalam mimpi sunyi
menyatu pada laku yang diwariskan
di tepi sendang, aku menyimak
bukan suara, tetapi bening cahaya
yang turun dari jejak para wali
menjelma kalimat, tumbuh jadi nurani
lembaran tak lagi sekadar halaman
ia menjadi jalan pulang
menyala dalam hati yang rindu
seperti pelita yang menjaga dirinya
meski musim berganti
maka kusimpan ayat itu dalam jiwa
kutandai dengan zikir dan air wudhu
agar tak pudar meski zaman berubah
sebab ia bukan sekadar tulisan
ia napas
yang berdiam dalam dada
2025, 2026
BUKU-BUKU LANGIT
Aku membuka halaman langit
dengan mata yang basah oleh bumi.
Setiap kata turun
bukan dari pena,
tapi dari hikmah yang menyala
di balik takdir yang tersembunyi.
Para nabi membawa kitab,
tapi akulah debu
yang membaca bekas telapak kaki mereka
di padang pasir makna.
Langit tak menulis dengan tinta,
tapi dengan peristiwa.
Dan peristiwa itu menimpa
seperti doa yang tak sempat diminta,
tapi dikabulkan lebih dulu.
Wahyu bukan sekadar huruf,
tapi wajah dari cahaya
yang tak ikut hilang,
bahkan ketika zaman melupakan namanya.
Aku bukan pembaca kitab,
aku pejalan
yang mencari rumah
di antara ayat dan air mata.
Dan ketika aku tersesat,
buku-buku langit menyebut namaku
dalam diam
seperti ibu yang mengenali
anaknya yang hilang.
2025, 2026
AYAT YANG MENJADI JALAN
Pada pagi yang masih muda,
kulihat jejak basah di tanah:
bukan sisa hujan,
melainkan bekas langkah
dari ayat yang turun
dalam diam.
Ia tidak bersuara,
tapi segala yang ada
mengikuti iramanya:
daun-daun menggigil seperti mushaf,
dan burung-burung
berhenti bersiul
seolah sedang mendengarkan
tilawah yang tak terdengar.
Ayat itu tak kutemukan
di rak kitab atau buku tafsir,
tapi di liku perjalanan,
di duka yang disimpan batu,
di sabar yang tumbuh
dari luka.
Langkahku menjadi doa,
dan sunyi pun menjadi guru
yang menuntunku
melewati simpang
antara kehendak dan keinsafan.
Ia tak menunjuk arah,
tapi menjadi arah.
Ia tak memberi jawaban,
tapi membuka kesadaran
bahwa hidup adalah madrasah
yang menulis kita
dengan tinta langit.
2025, 2026
FIRMAN DALAM DADA
Ada yang tak tertulis
tapi mengalir dalam darah.
Ia bukan aksara,
tapi firman yang memilih
bersemayam di dada
sejak ruh ditiupkan.
Bukan suara,
bukan bahasa,
hanya bisikan sunyi
yang menjatuhkan air mata
ketika kita lupa arah.
Ketika huruf tak lagi mampu,
dan lidah tenggelam dalam sujud,
firman itu bergetar
di ruang terdalam,
kehendak menemukan arah,
langkah menemukan jalan.
Ia tak bisa dipetik
seperti ayat biasa,
tak dapat disalin
ke lembar manapun.
Tapi setiap kesabaran
yang kita genggam
dan setiap kejujuran
yang tak kita teriakkan
itulah tafsirnya.
Ia menegur
tanpa marah,
mengajak
tanpa memaksa,
dan menguatkan
tanpa kita sadari.
Dalam dada ini,
terbentang langit yang setia.
Di sanalah firman itu tinggal,
tanpa pena,
tanpa gema,
cukuplah cinta
dan ketundukan yang sederhana.
2025, 2026
– IMAN KEPADA RASUL-RASUL
CAHAYA YANG MEMBAWA LUKA
Ia datang tanpa panji,
debu melekat di jubahnya,
mata yang menyimpan
sisa hujan
dari negeri yang retak.
Namanya tak diteriakkan,
hanya beredar pelan
di antara batu-batu
yang sabar menunggu
pagi yang belum bernoda.
Ia membawa cahaya
yang membuat malam
mengingat batasnya,
serta luka
yang tak tunduk
pada hitungan musim.
Orang-orang menyambutnya
dengan dada terkatup,
ia menjawab
dengan suara
yang tak meninggi.
Ia tak pernah menampar bumi,
meski bumi berkali-kali
mengembalikan langit
yang disentuh bibirnya.
Ia hanya berjalan,
meninggalkan jejak
yang tak ikut hilang,
meski pasir berubah arah
dan angin memilih lewat.
Cahayanya
tidak menguasai mata,
ia menyentuh bagian
yang lama mengeras
di dalam dada.
Dan kita,
yang selalu mencintai
tanpa menempuh jalannya,
hanya bisa menunduk
di hadapan terang
yang tak meminta apa-apa,
namun membuat
yang runtuh
perlahan menemukan tegaknya.
2025, 2026
JEJAK DI PADANG PASIR
Di padang pasir
tak ada jalan
selain yang dibuka oleh kaki
seorang lelaki
yang berjalan karena disuruh langit.
Ia tidak bertanya ke mana,
tidak menawar kepada badai,
tidak meminta peta.
Ia hanya berjalan,
dan pasir pun belajar
menyimpan jejak.
Angin datang,
menghapus langkah,
tapi angin tak bisa menghapus
kisah yang tumbuh dari langkah itu.
Di tangannya
tak ada pedang,
hanya tongkat
dan kepercayaan
yang lebih tajam dari baja.
Ia bicara kepada gunung,
dan gunung diam,
tapi diam itu kemudian
menjadi wahyu.
Ia tidak menulis sejarah,
tapi tubuhnya
menjadi aksara
bagi yang tersesat dan haus.
Namanya bukan mitos,
tapi kenyataan
yang tak bisa dilenyapkan
oleh kekuasaan
atau lupa.
Ia berlalu
seperti bayangan,
tapi jejaknya
masih menyala
di padang hati
yang pernah kering.
2025, 2026
SUARA YANG TAK LELAH MENYERU
Suatu malam
aku mendengar suara
yang tidak datang dari luar,
tapi juga bukan suara hatiku sendiri.
Ia menyeru
seperti angin menyeret awan,
seperti cahaya
mengetuk kelopak mata
yang letih menangis.
Ia tidak bernada tinggi,
tidak memekakkan telinga,
tapi membuat tubuh ini
bergetar seperti daun
yang dilanda rahasia.
Suara itu tidak lelah,
padahal aku sering pura-pura tuli.
Ia datang bahkan ketika
aku menutup jendela
dan menebalkan tirai
atas semua cahaya.
Ia tidak bosan menyebut namaku
meski aku mengingkari
rindunya yang lembut.
Apakah itu suara
yang pernah didengar Ibrahim
dari balik api?
Atau yang membuat Musa
menanggalkan sepatunya?
Aku tak tahu.
Yang kutahu,
suara itu bukan dari dunia
yang sibuk menawarkan keraguan.
Ia menyeru,
tak memaksa.
Ia memanggil,
bukan mengusir.
Dan setiap kali aku berpaling,
suara itu tidak memarahi
ia hanya menunggu,
seperti kasih yang tak menagih,
seperti pengampunan
yang tak perlu diiklankan.
Aku melangkah pelan ke arahnya,
sebuah getar yang lama tersimpan
membuka kembali ruang sunyi
tempat cahaya pertama
pernah berdiam
sebelum dunia
memanggilku dengan nama.
2025, 2026
SURAT DARI LANGIT
Langit mengirimiku surat,
bukan lewat burung merpati
atau tiupan angin yang lembut,
tapi lewat dada seseorang
yang telah disucikan oleh tangis malam.
Surat itu tidak dibungkus sutra,
tidak pula dihias cap emas.
Ia ditulis dengan cahaya
di atas gelisah hatiku
yang menunggu arah.
Surat itu memanggilku
dengan kata-kata
yang terasa seperti pelukan
hangat, tapi membuatku menangis.
“Jangan berjalan sendirian,”
katanya,
“aku telah menitipkan cinta-Ku
pada seorang kekasih
yang rela disakiti
demi engkau.”
Aku membacanya berkali-kali
di dalam doa
dan di sela kesunyian
yang tak dimengerti siapa-siapa.
Kadang aku lupa letaknya,
tapi ketika hidup terasa sunyi
dan langit seperti menjauh,
surat itu tiba-tiba menyala
di dalam jiwaku
menegur dengan lembut,
memeluk tanpa syarat.
Ia bukan perintah,
bukan ancaman,
tapi panggilan rahasia
dari Tuhan
yang terlalu malu
untuk memaksa.
Setiap Rasul adalah prangko
yang tak pernah gugur dari surat itu,
dan setiap air mata
yang jatuh saat membacanya
adalah tinta
yang menegaskan bahwa
aku masih dicintai.
2025, 2026
NABI DALAM CERMIN
Aku menatap cermin
bukan untuk mencari wajahku,
tapi untuk mengingat siapa
yang pernah datang
dari cahaya yang sama
dengan ruhku.
Ia bukan bayangan,
tapi gema dari langit,
yang mengajarku
cara mencintai
tanpa memiliki,
cara pergi
tanpa meninggalkan.
Cermin tidak menunjukkan rambutnya,
tidak pula sorban,
tidak pula langkah di pasir.
Ia menunjukkan mata
yang menangis untuk orang lain,
dan senyum
yang memaafkan bahkan musuhnya.
Nabi dalam cerminku
adalah diriku yang belum lahir,
adalah cintaku yang belum suci,
adalah kesetiaan yang menunggu
untuk diuji dalam sunyi.
Ia tidak memerintah,
tidak menuntut.
Ia berdiri
seperti pohon yang memberi teduh
tanpa bertanya:
“Siapa engkau?”
Kekasih berkata,
“Jangan cari Nabi di langit,
carilah di getar dadamu
saat kau mencintai tanpa alasan,
saat kau memberi
tanpa ingin dikenal.”
Cermin itu pecah,
dan setiap pecahannya
memantulkan namanya
bukan sebagai manusia,
tapi sebagai rahmat
yang turun bersama air mata
dan pergi bersama senyum penghabisan.
2025, 2026
-IMAN KEPADA HARI AKHIR
HARI YANG MENGADILI DIRI SENDIRI
Aku berjalan ke dalam diriku
seperti menelusuri lorong panjang
yang pernah kusembunyikan
dari cahaya.
Di sana ada wajah-wajah
yang kukira telah kulupakan
mereka berdiri
membawa keputusan
yang kutulis sendiri dengan perbuatanku.
Tidak ada suara
kecuali nafasku sendiri
yang menjadi saksi
betapa mudah aku
melupakan langit.
Aku duduk di hadapan cermin nurani
dan mendengar pertanyaan
yang tidak butuh jawaban,
“Siapa engkau ketika tidak ada yang melihatmu?”
sunyi menebal.
sebuah hari berdiri tanpa pintu keluar,
tanpa tempat bersembunyi,
tanpa nama lain untuk disalahkan.
hanya aku
dan bayangku sendiri.
Ampuni aku,
karena baru kini kurasa
betapa cahaya-Mu
menyusup pelan
hingga lorong-lorong tergelap jiwaku.
2025, 2026
SAAT KUBUR MEMBUKA MULUTNYA
Tanah tidak pernah diam.
Ia mendengar langkah,
merekam gema,
menghafal desah niat yang
tak terucap dalam doa.
Kubur bukan liang
ia adalah bibir bumi
yang menganga pelan,
mengundang tubuhmu
masuk dalam puisi keabadian
yang kau tulis sendiri
dengan denyut amalmu.
Batu nisan adalah saksi
yang buta tapi tak bisu.
Ia mencatat:
berapa kali engkau menanam kata,
dan berapa kali kata itu
tak tumbuh jadi makna.
Di kedalaman sunyi itu
suaramu akan dikembalikan padamu
dengan gema yang tak bisa kau kendalikan.
Amal yang kecil menjadi cahaya,
dan dosa yang tersembunyi
mengambil rupa dan bicara.
Tidak ada gelap
selain gelap yang kau bawa sendiri.
Tidak ada sempit
selain sempitnya dada
yang menolak memberi.
Saat kubur membuka mulutnya,
yang terdengar bukan jerit,
tetapi kebenaran
yang tak bisa kau bungkam lagi.
2025, 2026
KETIKA WAKTU MEMUDAR
Waktu tidak berhenti,
tapi perlahan-lahan
ia melepaskan jubahnya,
seperti senja
meninggalkan warna di ujung cakrawala.
Detik-detik kehilangan suara,
jam-jam menjadi bening,
seperti air yang lupa
pernah mengalir.
Segalanya berjalan,
namun tak bergerak.
Bayangan berguguran
dari tubuh yang tak lagi
mengingat cahaya.
Langit menua tanpa rintih,
dan bumi mengecil
menjadi ingatan,
yang ditiup angin
ke lembah sunyi.
Aku duduk di ambang lenyap,
menyaksikan waktu memudar,
seperti kain yang dijemur
dan perlahan
hilang warnanya.
Lalu, hanya satu yang tertinggal,
Nama yang tak bisa ditelan oleh waktu,
dan cinta
yang tak lahir dari musim.
2025, 2026
LANGIT YANG TERBELAH
Langit tidak jatuh,
ia retak dari dalam,
seperti dada yang lama
menyimpan rindu
kepada kebenaran.
Tidak ada kilat,
tidak ada guntur,
hanya bunyi halus
yang merambat di tulang waktu,
seperti ingatan purba
yang bangun dari tidur panjang.
Bintang-bintang bergeser
dari garisnya,
awan kehilangan arah,
dan biru
menjadi kedalaman
yang tak lagi bisa ditatap biasa.
Langit terbelah,
bukan oleh amarah,
Beban yang terlalu lama dipendam
meretakkan luasnya sendiri.
Di bawahnya
kita berdiri tanpa mahkota,
tanpa nama,
hanya tubuh
dan amal
yang memantulkan cahaya
atau gelapnya.
Tak ada yang runtuh,
kecuali segala yang rapuh.
Dan dari celah yang terbuka itu
mengalir sunyi
yang menanggalkan segala selain
yang benar-benar ada.
2025, 2026
JANJI YANG DITEPATI
Tuhan,
kami datang bukan dengan wajah bersih,
tetapi dengan luka
yang kami rawat
sebagai bentuk cinta.
Kami tidak membawa pahala,
hanya pengharapan
yang tumbuh dari airmata,
dan amal kecil
yang sempat kami titipkan
di sela-sela kesibukan dunia.
Kami berdiri di hadapan-Mu,
seperti anak yang pulang
tanpa hadiah untuk ibunya,
namun yakin
pelukannya tetap terbuka.
Inilah hari
ketika Kau tunjukkan
bahwa janji-Mu bukan sekadar kata:
Kau jamu kami
dengan cahaya wajah-Mu,
dan menyapa
dengan suara yang lebih lembut
dari semua doa yang kami bisikkan.
Mata kami tak sanggup menatap,
namun hati kami bersujud
dalam kelegaan yang tiada banding,
karena semua yang Kau ucapkan
telah Kau tepati
dengan keindahan
yang bahkan tak kami minta.
2025, 2026
-IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
GARIS YANG DITULIS
SEBELUM AKU
Aku meniti jalan
yang digurat dari bunyi gamelan subuh,
di antara desir daun pisang
dan suara ibu mengaji
di serambi kayu tua.
Namaku telah ditulis
pada nadi waktu,
di selembar lontar yang disimpan
dalam peti perunggu
di dasar mimpi kakekku.
Aku belum lahir,
tapi bayanganku sudah dibisikkan
pada mata air
dan harum kemenyan
yang mengepul di malam kelahiran.
Angin dari ladang tahu
ke mana kakiku akan berbelok.
Burung-burung laut tahu
kapan rinduku mesti karam.
Aku bukan dalang
yang memegang kendali lakon,
aku hanya tokoh kecil
yang mencoba memahami
kenapa gelap
kadang lebih jujur dari cahaya.
Jika hidup ini adalah garis,
aku hanyalah titik
yang belajar menerima
bahwa garis itu bukan penjara,
tapi jembatan
menuju sunyi
yang paling merdeka.
2025, 2026
MENGAMINI YANG TIDAK KUPAHAMI
Aku tak selalu mengerti
kenapa daun gugur lebih awal,
kenapa langkah berpaling arah
tanpa aba-aba, tanpa isyarat malam.
Namun di sepertiga sunyi
saat langit hanya desah napas
dan bumi menyimpan dingin yang lunak,
aku belajar berkata:
amin
bukan karena tahu
tetapi karena Kau tahu.
Ada luka yang belum kusebut,
ada hilang yang belum sempat kutangisi,
tapi kutadah
dengan tangan kosong,
dengan dada lapang.
Sebab bukan mengerti
yang mendekatkan,
tetapi percaya
yang tumbuh
dari kedalaman air mata.
Takdir bukan nasib buta,
tapi cinta yang menyamar,
yang turun perlahan
seperti gerimis
di atas kepala
yang pasrah.
2025, 2026
TAKDIR SEBAGAI JALAN PULANG
Pernah kusangka
takdir pagar bambu
di tepi halaman,
rapat dan diam,
membatasi langkah
pada petak nasib yang sempit.
Namun ketika kaki terus menapak,
ilalang berdesir di ladang jauh,
duri menyimpan tanda,
luka menumbuhkan sabda.
Air mata yang jatuh
perlahan menjelma mata air,
menghidupi tanah perantauan.
Di tanah lempung kulihat jejak,
lebih tua dari umurku sendiri.
Jejak itu bukan milikku,
ia adalah rindu
yang sabar menjaga arah.
Jalan berlumut terbentang
di bawah langit yang teduh.
Sunyi memelihara napas,
mengajaknya pulang
ke asal hembusan pertama.
Angin timur datang tanpa suara,
malam desa menurunkan embun.
Segala yang jauh
menjadi dekat
di halaman jiwa.
Maka aku berjalan
dengan doa menyelimuti langkah,
menuju rumah
yang sejak awal
berdiam di dalam dada.
2025, 2026
RENCANA YANG LEBIH INDAH
Aku membajak sebidang tanah
dengan tanganku sendiri,
menimbun benih
yang kupilih dari musim lalu.
Setiap petang kusebut namanya
dalam lirih yang basah,
sementara langit tetap bersih
tanpa tanda turun kabar.
Lalu hujan jatuh
di tanah sebelah,
di sela batu yang tak kusentuh,
di retak yang tak kuanggap ladang.
Hatiku luruh
seperti daun muda
yang tanggal sebelum sempat
mengenal angin.
Namun sunyi membuka celah.
Di antara batu
muncul hijau yang tak kukenal asalnya;
akar-akar merambat pelan
menemukan airnya sendiri.
Burung-burung datang
hinggap tanpa undangan,
membawa pagi
di paruhnya yang bening.
Aku pun menggeser penanggalan,
melipat hitungan hari,
dan berdiri lebih lama
di arah yang tak pernah kutandai.
Di sanalah
kebun mulai tumbuh,
dari cahaya
yang lebih dahulu tahu
arah matahari.
2025–2026
PASRAH DALAM PELUKAN-NYA
Aku tak lagi meminta
agar malam lekas berlalu,
atau agar bebanku
dipindah ke pundak langit.
Aku hanya ingin
diam dalam pelukan-Mu
seperti embun
di pangkuan daun bambu,
seperti desir
yang tak menuntut arah angin.
Kupasrahkan air mataku
sebagai bahasa
yang tak butuh diterjemah.
Kupasrahkan rinduku
sebagai nyala
yang tak mencari jawab.
Bila hidup ini
penuh yang tak bisa kupahami,
biarlah ikhtiarku
menjadi sajadah yang terhampar.
Dan bila doaku
menemui sunyi,
biarlah sunyi itu
menjadi ruang Kau mengisi.
Karena dalam pelukan-Mu,
tak ada kehilangan,
tak ada tanya yang sia-sia,
semua kembali
ke asal cahaya,
dan aku
hanya setitik
yang Kau pulangkan
pada-Mu.
2025, 2026
—-
Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***





