Menggugat Hegemoni Mooi-Indie melalui Pameran Lanskap
Oleh Arramadhan Abad Akbar M*
Siapa yang tidak mengenal lukisan pemandangan yang indah dan menenangkan? Imaji tentang pegunungan hijau, hamparan sawah, lembah yang subur, hingga suasana pedesaan yang damai telah lama membentuk persepsi visual tentang Indonesia. Representasi tersebut begitu kuat hingga seolah menjadi gambaran tunggal mengenai realitas lanskap Nusantara. Lukisan-lukisan semacam ini dikenal sebagai bagian dari aliran mooi-indie, sebuah gaya yang berkembang sejak akhir abad ke-19 pada masa Hindia Belanda. Aliran ini menampilkan lanskap Indonesia dalam balutan keindahan yang memikat, menghadirkan citra visual yang romantis sekaligus melenakan.

Karya Muchammad Ali berjudul Oleolang. (Sumber: dokumentasi penulis)
Kemunculan mooi-indie tidak dapat dilepaskan dari konteks kolonialisme. Para pelukis Eropa yang datang ke Hindia Belanda membawa perspektif estetika yang berakar pada tradisi seni Barat. Mereka memandang alam Indonesia sebagai objek eksotis yang layak dirayakan dalam kanvas. Gunung, hutan tropis, dan kehidupan pedesaan dihadirkan sebagai panorama ideal yang jauh dari konflik. Dalam konteks ini, lukisan tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai medium representasi yang membangun citra Hindia Belanda sebagai wilayah yang damai, subur, dan mengundang.
Pelukis pribumi seperti Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Abdullah Suryosubroto dan beberapa nama lainnya juga turut berkontribusi dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia terlebih dalam aliran mooi-indie. Namun demikian, gaya representasi keindahan alam tetap menjadi bagian dari produksi visual pada masa itu. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi estetika tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh relasi kuasa, pendidikan, dan jaringan budaya yang melingkupinya.
Seiring berjalannya waktu, aliran mooi-indie tidak lepas dari kritik berbagai pihak. Keberpihakan dan kesadaran akan realitas sosial serta politik yang dihadapi masyarakat Indonesia memunculkan pertanyaan mendasar: apakah seni cukup berhenti pada representasi keindahan? Ataukah ia memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kondisi nyata yang dialami rakyat? Pertanyaan ini menjadi landasan bagi munculnya kritik terhadap mooi-indie, yang terus berkembang hingga hari ini.

Lukisan Mooi-Indie karya Abdullah Suryosubroto (sumber gambar koleksi lukisan Presiden Republik Indonesia)
Dalam konteks tersebut, pameran bertajuk Lanskap yang diselenggarakan oleh Institut Sejarah Seni Indonesia (ISSI) di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta, pada 2 hingga 8 April, menjadi relevan untuk dibaca sebagai bagian dari wacana kritik tersebut. Pameran ini menghadirkan sekitar 20 seniman dengan pendekatan visual yang beragam dan dikuratori oleh A. Anzieb. Lanskap tidak lagi diposisikan sebagai objek keindahan semata, tetapi sebagai ruang yang memuat kompleksitas sosial, politik, dan kultural. Dengan demikian, pameran ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga membuka ruang refleksi kritis terhadap sejarah dan praktik seni rupa di Indonesia.
Kritik Visual dan Wacana Mooi Indie
Secara visual, mooi-indie dapat dikenali melalui kecenderungannya dalam menampilkan lanskap yang harmonis dan ideal. Komposisi yang seimbang, penggunaan warna yang lembut, serta pengolahan cahaya yang dramatis menjadi ciri khas utama. Gaya ini berakar pada tradisi naturalisme dan romantisisme, yang menempatkan alam sebagai sumber keindahan sekaligus objek kontemplasi. Dalam banyak kasus, keindahan tersebut dihadirkan secara intens, sehingga menciptakan kesan bahwa alam Indonesia adalah ruang yang nyaris tanpa konflik.
Namun, di balik pesona visual tersebut, terdapat dimensi ideologis yang tidak dapat diabaikan. Lukisan mooi-indie tidak hanya merepresentasikan alam, tetapi juga membentuk cara pandang terhadap wilayah kolonial. Dengan menampilkan Hindia Belanda sebagai “surga tropis”, karya-karya ini secara tidak langsung menutupi realitas eksploitasi sumber daya dan penderitaan masyarakat pribumi. Seni, dalam hal ini, berfungsi sebagai instrumen kultural yang memperkuat narasi kolonial.
Kritik terhadap aliran ini mulai mengemuka secara signifikan pada dekade 1930-an, terutama melalui pemikiran S. Sudjojono dan Agus Djaja melalui Persagi. Keduanya menilai bahwa mooi-indie hanya menghadirkan keindahan permukaan serba-molek, tanpa menyentuh realitas kehidupan rakyat. Sudjojono menekankan pentingnya kejujuran dalam seni, yakni kemampuan untuk merepresentasikan kehidupan secara utuh, termasuk aspek-aspek yang tidak nyaman untuk dilihat. Baginya, seni tidak boleh terjebak dalam estetika yang mengabaikan konteks sosial.
Gagasan tersebut menjadi titik balik dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Para seniman mulai menggeser orientasi dari representasi keindahan menuju eksplorasi realitas. Kritik terhadap mooi-indie tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi juga diwujudkan dalam praktik artistik yang menghadirkan tema-tema sosial, politik, dan kemanusiaan. Seiring waktu, kritik ini terus berkembang dan mengalami transformasi, mengikuti dinamika zaman.
Dalam konteks kontemporer, kritik terhadap mooi-indie tidak lagi sekadar menolak estetika keindahan, tetapi juga mempertanyakan bagaimana lanskap direpresentasikan. Apakah lanskap hanya dipahami sebagai objek visual, ataukah ia juga merupakan ruang sosial yang sarat dengan relasi kuasa? Pertanyaan ini menjadi penting dalam membaca praktik seni rupa hari ini, termasuk dalam pameran Lanskap.
Perlawanan melalui Kanvas
Pameran Lanskap menawarkan cara pandang baru dalam memaknai bentang alam Indonesia. Lanskap tidak lagi disajikan sebagai panorama yang tenang dan ideal, melainkan sebagai ruang yang sarat persoalan dan mengandung muatan kritik. Para seniman menghadirkan realitas sosial secara terbuka, tanpa menutupi konflik yang menyertainya. Dalam konteks ini, lanskap tidak lagi berfungsi sebagai latar pasif, tetapi menjadi entitas aktif yang terlibat dalam dinamika kehidupan manusia.

Salah satu sudut karya Catur Nugroho yang menggunakan kolase kertas berupa arsip surat tanah. (sumber: dokumentasi penulis)
Eksplorasi medium tampak kuat melalui penggunaan teknik kolase, seperti yang ditunjukkan oleh Alif Edi I dan Catur Nugroho. Teknik ini kian menonjol dalam praktik seni kontemporer karena kemampuannya menggabungkan material visual dengan narasi konseptual. Catur Nugroho memanfaatkan arsip berupa surat/sertifikat tanah dan dokumen pertanahan untuk merepresentasikan konflik agraria di Indonesia. Material tersebut tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga penanda historis yang menguatkan konteks sosial karya. Sementara itu, Alif Edi mengkombinasikan potongan kertas berwarna dengan teknik gambar tangan untuk mengungkap transformasi estetika di era digital. Ia menyoroti pergeseran dari pengalaman visual yang bersifat fisik menuju metafisik yaitu ketika teknologi mulai membentuk ulang cara manusia memahami realitas.

Lambar Laun karya Verifh Hendys, menggambarkan estetika gunung Sindoro yang awalnya asri nan sejuk berubah menjadi ruang eklopitasi alam dan industrialisasi. (sumber: dokumentasi penulis)
Pada tataran konseptual, karya-karya Abyu, Apandi, Gabrielle Maria Anna, dan Yusa Dirgantara menampilkan pendekatan simbolik yang kuat. Mereka memanfaatkan warna, bentuk, dan metafora sebagai perangkat untuk menyampaikan gagasan. Visual yang dihadirkan tidak sekadar merepresentasikan lanskap, tetapi mengurai relasi antara manusia dan alam, antara realitas yang ditampilkan dan kenyataan yang tersembunyi. Karya-karya ini mengangkat isu lokalitas, marginalisasi, serta kritik terhadap kebijakan publik melalui pendekatan yang tidak selalu literal. Bahasa visual yang digunakan cenderung terbuka, mengajak penonton untuk menafsirkan makna secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa praktik seni rupa kontemporer terus bergerak, menyesuaikan diri dengan kompleksitas zaman.
Di sisi lain, pendekatan representasional masih hadir melalui karya-karya Verifh Hendys, Selena Adinda, S. Dwi Stya, Riduan, Muchammad Ali, Lulus Boli, Laila Tifah, Dini Nur, Andi Firda, dan Edi Maesar. Lanskap dalam karya mereka tetap menampilkan keindahan visual yang kuat, namun tidak berhenti pada aspek estetika semata. Terdapat lapisan makna yang menyiratkan bahwa setiap ruang memiliki cerita, setiap makhluk mengalami perubahan, dan setiap lanskap menyimpan pelajaran bagi kehidupan manusia. Dimensi spiritual dan kultural terasa dalam pengolahan visual tersebut, menjadikan lanskap sebagai ruang refleksi yang menghubungkan manusia dengan tradisi serta identitas lokal.

Habis Gelap Terbitlah Terang karya Riduan menggambarkan keadaan lahan yang telah hangus dilahap api.
Eksperimen medium juga tampak dalam karya Asmoadji dan Rika Fauzi yang menghadirkan pendekatan berbeda dari dominasi karya dua dimensi. Asmoadji menampilkan instalasi menyerupai pemukiman padat penduduk untuk mengangkat isu urban modern. Susunan visual yang rapat dan repetitif mencerminkan tekanan ruang hidup di kota besar. Sementara itu, Rika Fauzi menghadirkan karya audio-visual berbasis pengalaman sensorik sentuh. Melalui pendekatan ini, penonton diajak “mendengarkan” suara alam, sebuah metafora atas relasi manusia dengan lingkungan. Narasi yang dibangun menghadirkan suara-suara alam sebagai bentuk ekspresi penderitaan, keteguhan, sekaligus peringatan. Visual tiga dimensi yang menyertai karya ini memperkuat pengalaman imersif, seolah penonton menyusuri tubuh alam yang rapuh. Kedua karya tersebut menegaskan bahwa praktik seni tidak harus terikat pada medium konvensional.
Dari keseluruhan karya yang dipamerkan, representasi figur manusia relatif minim. Setidaknya hanya beberapa karya, seperti yang ditampilkan oleh Dabi Arnasa, Hanafi K. Sidharta, Apandi, dan Robi Fathoni, yang secara eksplisit menghadirkan sosok manusia. Dalam tradisi mooi-indie, manusia kerap menjadi bagian dari komposisi estetis lanskap. Namun, dalam pameran ini, fokus lebih banyak diarahkan pada lanskap itu sendiri. Akibatnya, peran manusia sebagai subjek yang membentuk sekaligus merusak lanskap tidak selalu terekspos secara mendalam. Hal ini membuka ruang refleksi: sejauh mana lanskap dapat dipisahkan dari manusia yang hidup di dalamnya?
Meskipun didominasi karya dua dimensi, pameran ini tetap menghadirkan upaya serius dalam menjaga lokalitas sekaligus mendekolonisasi identitas seni rupa. Seperti yang disampaikan dalam kuratorial A. Anzieb, pameran ini bertujuan menghidupkan kembali wacana kritis terhadap mooi-indie. Upaya tersebut terlihat dari keberagaman pendekatan visual yang tidak lagi terikat pada estetika keindahan semata, tetapi berorientasi pada pembacaan ulang terhadap lanskap.

Penampakan detail karya Potrait di Balik Kota #1 oleh Asmoadji dan Dark Land Time Travel Series #1 oleh Robi Fathoni (Sumber: Dokumentasi penulis).
Sebagai catatan, jika kehadiran satu atau dua karya bergaya mooi-indie dalam pameran ini berpotensi memperkuat konteks kritik yang dibangun. Tidak semua audiens memiliki referensi visual yang memadai terhadap aliran tersebut. Dengan menghadirkan karya representatif baik secara langsung maupun melalui dokumentasi. Sehingga penonton dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai objek kritik. Hal ini juga dapat memperluas jangkauan apresiasi, terutama bagi audiens yang belum akrab dengan sejarah seni rupa Indonesia.
Secara keseluruhan, karya-karya dalam pameran ini menunjukkan upaya sadar untuk melawan dominasi estetika mooi-indie. Para seniman tidak lagi mereproduksi keindahan yang terlepas dari konteks, melainkan menghadirkan lanskap sebagai ruang yang hidup, kompleks, dan penuh ketegangan. Pendekatan ini menegaskan bahwa seni memiliki kapasitas sebagai medium kritik sekaligus sarana refleksi sosial.
Meskipun atensi publik seni tidak terlalu tinggi pameran Lanskap tetap memiliki signifikansi penting. Ia menawarkan perspektif baru dalam memahami hubungan antara seni, sejarah, dan realitas sosial. Penonton tidak hanya diajak untuk melihat, tetapi juga membaca dan menafsirkan karya secara kritis.
Dalam posisi ini, pameran dapat dipahami sebagai ruang produksi pengetahuan. Ia membuka kemungkinan untuk membaca ulang sejarah seni rupa Indonesia, sekaligus menawarkan cara pandang baru terhadap lanskap. Di tengah berbagai persoalan kontemporer, seni tidak hadir sebagai solusi instan, melainkan sebagai medium penyadaran. Ia membantu membentuk cara pandang, memperluas sensitivitas, dan mendorong refleksi.
Pameran Lanskap tidak sekadar menjadi ajang presentasi karya, tetapi juga pernyataan sikap. Ia menegaskan bahwa seni memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kritis. Melalui kanvas dan berbagai medium lainnya, para seniman tidak hanya menciptakan visual, tetapi juga mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana kita melihat, memahami, dan merespons realitas di sekitar kita? Dari pertanyaan inilah, relevansi seni terus menemukan pijakannya.
—-
*Arramadhan Abad Akbar M / Peneliti Seni dan Budaya




