Mendengar Film: Perayaan Suara dalam Pameran Tiga Dekade Miles Films
Oleh Mutia Tsany F.*
Seberapa besar sebenarnya pengaruh musik dan suara latar dalam sebuah adegan film?
Pertanyaan ini mungkin pernah muncul ketika kita mengingat kembali film yang pernah kita saksikan. Yang tersisa dalam ingatan tidak selalu hanya gambarnya. Sering kali ada pula musik yang ikut melekat. Sebuah melodi lembut yang mengiringi percakapan sunyi, dentuman ritmis yang memperkuat ketegangan, atau lagu yang tiba-tiba membuat sebuah adegan terasa jauh lebih emosional, bahkan suara jangkrik yang ikut mengiringi pada suatu percakapan yang mendalam.
Musik dalam film bukan sekadar latar yang mengiringi gambar. Ia bekerja sebagai pengarah emosi. Ia membantu membentuk suasana. Dalam banyak kasus, musik bahkan menjadi jangkar memori yang membuat kita dapat mengingat sebuah adegan bertahun-tahun kemudian.
Gagasan ini menjadi titik berangkat pameran “Mendengar Terdengar”, yang diselenggarakan oleh Miles Films untuk merayakan tiga dekade perjalanan mereka di industri film Indonesia. Pameran ini dapat dikunjungi di Museum Lokananta sejak 27 Januari hingga September 2026.

Alih-alih hanya menampilkan arsip produksi atau dokumentasi film, pameran ini dirancang sebagai pengalaman interaktif. Pengunjung tidak sekadar membaca sejarah perjalanan Miles Film. Mereka diajak merasakan langsung bagaimana suara bekerja di dalam sinema melalui instalasi yang dirancang bersama this/Play Studio.
Empat ruangan yang disiapkan menghadirkan pengalaman berbeda. Namun semuanya terhubung oleh satu gagasan yang sama: bahwa suara merupakan bagian mendasar dari pengalaman menonton film.
Awal Perjalanan yang Dapat Didengar
Pengalaman pameran dimulai dari ruangan pertama yang menampilkan perjalanan Miles Films sejak berdiri pada 1995.
Saat memasuki ruangan, pengunjung disambut kain melingkar berisi kisah awal Miles Films di dunia perfilman Indonesia. Sementara itu, dinding ruangan dibuat melingkar, menampilkan timeline perjalanan rumah produksi yang menandai setiap momen penting.
Namun instalasi ini tidak hanya menyajikan teks.
Setiap titik waktu dilengkapi dengan tombol interaktif yang mengundang pengunjung untuk mencobanya satu per satu. Ketika tombol tersebut ditekan dan ditahan, pengunjung dapat mendengar potongan suara yang berkaitan dengan peristiwa pada tahun tersebut.

Beberapa tombol memutar lagu dari soundtrack film. Tombol lain memutar rekaman pidato penghargaan atau potongan wawancara.

Salah satu tombol pada momen di tahun 2018 memutarkan lagu Ku Lari Ke Pantai dari RAN yang menandai kembalinya Miles Films ke dunia film anak dan meraih penghargaan sebagai Lagu Tema Terbaik FFI 2018.
Pendekatan ini menghidupkan sejarah dengan tidak hanya bisa dibaca, tapi juga dirasakan melalui suara. Instalasi interaktif dengan tombol-tombol yang memunculkan rekaman membuat setiap momen terasa lebih nyata, dan membekas dalam ingatan pengunjung
Suara-suara tersebut memberikan gambaran tentang perjalanan panjang sebuah rumah produksi yang telah menghasilkan berbagai film dan turut serta dalam perkembangan sinema Indonesia. Dari potongan audio yang terdengar, pengunjung bisa merasakan bagaimana film tidak hanya meninggalkan jejak visual, tetapi juga jejak suara.
Mengingat Film-Film Ikonik
Ruangan berikutnya dibagi menjadi dua bagian.
Pada bagian pertama, pengunjung disambut oleh deretan poster film produksi Miles Films dari berbagai periode. Beberapa di antaranya merupakan film yang sangat dikenal oleh penonton Indonesia, seperti Ada Apa dengan Cinta?, Athirah, Pendekar Tongkat Emas dan Laskar Pelangi.
Deretan poster ini mengingatkan kembali pada visual yang pernah memenuhi layar bioskop. Jika ruangan sebelumnya memperkenalkan perjalanan waktu melalui suara, ruangan ini mengembalikan memori pada citra-citra film yang pernah begitu populer.
Ruang ini terasa seperti jeda sebelum memasuki instalasi berikutnya seakan mengingatkan bahwa film memang merupakan medium visual, tetapi pengalaman sinematik tidak pernah sepenuhnya terlepas dari suara.
Ketika Musik Mengubah Makna Adegan
Setelah melihat deretan poster film di bawah lampu yang terang, pengunjung beralih kepada bagain yang jauh lebih redup.
Empat headphone tergantung berjajar di tengah ruangan menyapa, menunggu untuk dikenakan. Di sekelilingnya, pada tiga sisi dinding terproyeksikan potongan-potongan adegan dari berbagai film produksi Miles Films yang muncul secara acak.
Instalasi ini menyimpan satu pertanyaan sederhana: apakah semua lagu akan cocok dengan semua adegan?

Ketika menocoba mengenakan salah satu headphone, telinga saya langsung disambut dengan suara bass yang langsung memenuhi telinga. Lagu yang terdengar memiliki nuansa tegas dan penuh semangat, dengan lirik berbahasa Inggris yang terasa seperti seruan penuh energi.
Sambil terus mendengarkan, saya mencoba memperhatikan adegan yang terpampang satu per satu. Di awal, tampak potongan film dari Ada Apa Dengan Cinta yang menampilkan Rangga dan Cinta sedang melakukan perjalanan bersama dan menikmati pemandangan dari atas atap gereja berbentuk ayam di Yogyakarta. Sangat bertolak dengan lagu yang memberi kesan bersemangat dengan semangat berontak, adegan tersebut justru memberikan nuansa romantis.
Adegan berganti pada potongan film Petualangan Sherina 2 dengan karakter Sherina dan Sadam berkelahi dengan karakter penjahat. Meski tampak cocok dengan lagu di telinga, namun saya pribadi tahu bahwa lagu ini tidak untuk film tersebut karena pernah menontonnya.
Adegan kembali berganti pada film lain yang menampilkan perkelahian dengan karakter perempuan yang memukul telak karakter laki-laki. Lagi-lagi, lagu yang terdengar juga terasa cocok dengan adegan tersebut.
Adegan kemudian beralih lagi pada potongan film yang menampilkan suasana aksi unjuk rasa dengan rombongan mahasiswa beralmamater kuning berjalan bersama membawa spanduk panjang dari kain putih yang dibawa barisan paling depan. Tepat pada saat itu, terdengar kata reformasi di telinga. Seketika, saya tahu bahwa inilah adegan dan film yang cocok untuk lagu tersebut walaupun saya belum pernah mendengar lagu ini atau melihat film dari potongan scene tersebut.
Setelah menemukan scene yang cocok, saya tidak segera beranjak pergi. Saya masih mencoba mendalami apa yang indra saya terima. Lagu yang terkesan tegas dan memberontak ini membuat adegan demo tersebut menjadi lebih hidup. Tidak hanya terkesan tegang, namun ada semangat yang ikut saya rasakan seakan menjadi bagian dari orang-orang di dalamnya.
Secara teori, saya memang pernah membaca bahwa lagu sangat berperan dalam pembangkitan emosi pada film. Namun pengalaman ini lebih dari sekedar mengkonfirmasi teori tersebut. Melalui pengalaman ini, saya mendapati bahwa sebagai penonton, kita juga bisa langsung menilai menggunakan naluri lagu seperti apa yang sesuai dengan suatu adegan, meski tidak tahu lirik ataupun konteks dari adegan tersebut. Ketika nuansa dan rasa yang disampaikan antara lagu dan visual dinilai sama, maka keduanya akan menyatu secara alami.
Melihat Proses di Balik Lagu
Pada ruangan ketiga, pengunjung disambut replika studio rekaman yang sangat mirip aslinya. Dinding buatan dari papan kayu membagi ruangan itu menjadi dua. Padanya, terdapat pintu masuk dan kaca besar yang memungkinkan kita melihat bagian dalam ruang rekaman. Papan lampu bertuliskan “ON AIR” melengkapi atmosfer replika tersebut, membuatnya sangat menarik untuk dijadikan sebagai latar foto bagi pengunjung.

Pada bagian dalam ruang rekaman juga dilengkapi beberapa peralatan seperti mikrofon, headphone, lembaran lirik, serta layar yang menampilkan potongan adegan film Perualangan Sherina. Kehadiran layar ini bukannya tanpa alasan. Pada praktik aslinya, penayangan suatu adegan di saat penyanyi melakukan rekaman untuk original soundtrack memungkinkan adanya penghayatan lebih bagi penyanyi. Hal ini membuat emosi yang ingin disampaikan oleh film terasa lebih mengena dengan kehadiran lagu yang mengiringi. Instalasi ini mengingatkan kita pada ruangan sebelumnya, di mana suatu potongan film bisa terasa sangat menyatu dengan suatu lagu yang melatarinya.
Replika studio ini bukanlah pajangan pasif. Pengunjung sangat dipersilahkan untuk mencoba pengalaman menjadi pengisi lagu tema sesuai dengan potongan adegan film yang ditampilkan di layar.
Menjadi Sound Designer
Jika sebelumnya Miles Films menyuguhkan peranan musik dan lagu di dalam film, dipenghujung pameran pengunjung dibawa memasuki ranah audio post-production yakni tahap penyelarasan elemen suara dengan visual sehingga dapat menjadi satu kesatuan yang utuh.
Elemen suara yang dimaksud juga tidak hanya berupa dialog dan musik latar saja, namun ada efek suara (SFX) dan ambiance yang juga harus direkam ulang dan dimanipulasi.
Begitu memasuki ruangan melalui pintu penghubung dari ruang sebelumnya, pengunjung langsung disambut lilma layar LCD di sisi kiri yang menampilkan potongan adegan yang sama dari film Pendekar Tongkat Emas. Masing-masing layar ditemani seperangkat alat sederhana untuk merekam efek suara seperti mikrofon, headphone, dan benda-benda familiar yang menjadi sumber bunyi. Miles Films mengajak pengunjung untuk ikut bereksperimen dengan memanfaatkan benda-benda yang ada. Pada perekaman langkah kaki, pameran ini bahkan menyediakan papan kayu beserta mikrofon didekatnya agar pengunjung bisa menghasilkan suara langkah kaki yang realistis. Melalui headphone, pengunjung akan mendengarkan suara yang sangat jelas dari benda-benda yang digunakan.

Melalui eskperimen ini, pengunjung bisa menyadari bahwa ternyata, suara latar di dalam film seperti desir angin, suara tongkat yang beradu, dan lainnya bukanlah rekaman asli selama proses syuting melainkan hasil kreatifitas setelah melewati proses penyuntingan dan manipulasi di balik layar.
Di sisi lain ruangan, pengunjung akan melihat tiga layar lainnya yang juga menampilkan adegan yang sama dari potongan film Pendekar Tongkat Emas lainnya. Kali ini, layar menampilkan adegan perkelahian antara dua orang laki-laki. Keduanya menggunakan tongkat kayu baik untuk pertahanan diri dan menyerang. Perkelahian yang terjadi cukup intens hingga keduanya perlu berpindah cukup jauh bahkan melompat tinggi untuk menghindari serangan jarak dekat.
Pada ketiga layar tersebut, masing-masing dilengkapi satu headphone sehingga pengunjung dapat mendengar dengan jelas audio dari setiap perangkat. Saat menggunakannya, ternyata setiap tayangan memiliki audio yang berbeda. Pada layar paling kiri, pengunjung hanya akan mendengar suara ambiance seperti desir angin, suara jangkrik yang terasa cukup jauh, dan suara benturan tongkat kayu yang beradu.
Pada layar kedua, pengunjung hanya akan mendengar dialog dan suara rekaman para pemeran. Di bagian ini, rasa canggung sangat terasa karena adegan tersebut berupa perkelahian dan yang terdengar hanyalah suara rintihan dan pekikan tanpa ada suara latar yang mengiringi. Tanpa adanya suara latar, suara-suara tadi seakan kehilangan konteksnya. Terlebih jika kita mencoba mendengarkan tanpa benar-benar melihat cuplikan adegan yang ada.
Pada layar ketiga, barulah pengunjung akan mendengar suara yang lengkap dari cuplikan film tertentu. Di tahap ini, pengunjung bisa menyadari betapa pentingnya tahap audio post-prodution untuk membuat film menjadi lebih hidup dan terasa masuk akal.
Mendengar Terdengar

30 Tahun Miles Films: Mendengar Terdengar merupakan suatu pameran yang lebih dari sekedar perayaan 3 dekade rumah produksi ini berkarya. Pameran ini tidak hanya menyajikan karya-karya yang pernah ada saja, tapi juga berhasil membawa pengunjungnya untuk menelusuri dan memaknai proses di baliknya. Miles Films benar-benar menunjukan peran besar elemen suara di dalam film yang tidak hanya hadir sebagai hiasan dan pelengkap, namun juga berperan besar dalam penceritaan. Melalui pameran ini, kita bisa lebih menyadari suara-suara yang ada di dalam film tidak hanya mendengarkan lagu, dialog, dan musik yang tersaji secara gamblang, namun juga suara latar yang terdengar dan ikut menghidupkan film.

Pameran ini berhasil menjadi penutup yang manis dari perjalanan pengunjung setelah menyusuri Museum Lokananta dengan peranan penting dalam industri musik Indonesia. Dengan setting imersif yang dirancang bersama .this/PLAY studio, Miles Films menunjukan bahwa suara adalah kunci untuk memperdalam cerita.
—-
*Mutia Tsany F., Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.




