Melani Setiawan dari Selipan Buku # 3: Dari Barcelona ke Pedalaman Sumatera
Oleh Agus Dermawan T.*
Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive adalah monumen kenangan perupa Indonesia yang tak ada duanya. Buku ini diluncurkan dan didiskusikan berkali-kali di beberapa kota. Sejak 10 tahun silam siap diterbitkan. Namun lantaran seni rupa terus berkembang, materi terus bertambah, buku merebak jadi sekitar 1.200 halaman. Berikut cerita tipis-tipis mengenai Melani Setiawan. Sambungan dari artikel Melani Setiawan dari Selipan Buku # 2, yang dimuat BWCF edisi 7 Maret 2026.
————–
MESKIPUN masih diseling kesibukan kedokteran, tahun 1991 adalah tahun kebebasannya untuk kembali bergaul dengan dunia seni rupa. Walau ilmu yang ditimbanya terasa belum juga cukup, namun kedudukannya sebagai dokter di beberapa rumah sakit sudah mulai mapan. Sehingga dengan begitu ia bisa mengatur waktu untuk melihat-lihat seni rupa, dan bergaul dengan para senimannya.
Maka pada malam hari seusai berpraktik, ia segera mencopot baju praktiknya yang serba putih itu, dan mengganti bajunya dengan busana pertemuan sosialita, dari tenun ikat, batik atau busana pesta yang modis dan lumayan gaya.
Dalam acara-acara itu ia selalu memegang kamera dan menjepret ke sini dan ke sana. Di samping itu ia lantas menyerahkan kameranya kepada orang lain dan minta kepada orang itu untuk memotret dirinya bersama para perupa yang dijumpai. Untuk aktivitas pertemuan ini ia bisa nampak di mana-mana. Dalam semalam ia bisa berada di dua atau tiga acara pembukaan pameran. Sementara, bila hari ini di Jakarta, besok mungkin saja telah berada di Bandung atau Yogyakarta. Empat hari kemudian berada di Bali, Surabaya, Padang. Bahkan di Singapura, Beijing, Shanghai, Hongkong, Basel, Tokyo, Koln, Los Angeles, New York, Moskow, San Francisco, St. Petersburg, Helsinki.
Dalam hitungan grambyangan, sejak tahun 1991 sampai 2022 (batas tahun foto dalam buku), atau bahkan sampai 2025, ribuan acara pameran ia kunjungi. Dari Barcelona, Venezia, sampai di suatu desa di pedalaman Sumatera, yang menyebabkan ia tertumbur Covid-19. Termasuk tentu acara-acara lelang, besar maupun kecil, dari biro ternama atau tidak ternama.

Melani sebagai pencinta batik, dalam halaman majalah. (Sumber: Dokumen).
“Padahal saya kalau ketemu orang pasti ngobrol dan diajak omong-omong. Saya harus bisa mengcut setiap percakapan. Atau, begitu ada kesempatan, saya nyelip keluar dan ngabur. Tetapi saya sering jadi tamu yang paling akhir pulang,” kisahnya.
Ia juga sering diminta membuka pameran seni rupa di mana-mana di berbagai kota (dan desa). Di selipan seremoni itu ia sangat sering berkunjung ke studio-studio para perupa, terutama para pelukis. Di sini ia juga tak lupa memotret dan berpotret bersama.
Itu sebabnya tak heran, sampai tahun 2025 lebih dari 100.000 foto ia hasilkan. Upaya luar biasa ini layak dicatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia). Tentu untuk kategori pribadi yang sangat banyak membuat foto dokumentasi para seniman dalam satu profesi. Bahkan mungkin dalam Guinness Book of World Records!
Melani juga tahu benar peta keluarga seniman di Tanah Air. Ia tahu pelukis A tinggal di mana dan bersuamikan siapa. Ia tahu situasi rumah tangga pematung B di Jawa Tengah sana. Ia ingat kapan dan dimana C terakhir berpameran seni instalasi. Bahkan ia tahu bahwa pelukis Anu sudah bercerai dengan Ana, dan kawin lagi dengan Ani. Ia tahu arah kesenian perupa D berdasarkan beberapa pameran yang digelar. Ia juga mengerti mengapa galeri E atau F mengontrak perupa G, dan kemudian pecah kongsi.
Dengan begitu predikat “Ibunda Perupa Indonesia” yang disandang tidaklah berlebihan. Itu sebabnya perupa Agus Suwage pada pameran tunggalnya di Museum Jogja tahun 2009 mengangkat sosok Melani dalam sebuah karyanya. Melani dianggap sebagai salah seorang ikon perempuan “paling gila” dalam dunia seni rupa Indonesia mutakhir. Pada pancawarsa terakhir Melani juga sering dihadirkan sebagai subyek seni rupa oleh banyak seniman.
Dalam handphonenya (yang beberapa biji jumlahnya) nomor-nomor telpon para perupa Indonesia berjajar-jajar. Ia punya catatan pada jam berapa para perupa itu bisa dihubungi, lantaran ia tahu bahwa “jam bicara” para perupa paling aneh di dunia. Melani juga menyimpan nomor-nomor telpon para pemikir dan aktivis seni rupa, karena ia sering terlibat dalam kepanitiaan aneka pameran besar. Dan ia bersedia didudukkan di seksi apa saja, asal jangan Seksi Kesehatan.
Di luar acara gaul-seniman, Melani juga acapkali bertandang ke pesta-pesta sosialita yang diadakan oleh berbagai komunitas dan perkumpulan. Dari acara komunitas pencinta wine, pencinta batik tulis, atau dalam acara peluncuran buku, pengenalan merk baru sepatu, launching arloji, ulang tahun sahabatnya.

Melani bersama perupa Jepang Yuji Honbori, dalam pameran di Nanzuka Gallery, Tokyo, Jepang, 2013. (Sumber: Indonesia Art World)

Melani bersama pengamat seni rupa Helena Spanjaard dari Belanda, dan Fauzi Bowo, Gubernur Jakarta, dalam acara peluncuran buku “Indonesia Odyssey” di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, 2008. (Sumber: Indonesia Art World)
Eeiiit, tak cuma acara ala hotel bintang lima saja yang ia ikuti. Melani tak jarang muncul dalam acara ulang tahun sahabatnya di rumah sederhana, di dalam gang di pinggiran desa. Di acara syukuran rekannya yang menerima anugerah akademis, sambil makan sederhana di tepian sawah. Bahkan Melani juga menjadi saksi pernikahan dalam acara mantu sahabatnya. Master di bidang kedokteran ini juga tak enggan naik ke panggung untuk mewakili rekannya yang mendapat hadiah seni, lantaran sang seniman atau seniwati itu tak sempat datang ke resepsi.
Aha, waktu putra kami Aryo Seto menikah dengan Angela Suwardi, Melani kami minta menjadi saksinya. Bahkan ia kami minta menyampaikan sambutan puitis dalam acara perhelatan, yang saya kemas sebagai The Art Wedding, “Syair Pengantin”, 2005. Melani bersedia.
*
Pada tengah 2011, ketika usianya “baru” menginjak 66 tahun, ia mengikuti sebuah acara selebrasi yang mengharuskan dirinya berpakaian ala rocker. Ia tak keberatan. Lalu digunakanlah anting-anting besar sekali, gelang yang mencolok mata. Suatu kali ia juga terlibat dalam pesta yang mengharuskan dirinya mengenakan busana dalam nuansa-nuansa unik, istimewa dan bertema. Oleh karena itu masyarakat sering melihat sosok Melani dalam deretan berita foto yang dimuat di berbagai majalah sosialita, seperti Indonesia Tatler, dewi, Harper’s Bazaar, dan lain-lain.
Melani sungguh menyenangi pergaulan ini. Namun tak berarti kesukaannya tidak mengandung resiko. Kerepotannya membagi waktu menggauli seni rupa, keasyikannya berkumpul dalam pesta-pesta sosialita, pernah menyebabkan ia ambruk di lobi bandar udara.
Alkisah, ketika itu Jakarta sedang dilanda banjir besar. Padahal ia harus ke Yogyakarta. Ia pun menerjang air dengan menumpang mobil bak yang sumpek dan panas. Perjalanan ke bandara yang biasanya ditempuh 25 menit kali ini harus ia tempuh 4 jam! Setibanya di bandara calon penumpang yang membludak harus mengantri kembali untuk mengurus boarding pass baru. Melani terselip di sela-selanya. Dalam antrian Melani tiba-tiba merasa pusing, kakinya lunglai dan jatuh terduduk. Lalu beberapa saat Melani terkapar, untuk kemudian pelan-pelan bangkit lagi. Dan langsung berangkat! Sesampai di Yogya Gallery Melani muntah-muntah. Alhasil para seniman menolong dan menyempurnakan kesehatan Sang Dokter.
“Saya sesungguhnya jarang lelah. Tapi sering mengantuk. Saya menanggulangi dengan tidur dalam perjalanan, di mobil atau pesawat.”
Dalam perjalanan dengan mobil ia selalu menyempatkan telpon anak-anaknya, Monita, Novina dan Miranda, yang semuanya sudah menjadi ibu. Lalu bercakap-cakap dengan cucu-cucunya, sambil membuat agenda pertemuan, seraya berjanji akan membawakan buah anggur atau pir. Dan tentu mengabarkan kepada suaminya, di mana posisinya serta acara apa yang akan didatanginya. Tentu sambil berjanji akan membawakan buras atau rujak pengantin yang enaknya bukan main, suguhan sahabat yang dikunjunginya.
Ia termasuk suka makan, meski selektif. Atas buah yang bernama durian, apalagi yang berpangkat monthong atau black thorn, antusiasnya bukan main. Oh ya, Melani ke mana-mana sering membekali diri air putih bercampur jeruk lemon.
*
Dunia seni rupa telah menjadi bagian yang lekat dalam hati Melani. Koleksinya dari tahun ke tahun bertambah. Begitu juga buku-buku seni rupa yang dikumpulkannya. Buku-buku itu, yang sebagian diterima dari teman-temannya yang jadi penyusun atau penulis, sering dilihat-lihat dan sekali waktu dibaca.
Ia paling suka menghayati lagi “inskripsi” yang ditulis para penulis buku, penyusun buku dan pemberi buku pada halaman awal. “Untuk Bu Melani. Hari terang selalu diakhiri senja. Tapi ada semangat yang tidak kunjung tua. Selamat membaca!” misalnya.
Ia merasa kekurangan waktu untuk membaca. Namun untuk menulis ia masih sangat berusaha mencuri-curi kesempatan.
Maka masyarakat seni rupa acapkali membaca tulisan Melani mengenai seni rupa, yang di antaranya dimuat di majalah Visual Arts. Tulisan-tulisannya banyak membahas sisi sosial dunia seni rupa yang dia lihat, tentu dari kacamata seorang dokter. Misalnya tentang panorama “perkampungan” seniman di Beijing. Bagaimana situasi pagelaran di galeri nasional di sejumlah negara, dan sebagainya. Semua tulisan itu dilengkapi dengan foto-foto yang dia bikin sendiri.
Melani juga kolektor. Apa kriteria Melani dalam memilih karya-karya yang disimpannya? Kriteria yang paling pokok adalah hubungan personal dirinya dengan senimannya. Di luar itu tentu ada ada beberapa alasan lain yang dilibatkan. Salah satunya adalah alasan finansial. Kalau keuangan cukup ia akan membeli karya seni rupa yang berharga tinggi. Apabila belum cukup, ia membeli karya yang harganya terjangkau.
Di samping itu ada seni rupa yang dibeli karena sang seniman sedang membutuhkan dana. Di situ ia memilih karya seni yang harganya selaras dengan jumlah dana yang dibutuhkan. Kesimpulannya, pilihan atas karya seni menjadi nomer sekian, karena yang nomer satu adalah solidaritas antar teman.

Melani, nomer tiga dari kiri, bersama I Made Widya Diputra ‘Lampung’, David Azmi Putra, Kusmanto, I Gusti Ngurah Udiantara ‘Tantin’, Bayu Yuliansyah, dan Samsul Arifin, di Yogyakarta 2009. (Sumber: Indonesia Art World)

Melani Setiawan bersama Indra Leonardi, Pia Alisyahbana dan perancang busana Peter Sie dalam pameran “Indonesian Portraits” karya Indra Leonardi di Galeri Nasional Indonesia, 2007. (Sumber: Indonesia Art World)
Pengamat seni, kritikus, atau para ahli seni mungkin sedikit bingung melihat koleksi saya yang hibrid, beragam-ragam sifatnya. Tapi mereka faham setelah saya jelaskan, bahwa semua karya yang ada dalam rumah saya berada dalam satu pigura. Dan itu saya namakan pigura persahabatan,” ujar penerima penghargaan dari Dinas Permuseuman DKI Jakarta tahun 2004 ini. Ya, persahabatan itulah yang ribuan kali direkam dalam kameranya.
*
Sebagai penutup, ada cerita yang agak sulit saya lupakan.
Pada tahun 2002 sampai 2006 Melani mendapat tugas berpraktik sebagai dokter USG di RS Gading Pluit, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Praktiknya hanya satu hari dalam setiap minggu. Hari yang dipilih Selasa atau Rabu.
Ia menyelesaikan praktiknya pada pukul 17.00. Dasar Melani, setiap usai kerja, ia belum ingin pulang. “Saya ingin ngobrol soal seni,” katanya. Maka ia pun bertandang ke rumah saya, yang jaraknya hanya 739 meter dari RS Gading Pluit.
Menyadari kalau hanya ngobrol bertiga saja kurang seru, maka Melani (dan isteri saya) mengundang sahabat lain, Inge Santoso (pemilik Galeri Canna yang akhirnya menjadi Can’s Gallery). Dalam keriuhan percakapan kadang datang teman lain yang lantas bergabung, seperti kolektor Lusyanti K. Hartanto, Subandi Salim seorang pengusaha dan pencinta seni rupa. Dalam setiap kunjungan, ngobrol (dan “debat” kusir) kami terus berlarut, bahkan sampai tengah malam. Keriuhan itu tentu saja disela acara makan malam.
Yang seru, dalam momentum kegembiraan makan itu obrolan tetap tiada henti. Dari film The Notebook yang belum juga ditonton, sampai makanan berprotein tanpa lemak seperti ikan, telur, tahu atau tempe. Juga nikmatnya rujak shanghai yang kami beli dari kedai Si Om – yang wajah dan posturnya mirip bintang film Tommy Lee Jones.
Tak ketinggalan topik yang kurang asem dan pahit, seperti ruwetnya politik, korupsi pejabat departemen agama, lukisan palsu, sampai para seniman yang pacarnya gonta-ganti. Dalam obrolan “emosional” dan “serius” ini Melani juga aktif terlibat.
Di ujung obrolan itu saya berkata.
“Padahal, kata sejumlah ahli medis, kalau sedang makan jangan ngomongin topik yang tidak enak. Tidak baik untuk kesehatan.”
Melani tersenyum. “Apa betul begitu?”
Saya meneruskan dengan kalimat-kalimat yang saya hafalkan dari buku.
“Kata sejumlah ahli, kalau sedang makan, sebaiknya kita tidak menggunakan otak terlampau banyak. Jangan berpikir yang terlalu serius. Sebab pikiran serius itu meningkatkan emosi, dan emosi mengganggu ketenteraman cerebrum. Kerja otak besar ini akan merangsang susunan syaraf simpatik, yang dinamakan systema nervus symphaticus.
“Heit…! Apa betul begitu?” sela Melani.
“Betul. Rangsangan ini akan menimbulkan inhibisi dalam gerak peristaltik lambung dan usus. Akibatnya getah pencernaan yang harus dikeluarkan akan tereduksi…. Kata sejumlah ahli, konsentrasilah saja kepada keharuman dan citarasa makanan, dengan hati dan pikiran rileks. Suasana rileks ini akan menimbulkan conditioned reflex, yang memajukan sekresi getah dalam saluran-saluran lambung dan usus. Ini faktor yang membangkitkan nafsu makan…”
Mendengar cerita kedokteran saya, dahi Melani W. Setiawan mengkerut, dan lantas tertawa lebar.
“Untuk sementara lupakan itu. Hidup jangan terlalu dibikin ilmiah. Itu bikin hidup kamu ruwet, bisa bikin kamu cepat tua!” ujar Melani yang pada 2026 ini menyongsong usia 81 tahun. *** (Tamat)
—
*Agus Dermawan T. Pengamat seni. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 dan Anugerah Adikara Cipta Budaya dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, 2024.





