PM. Laksono dan Puisi Pantik: Peristiwa dan Undangan untuk Melintas secara Otentik
Oleh Indro Suprobo*
“The self is only a threshold, a door, a becoming between two multiplicities”
― Gilles Deleuze,A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia
Kutipan yang diambil dari pemikir Perancis bernama Gilles Deleuze ini secara garis besar hendak menyatakan bahwa diri, atau subyek, merupakan suatu ambang, yakni suatu titik tempat terjadinya suatu perubahan, sehingga dapat disebut juga sebagai sebuah pintu perlintasan yang merupakan jalan menuju perpindahan ke ruang, tempat, pengalaman atau peristiwa yang lain. Ia adalah proses menjadi yang terus-menerus yang berlangsung di antara dua multiplisitas atau dua wajah gerak kreativitas. Secara mendasar kutipan ini hendak menegaskan bahwa subyek itu selalu bergerak, berubah, bertransformasi dan menjadi secara kreatif terus-menerus, tiada henti. Subyek tak pernah berhenti dan membeku. Ia selalu mencair dan mengalir, selalu menjadi baru, dan senatiasa menjadi berbeda. Dengan demikian diri atau subyek bersifat dinamis. Subyek selalu merupakan peristiwa, bukan sesuatu.
Melalui kumpulan puisi berjudul Tiga Malam di Kaki Monrolo, PM. Laksono yang merupakan Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada yang sudah purna tugas, sedang menegaskan bahwa pensiun sama sekali tidak sama dengan berhenti dan membeku. Melalui kumpulan puisi ini ia sedang menyatakan bahwa sebagai subyek, ia senantiasa bergerak, berlanjut memproduksi karya secara kreatif, dan menjadi “kebaharuan” terus-menerus. Pada saat ini, ia sedang berproses dan berlanjut menjadi penulis puisi. Dapat dikatakan bahwa ia sedang menjadi Guru Besar Antropologi secara baru, yakni dengan cara menulis puisi. Maka bolehlah dikatakan bahwa ia sedang menegaskan diri sebagai subyek yang sedang terus-menerus menjadi (becoming) secara kreatif. Tindakan menulis dan meluncurkan kumpulan Puisi berjudul Tiga Malam di Kaki Monrolo ini merupakan cerminan bahwa ia sedang menjadi ambang (threshold), sedang menjadi pintu perlintasan (door), dan sedang menjalani proses menjadi di atara dua multiplisitas (becoming between two multiplicities). Ia sedang menjalani proses “menjadi Laksono”. Ia adalah “peristiwa Laksono”. Namun, jika meminjam istilah yang dikenakan sendiri oleh PM. Laksono, melalui tindakan ini ia sedang terus-menerus menjalani proses “menjadi kejutan” dan menantang dirinya sendiri atau orang lain untuk “siap (ter)kejut”. Subyek yang selalu menjadi baru secara kreatif memang merupakan subyek yang senantiasa mengejutkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

PM. Laksono. Foto: Penulis.
Tindakan menulis kumpulan puisi Tiga Malam di Kaki Monrolo sebagai manifestasi dari prinsip ambang, terus bergerak dan berproses menjadi secara terus-menerus ini, jika ditelusur secara perlahan-lahan dan sedikit lebih teliti, tampaknya memang sejalan dengan semangat dasar refleksi perjalanan akademik PM. Laksono sebagai antropolog sebagaimana tercermin di dalam pidato valediktorinya, yakni pidato pamitan pensiun. Di dalam pidato tersebut dapat ditemukan diksi dan rumusan kunci yang gayung bersambut dengan semangat ambang dan terus-menerus menjadi (becoming) ini. Diksi-diksi dan prinsip-prinsip kunci itu antara lain adalah pentingnya metode antropologi yang bersifat partisipatif sebagai metode yang memungkinkan antropolog peneliti itu sendiri berubah bersama tinelitinya. Bahwa reflektivitas antropologi itu sendiri menyajikan kewaspadaan yang mengubah sikap antropolog terhadap dunia. Pentingnya menyadari pengertian-pengertian tentative, yakni kesementaraan dan ketidakstabilan pengertian pada antropologi dan pada peristiwa sehari-hari. Bahwa niat laku antropologik adalah kesiapan untuk terus-menerus berubah mengalami pembaharuan. Bahwa berilmu itu untuk orang lain, bukan sekedar tahu tentang orang lain, yang artinya adalah menghasilkan dampak perubahan yang bermakna bagi orang lain dan bukan sekedar memproduksi pengetahuan yang membeku. Bahwa dibutuhkan keterbukaan dan sikap siap tanggap terhadap situasi tak terduga dari sebuah proses menjadi (becoming) dalam subyek apapun, termasuk proses “terus-menerus mengindonesia”. Bahwa beretnografi adalah memulai langkah sejarah baru. Bahwa antropologi mengajak untuk bersiaga, terbuka mengerti efek simbolisasi kehadiran liyan yang mengejutkan. Semua rumus ini mencerminkan semangat dasar tentang prinsip dinamis, bergerak, terbuka, melintas, memperbaharui dan menjadi.
Bahkan dalam pengantar diskusi buku kumpulan Puisi ini, yang diselenggarakan pada tanggal 6 april 2026 di Balai Bahasa Yogyakarta bersama dengan komunitas Sastra Bulan Purnama, PM. Laksono sendiri menyatakan keterkejutan terhadap peristiwa penulisan puisi ini. Ia menyatakan bahwa mengapa ia menulis puisi itu sendiri menjadi pertanyaan besar bagi dirinya sendiri. Ini berarti bahwa bahkan menulis puisi itu sendiri merupakan keterkejutan bagi dirinya sendiri.
Prinsip dinamis, bergerak, terbuka, memperbaharui dan terus-menerus menjadi dan mencipta dalam kreativitas itu juga tercermin dalam penjelasannya tentang etnografi. Dalam pengantar diskusi buku itu PM. Laksono menegaskan bahwa Etnografi, sebagai kepakaran standard dalam antropologi, adalah proses bagaimana orang menggunakan perangkat pengetahuan budayanya, perangkat kulturalnya, atau sistem nilainya, untuk menghadapi dan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah atau jaman yang tidak menentu, krisis akulturasi atau krisis perubahan kebudayaan. Dengan demikian orang bisa terus-menerus belajar membangun hidup bersama yang lebih baik, dan mengupayakan kesejahteraan umum yang terus bergerak menjadi lebih baik. Maka menulis etnografi merupakan gerakan. Ia adalah gerakan moral sekaligus gerakan social.
Namun, yang juga merupakan hal penting, prinsip ambang, terbuka, bergerak, menjadi baru, dan proses terus-menerus menjadi ini, tidak hanya tercermin di dalam tindakan menulis karya puisi, melainkan juga terdapat di dalam jenis puisi yang ditulisnya itu. Tentang hal itu, sub judul berikut ini menjadi penjelasannya.
Puisi Pantik
Kumpulan puisi yang ditulis oleh PM. Laksono ini, dalam pembacaan saya boleh saya sebut sebagai jenis puisi pantik. Ini adalah jenis puisi yang untuk menikmatinya, pembaca diharapkan tidak berhenti di dalam baris-baris puisi itu sendiri, melainkan memantik pembacanya untuk berani bergerak memasuki suasana ambang, menerobos pintu dan melintas keluar untuk mencari pemahaman, menyusun penggambaran, melukis imajinasi, mencecap rasa dan sensasi, mendengarkan suara dan bunyi, merasakan panas, dingin, keriuhan maupun sunyi melalui beragam cara mandiri yang membantu pembaca mengalaminya dan menemukan maknanya dalam otentisitas diri. Ini adalah jenis puisi yang berfungsi sebagai threshold atau pintu (door) di mana setiap pembaca musti bersiap sedia untuk menyelinap keluar dan bergerak melintas menelusuri pemahaman, pengalaman, penggambaran dan makna dari apa yang terungkap di dalam baris-baris puisi sebagai peristiwa sehari-hari.
Dengan jalan itu, puisi yang ditulis oleh PM. Laksono sebagai produksi kreatif atas memori dan pengalaman-pengalaman lamanya terkait berbagai peristiwa sehari-hari di berbagai tempat dan suasana, dapat dirasakan, dipahami, dialami dan dimaknai oleh para pembaca bukan sebagai pengulangan atau duplikasi (discontinuous multiplicity) terhadap semua yang dirasakan, dipahami, dialami dan dimaknai oleh penulisnya, melainkan sebagai proses kreatif yang baru (continuous multiplicity) dari semua yang dirasakan, dipahami, dialami dan dimaknai oleh pembaca itu sendiri. Puisi ini melahirkan rasa, pemahaman, pengalaman dan makna yang secara otentik diciptakan oleh para pembacanya sendiri, yang pantas diduga sangat berbeda dengan yang dialami oleh penulisnya. Dengan demikian, membaca dan menikmati serta mencerna puisi-puisi pantik yang ditulis oleh PM. Laksono ini juga menjadi gerakan dan peristiwa yang melahirkan kebaharuan yang lain lagi.
Pada gilirannya, puisi-puisi pantik ini menjadi puisi-puisi yang bersifat mendidik karena menyediakan proses belajar mandiri bagi para pembacanya, melalui gerak melintas mencari, menggali, meneliti, memahami, menemukan, mencoba merasakan, mendengarkan, dan mengalami sendiri secara baru segala sesuatu yang dipantikkan di dalam baris-baris puisi. Membaca, mencerna, menikmati, dan mengalami puisi-puisi ini menjadi gerakan dan peristiwa edukatif bagi para pembacanya sendiri. Melalui proses ini, para pembaca tidak terjebak, terbelenggu dan membeku di dalam baris-baris puisi itu, melainkan ditantang dan diundang untuk melakukan deteritorialisasi, melesat melintas dan melepaskan diri untuk secara kreatif dan otentik menyelami maknanya. Puisi-puisi pantik menjadi puisi yang menantang dan mengundang kesiap-siagaan untuk melancong, bergerak, dan belajar.
Beruntunglah bahwa kemajuan teknologi digital telah sangat membantu para pembaca dan menyediakan kemudahan untuk menjalankan proses melintas itu.
Membangun Sikap Empatik
Kumpulan puisi Tiga Malam di Kaki Monrolo sebagai puisi pantik yang bersifat edukatif-mendidik, yang dilandasi oleh sikap dan pengalaman etnografik, pada gilirannya menjadi puisi-puisi yang memfasilitasi proses membangun sikap empatik. Puisi yang ditulis berdasarkan pengetahuan, data, sikap dan pengalaman etnografik merupakan puisi yang mengajak dan mengundang para pembacanya untuk mengenali kesehari-harian liyan secara apa adanya, sesuai dengan bagaimana cara liyan itu menghadirkan dan menampakkan dirinya. Pengenalan terhadap liyan yang secara demikian ini merupakan proses mengenali liyan dari dalam, from within, yang bukan merupakan konstruksi, prasangka, apalagi stigma, melainkan suatu penegasan-penegasan tentative tentang liyan yang terus-menerus bergerak dalam kesementaraan dan perlu senantiasa dikonfirmasi. Ini merupakan keterbukaan terhadap bagaimana liyan senantiasa memilih cara untuk menjadi dirinya sendiri dalam kesehari-harian. Pengenalan yang coba ditegaskan itu pun senantiasa dikembalikan untuk dikonfirmasikan kepada liyan untuk mendapatkan peneguhan bahwa memang demikianlah wajah dan kehadirannya dalam kesehari-harian itu.
Dalam Bahasa spiritualitas, proses mengenali liyan secara apa adanya itu merupakan proses kenosis, mengosongkan ruang diri, agar liyanlah yang mengisi ruang itu dan hadir secara otentik seapa-adanya mereka, sehingga liyan itu tidak berada di pinggiran melainkan menjadi pusat perhatian, subyek dan sumber utama kesaksian. Dalam kenosis itu, liyan menghadirkan, memancarkan, mengungkapkan dan memperkenalkan dirinya sendiri secara aseli dan apa adanya. Dalam proses kenosis itu pulalah terjadi apa yang disebut sebagai incarnatio di dalam liyan, yakni menubuh di dalam liyan. Ini berarti ikut mengenali, merasakan, memikirkan, mengatakan, menghayati, mengalami apa yang menjadi peristiwa dan kesehari-harian liyan sebagai peristiwa dan keseharian dirinya sendiri. Dengan ini, liyan benar-benar ditempatkan di dalam kehormatan dan kemartabatan. Inilah proses panjang yang tidak gampang yang disebut sebagai membangun empati. Tiga Malam di Kaki Monrolo adalah kumpulan puisi yang menantang, mengundang dan menyediakan kesempatan kepada para pembaca untuk memasuki seluruh proses itu dan membangun empati.
Kerendahan Hati
Salah satu kesulitan yang barangkali dihadapi ketika mencoba mengenali, menikmati dan mengalami puisi-puisi karya PM. Laksono ini adalah keanehan dan ketidakbiasaan yang terjadi di dalam proses penciptaan diksi. Anda barangkali akan mengalami kesulitan untuk mengenali unsur puitik dari kumpulan puisi ini. Dalam istilah Bahasa Jawa, dhong-dhinging tembung iku durung sinambung, atau dhong dhinge swara iku durung manunggal rasa. Namun, hebatnya, dalam pengantar diskusi buku di Balai Bahasa, PM. Laksono sendiri mengakui bahwa karya puisi ini ia sebut sebagai masih bersifat amatiran sehingga senantiasa terbuka terhadap segala kemungkinan pembaharuan dalam seluruh proses pembelajaran. Dalam bacaan saya, sikap kerendahan hati PM. Laksono ini justru menjadi cerminan yang sangat tegas bahwa di situlah ciri kualitas dan kebegawanannya dalam hal sikap dan spiritualitas, yang menjadi landasan fundamental bagi seluruh proses keterbukaan, kesiap-sediaan, dan keberanian untuk senantiasa bergerak, berjalan, melintas, mengalir, mencair, dan menjadi secara kreatif menuju kepada kebaharuan.
Di akhir tulisan ini, saya ternyata juga menemukan keterkejutan besar yang tak dinyana-nyana sebelumnya. Bukankah nama Laksono atau Laksana itu sendiri mencerminkan suatu gerak, proses dan aktivitas? Jika demikian halnya, bukankah “peristiwa Laksono” atau “peristiwa Laksana” itu dapat dimengerti pula sebagai gerak dan proses di mana PM. Laksono sedang terus-menerus tanpa henti me-“laksana”-kan dirinya sendiri?
“Wa…..wa…..wa…….!”
*Indro Suprobo, Penulis, Editor dan Penerjemah Buku, tinggal di Jogjakarta.





