American Crusade Hegseth: Jihad Budaya Barat yang Rapuh, Hancur di Hadapan Ketangguhan Persia
Oleh Mochammad Sulton Sahara*
Judul : American Crusade: Our Fight to Stay Free
Penulis : Pete Hegseth
Penerbit : Center Street (Hachette Book Group)
Cetakan : Pertama (First Edition), Mei 2020
Tebal : 304 halaman

Hegseth menggambarkan Amerika sebagai medan jihad budaya, ‘Deus vult!’ lawan kiri busuk. Tapi 2026: AS agresor imperial, Iran berdiri tegak, budaya supremasi Barat ambruk. Ironis!
Prolog Budaya: Seruan Perang Abad 21 yang Busuk
Bayangkan sebuah buku yang keluar Mei 2020 dari Center Street, sebuah manifesto Pete Hegseth, prajurit Fox News yang kini memegang kendali Pentagon di era Trump kedua. American Crusade: Our Fight to Stay Free (304 halaman) bukan sekadar bacaan; ini bom budaya yang meledak di 2026. Dari perspektif studi budaya, antropologi peradaban, pasca-kolonialisme ala Edward Said, sampai clash Huntington, buku ini mind-blowing dalam kebusukannya: narasi “crusade suci” kristen-nasionalis yang melahirkan agresi AS lawan Iran, berakhir kekalahan imperial memalukan. Hegseth berjanji menyelamatkan “jiwa Amerika” dari delapan “ism” kiri (globalisme, genderisme, Islamisme), tapi realitas geopolitik menghantam balik: AS jadi agresor sombong, yang di akhir episode agresinya, Amerika ndlosor merangkak di bawah Iran, simbol budaya dan peradaban tangguh dari Timur.
Inti Narasi: Dua Wajah Budaya Amerika yang Palsu
Bagian awal (“A Consequential Moment”) gambaran 2020 sebagai ujian akhir: mati, cerai, atau fajar. Hegseth cerita heroik, membantu “Texas Omar” (imigran Irak cinta AS) melawan “Somali Omar” (Ilhan Omar, digambarkan pengkhianat). Ini mitos budaya biner: patriot 100% vs “squish” lemah, ala frontier cowboy Hollywood. “Dua wajah Amerika: rasa syukur Texas Omar vs dendam Somali Omar. Hegseth menciptakan musuh budaya, dari kertas ke bom Iran.”
Bagian tengah (“Leftism”) hajar “ism” kiri sebagai virus budaya: globalisme “warga dunia busuk” (UN, migran Eropa bom waktu); genderisme meracuni “beta males”; sekularisme mengusir Tuhan dari Ivy League; Islamisme menginvasi diam-diam. Sosialisme? VA sebagai bukti veteran mati sia-sia. Ini orientalisme brutal, Barat sebagai korban suci, Timur/Timur Tengah sebagai ancaman, tanpa empati antropologis.
Bagian akhir (“The Fight”): Memeli senjata, melahirkan pewaris, merebut sekolah, membela Israel. “Make the Crusade Great Again!”, sebuah panggilan tribalisme budaya ala Trump.
Debus Budaya Kritis: Orientalisme Agresor yang Rapuh
Dari lensa budaya, buku ini merupakan karya paling busuk pasca-9/11: supremasi kristen-Yahudi vs “ism barbar” Islam/kiri, mirip Perang Salib abad 11 tapi dibungkus MAGA hat. Hegseth cherry-pick anekdot (Samarra, Princeton), nol etnografi atau data Pew (mayoritas Muslim asimilasi-damai). Globalisme diremehkan, padahal WTO tambah GDP AS US$2T, sebagai fakta dan bukti budaya hibrida menang. Islamisme? “Hijrah” sebagai konspirasi, mengabaikan sejarah kolonial AS yang lahirkan radikalisme (pasca genoside suku aseli Amerika Utara). Jefferson salah mengutip (“wall” melindungi agama, bukan mengusir); IPCC AR6 diabaikan demi “perang cuaca”. Gender? Feminisme dibuang, lupakan APA: kesetaraan budaya mendorong inovasi.
Di Indonesia, ramainya mirip-mirip perdebatan ala-ala Unit Mahasiswa di Student Center Timur ITB pra Demo Mendagri Rudini 1989, Hegseth menolak multikulturalisme, menciptakan “E Pluribus Racism”. Mind-blowingnya: Buku ini bukan analisis, tapi alat propaganda budaya yang mengeskalasi dari kata ke bom. 3
“Globalisme ‘busuk’, Islamisme ‘mengancam’! Hegseth orientalisme ala Said, AS agresor 2026, Iran bukti budaya Timur tak tergoyah.”

Gaya & Ledakan Budaya
Bahasa kasar, “beta males”, “no mercy”, membuat Goodreads 4.5/5 basis Trump. Tapi nada agitasinya membikin merinding: dari kertas ke Operation Epic Fury.
Epilog Mind-Blowing: Budaya Crusader Hancur di Persia
Ironi dahsyat: Visi Hegseth diujicobakan di 2026. Memimpin serangan AS-Israel (Maret-April): menghancurkan rudal, laut, laboratorium penelitian nuklir Iran dan madrasah SD yang sedang sibuk mengkaji ilmu. Klaim “victory historic”, Iran “memohon gencatan”. Realitasnya? Kekalahan imperial telak. Gencatan 8 April menutup mundur AS, Hormuz dibuka dengan syarat dari Iran yang sepenuhnya dipenuhi bulat-bulat, uranium aman, Teheran pesta “kemenangan”. Impeach Hegseth bergulir, AS cabut hampa dari bumi Persia yang melegenda. Agresor Barat kalah lagi (Vietnam 2.0), Iran menjadi simbol martabat Persia kuno. Buku ini cermin kegagalan budaya: supremasi rapuh lawan ketangguhan dan kebajikan. “Crusade kertas Hegseth: AS bom duluan, Iran bertahan. Budaya imperial ambruk, dialog Timur menang, “jihad” Barat keok.” Memalukan.
Buku ini berguna buat mencari paham retorika konservatif, tapi harus diiringi membaca Orientalism (Said) atau The Clash (Huntington revisi). American Crusade bukan panduan, tapi peringatan: budaya agresi melahirkan kehancuran. Buku ini, dalam pelajaran Matematika SMA, sebagai ‘contoh salah’, sebuah contoh roman picisan geopolitik dan budaya, Naif!!
Bandung. 11 April 2026
—
*Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Teknik, Universitas Sriwijaya, Palembang.





