Kehangatan Rumah Jawa Kolonial dan Kopi Dingin

Oleh Lutfi Priambodo*

Gambar 1. Ndalem Pembayun Rumah Jawa kolonial kini. (dok. Lutfi, 2026)

Perjalanan menuju ruang dimensi waktu dan sejarah, membawa kehangatan di setiap sudut dan detailnya, warna yang dominan putih dan tiang tiang penyangga atau orang jawa menyebutnya sebagai “Saka” memberikan nuansa pengingat suatu era. Tertulis 1890 di suatu Rumah bergaya  Kolonial memberikan jawaban atas ingatan masa lalu bawa sejarah pernah terbentuk dan menjadi saksi bisu atas pertanyaan ada apakah dimasa kolonial dan apa yang terjadi di masa kini. Siapa sangka kalau rumah ini adalah milik seorang bangsawan yaitu keturunan dari Sultan Hamengkubuwana VII dengan nama Dalem  Pembayun. Bertempt di jalan MT. Hariyono no.9 Kota Yogyakarta. 

Keistimewaan rumah bergaya kolonial atau mempunyai itilah rumah “indische” sedangkan untuk bangsawan jawa memunyai rumah bergaya kolonial dengan penataan yang berbeda, Rumah Jawa bergaya kolonial sering disebut “Indische Empire Style” adalah perpaduan arsitektur tradisional Jawa terutama Joglo atau Limasan dengan gaya Eropa atau Belanda abad ke-18-19. Biasanya memiliki pendhapa (ruang depan terbuka) untuk menerima tamu, pringgitan (ruang perantara), dan nDalem (ruang inti/pribadi). Warna yang elegan dengan nuansa pputi dan ornamen kayu berwarna hijau juga pintu-pintu besar berwarna hijau masih asri dan berdiri kokoh di sana. 

Rumah yang pernah di huni dan berdiri kokoh lebih satu abad mempunyai keistimewaan tersendiri, perpaduan jawa dan belanda membentuk bangunan ini, tidak tau milik siapa dan apa fungsinya, sederhana kaki ini melangkah ke teras dengan motivasi “saya akan minum kopi hari ini, mencari tempat yang memantik akan kenangan”. Tidak tau apa maksud otak untuk melangkah kesana, tetapi terus terpikirkan otak akan keindahan detil Rumah Kolonial dengan ciri khas selasar, lantai keramik bermotif, tiang tiang penyangga dan ornamen motif kayu yang khas menjadi identik, pintu besar model Kupu Tarung lebih dari satu, tentunya bangunan ini terbuat dari batu bata besar berukuran dua kali lipat batu bata yang kita lihat sekarang. 

Rumah bergaya Kolonial belum tentu itu adalah milik seorang bangsawan Belanda, di beberaa tempat di bangunan bergaya kolonial  jutru milik seorang bangsawan jawa, dapat dikatakan sebagai orang kaya pada zamannya, tentunya Rumah bergaya kolonial tergantung pada siapa pemiliknya. Biasanya bila rumah kolonia tersebut milik orang jawa pasti memiliki ciri khas seperti Rumah adat jawa meskipun tidak memiliki joglo. Rumah adat jawa mempunyai bentuk dan ruang-ruang yang mengharuskan manusia jawa mmbentuk suatu rumah dengan menerapkan nilai-nilai estetika filsafah manusia jawa. Penataan ruang dan kepercayaan menjadi hal yang pokok dimiliki manusia jawa, kesepakatan masa lalu menjadi pembelajaran dan patokan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang harus ada dan tidak ada di rumah adat jawa. 

Ruang-Ruang tercipta dengan mempertimbangkan fungsi dan juga perspektif pemikiran orang jawa, joglo merupakan ruang pertemuan antara pemilik rumah dan tamu biasaya tipe rumah joglo dimiliki oleh orang berada atau bangsawan. Sementara terdapat ruang pemisah yang di sebut pringgitan, suatu ruang kecil berbentuk selasar atau teras penghubung antara rumah indukk dan joglo depan. Bagian bangunan utama atau Rumah induk mempunya bagian intim biasanya mempunyai 3 kamar utama yaitu : Senthong Kiwo, Senthong Tengah dan Senthong Tengen. Senthong secara bahasa dapat diartikan sebagai kamar, membahas ketiga sentong dalam rumah induk menjadi terfokus pada ruang tengah apa yang terjadi dan mengapa bentuk nya lebih besar dibandingkan senthong kiwo dan senthong tengen. 

Apakah yang terjadi di masa lalu, apakah kesepakatan antara manusia jawa mengenai penempatan sentong tengah dan bentuknya lebih sepesial dari ruang kamar lain. Menurut pengamatan beberapa bentuk rumah jawa kuno, tanpa memandang strata sosial, dapat dilihat bahwa rumah ini mungkin terinspirasi dari istana raja-raja jawa, tanpa memandang strata sosial dan bentuknya, ruang ini terbentuk dan menjadi suatu keharusan untuk di buat. Kepercayaan orang jawa mempunyai nilai tersendiri mengenai perspektif pemikiran mengapa menciptakan ruang tengah, mengapa di buat sepesial dan memiliki nilai yang kuat jutru bukan pada kamar-kamar lain. Pemikiran ini dapat diarahkan kepada suatu aktivitas orang jawa tentang konsep Tuhan dan ruang liminal dalam sebuah upacara yang dilakukan di rumah mereka.

Gambar 2. Senthong Tengah yang dulunya menjadi ruang liminal, sebagai tempat persembahan kepada Dewi Sri, Penyimpanan Pusaka dan Hasil Bumi. (dok. Lutfi, 2026)

Pada upacara tertentu seperti selamatan orang yang sudah meninggal dan beberapa upacara tertentu sentong tengah sering menjadi ruang liminal antara manusia dan tuhan, menjadi tempat peletakan sesaji dan pemanjatan doa, biasanya sesaji berupa kembang setaman, ayam utuh, tumpeng dan dupa/kemenyan menjadi hal biasa di letakkan saat upacara atau selamatan. Peletakan sesaji di sentong tengah dilakukan dalam waktu satu malam setelah prosesi upacara, tidak boleh dibersihkan atau dimakan sesaji tersebut sebelum satu malam berlalu. Menurut mitos orang jawa mereka memperjayai bahwa Senthong Tengah adalah tempat bersemayamnya Dewi Sri atau Dewi Kesuburan, yang memberikan kelimpahan rezeki sehingga digunakan untuk menyimpan hasil panen, juga sebagai tempat menyimpan pusaka.

Manusia jawa percaya bahwa Senthog Tengah tidak digunakan untuk tempat tidur biasa karena akan membawa kesialan,  sakit-sakitan atau mengganggu roh leluhur yang menjaga rumah itu. Secara spiritual, Senthong Tengah dianggap sebagai jantung rumah yang mengatur energi. Pintu senthong tengah sering dibiarkan terbuka, atau ditutup dengan kain tertentu, dan merupakan titik simetris terpenting dalam rumah Joglo. Secara spiritual, senthong tengah dianggap sebagai jantung rumah yang mengatur energi. Pintu senthong tengah sering dibiarkan terbuka, atau ditutup dengan kain tertentu, dan merupakan titik simetris terpenting dalam rumah Joglo.

Kepercayaan dan estetika orang jawa menjadikan sentong tengah menjadi sesuatu yang sepesial. Estetika yang digunakan tentunya bermaksud baik untuk suatu ruang perenungan dan juga penghormaatan kepada Tuhan, pembentukan liminalitas ini secara turun menurun dari leluhur, eyag buyut menurun kepada eyangnya, dari eyang menurun ke orang tua hingga anak dan generasi selanjutnya. Ruang liminal ini terjadi saat manusia jawa belum memasuki periode islam jawa, dilihat dari sejarah masuknya islam jawa dan dilihat dari estetika bangunan untuk menentukan kapan bangunan itu di buat. Untuk menelusuri itu perlu pembading seperti kapan suatu era itu terbentuk, dapat dilihat dari istana di jawa seperti Surakarta dan Yogyakarta.

Pandangan tentang Rumah bergaya kolonial ini justru mengarah di suatu sudut, di luar benteng keraton yogyakarta, di pinnggiran tembok baluwarti terdapat salah satu bangunnan peninggalan masa lalu bergaya kolonial hangat dan asri dan tetap teerjaga keaslian bangunannya, tidak banyak berubah mulai dari ukir kayu, dan detail ornamen di setiap sudutnya mulai tiang penyangga, pagar, pintu kupu tarung, hiasan pokok dinding seperti kaca kembar di samping kanan dan kiri pintu utama bahkan lantai keramik lawas nya masih terjaga. Hal yang membedakan hanyalah pengalihan fungsi yang dulunya rumah sekarang menjad ruang publik. Horor itu hanya subjektif sudut pandang atas imbas tontonan layar lebar yang selalu terfokus pada ruang atau benda kuno tanpa melihat makna di dalamnya, mungkin pemikiran tersebut hanya sebagai ruang batas antara perspektif manusia untuk melihat suatu estetika ruang atau benda. 

Pengalaman tentang kehangatan rumah masalalu juga mempengaruhi pemikiran manusia, nyatanya seorang putri keraton yang lahir di era milenial justru mempunyai perspektif lain tentang suatu banguan dan sejarahnya, bahkan rumah adat jawa di lingungan keraton justru menjadi pantikan baru menciptakan suatu hal, ingatan tersebut mencetuskan ide untuk membuat suatu produk atau benda bernilai di era sekarang. Salah satunya adalah Rania Maheswari Yamin seorang influencer media sosial dan dia adalah seorang putri keraton dari Pura Mangkunegaran, dari ruang dimana dia dilahirkann sejarah akan nenek moyangnya hingga sekarang bisa menciptakan parfum dari ingatan masa kecilnya sampai mempunyai brand Parfum Kitschy. Ingatan tentang Rumah Eyang aroma kamar menjadi hal yang indah bila disikapi dengan sudut pandang estetika yang tepat. Begitu juga fungsi Rumah Kolonial sekarang bukan menjadi pemandangan yang menyeramkan lagi ketika bangunan tersebut dirawat dan dimanfaatkan dengan baik.

Ruang publik di beberapa titik di Yogyakarta terutama cafe atau coffe shop memilih tempat yang dulunya dianggap seram justru berada di tempat-tempat tersebut dengan memperkuat strukktur bangunan tua menjadi ruang temu yang estetik, tanpa pembangunan yang utuh dari awal, cukup dengn renovasi dan memperkkuar karakter bangunan tersebut justru menjadi nilai plus bahkan bisam memberikan karakter pada coffe shop tersebut. Seperti Tarumartani yang berada di area pabrik cerutu peninggalan masa kolonial, Space Roastery 1890 sebuah rumah kolonial yang dijadikan coffe shop dengan bermodal peralatan FNB mesin koppi dan kursi-kursi justru menjadi tempat yang hangat sekaligus indah tanpa merubah bentuk asli bangunan dan menjadikan bangunan tersebut mengekspose ruang liminal waktu antara masa lalu dan masa kini.

Pemikiran dan pandangan secara awam selalu memandang bangunan tua adalah sesuatu yang menyeramkan angker dan banyaak hal pamali yang selalu di perdebatkan. Pandangan ini justru terbantahkan akan hadirnya ruang-ruang publik yang justru memandang bangunan itu menjadi suatu yang estetik dan tepat untuk ruang bertemu. Menjadi destinasi untuk dinikmati dengan cara lain, tentunya memandang estetika, fungsi dan kenyamanan. Ruang kenyamanan mengamati dari selera zaman, kopi menjadi suatu pilihan untuk mempertemukan yang lama (masa lalu) dan baru (masa kini). 

Ruang publik semacam coffe shop memilih rumah tua menentang akan stigma bahwa rumah tua adalah sesuatu yang seram. Perubahan pemikiran orang terjadi justru melalui pemahaman akan estetika ruang sehingga membentuk karakter. Seperti kopi yang diseduh panas ditambahkan creamer menjadi latte, bila suka sesuatu yang dingin mungkin bisa dijaddikan latte ice dengan menambahkan es. Rasa pahit kopi dan sensasi dingin es memberikan rasa nikmat tersendri bila dipadukan. Begitu juga dengan Rumah yang memberikan kehangatan membuat bahasa tersendiri akan kenangan, kopi dan rumah seperti dua hal yang jauh berbeda tetapi selalu terucap dalam ingatan ketika tamu datang ataupun ayah pulang dari pekerjaan. Kopi panas di siang hari juga terasa kurang nikmat diminum saat cuaca terik, terdapat inovasi baru penambahan es menjadikan nya dingin dan otak tetap segar dengan mengalirnya kafein di ongga tenggorokan. Begitu juga Rumah Tua yang tidak di tinggali akan dianggap seram karena tidak terawat, berbeda dengan rumah tua yang terawat justru meninggalkan kenangan masa lalu untuk dijadikan sebuah cerita dan ingatan saksi bisu sejarah.

—–

*Lutfi Priambodo, S.Pd, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.