Kaleidoskop Pendidikan 2025: Antropologi Disrupsi dan Politik Pencerahan
Oleh: Gus Nas Jogja*
“Dunia ini adalah sekolah, dan setiap insan adalah buku yang harus kita baca dengan rasa hormat.”
Fragmen Pembuka: Dialektika Ruang Hampa
Pendidikan bukanlah sekadar transmisi dogma di atas papan tulis yang berdebu; ia adalah sebuah Kaleidoskop. Sebuah tabung optik di mana setiap pecahan kaca—baik melalui metafisika Sunan Kalijaga, nalar radikal Tan Malaka, hingga eksistensialisme Jean-Paul Sartre—bertemu dalam satu putaran takdir. Pendidikan adalah upaya menyingkap cadar Kramadangsa atau ego diri untuk menemukan Manungsa Sejati atau Kemanusiaan Paripurna.
Namun, di era disrupsi ini, kita melihat sebuah paradoks antropologis: manusia mengejar gelar hingga ke awan, namun kehilangan pijakan di atas bumi. Mereka memiliki ijazah sebagai “surat ijin berpikir”, namun seringkali lupa bagaimana cara “merasakan” menjadi benar-benar Manusia.
Tafsir Antropologi: Antara Homo Academicus dan Binatang Politik
Secara antropologis, kasus dosen yang meludah di Makassar adalah sebuah kegagalan Inisiasi Kemanusiaan. Gelar akademik seharusnya menjadi ritus peralihan (rite of passage) dari kekanak-kanakan egoistik menuju kedewasaan sosial. Namun, yang terjadi adalah Hipertrofi Ego!.
Pierre Bourdieu dalam Homo Academicus mengingatkan bahwa modal simbolik seperti gelar dan jabatan sering kali digunakan untuk melakukan kekerasan simbolik kepada kelas yang dianggap lebih rendah—dalam hal ini, seorang kasir. Ludah tersebut bukan sekadar cairan biologis; ia adalah representasi dari struktur kelas yang merasa superior di atas meja kasir swalayan. Ini adalah kegagalan budaya di mana “Kepintaran” tidak lagi bersahabat dengan “Kebijaksanaan”.
Politik Pendidikan: Hegemoni Gelar di Atas Etika Antrean
Dalam lensa politik pendidikan, kita melihat adanya Hegemoni Kognitif. Sistem pendidikan kita yang terlalu berorientasi pada hasil (GPA, publikasi, jabatan fungsional) telah melahirkan teknokrat-teknokrat emosional yang rapuh. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan atau conscientization.
Tragedi “Ludah Sang Dosen” adalah bukti pendidikan yang “menindas”. Sang dosen merasa memiliki otoritas politik atas ruang publik hanya karena status ASN atau gelar doktornya. Ia lupa bahwa dalam demokrasi antrean, kedaulatan ada di tangan orang yang datang lebih awal. Politik pendidikan kita sedang sakit jika ia menghasilkan “raksasa intelektual” yang memiliki mentalitas “kurcaci moral”.
Narasi Filosofis: Mata Air Kebijaksanaan Para Pujangga
Di tengah reruntuhan adab itu, kita mendengar bisikan para empu:
Ki Ageng Suryomentaraman hadir dengan Kawruh Begja-nya, mengingatkan bahwa jabatan hanyalah “catatan” luar. Seseorang yang merasa terhina saat mengantre adalah orang yang jiwanya belum merdeka (Merdika). Ia masih diperbudak oleh rasa ingin dihormati atau (pengin diajeni).
Sunan Kalijaga membawakan tembang Ilir-ilir, mengajak kita memanjat pohon belimbing karakter. Meski licin karena godaan kuasa, kita harus mencuci “pakaian” perilaku kita agar bersih saat menghadap Sang Khalik. Meludah adalah tindakan mengotori pakaian itu dengan sengaja.
Sosrokartono dengan prinsip “Andhap Asor” atau Rendah hati, mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan meludahi lawan, melainkan pada kemampuan menaklukkan diri sendiri.
Menuju Pendidikan yang Paripurna
Kaleidoskop pendidikan harus kita putar menuju harmoni baru. Bukan lagi sekadar mengejar angka, tapi mengejar Roso. Pendidikan harus mampu menjinakkan kelenjar parotis agar ia hanya berfungsi sebagai pelumas kata-kata yang menyejukkan.
Jadilah individu yang memiliki Kedalaman Filosofis dan Ketangkasan Teknis. Jadilah seperti padi yang diajarkan para leluhur: semakin berilmu, semakin menunduk di hadapan kemanusiaan. Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa banyak doktor yang kita miliki, melainkan dari seberapa sedikit ludah yang terbuang sia-sia di ruang publik.
Pendidikan adalah Zikir Nalar dan Pikir Nurani. Di hadapan mesin kasir kehidupan, ijazah kita hanyalah kertas, namun adab kita adalah identitas.
Semiotika dan Teologi Ludah: Dari Mitos ke Kehampaan Ruh
Di dalam tabung kaleidoskop yang terus berputar, kita menemukan kepingan kaca baru yang membawa kita ke kedalaman makna yang lebih pekat. Melalui lensa Roland Barthes, ludah sang dosen adalah sebuah “Mitos” modern. Dalam Mythologies, Barthes menjelaskan bagaimana sebuah tindakan kecil bisa menjadi sistem komunikasi yang kompleks. Ludah di sini bukan lagi sekadar sekresi kelenjar, melainkan sebuah penanda (signifier) dari arogansi kelas. Ia adalah bahasa tanpa suara yang mengatakan: “Pendidikanku adalah kekuasaanku, dan antreanmu adalah penghinaan bagiku.” Dosen tersebut terjebak dalam mitos bahwa gelar akademik memberinya kekebalan terhadap etika publik.
Umberto Eco mungkin akan tertawa melihat tragedi ini sebagai sebuah “Hiper-realitas”. Sang dosen tidak lagi hidup dalam realitas swalayan yang sederhana, di mana orang harus mengantre. Ia hidup dalam tanda-tanda kebesaran yang ia ciptakan sendiri di kepalanya. Baginya, kasir itu bukanlah manusia, melainkan hambatan fungsional bagi egonya. Dalam The Name of the Rose, Eco menunjukkan bagaimana fanatisme terhadap pengetahuan bisa membunuh rasa kemanusiaan. Sang dosen “membunuh” integritas akademisnya demi sebuah kemenangan kecil di jalur antrean yang fana.
Etika Kebajikan dan Pembersihan Jiwa
Namun, Aristoteles dalam Nicomachean Ethics akan memberikan vonis yang lebih dingin. Ia akan menyebut sang dosen sebagai sosok yang gagal mencapai Eudaimonia atau “kebahagiaan melalui kebajikan”. Bagi Aristoteles, karakter adalah hasil dari kebiasaan. Jika seseorang meludah saat marah, itu menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun ia tidak melatih Sophrosyne atau pengendalian diri. Intelektualitas tanpa kebajikan moral, menurut Aristoteles, hanyalah alat yang berbahaya. Seseorang bisa menjadi pakar dalam teori, namun tetap menjadi “binatang buas” dalam praktik jika ia tidak memiliki moderasi batin.
Di sisi spiritual Timur, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin telah lama membedah penyakit ini sebagai Al-Kibr atau kesombongan. Al-Ghazali mengingatkan bahwa sumber dari segala kehancuran adalah ketika seseorang melihat dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Beliau menulis tentang pentingnya Riyadhatun Nafs (olahraga jiwa). Ludah sang dosen adalah bukti bahwa jiwanya sedang sakit, menderita obesitas ego yang membuatnya sesak napas saat harus tunduk pada aturan duniawi yang setara. Al-Ghazali akan bertanya: “Apa gunanya lisanmu fasih mengajarkan ilmu, jika hatimu masih menjadi sarang bagi kalajengking kesombongan?”
Anekdot Satir: Cermin Abu Nawas di Jalur Antrean
Mari kita bawa sosok Abu Nawas ke swalayan Makassar itu sebagai sang penengah yang jenius.
Alkisah, Abu Nawas melihat seorang pejabat meludahi seorang pelayan karena merasa dilampaui. Abu Nawas segera mengambil sebuah mangkuk emas dan menampung ludah itu, lalu membawanya ke pasar.
Orang-orang bertanya, “Abu Nawas, apa yang kau jual?” Abu Nawas menjawab, “Aku menjual permata paling mahal di dunia. Ini adalah ‘Sari Pati Kebijaksanaan’ dari seorang pria berilmu tinggi.” Ketika orang-orang melihat bahwa itu hanyalah ludah yang menjijikkan, Abu Nawas berkata, “Lihatlah! Jika pemiliknya merasa ludah ini adalah senjata kehormatan, mengapa kalian menganggapnya sampah? Rupanya, setinggi apa pun gelar seseorang, jika ia membuang apa yang ada di dalam mulutnya ke wajah orang lain, ia sedang memberikan satu-satunya hal yang ia miliki: kotoran batinnya sendiri.”
Antropologi Penundukan dan Harapan Baru
Melalui putaran terakhir kaleidoskop ini, kita melihat sebuah peta antropologi pendidikan yang utuh. Pendidikan bukan tentang bagaimana kita memanjat tangga sosial, tapi bagaimana kita tetap “membumi” saat berada di puncak.
• Aristoteles memberi kita fondasi karakter.
• Al-Ghazali memberi kita pembersihan nurani.
• Abu Nawas memberi kita tawa sebagai obat bagi keangkuhan.
Tragedi dosen UIM Makassar adalah pengingat bahwa ijazah hanyalah artefak kebudayaan, namun adab adalah denyut nadi peradaban. Tanpa adab, kita hanya sedang membangun Menara Gading yang akan runtuh oleh air liur kita sendiri. Mari kita kembali ke Khittah: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, di mana setiap antrean adalah laboratorium kesabaran, dan setiap pertemuan adalah kesempatan untuk memuliakan, bukan meludahi.
Ruang Hampa Makna: Ludah di Antara Tanda dan Kekosongan
Melanjutkan penjelajahan di labirin kaleidoskop ini, kita tiba pada persimpangan di mana Roland Barthes akan mengamati bahwa peristiwa di Makassar adalah sebuah “Kematian Sang Pengarang” atau The Death of the Author. Sang Dosen, sebagai pengarang narasi moral di ruang kelas, telah “mati” saat tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-katanya. Di depan mesin kasir, ijazahnya menjadi teks yang kehilangan makna karena dibaca melalui lensa perilaku yang kontradiktif. Barthes akan mencatat bahwa ludah itu adalah sebuah punctum—sebuah detail kecil yang melukai pandangan kita dan menghancurkan seluruh citra akademis yang dibangun selama puluhan tahun.
Umberto Eco akan menambahkan bahwa kita sedang menyaksikan “Kelebihan Penafsiran” atau overinterpreting. Sang Dosen menafsirkan status sosialnya secara berlebihan hingga ia merasa realitas swalayan harus tunduk pada egonya. Baginya, antrean adalah sebuah struktur yang bisa didekonstruksi sesuka hati. Namun, Eco mengingatkan bahwa kode sosial memiliki batas. Ketika seseorang melanggar kode “tertib antre”, ia sedang melakukan tindakan anomali semiotik. Ia menjadi tanda yang salah di tempat yang salah.
Eskatologi Adab: Perspektif Al-Ghazali dan Aristoteles
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Klasik berjudul Minhajul Abidin mungkin akan menyebut kejadian ini sebagai “Racun Ilmu”. Ilmu yang tidak disertai dengan Wara’ atau kehati-hatian dan Tawadhu’ sikap rendah hati hanya akan menjadi hijab atau penghalang antara manusia dan penciptanya. Bagi Al-Ghazali, ludah itu adalah pancaran dari api Al-Ghadhab atau amarah yang bersumber dari kesombongan intelektual. Beliau berpesan bahwa lisan adalah cerminan hati; “Jika yang keluar dari mulut adalah hinaan dan cemooh, maka di dalam hati sedang terjadi pembusukan karakter yang parah”.
Aristoteles, dengan tenang akan menarik kita kembali pada konsep “The Golden Mean” atau Jalan Tengah. Keberanian atau Courage yang berlebihan tanpa kendali nalar akan menjadi kenekatan yang bodoh atau Rashness. Sang Dosen merasa “berani” menantang aturan, namun karena dilakukan tanpa Phronesis (kebijaksanaan praktis), tindakan itu berubah menjadi kebodohan yang memalukan. Aristoteles akan menyimpulkan bahwa sang dosen adalah seorang Akrates—seseorang yang memiliki pengetahuan tentang yang benar, namun tidak memiliki kekuatan kehendak untuk melakukannya.
Satir Sufistik: Abu Nawas dan “Emas” di Mulut Dosen
Syahdan, Abu Nawas mendengar ada seorang besar yang dipecat karena meludahi rakyat jelata. Ia pun datang ke universitas tersebut membawa sebuah timbangan besar.
“Apa yang kau timbang, Abu Nawas?” tanya sang Rektor. “Aku sedang menimbang berat sebuah gelar,” jawab Abu Nawas. “Aku masukkan ijazah doktor ke satu sisi, dan setetes air liur ke sisi lainnya. Anehnya, air liur itu jauh lebih berat. Ia sanggup meruntuhkan seluruh gedung kampus ini, menghapus ribuan jam kuliah, dan menenggelamkan ribuan buku perpustakaan.”
Abu Nawas kemudian berpaling pada Sang Dosen dan berkata, “Wahai Tuan yang Mulia, rupanya ilmu Tuan itu seperti air di dalam tempayan bocor. Tuan sibuk mengisinya dengan gelar, tapi lupa menambal lubang di bawahnya—yaitu lubang kesabaran. Sekarang, tempayan itu kosong, dan yang tersisa hanyalah lantai yang becek oleh ludah Tuan sendiri.”
Penutup Paripurna: Arkeologi Harapan dalam Pendidikan
Melalui kaleidoskop ini, kita telah melihat bahwa pendidikan Indonesia sedang berada di titik nadir antropologis jika ia hanya memuja Gelar namun meminggirkan Moral. Dari Aristoteles kita belajar tentang karakter, dari Al-Ghazali kita belajar tentang nurani, dari Eco dan Barthes kita belajar tentang makna, dan dari Abu Nawas kita belajar tentang kerendahan hati.
Tragedi ini harus menjadi “Kataris”—sebuah pembersihan massal bagi dunia pendidikan kita. Kita tidak butuh lagi dosen yang sekadar “mengajar”, kita butuh pendidik yang “menghidupkan”. Kita butuh mereka yang mampu melihat bahwa di balik seragam kasir, ada manusia yang harus dimuliakan, dan di balik gelar doktor, ada tanggung jawab yang harus dijaga.
Biarlah sejarah mencatat: bahwa di akhir tahun 2025, di sebuah swalayan di Makassar, sebuah sistem pendidikan sedang diuji oleh setetes ludah. Dan melalui keputusan tegas sang Rektor, kita memilih untuk memenangkan Adab di atas Gelar. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah kegelapan yang menyilaukan.
Tamat.***
—————–
*Gus Nas, budayawan.




