Jalan Raya Sastra Pantura
Oleh Mahwi Air Tawar*
Pulang ke Yogyakarta dengan mengendarai sepeda motor, bagi saya, adalah sebuah prestasi kecil yang pantas dirayakan secara diam-diam. Bukan semata-mata karena saya berhasil melintasi jalan Pantura—jalan yang dalam sejarahnya tidak hanya mendistribusikan hasil-hasil pertanian dari pesisir utara Jawa, tetapi juga menjadi jalur penting penyebaran Islam, terutama dari wilayah Cirebon. Tidak. Prestasi kecil itu justru terletak pada fakta yang jauh lebih sederhana: saya akhirnya sanggup menempuh perjalanan dari Depok menuju Yogyakarta sejauh hampir enam ratus kilometer seorang diri.
Sebuah pencapaian yang, jika dipikir-pikir, terasa agak ironis. Sebab selama ini, untuk perjalanan yang jaraknya bahkan tidak lebih jauh dari Depok ke Jakarta, saya kerap meminta ditemani dengan alasan klasik: takut tersesat di jalan. Alasan yang terdengar sepele, tetapi diam-diam menyimpan reputasi kecil yang memalukan—seorang lelaki dewasa yang lebih sering tersesat daripada menemukan jalan pulang. Maka keberhasilan melintasi ratusan kilometer itu terasa seperti kemenangan pribadi yang sedikit konyol: semacam keberanian yang datang terlambat, seperti seseorang yang baru belajar berenang setelah bertahun-tahun tinggal di tepi sungai.
Atau mungkin ini sekadar bukti sederhana bahwa seseorang yang terbiasa salah jalan pun pada akhirnya dapat sampai juga ke tujuan, asalkan cukup keras kepala untuk terus melaju. Dalam pengalaman saya, tersesat sering kali bukan karena tidak ada peta, melainkan karena terlalu banyak keraguan untuk mempercayai arah yang telah ditunjukkan. Kita berhenti, menoleh ke kiri lalu ke kanan, membuka peta kembali, bertanya lagi, kemudian ragu lagi—hingga perjalanan terasa lebih panjang daripada yang seharusnya.
Jalan raya, seperti juga kehidupan, tampaknya memiliki kesabaran yang aneh terhadap orang-orang yang gemar salah arah. Ia tidak pernah benar-benar menolak siapa pun. Jalan hanya meminta satu hal yang sederhana: teruslah bergerak. Selama roda masih berputar dan seseorang belum menyerah untuk berhenti, selalu ada kemungkinan bahwa belokan yang tampaknya keliru justru membawa kita kembali ke jalur yang benar.
Mungkin itulah yang terjadi pada perjalanan ini. Bukan keberanian yang tiba-tiba tumbuh, bukan pula kemampuan membaca peta yang mendadak menjadi tajam, melainkan semacam keras kepala yang sederhana: keyakinan bahwa jika saya terus mengikuti jalan yang terbentang di depan, cepat atau lambat saya akan sampai juga. Kalau tidak tepat waktu, setidaknya tepat arah. Dan bagi orang yang sering tersesat, itu sudah merupakan bentuk keberhasilan yang cukup memadai.
Sebetulnya lebih masuk akal jika saya pulang ke Yogyakarta dengan kereta api. Bukan semata karena alasan efisiensi atau ekonomi—dua kata yang terlalu sering dipakai untuk membenarkan pilihan praktis—melainkan karena dalam lima tahun terakhir saya justru menulis banyak puisi tentang kereta: tentang rel yang memanjang seperti kalimat yang tidak pernah selesai, tentang stasiun yang mempertemukan orang-orang yang tidak saling mengenal, dan tentang penumpang yang membawa nasibnya masing-masing dalam gerbong yang sama. Kereta bagi saya bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang pengamatan: tempat manusia, waktu, dan jarak saling bersilangan tanpa banyak kata.
Seorang kawan yang juga komisaris di PT Kereta Api Indonesia tampaknya memahami obsesi kecil itu. Ia bahkan menawarkan sebuah kursi khusus untuk perjalanan saya ke Yogya. Tawaran yang, bagi seorang penyair yang sedang menulis tentang kereta api, hampir terasa seperti kesempatan melakukan riset lapangan yang terlalu sempurna untuk ditolak.
Kereta memang selalu menjadi ruang yang subur bagi imajinasi. Leo Tolstoy pernah menjadikan kereta api sebagai panggung takdir manusia dalam novelnya Anna Karenina. Dalam novel itu, rel kereta bukan sekadar jalur transportasi, tetapi garis keras yang menghubungkan cinta, kesepian, dan kematian.
Dalam sastra Rusia lain, kereta juga pernah tampil sebagai wajah perang dan revolusi. Dalam kumpulan cerita pendek Kereta Api Baja 1469 karya Vsevolod Ivanov—yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Idrus dan diterbitkan oleh Balai Pustaka—kereta tidak lagi sekadar kendaraan, melainkan mesin perang yang bergerak di tengah kekacauan pasca Russian Revolution.
Kereta dalam sastra Indonesia sering kali tidak sekadar menjadi kendaraan yang mengangkut penumpang dari satu kota ke kota lain. Ia kerap hadir sebagai ruang peristiwa—tempat sejarah, kenangan, dan nasib manusia saling berpapasan.
Salah satu karya yang menarik dalam tradisi itu adalah novel Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari karya Kuntowijoyo. Novel ini ditulis pada tahun 1964. Novel dengan latar cerita masa akhir Revolusi Indonesia sekitar 1949.
Dalam novel tersebut kereta api tidak tampil sebagai simbol romantik perjalanan, melainkan sebagai bagian dari lanskap perang. Cerita berawal dari ledakan jembatan kereta yang mengguncang kehidupan warga desa. Peristiwa itu tidak hanya merusak jalur transportasi, tetapi juga membuka retakan dalam hubungan manusia: antara kepentingan pribadi, ketakutan, dan ego para tokohnya.
Yang menarik, naskah novel ini sempat lama dianggap hilang. Setelah pertama kali ditulis pada dekade 1960-an dan pernah dimuat bersambung di Harian Jihad pada tahun 1966, keberadaannya menghilang dari peredaran selama puluhan tahun. Baru pada tahun 2024 naskah tersebut ditemukan kembali melalui arsip mikrofilm lama, direstorasi, dan diterbitkan ulang oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Jika dalam karya Kuntowijoyo kereta hadir sebagai latar sejarah yang keras, dalam sastra Indonesia kontemporer ia sering muncul sebagai ruang yang lebih intim. Hal itu tampak dalam kumpulan cerpen Kereta Tidur karya Avianti Armand.
Dalam buku ini kereta api berubah menjadi ruang melankolis tempat berbagai kehidupan singgah sebentar. Di dalam gerbong yang bergerak pada malam hari, orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal tiba-tiba duduk berhadapan, berbagi percakapan singkat, atau sekadar saling diam sambil memikirkan masa lalu masing-masing.
Avianti menulis kereta sebagai ruang transisi—tempat pertemuan, perpisahan, dan perenungan. Gerbong tidur menjadi semacam ruang psikologis di mana tokoh-tokohnya berhadapan dengan kenangan, kehilangan, atau keputusan hidup yang belum selesai.
Kereta dalam cerita-cerita itu bergerak perlahan menembus malam, sementara di dalamnya manusia membawa cerita yang tidak selalu mereka ceritakan kepada siapa pun.
Barangkali karena itulah kereta api selalu memiliki tempat yang istimewa dalam sastra. Ia bukan sekadar mesin yang berjalan di atas rel, melainkan ruang bergerak tempat sejarah, kenangan, dan nasib manusia sesekali bertemu. Karena itu juga kereta sering terasa lebih filosofis daripada kendaraan lain. Ia bergerak pasti di atas rel, tetapi di dalam gerbongnya pikiran manusia dapat pergi ke mana saja.
Namun justru karena semua alasan itu, saya tidak jadi naik kereta.
***
Tanggal 15 Maret 2026, subuh masih menggantung seperti embun yang belum jatuh ketika saya berangkat dari Depok menuju Yogyakarta. Jam enam pagi motor sudah meluncur ke arah timur. Padahal beberapa jam sebelumnya—sekitar pukul sebelas malam—kawan saya kembali mengingatkan lewat telepon agar saya tetap naik kereta saja. Nada suaranya santai, hampir seperti seseorang yang mencoba menyelamatkan temannya dari keputusan yang agak tidak rasional.
Barangkali ia benar. Kereta memberi kenyamanan, kepastian waktu, dan pemandangan yang tenang dari balik jendela. Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kereta: kebebasan untuk tersesat.
Dengan sepeda motor, saya dapat berhenti kapan saja, berbelok ke jalan kecil yang tidak ada dalam rencana, atau sekadar duduk di warung kopi pinggir jalan sambil memandangi orang-orang yang tidak pernah saya kenal. Perjalanan menjadi lebih lambat; justru karena kelambatan itulah dunia terasa lebih mudah diamati.
Jalur Pantura bagi saya akhirnya bukan sekadar jalan raya yang memanjang di pesisir utara Jawa. Ia lebih menyerupai rak buku raksasa yang terbentang dari barat ke timur, tempat nama-nama sastrawan Indonesia berdiri sebagai penanda kota—seperti judul-judul buku yang berjajar di sebuah perpustakaan yang sangat panjang.
Tepat pukul sebelas siang saya memasuki sebuah rest area di wilayah Subang. Matahari berdiri hampir tegak di atas kepala, memantulkan cahaya keras di atas aspal yang berkilau seperti lembaran logam. Di tempat istirahat itu saya melihat beberapa pengendara motor lain yang tampaknya juga sedang menempuh perjalanan panjang menuju kampung halaman mereka. Dari potongan percakapan yang sempat terdengar di antara hiruk-pikuk mesin lalulalang kendaraan. saya menangkap nama-nama kota yang akrab bagi para perantau: Tegal, Brebes, Pemalang—kota-kota yang setiap musim mudik berubah menjadi arah kompas bagi ribuan orang yang pulang dengan berbagai kendaraan dan berbagai cerita.
Di tengah keramaian kecil itu, ingatan saya justru melayang kepada seorang sastrawan kelahiran Subang: Yudhistira ANM Massardi. Nama itu muncul begitu saja, seolah-olah Subang bukan hanya persinggahan geografis, melainkan juga sebuah halaman penting dalam sejarah sastra Indonesia.
Yudhistira dikenal sebagai penulis yang produktif dan lintas-genre. Ia menulis cerpen, novel, drama, puisi, juga kritik dan esai dengan ketekunan yang jarang dimiliki banyak penulis sezamannya. Pada dekade 1970–1980-an, namanya menjadi salah satu suara penting dalam dunia sastra Indonesia modern. Beberapa karyanya bahkan memperoleh tempat yang hampir legendaris di kalangan pembaca, seperti kumpulan puisi Sajak Sikat Gigi serta karya prosanya yang terkenal, Arjuna Mencari Cinta, yang kemudian dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama agar tetap dapat dibaca oleh generasi yang lebih muda.
Selain itu, kumpulan puisinya Rudi Jalak Gugat yang pertama kali terbit pada tahun 1982 kembali diterbitkan pada tahun 2021 oleh Kepustakaan Populer Gramedia bersama kumpulan puisi Syair Kebangkitan yang sebelumnya terbit pada tahun 1994. Kedua buku tersebut digabungkan dalam satu edisi karena memiliki benang tematik yang sama: perlawanan—sebuah perlawanan yang tidak selalu tampil sebagai slogan keras, tetapi sering hadir melalui ironi, satire, dan kegelisahan batin seorang penyair terhadap zamannya.
Dari Subang saya kembali menyusuri Pantura. Jalan panjang itu memantulkan panas siang yang mulai meninggi. Sebelum memasuki Indramayu dan Cirebon, laut kadang terlihat samar di kejauhan—seperti garis tipis yang memisahkan daratan dari imajinasi.
Di Indramayu, terus terang saya menyimpan harapan yang agak ganjil. Saya berharap bertemu sosok perempuan sintal, Safitri, penyanyi dangdut jalanan yang digambarkan dalam novel Telembuk karya Kedung Darma Romansha. Dalam novel itu, Indramayu muncul sebagai lanskap yang keras sekaligus sensual—dunia pesisir yang penuh bunyi musik dangdut, aroma laut, dan tubuh-tubuh manusia yang hidup di antara kemiskinan, hasrat, serta harapan yang sering kali terlalu tipis untuk disebut masa depan.
Namun sepanjang perjalanan melintasi Indramayu siang itu, saya tidak menemukan adegan seperti dalam novel tersebut. Tidak ada panggung dangdut, tidak ada kisah cinta yang dramatis. Yang saya lihat justru pemandangan yang agak ganjil.
Di sepanjang jalan Pantura daerah Indramayu, beberapa orang berdiri berjejer di tepi jalan sambil memegang sapu lidi. Mereka menunggu pengendara motor yang melintas. Sesekali seorang pengendara melemparkan lembaran uang ke arah mereka; uang itu jatuh di aspal lalu dengan cekatan disapu ke pinggir jalan.
Konon, menurut berbagai cerita—termasuk dari seseorang yang saya tanya di sebuah rest area—kebiasaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan sering disebut sebagai “tradisi jalanan”. Tetapi bagi saya, menyebutnya sebagai tradisi terasa sedikit tergesa-gesa. Kata tradisi biasanya lahir dari sesuatu yang lebih dalam: ia membawa ajaran sikap, etika hidup, atau ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi tumbuh dari batin masyarakat—dari kesadaran bersama yang perlahan mengendap menjadi nilai. Ia bukan sekadar kebiasaan yang muncul karena keadaan ekonomi atau kebetulan sosial yang kebetulan berlangsung lama di tepi sebuah jalan raya.
Selepas dari Indramayu, jalan Pantura kembali memanjang menuju kota berikutnya. Beberapa kilometer kemudian papan penunjuk jalan menampilkan nama yang sangat akrab dalam sejarah kebudayaan Jawa Barat: Cirebon.
Angin dari arah laut terasa lebih lembap, membawa aroma asin yang samar. Di titik itu pikiran saya dipenuhi oleh nama-nama tokoh yang pernah memberi makna pada kota ini—para masyaikh, ulama, dan kiai yang membangun tradisi keilmuan Islam di pesisir utara Jawa, sekaligus para sastrawan yang menjadikan Cirebon bukan sekadar kota pelabuhan, tetapi juga kota kebudayaan.
Dalam sejarah Islam Jawa, Cirebon tidak dapat dilepaskan dari sosok Sunan Gunung Jati. Dari pesantren, keraton, hingga jaringan perdagangan laut, kota ini tumbuh sebagai simpul pertemuan antara agama, kekuasaan, dan kebudayaan. Tradisi intelektual yang lahir dari ruang-ruang itu kemudian mengalir jauh melampaui batas kota, bahkan hingga hari ini.
Cirebon juga melahirkan tokoh-tokoh penting dalam dunia sastra modern Indonesia. Salah satu yang paling menonjol adalah Ajip Rosidi—seorang sastrawan, esais, sekaligus budayawan yang bukan hanya produktif menulis, tetapi juga gigih merawat kehidupan sastra. Meski ia lahir di Majalengka, namanya sering kali berkait erat dengan dinamika kebudayaan Cirebon dan wilayah pesisir Jawa Barat.
Saya sendiri pertama kali mengenal Cirebon bukan dari perjalanan, melainkan dari sebuah puisi berjudul Terkenang Topeng Cirebon karya Ajip Rosidi. Dari puisi itulah Cirebon mula-mula hadir dalam imajinasi saya: bukan sekadar kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, melainkan sebuah ruang budaya yang hidup dengan tradisi topeng, cerita rakyat, dan ingatan sejarah yang panjang. Kota itu terasa seperti panggung tempat berbagai lapisan sejarah bertemu—dari ritual keraton, cerita rakyat pesisir, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat yang bergerak di antara laut dan daratan.
Bagi Ajip, sastra bukan sekadar karya di atas kertas. Ia adalah kerja kebudayaan yang membutuhkan ruang hidup. Karena itu ia tidak hanya menulis puisi, cerpen, dan esai, tetapi juga aktif membangun jaringan penerbitan, mendirikan lembaga kebudayaan, serta memfasilitasi lahirnya generasi penulis baru.
Nama lain yang tak kalah penting adalah Subbanuddin Alwy. Penyair yang memiliki karya puisi epic berjudul Cirebon, 360 Tahun Kemudian selain menulis puisi ia juga tekun menulis tentang dunia pesantren, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat pesisir. Puisinya sering menghadirkan suasana yang tenang tetapi penuh renungan—seolah-olah lahir dari ruang batin yang dekat dengan tradisi keagamaan sekaligus pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.
Seperti Ajip Rosidi, Subbanuddin Alwy juga tidak hanya meninggalkan karya sastra. Ia ikut menghidupkan berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan di Cirebon. Melalui diskusi, pembacaan puisi, dan berbagai forum kebudayaan, ia berusaha menjaga agar sastra tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar milik ruang akademik atau festival sastra sesaat.
Tentu saja, selain kedua nama itu, masih banyak sastrawan lain yang lahir dari kota ini—termasuk penyair muda seperti Nissa Rengganis yang aktif menggerakkan kegiatan literasi. Cirebon, dengan sejarah panjangnya sebagai kota pelabuhan, selalu menjadi ruang pertemuan berbagai bahasa, tradisi, dan cerita. Dari pertemuan itulah sastra sering menemukan bahan bakarnya.
Motor saya kembali melaju ke timur. Pantura perlahan ditinggalkan. Jalan mulai menanjak dan berbelok ketika memasuki wilayah Brebes, Cilacap, Ajibarang, Banyumas, hingga Purwokerto.
Di Banyumas, nama yang segera muncul dalam ingatan adalah Ahmad Tohari. Ia adalah penulis yang membuat desa kecil bernama Dukuh Paruk dikenal pembaca di seluruh Indonesia melalui novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam kisah itu ia menghadirkan kehidupan pedesaan Banyumas dengan segala kegetiran sejarahnya—kemiskinan, politik, dan tradisi yang kadang memeluk sekaligus melukai manusia.
Tokoh Srintil, ronggeng desa yang rapuh tetapi teguh, menjadi simbol nasib rakyat kecil yang terus bertahan di tengah pusaran sejarah yang tidak mereka pilih.
Menjelang sore jalan mulai terasa akrab. Pepohonan berubah, udara menjadi lebih sejuk, dan langit terasa lebih dekat dengan tanah.
Yogyakarta tidak pernah datang sebagai kota biasa bagi seorang penulis. Di sini hampir setiap sudut jalan seperti memiliki bisikan—seolah ada tangan gaib yang menarik seseorang untuk berhenti sejenak, membuka buku catatan, lalu menulis beberapa baris puisi.
Setelah perjalanan panjang dari Depok, setelah nama-nama sastrawan berkelindan di sepanjang Pantura, saya tiba dengan perasaan yang agak aneh: seakan perjalanan ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan perjalanan membaca kembali peta sastra Indonesia—peta yang tidak digambar oleh kartografer, melainkan oleh para penyair, cerpenis, dan novelis yang pernah menuliskan kota-kota ini dalam bahasa mereka.
Dan mungkin benar: pada akhirnya kita tidak benar-benar pulang ke sebuah kota. Kita pulang ke cerita yang pernah kita baca, kita tulis, dan kita ingat sepanjang perjalanan hidup.
Depok Terluar-Yogyakarta, Maret 2026
*Mahwi Air Tawar, Sastrawan.





