Ensiklopedi Sastra Nusantara: Dari Entri ke Kesadaran Kebudayaan

Oleh Abdul Wachid B.S.*

 

I. Ensiklopedi sebagai Ikhtiar Kebudayaan, Bukan Sekadar Buku Rujukan

Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN), yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya bekerja sama dengan Pusat Studi Sunda dan Universiteit Leiden/KITLV-Jakarta pada tahun 2026 ini, tidak lahir dari ruang yang hening dan steril. Ia hadir justru ketika ingatan kebudayaan kita kerap terputus-putus, ketika sastra sering dipersempit menjadi sekadar nama, tanggal, atau genre, dan ketika cara baca yang serba cepat, bahkan serba instan, mulai menggantikan laku membaca yang tekun dan bertanggung jawab. Dalam situasi semacam itu, ensiklopedi ini menemukan urgensinya: bukan sebagai buku yang ingin tampak paling lengkap, melainkan sebagai ikhtiar kebudayaan untuk merawat kesinambungan pengetahuan sastra Nusantara.

Penting ditegaskan sejak awal bahwa Ensiklopedi Sastra Nusantara bukan sekadar kumpulan lema – atau entri – yang disusun rapi menurut abjad. Ia merupakan wujud kesadaran bahwa sastra Nusantara tidak pernah berdiri sendiri. Sastra selalu berkelindan dengan bahasa, sejarah, politik kebudayaan, dan pergulatan manusia yang menuliskannya. Setiap entri, betapapun ringkas, menyimpan jejak zaman, pilihan ideologis, bahkan luka dan harapan yang tidak selalu tampak di permukaan. Membacanya secara serampangan sama artinya dengan memutuskan hubungan antara pengetahuan dan tanggung jawab kebudayaan.

Prolog ini tidak disusun untuk “menjelaskan” isi ensiklopedi secara teknis (tugas itu sudah dipikul oleh entri-entri di dalamnya). Yang hendak ditawarkan adalah horison pembacaan: cara memosisikan ensiklopedi bukan sebagai tujuan akhir pengetahuan, melainkan sebagai pintu masuk menuju kesadaran yang lebih luas tentang sastra Nusantara. Membaca dengan cara ini menuntut kesabaran, kehati-hatian, dan kesediaan untuk melihat bahwa satu lema selalu berhubungan dengan lema lain, seperti simpul dalam jejaring ingatan kolektif.

Dalam tradisi akademik modern, ensiklopedi sering diperlakukan sebagai rujukan cepat: dibuka seperlunya, dikutip seperlunya, lalu ditutup kembali. Tidak keliru, tetapi tidak selalu memadai. Untuk konteks sastra Nusantara, pendekatan semacam itu berisiko mereduksi sastra menjadi data mati. Padahal, sastra Nusantara hidup dari pergerakan: dari lisan ke tulisan, dari tradisi lokal ke pertemuan lintas budaya, dari pusat ke pinggiran, dan sebaliknya. Ensiklopedi ini justru mengingatkan bahwa pengetahuan sastra tidak berhenti pada definisi, melainkan bergerak melalui pemaknaan yang terus diperbarui.

Di sinilah letak posisi ensiklopedi sebagai ikhtiar kebudayaan. Ia bekerja bukan hanya pada ranah informasi, tetapi juga pada ranah kesadaran. Ia mengajak pembaca bertanya: dari mana sebuah istilah lahir, dalam konteks apa seorang pengarang muncul, dan mengapa sebuah bentuk sastra bertahan atau tergeser. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak selalu terjawab dalam satu entri, tetapi justru itulah kekuatannya. Ensiklopedi membuka ruang bagi pembaca untuk melanjutkan pencarian, bukan menutupnya dengan kepastian yang beku.

Makna Ensiklopedi Sastra Nusantara tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan data. Lebih dari itu, maknanya bertumpu pada kesadaran pembacaan yang menyertainya. Ensiklopedi ini akan benar-benar hidup ketika dibaca reflektif, dipertautkan dengan pengalaman sejarah dan kebudayaan, serta ditempatkan dalam dialog dengan persoalan kekinian. Tanpa kesadaran semacam itu, ensiklopedi hanya akan menjadi arsip; dengan kesadaran itu, ia menjadi laku kebudayaan yang terus bergerak.

Prolog ini, pada akhirnya, adalah undangan. Undangan untuk tidak terburu-buru. Undangan untuk membaca Ensiklopedi Sastra Nusantara bukan sebagai daftar pengetahuan yang harus dihafal, melainkan sebagai medan perenungan yang menuntut kehadiran pembaca sepenuhnya. Dari entri-entri itulah kesadaran kebudayaan dapat tumbuh, perlahan, tetapi berakar.

II. Entri sebagai Jejak Sejarah Bahasa dan Kuasa

Jika bagian pembuka tadi menempatkan Ensiklopedi Sastra Nusantara sebagai ikhtiar kebudayaan, maka pada titik inilah kita mulai melihat bagaimana ikhtiar itu bekerja secara konkret: melalui entri. Entri-entri dalam ESN memperlihatkan satu hal yang kerap luput dalam pembacaan cepat, bahwa istilah sastra tidak pernah netral. Ia lahir dari sejarah yang panjang, dipertarungkan dalam ruang sosial tertentu, dan kerap kali dibebani relasi kuasa yang tidak sederhana. Karena itu, membaca entri berarti membaca jejak-jejak konflik, negosiasi, dan penerimaan dalam kebudayaan Nusantara.

Ambil contoh entri “Cina”. Sekilas, ia tampak seperti lema kebahasaan biasa. Namun ketika ditelusuri, kata ini membawa kita pada lapisan sejarah yang berlapis-lapis: kolonialisme, politik identitas, hingga trauma dan prasangka yang diwariskan lintas generasi. Dalam teks-teks sastra Melayu awal (seperti karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi), kata “Cina” digunakan secara wajar, sejajar dengan penamaan etnis lain, tanpa muatan peyoratif. Bahkan, dalam tradisi sastra Melayu Pasar yang ditulis oleh orang Cina peranakan sendiri, istilah “Cina” (ditulis Tjina atau Tjinah) hadir sebagai penanda identitas yang diterima, bukan direndahkan.

Persoalan muncul ketika bahasa mulai diseret ke dalam arena politik yang lebih sempit. Pergeseran dari “Cina” ke “Tionghoa” bukan semata soal etimologi atau kesantunan berbahasa, melainkan soal kuasa penamaan: siapa yang berhak menamai siapa, dan dalam konteks apa. Di sini, entri ESN bekerja bukan sebagai hakim yang memutuskan mana istilah yang “paling benar”, tetapi sebagai arsip kesadaran sejarah. Ia menunjukkan bahwa satu kata dapat berubah makna karena perubahan iklim politik, ideologi, dan relasi mayoritas–minoritas. Membaca entri ini secara reflektif berarti menyadari bahwa bahasa sastra tidak steril dari sejarah luka, sekaligus tidak bisa dilepaskan dari praktik keseharian masyarakat penuturnya.

Hal serupa tampak pada entri “Majalah”. Kata ini, yang kini terasa mapan dan seolah sudah sejak lama menjadi bagian dari kosakata sastra modern, ternyata menyimpan riwayat transformasi media dan kesadaran literasi. Sebelum istilah “majalah” dikenal luas, publikasi berkala di Nusantara disebut dengan berbagai istilah: soerat tjerita, soerat boelanan, soerat berkala, tijdschrift,atau maandblad. Ragam penamaan ini bukan sekadar variasi linguistik, melainkan cermin dari peralihan zaman, dari tradisi baca kolonial menuju pembentukan ruang publik modern.

Entri “Majalah” dalam ESN memperlihatkan bahwa media sastra tidak lahir sekaligus dalam bentuk yang kita kenal hari ini. Ia tumbuh perlahan, melalui eksperimen bentuk, bahasa, dan fungsi. Majalah tidak serta-merta menjadi wadah wacana sastra modern; pada mulanya ia justru sering hadir sebagai buku saku roman, terbit berseri, dan dekat dengan selera pembaca awam. Baru kemudian, melalui terbitan seperti Poedjangga Baroe, majalah memperoleh posisi ideologis sebagai ruang perdebatan sastra, bahasa, dan kebudayaan. Di sini, satu entri menghubungkan kita dengan perubahan cara berpikir tentang sastra itu sendiri: dari hiburan populer menuju medan refleksi kebudayaan.

Dua contoh tersebut memperlihatkan bahwa entri dalam ESN bukan definisi mati yang bisa dilepaskan dari konteksnya. Ia adalah rekaman pergulatan makna: bagaimana kata dipakai, dipersoalkan, dipertahankan, atau diganti. Dengan cara ini, ESN menolak reduksi ensiklopedi sebagai kamus kering. Ia justru mengajak pembaca untuk membaca istilah sastra sebagai simpul sejarah: tempat bahasa, kekuasaan, dan pengalaman manusia saling bertaut.

Maka, membaca entri ESN sejatinya adalah membaca sejarah kebudayaan Nusantara dalam bentuknya yang paling konkret: melalui kata. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan lapisan-lapisan makna. Kata yang tidak hanya menjelaskan dunia sastra, melainkan juga membuka cara kita memahami bagaimana masyarakat Nusantara bernegosiasi dengan masa lalu dan masa kini. Dari sini menjadi jelas bahwa ensiklopedi ini bekerja pada wilayah kesadaran: mengubah entri menjadi pintu masuk bagi pembacaan yang lebih jernih, kritis, dan manusiawi.

III. Sastra Nusantara sebagai Ruang Pertemuan Tradisi dan Modernitas

Salah satu kesan kuat yang muncul ketika menelusuri entri-entri Ensiklopedi Sastra Nusantara adalah kesadaran bahwa sastra Nusantara tidak pernah tumbuh dalam ruang yang tertutup. Ia tidak lahir dari sikap menolak dunia luar, tetapi justru dari perjumpaan (kadang akrab, kadang tegang) dengan berbagai tradisi estetik yang datang dari luar dirinya. Di sinilah ESN bekerja memperluas cakrawala pembaca: menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “sastra Nusantara” adalah hasil dialog panjang antara tradisi lokal dan arus modernitas global.

Entri tentang “De Tachtigers” misalnya, membuka satu simpul penting dalam sejarah pembentukan kesadaran sastra Indonesia modern. Gerakan sastra Belanda akhir abad ke-19 ini, dengan semangat pemberontakannya terhadap sastra moralistik dan khotbah, memberi pengaruh yang nyata kepada generasi sastrawan Indonesia tahun 1930-an. Namun yang menarik bukan sekadar fakta adanya pengaruh itu, melainkan cara pengaruh tersebut diolah. Para penyair Indonesia (Sanusi Pane, J.E. Tatengkeng, Armijn Pane, dan lain-lain) tidak menjadi peniru setia Willem Kloos atau Jacques Perk. Mereka justru menyerap semangat estetiknya, lalu menanamkannya ke dalam tanah bahasa dan pengalaman sendiri.

Bentuk soneta menjadi contoh yang paling terang. Soneta, yang berasal dari tradisi Italia dan berkembang dalam sastra Eropa, diadopsi dengan antusias oleh para penyair Indonesia sebelum perang. Tetapi begitu masuk ke dalam bahasa Melayu–Indonesia, soneta mengalami transformasi. Sanusi Pane, misalnya, dengan kesadarannya sebagai “klassikus” yang mengenal kakawin Jawa dan pupuh macapat, tidak memaksakan hukum soneta Eropa secara kaku. Ia mengolahnya dengan purwakanti, asonansi, dan aliterasi yang akrab dengan tradisi lokal. Di tangan penyair seperti inilah, soneta tidak lagi sekadar bentuk impor, melainkan menjadi bentuk yang “dinasionalkan”; berakar pada bahasa dan rasa Nusantara.

ESN juga memperlihatkan bahwa dialog sastra Nusantara tidak hanya berlangsung dengan Eropa, tetapi juga dengan Asia Timur. Entri “Daerah Salju” membawa kita pada perjumpaan yang lebih sunyi, tetapi tak kalah bermakna: pertemuan dengan estetika Jepang melalui karya Kawabata Yasunari. Melalui proses penerjemahan (yang sendiri adalah bentuk tafsir budaya) novel Yukiguni hadir dalam bahasa Indonesia bukan sebagai teks asing yang beku, melainkan sebagai pengalaman estetik yang hidup. Perdebatan tentang kesetiaan terjemahan, seperti yang dikemukakan Ajip Rosidi, menunjukkan bahwa penerimaan karya asing selalu melibatkan pilihan-pilihan estetik dan etis. Dalam konteks ini, sastra Nusantara tidak sekadar “membaca” karya dunia, tetapi juga mengujinya dalam cakrawala rasa dan bahasa sendiri.

Pada saat yang sama, ESN tidak membiarkan pembaca melupakan akar tradisi lokal. Entri “Dhandhanggula” mengingatkan bahwa jauh sebelum perjumpaan dengan soneta atau novel modern, sastra Nusantara telah memiliki sistem estetik yang matang dan rumit. Tembang macapat ini, dengan aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu yang ketat, menunjukkan bahwa tradisi lokal bukanlah bentuk ekspresi yang “sederhana”. Ia justru luwes, kaya, dan mampu menjadi wadah ajaran moral, spiritual, dan kebudayaan. Fakta bahwa Dhandhanggula sering digunakan sebagai pembuka dan penutup wacana menandakan fungsinya yang strategis dalam membangun kesadaran makna.

Dari titik ini menjadi jelas bahwa modernitas sastra Indonesia bukanlah hasil peniruan yang polos. Ia adalah proses adaptasi kreatif: menyaring pengaruh luar, mengolahnya dengan kesadaran lokal, dan menautkannya dengan tradisi yang telah hidup lebih dulu. ESN, melalui entri-entri semacam ini, membantu pembaca melihat sastra Nusantara sebagai ruang pertemuan yang dinamis: tempat Eropa, Asia Timur, dan tradisi lokal saling berjumpa tanpa saling meniadakan.

Maka, sastra Nusantara tumbuh bukan dengan menutup diri dari dunia, tetapi dengan keberanian untuk berdialog. Ia menerima, mengolah, dan mengubah. Dan di situlah kekuatannya, sebuah sastra yang hidup karena mampu bergerak di antara tradisi dan modernitas, tanpa kehilangan jati dirinya.

IV. Tokoh, Ideologi, dan Kompleksitas Sejarah Sastra

Salah satu kekuatan etis Ensiklopedi Sastra Nasional terletak pada keberaniannya menghadirkan sejarah sastra Indonesia apa adanya: sejarah yang penuh simpang-siur ideologi, persilangan identitas, dan ketegangan politik. Dalam lanskap seperti itu, sastra tidak pernah berdiri steril. Ia tumbuh di tengah arus sejarah, dan karena itu selalu membawa jejak-jejak konflik zamannya.

ESN dengan sadar menampilkan tokoh-tokoh dari latar ideologi, etnis, dan sejarah yang beragam; mulai dari Sutan Takdir Alisjahbana, Maria Dermoût, A.S. Dharta, hingga S. Sinansari ecip dan generasi sesudahnya. Kehadiran mereka bukan sekadar untuk melengkapi daftar nama, melainkan untuk menegaskan bahwa sejarah sastra Indonesia tidak dibangun oleh satu garis pemikiran tunggal, apalagi oleh satu ideologi yang dianggap “paling benar” secara retrospektif.

Dalam konteks ini, ESN tidak bekerja dengan logika seleksi ideologis, melainkan dengan logika peran historis dan estetik. Seorang pengarang dicatat bukan karena ia “aman” secara politik, tetapi karena ia hadir dan berpengaruh dalam pembentukan medan sastra pada masanya. Prinsip inilah yang membuat ESN berbeda dari proyek-proyek dokumentasi sastra yang cenderung menyederhanakan sejarah dengan menghapus bagian-bagian yang dianggap problematis.

Figur Sutan Takdir Alisjahbana, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari polemik kebudayaan yang membentuk sastra Indonesia modern. Ia adalah penggerak, pemikir, sekaligus polemis yang gagasannya sering menimbulkan resistensi. Namun justru dari ketegangan itulah bahasa dan sastra Indonesia menemukan dinamika intelektualnya. Menghilangkan atau mengecilkan peran Takdir demi kenyamanan wacana tertentu sama artinya dengan mengaburkan proses sejarah itu sendiri.

Hal yang sama berlaku pada Maria Dermoût. Posisi kulturalnya yang berada di antara dunia kolonial dan pengalaman hidup di Indonesia menempatkannya pada wilayah yang sering dianggap “ambigu”. Namun karya-karyanya menunjukkan bagaimana pengalaman Indonesia tidak hanya hidup dalam sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga dalam sastra dunia yang lahir dari persinggungan budaya. ESN, dengan mencatat Maria Dermoût, memperluas pemahaman bahwa sastra Indonesia tidak sepenuhnya dapat dibatasi oleh kategori bahasa nasional semata.

Kasus yang lebih kompleks tampak pada A.S. Dharta. Riwayat keterlibatannya dalam Lekra dan pengalaman panjangnya sebagai tahanan politik pasca-1965 menjadikan namanya sering dikelilingi stigma. ESN tidak menutup mata terhadap fakta ideologis tersebut, tetapi juga tidak menjadikannya alasan untuk penghapusan. Dengan cara ini, ensiklopedi menegaskan bahwa sejarah sastra tidak boleh ditulis dengan logika pembersihan, karena sastra justru tumbuh dari pertemuan gagasan-gagasan yang saling bertentangan.

Sementara itu, kehadiran S. Sinansari ecip memperlihatkan wajah lain sejarah sastra: pertautan antara sastra, jurnalistik, dan dinamika sosial-politik mutakhir. Melalui karya-karya fiksi dan nonfiksinya, ecip menunjukkan bahwa sastra Indonesia bergerak seiring perubahan zaman, tanpa kehilangan daya kritisnya terhadap realitas sosial.

Dengan demikian, ESN secara implisit menolak dua kecenderungan yang kerap muncul dalam penulisan sejarah sastra: simplifikasi sejarah dan penghapusan tokoh karena stigma politik. Sejarah sastra yang disederhanakan mungkin tampak rapi, tetapi ia kehilangan kedalaman makna. Sebaliknya, sejarah sastra yang jujur justru tampak ruwet, penuh perbedaan, dan kadang tidak nyaman, namun di situlah letak integritasnya.

Pada titik ini, ESN tidak sekadar berfungsi sebagai arsip pengetahuan, melainkan sebagai sikap etis terhadap ingatan kolektif. Ia mengingatkan bahwa sastra Indonesia dibangun oleh manusia-manusia dengan seluruh kompleksitas ideologi, keyakinan, dan pilihan hidupnya.

Sebagaimana dapat ditegaskan, ingatan sastra yang sehat adalah ingatan yang jujur terhadap kompleksitas sejarah, bukan ingatan yang disterilkan. ESN memilih kejujuran itu, dan justru di sanalah nilai historiografis dan etikanya bertumpu.

V. Membaca ESN sebagai Membaca Tradisi yang Hidup

Membaca Ensiklopedi Sastra Nusantara sesungguhnya bukan pekerjaan teknis. Ia bukan sekadar aktivitas membuka halaman, mencari lema, lalu menutup buku dengan perasaan sudah “tahu”. Membaca ESN adalah tindakan kebudayaan: tindakan yang menuntut kesadaran, kesabaran, dan keterlibatan batin pembacanya.

Pada titik ini, ensiklopedi tidak dapat diperlakukan sebagai teks yang selesai. Entri-entri di dalamnya justru bekerja seperti simpul-simpul pengetahuan yang meminta dibuka kembali: dibaca ulang, dipertautkan dengan entri lain, lalu dipikirkan dalam konteks zaman yang terus bergerak. Tanpa proses itu, ESN akan berhenti sebagai arsip. Dengan proses itu, ia berubah menjadi medan dialog.

Sastra Nusantara sendiri tidak pernah lahir sebagai sistem yang beku. Ia tumbuh dari tradisi lisan, dari naskah-naskah yang berpindah tangan, dari tafsir yang selalu berubah seiring perubahan pembacanya. Dalam pengertian ini, tradisi bukanlah sesuatu yang diwariskan secara utuh, melainkan sesuatu yang terus dikerjakan ulang oleh generasi demi generasi. ESN hadir bukan untuk “mengawetkan” tradisi itu, tetapi untuk menunjukkan jejak-jejak hidupnya.

Karena itu, membaca ESN menuntut cara baca yang aktif. Seorang pembaca tidak cukup berhenti pada informasi biografis atau daftar karya. Ia perlu bertanya: mengapa tokoh ini muncul pada masa tertentu? Mengapa gagasan ini menjadi penting dalam konteks sosialnya? Dan yang tidak kalah penting: apa resonansinya bagi kehidupan kebudayaan kita hari ini?

Di sinilah ESN menemukan relevansinya sebagai teks yang hidup. Entri tentang pengarang, karya, atau komunitas sastra tidak berdiri sendiri. Ia saling menyapa, saling mengoreksi, bahkan kadang saling berseberangan. Pembaca yang bersedia menautkan entri-entri itu akan menyadari bahwa sejarah sastra Nusantara adalah sejarah percakapan panjang, bukan garis lurus yang rapi.

Tradisi sastra Nusantara, dengan demikian, bukan warisan mati yang cukup dikenang, melainkan arus hidup yang menuntut keterlibatan. Ia menuntut pembaca yang mau hadir, bukan sekadar mengonsumsi. Pembaca yang mau memikirkan kembali hubungan antara teks, konteks, dan kehidupan sehari-hari. Pembaca yang menyadari bahwa membaca sastra (termasuk membaca ensiklopedinya) selalu berimplikasi pada cara kita memandang dunia.

Dalam konteks inilah ESN dapat dibaca sebagai undangan. Undangan untuk memasuki kembali tradisi sastra Nusantara dengan kesadaran baru. Undangan untuk tidak berhenti pada pengenalan, tetapi melangkah ke pemaknaan. Undangan untuk menjadikan pengetahuan sastra bukan sekadar kumpulan data, melainkan bagian dari kesadaran kebudayaan.

Maka, ensiklopedi ini tidak pernah dimaksudkan untuk menutup pencarian makna. Justru sebaliknya. Ensiklopedi, dalam bentuk terbaiknya, memulai kembali pencarian itu, dengan pembaca sebagai subjek yang aktif, reflektif, dan bertanggung jawab secara kultural.

Di titik inilah ESN menemukan daya hidupnya yang paling penting: bukan pada kelengkapan entri, melainkan pada kesediaan pembacanya untuk terus membaca, menautkan, dan memikirkan ulang tradisi sastra Nusantara sebagai sesuatu yang masih, dan akan terus, hidup.

VI. Dari Ensiklopedi ke Kehidupan

Pada akhirnya, Ensiklopedi Sastra Nusantara tidak dimaksudkan sebagai tujuan akhir. Ia bukan titik henti dari pengetahuan, melainkan jalan: jalan yang mengantar pembacanya pada kesadaran yang lebih luas tentang sastra, kebudayaan, dan dirinya sendiri sebagai bagian dari sejarah yang sedang berlangsung.

Sebagai jalan, ESN mengajak kita memahami bahwa sastra Nusantara tidak hidup di menara gading. Ia hadir dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari, dalam cara kita memandang masa lalu, dan dalam sikap kita menyikapi perbedaan. Kesadaran sastra, dengan demikian, bukan hanya urusan akademik, melainkan bagian dari kepekaan hidup sebagai manusia yang berbudaya.

Kepekaan itu tumbuh ketika pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi. Ketika entri tentang pengarang, karya, atau tradisi tidak sekadar diingat, tetapi direnungkan. Ketika pembaca menyadari bahwa setiap teks sastra membawa pengalaman manusia, pergulatan zaman, dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidup. Di titik inilah sastra bekerja melampaui halaman buku.

Keberlanjutan tradisi sastra Nusantara juga tidak ditentukan oleh banyaknya arsip yang disimpan, melainkan oleh kesediaan generasi pembacanya untuk meneruskan dialog. Meneruskan dengan membaca, menulis, mengajarkan, dan (yang tidak kalah penting) menempatkan sastra sebagai bagian dari laku hidup. Tradisi hanya akan bertahan jika ia terus dipikirkan ulang dan dihidupi dalam konteks yang berubah.

Prolog ini, dengan demikian, tidak dimaksudkan sebagai penjelasan yang menutup, tetapi sebagai pembuka yang mengajak. Mengajak pembaca untuk masuk ke dalam ESN dengan sikap terbuka, kritis, dan reflektif. Mengajak untuk melihat ensiklopedi bukan sebagai otoritas yang membekukan makna, melainkan sebagai ruang pertemuan pengetahuan dan kesadaran.

Ensiklopedi Sastra Nusantara tidak meminta kita untuk menghafal. Ia mengajak kita menyimak dengan saksama, memahami dengan tanggung jawab, dan meneruskan: dalam pikiran, dalam tindakan, dan dalam kehidupan kebudayaan yang terus bergerak.***

—-

*Penulis adalah penyair, Guru Besar Bahasa & Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.