Demokrasi Tabrak Lari: Genealogi Caci-maki dan Banalitas Digital dalam Arus Post Truth

Oleh: Gus Nas Jogja*

 

Mukaddimah
Senjakala Diskursus Publik

Demokrasi, yang secara etimologis berakar pada demos dan kratos, seharusnya menjadi ruang bagi kedaulatan yang diskursif. Namun, di bawah bayang-bayang revolusi digital, kita menyaksikan mutasi radikal: Demokrasi Tabrak Lari. Ini adalah kondisi di mana partisipasi politik tidak lagi berbasis pada argumen yang diuji, melainkan pada serangan sporadis, destruksi karakter, dan pelarian dari tanggung jawab intelektual. Dalam ekosistem ini, caci-maki bukan lagi sekadar sampah bahasa, melainkan komoditas utama dalam pasar emosi pasca-kebenaran.

 

Lensa Politik: Banalitas Kejahatan dalam Ruang Digital

Hannah Arendt pernah memperingatkan tentang “banalitas kejahatan”—sebuah kondisi di mana kekejaman dilakukan tanpa pemikiran mendalam, hanya sebagai kepatuhan pada sistem. Di era media sosial, kejahatan ini mewujud dalam bentuk Banalitas Digital.

1. Algoritma dan Polarisasi: Secara politik, media sosial telah menggeser kedaulatan warga menjadi kedaulatan algoritma. Algoritma engagement-based cenderung mempromosikan konten yang memicu amarah karena secara empiris meningkatkan durasi penggunaan aplikasi. Akibatnya, demokrasi tidak lagi menghasilkan konsensus, melainkan segregasi.

2. Post-Truth sebagai Senjata: Dalam era pasca-kebenaran, fakta objektif kalah pengaruhnya oleh daya tarik emosional dan keyakinan pribadi. Demokrasi tabrak lari terjadi ketika seorang aktor politik atau netizen melempar narasi palsu (hoaks) yang memicu kegaduhan, lalu menghilang atau berganti akun tanpa melakukan klarifikasi.

“Kebenaran tidak akan mati, tetapi ia akan hidup dalam dunia di mana ia tidak lagi memiliki arti.” — Czesław Miłosz (Penerima Nobel Sastra 1980) [1].

 

Lensa Antropologi: Budaya Caci-Maki sebagai Regresi Tribal

Secara antropologis, media sosial telah membangkitkan insting “tribalisme digital”. Manusia, yang menurut Aristoteles adalah zoon politikon, kini menyusut menjadi makhluk komunal yang hanya bisa mendefinisikan diri melalui kebencian terhadap “Liyan” atau The Other.

1. Anonimitas dan Disinhibisi: Ruang digital memberikan jubah anonimitas yang memicu efek disinhibisi toksik. Secara antropologis, ini adalah regresi menuju perilaku pra-peradaban, di mana caci-maki berfungsi sebagai ritus eksklusi sosial. Kita tidak lagi berdebat untuk mencari kebenaran, melainkan melakukan “pembunuhan karakter” sebagai bentuk kepuasan simbolis.

2. Matinya Empati: Seorang Aleksandr Solzhenitsyn mengingatkan bahwa ketika batas antara baik dan jahat dikaburkan oleh ideologi, maka kekerasan menjadi sah [2]. Dalam konteks medsos, caci-maki adalah kekerasan verbal yang dianggap lumrah karena targetnya telah “didehumanisasi” melalui label-label politik (seperti kadrun, cebong, termul, wabah, buzzer dll).

 

Lensa Disrupsi: Matinya Kepakaran dan Otoritas

Disrupsi digital tidak hanya menghantam sektor ekonomi, tetapi juga epistemologi. Terjadi apa yang disebut sebagai “Matinya Kepakaran” atau (The Death of Expertise).

1. Horisontalitas yang Semu: Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua pendapat memiliki bobot yang sama. Suara seorang profesor diadu dengan suara bot atau akun anonim dalam sebuah algoritma tren yang sama. Inilah cacat linguistik dan epistemologis terbesar: ketika volume suara dianggap sebagai validitas kebenaran.

2. Narasi Nobel Sastra: Sebagaimana disampaikan oleh Wislawa Szymborska (Penerima Nobel Sastra 1996) dalam pidatonya menekankan pentingnya frasa “Saya tidak tahu” sebagai motor peradaban [3]. Namun, di media sosial, “tidak tahu” adalah aib. Semua orang dipaksa menjadi pakar instan dalam segala hal, yang berujung pada penyebaran kedangkalan yang agresif.

 

Bukti Empiris dan Fenomena Global

Data menunjukkan bahwa polarisasi digital bukan sekadar asumsi filosofis, melainkan fakta keras:

Studi MIT (2018) menemukan bahwa berita bohong (hoaks) menyebar 6 kali lebih cepat daripada kebenaran di Twitter karena sifatnya yang memicu emosi kejutan dan kemarahan [4].

Indeks Demokrasi menunjukkan penurunan kualitas diskusi publik di berbagai negara akibat maraknya cyber-troops yang menjalankan strategi “tabrak lari”—melempar disinformasi untuk merusak reputasi lawan politik tanpa bisa dimintai pertanggungjawaban [5].

 

Refleksi: Menuju Literasi Eksistensial

Demokrasi tabrak lari dan budaya caci-maki adalah alarm bagi keruntuhan peradaban. Kita membutuhkan lebih dari sekadar regulasi hukum (UU ITE dan sejenisnya); kita membutuhkan literasi eksistensial.

Seperti yang dikatakan oleh Albert Camus (Penerima Nobel Sastra 1957):

“Seorang pemberontak yang sejati adalah dia yang berkata ‘tidak’ tanpa menghancurkan kemanusiaan orang lain” [6].

Demokrasi membutuhkan jeda, refleksi, dan tanggung jawab atas setiap kata yang diketikkan. Tanpa itu, media sosial hanya akan menjadi kuburan massal bagi akal sehat, di mana kebenaran dikubur di bawah tumpukan caci-maki yang banal.

Teori Permainan dan Ekonomi Perhatian: Mengapa Caci-Maki “Menang”?

Secara politik dan ekonomi digital, kita harus memahami bahwa media sosial beroperasi dalam Ekonomi Perhatian (Attention Economy). Di sini, perhatian adalah mata uang yang lebih berharga daripada kebenaran.

1. Logika Pay-per-Outrage: Dalam perspektif Game Theory, caci-maki adalah strategi yang dominan (dominant strategy) untuk mendapatkan visibilitas. Jika seorang aktor politik memberikan argumen teknis yang panjang, ia kehilangan audiens. Jika ia melakukan “tabrak lari” dengan satu hinaan yang tajam, algoritma akan melipatgandakan jangkauannya. Inilah disrupsi moral: sistem menghargai agresi dan menghukum kontemplasi.

2. Banalitas Medsos sebagai Skinner Box: Secara antropologis, penggunaan media sosial mirip dengan eksperimen psikologi B.F. Skinner. Notifikasi, likes, dan jumlah retweet setelah kita memaki lawan politik memberikan dopamin instan. Banalitas terjadi ketika manusia tidak lagi berpikir tentang dampak etis dari makiannya, melainkan hanya mengejar validasi numerik dari kelompoknya (echo chamber).

 

Post-Truth dan Dekonstruksi Otoritas: Analisis Para Nobelis

Fenomena post-truth menciptakan kondisi di mana “fakta” dianggap sebagai konstruksi elit yang harus diruntuhkan. Disrupsi ini menghancurkan otoritas ilmu pengetahuan dan menggantinya dengan otoritas sentimen.

1. Gabriel García Márquez dan Realisme Magis Politik: Penerima Nobel Sastra 1982, Gabriel García Márquez, dalam karyanya sering menunjukkan bagaimana batas antara mitos dan kenyataan kabur di Amerika Latin [7]. Dalam konteks modern, kita melihat “Realisme Magis Politik”: di mana kebohongan yang diulang-ulang di medsos menjadi kenyataan baru yang diimani oleh massa. Demokrasi tabrak lari memanfaatkan pengaburan ini; mereka menciptakan hantu-hantu politik (komunisme, radikalisme, dll) untuk memicu ketakutan, lalu memanen suara dari ketakutan tersebut.

2. José Saramago dan Kebutaan Kolektif: Dalam novel Ensaio sobre a Cegueira (Blindness), José Saramago (Nobel 1998) menggambarkan masyarakat yang tiba-tiba buta secara massal, yang berujung pada keruntuhan tatanan sosial [8]. Secara filosofis, budaya caci-maki di medsos adalah bentuk “kebutaan putih”. Kita melihat layar, kita melihat teks, tapi kita “buta” terhadap kemanusiaan orang di balik akun tersebut.

 

Antropologi Disrupsi: Matinya Ruang Ketiga

Ray Oldenburg menyebut “Ruang Ketiga” (seperti kedai kopi atau alun-alun) sebagai tempat diskusi warga yang setara. Disrupsi digital memindahkan ruang ini ke platform milik korporasi global yang didesain untuk konflik.

1. Penjara Digital dan Panoptikon: Secara antropologis, kita tidak lagi menghuni ruang publik, melainkan Panoptikon Digital. Kita diawasi oleh algoritma dan dihakimi oleh massa (cancel culture). Caci-maki menjadi alat kontrol sosial yang brutal. Demokrasi tabrak lari memanfaatkan iklim ketakutan ini: orang yang benar akan memilih diam ( spiral of silence ) karena takut dicaci, sementara mereka yang agresif menguasai narasi.

2. Keadilan di Atas Kata-Kata: Sebagaimana disampaikan oleh Toni Morrison (Nobel 1993) dalam pidatonya mengingatkan bahwa “Bahasa yang menindas bukan sekadar mewakili kekerasan; bahasa itu adalah kekerasan” [9]. Budaya caci-maki di medsos adalah kekerasan ontologis yang sedang merobek tenun kebangsaan kita secara perlahan.

 

Sintesis: Memulihkan Demokrasi dari Tabrak Lari Digital

Kita membutuhkan Etika Komunikasi yang melampaui sekadar kepatuhan pada algoritma. Literasi digital tidak cukup jika tidak dibarengi dengan literasi nurani.

Demokrasi tabrak lari adalah produk dari manusia yang terdisrupsi secara spiritual. Kita memiliki teknologi abad ke-21, namun insting sosial kita kembali ke zaman batu—agresif dan tribal. Untuk memulihkannya, kita harus berani “berhenti sejenak” di tengah arus informasi, menolak banalitas caci-maki, dan kembali melihat wajah manusia di balik layar digital.

Seperti yang diperingatkan oleh Bertrand Russell selaku Penerima Nobel Sastra di tahun 1950:

“Ketidakpastian di tengah pengetahuan yang meyakinkan adalah hal yang mengerikan, namun itu jauh lebih baik daripada kepastian yang didapat dari kebodohan yang agresif” [10].

 

Dialektika di Tepi Jurang: Memulihkan Otonomi dalam Panoptikon Digital

Secara antropologis, kita saat ini menghuni apa yang disebut sebagai “Kedaulatan Emosi”. Di dalam demokrasi tabrak lari, kebenaran tidak lagi ditemukan melalui perdebatan (discourse), melainkan melalui ledakan afektif. Diskursus publik telah bergeser dari Logos (logika) ke Pathos (emosi) yang terdistorsi.

1. Disrupsi Epistemologis: Dari Pengetahuan ke Sentimen Dalam lensa pasca-kebenaran, otoritas kepakaran runtuh bukan karena argumen yang lebih kuat, melainkan karena hilangnya kepercayaan atau trust. Kita menyaksikan lahirnya “Kebenaran Personal” yang bersifat tribal. Secara politik, ini sangat berbahaya karena demokrasi membutuhkan satu landasan fakta yang disepakati bersama untuk bernegosiasi. Jika setiap orang memiliki “kebenarannya sendiri” –simulakra informasi–, maka negosiasi menjadi mustahil, dan kekerasan verbal (caci-maki) menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa.

2. Banalitas dan “Kejahatan Tanpa Wajah”. Mengambil pemikiran Jean-Paul Sartre, manusia adalah “kebebasan yang terkutuk”. Namun, di media sosial, kebebasan ini kehilangan tanggung jawabnya. Ketika seseorang mencaci-maki melalui akun anonim, ia sedang menanggalkan kemanusiaannya sendiri. Ia menjadi mesin di dalam mesin. Inilah puncak banalitas: ketika kebencian dilakukan sebagai rutinitas harian tanpa sedikit pun refleksi etis pada diri sendiri.

 

Lensa Nobelis: Harapan di Tengah Puing-Puing Kata

Para pemenang Nobel Sastra sering kali menulis di tengah reruntuhan peradaban untuk mengingatkan kita tentang kekuatan kata yang menyembuhkan, bukan menghancurkan.

1. Seamus Heaney dan “Garis Pengukur” Moral: Penerima Nobel Sastra 1995, Seamus Heaney, dalam pidatonya menekankan bahwa sastra (dan bahasa) harus mampu “mengukur” kembali kemanusiaan kita yang tersesat [12]. Demokrasi tabrak lari adalah bahasa yang kehilangan alat ukurnya. Kita membutuhkan “Garis Pengukur” baru di media sosial—sebuah standar etika yang mengingatkan bahwa di balik layar ada jiwa yang bisa terluka.

2. Olga Tokarczuk dan Teori “Narator Lembut”: Nobelis 2018, Olga Tokarczuk, menawarkan konsep “Kelembutan” atau Tenderness sebagai cara pandang dunia yang baru [13]. Secara politik-antropologis, kelembutan adalah kemampuan untuk melihat keterhubungan antarmanusia. Budaya caci-maki adalah antitesis dari kelembutan; ia adalah upaya untuk memutus hubungan. Narasi pasca-kebenaran harus dilawan dengan narasi yang “lembut”—narasi yang jujur, kompleks, dan tidak terburu-buru (anti-tabrak lari).

 

Manifesto Dialektika Digital: Keluar dari Banalitas

Sebagai langkah solutif, kita memerlukan sebuah kerangka Dialektika Digital yang berbasis pada nilai-nilai filosofis dan politik yang kokoh:

1. Prinsip Penundaan — Principle of Delay: Melawan disrupsi yang menuntut kecepatan (tabrak lari) dengan kesadaran untuk menunda respon. Berpikir sebelum mengetik adalah tindakan politik subversif di era algoritma.

2. Restorasi Referen: Kembali pada bukti empiris dan data ilmiah sebagai jangkar diskusi. Menolak narasi yang hanya berbasis pada emosi tanpa landasan faktual.

3. Humanisasi Liyan: Menolak penggunaan label dehumanisasi. Mengakui bahwa lawan bicara adalah subjek yang memiliki hak atas martabat, bukan sekadar objek untuk dihina.

 

Penutup: Memilih Menjadi Manusia di Era Mesin

Demokrasi tabrak lari, budaya caci-maki, dan banalitas medsos adalah ujian bagi evolusi kesadaran kita. Kita sedang berada di persimpangan: apakah kita akan membiarkan diri kita disetir oleh algoritma kebencian, atau kita akan merebut kembali otonomi kita sebagai makhluk yang berpikir?

Kebenaran mungkin terasa lemah di hadapan caci-maki yang viral, namun sejarah mencatat bahwa peradaban yang dibangun di atas kebencian akan runtuh oleh kebenciannya sendiri. Tugas kita adalah tetap menjadi penjaga nalar di tengah kegilaan kolektif.

Seperti kata Imre Kertész peraih hadiah Nobel Sastra 2002:

“Kegelapan total hanya terjadi ketika kita berhenti menyalakan api kecil di dalam diri kita sendiri” [14].

Mari kita nyalakan api kecil itu melalui kata-kata yang bermartabat, diskusi yang mendalam, dan demokrasi yang tidak lagi “tabrak lari”, melainkan demokrasi yang mau duduk bersama untuk mendengarkan.

Embuhlah …

***

Catatan Kaki dan Rujukan Ilmiah

[1] Miłosz, C. (1980). Nobel Lecture. The Nobel Foundation. (Membahas tentang kerapuhan ingatan dan kebenaran dalam sejarah).

[2] Solzhenitsyn, A. (1973). The Gulag Archipelago. Harper & Row. (Analisis tentang bagaimana ideologi dapat menjustifikasi kekejaman verbal dan fisik).

[3] Szymborska, W. (1996). The Poet and the World: Nobel Lecture. Nobel Prize Outreach. (Menekankan skeptisisme sehat sebagai lawan dari arogansi intelektual medsos).

[4] Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146-1151. (Bukti empiris penyebaran hoaks).

[5] Bradshaw, S., & Howard, P. N. (2019). The Global Disinformation Order. Oxford Internet Institute. (Laporan tentang manipulasi media sosial terorganisir di berbagai negara).

[6] Camus, A. (1951). L’Homme révolté (The Rebel). Gallimard. (Filsafat tentang perlawanan yang tetap menjunjung tinggi martabat kemanusiaan).

[7] García Márquez, G. (1967). Cien años de soledad (One Hundred Years of Solitude). Editorial Sudamericana. (Membahas bagaimana narasi fiktif dapat menggantikan sejarah dalam memori kolektif).

[8] Saramago, J. (1995). Ensaio sobre a Cegueira. Caminho. (Alegori tentang hilangnya nalar sehat dan empati dalam krisis sosial).

[9] Morrison, T. (1993). Nobel Lecture. The Nobel Foundation. (Tentang bahaya bahasa yang digunakan untuk merendahkan martabat manusia).

[10] Russell, B. (1950). Nobel Lecture: What Desires Are Politically Important? Nobel Prize Outreach. (Menganalisis dorongan dasar manusia seperti persaingan dan kesombongan dalam politik).

[11] Pariser, E. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Penguin Press. (Rujukan ilmiah mengenai cara algoritma menciptakan sekat-sekat informasi).

[12] Heaney, S. (1995). Crediting Poetry: Nobel Lecture. Nobel Prize Outreach. (Menekankan peran bahasa dalam memulihkan martabat manusia di tengah konflik).

[13] Tokarczuk, O. (2018). The Tender Narrator: Nobel Lecture. Nobel Prize Outreach. (Menawarkan perspektif kelembutan sebagai solusi atas fragmentasi dunia digital).

[14] Kertész, I. (2002). Heureka!: Nobel Lecture. The Nobel Foundation. (Refleksi tentang mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem yang dehumanis).

[15] Han, Byung-Chul. (2017). In the Swarm: Digital Prospects. MIT Press. (Analisis filosofis tentang bagaimana massa digital menghancurkan ruang publik dan rasa hormat).

[16] McIntyre, L. (2018). Post-Truth. MIT Press. (Kajian mendalam mengenai sosiologi dan politik di era pasca-kebenaran).

 

 

——–

*Gus Nas Jogja, budayawan.